INICIAR SESIÓNSinar matahari pagi menyusup lewat celah ventilasi Kamar Nomor 3. Devan sudah mengenakan seragam lusuhnya, tapi kakinya belum melangkah ke pintu. Matanya melirik Oyen yang duduk di atas kasur, menatapnya dengan sepasang mata bulat.
"Jangan berisik ya, Yen. Nanti kalau ketahuan bapak kos, kita berdua yang repot," gumamnya pelan sambil menyiapkan mangkuk plastik berisi air minum di sudut lemari. "Pulang kerja nanti aku belikan makanan." Tapi Oyen justru melompat turun dari kasur dan membuntuti langkahnya ke arah pintu, menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan dengan manja. Meong .... Devan menghela napas. Ia memutar knop pintu perlahan dan membukanya sedikit untuk memastikan lorong dalam keadaan aman. Tapi … jantungnya nyaris melompat. Eva sudah berjongkok tepat di depan kamarnya, memegang selembar kain pel yang basah. Gadis itu mendongak menatap Devan dengan wajah datarnya. Devan refleks menggeser tubuhnya untuk menutup celah pintu, menghalangi pandangan Eva ke dalam kamar. Tapi Oyen bergerak lebih cepat — kucing itu menyembulkan kepalanya dari sela kaki celana Devan. Meoooong. Oyen mengeong manja ke arah gadis pucat itu. Wajah Devan langsung menegang. Ia membayangkan Eva akan berdiri dan berteriak memanggil ibunya. Tapi reaksi gadis itu di luar dugaan. Wajah dingin Eva yang selalu tertekuk kaku seketika melunak saat melihat Oyen. Ia merogoh saku celemek di pinggangnya dan mengeluarkan bungkusan kecil dari daun pisang berisi potongan ikan tongkol rebus tanpa bumbu. Eva menyodorkan ikan itu di ambang pintu. Oyen langsung menyambarnya dan makan dengan lahap. Sambil memperhatikan kucing itu makan, tangan mungilnya mengelus kepala Oyen dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya sejak Devan menginjakkan kaki di kosan ini, gadis itu tersenyum. Senyuman tipis yang tulus, membuat Devan terpaku melihat betapa manisnya wajah Eva jika tidak sedang murung. Merasa suasana lebih bersahabat, Devan ikut berjongkok di hadapan Eva. Jarak mereka dekat hingga wangi samar sabun mandi tercium dari tubuhnya. "Terima kasih, Mbak Eva. Saya kira …," Devan tidak menyelesaikan kalimatnya. "Tenang saja, Mas. Aku tidak akan mengadukan kucing ini ke ibuku," bisik Eva tanpa mengangkat wajahnya dari Oyen. "Semalam aku lihat kamu pulang, lalu dengar suara kucing dari dalam kamar." Helaan napas lega meluncur dari mulut Devan. "Jujur saya bingung harus menitipkan dia di mana kalau ditinggal kerja." Menyadari tatapan hangat Devan dari jarak sedekat itu, gerakan tangan Eva terhenti. Wajah pucatnya merona tipis. Ia buru-buru menarik tangannya dari kepala Oyen dan kembali memasang ekspresi datar. "Aku akan ikut mengawasi kucingmu saat aku menyapu lorong di siang hari," bisiknya sambil menunduk. Lalu ia menatap lurus ke mata Devan dengan sorot yang berubah serius. "Tapi kamu harus berjanji satu hal. Pastikan jendela kamarmu selalu terkunci rapat kalau sudah lewat tengah malam." Peringatan itu mengingatkan Devan pada kejadian semalam. Sosok bungkuk di lorong, desisan dari pipa dan udara yang membeku tanpa sebab. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan secara halus. "Hemm ... soal opor Bu Nunik kemarin pagi, kenapa Mbak sengaja—" Kalimat itu terputus. Pandangan Devan tertuju pada pergelangan tangan Eva yang tersingkap sedikit dari lengan bajunya. Kulit putih di sana dipenuhi luka memar kebiruan — bercak ungu kemerahan seperti bekas cubitan dan cengkeraman kuku yang kasar. Ingatan Devan langsung melayang pada adegan kemarin. Bu Nunik yang memelintir lengan Eva di depan semua penghuni kos. Belum sempat mulutnya bertanya tentang luka itu, suara dehaman dari teras depan memecah suasana. Ehem! Krrr ... krrr …. Pak Riyadi yang sedang memberi makan burung perkutut tampak berjalan mendekati lorong samping. Langkah kakinya bergema di lantai keramik. Mendengar suara itu, raut wajah Eva seketika berubah. Matanya melebar, tubuhnya menegang. Ia berdiri tergesa-gesa seolah tertangkap basah melakukan kejahatan. Tangannya mendorong tubuh Oyen masuk sepenuhnya ke dalam kamar Devan. Tanpa menoleh, ia menyambar gagang pel dan menggosokkannya ke lantai sambil berjalan cepat menjauh, seolah percakapan mereka tidak pernah terjadi. Di ambang pintu, Devan menatap punggung ringkih yang semakin menjauh itu. Luka memar di pergelangan tangannya masih membekas di kepala Devan, dan peringatan Eva tentang jendela yang harus terkunci masih berdenging di telinganya. Ada sesuatu yang tidak beres di kosan ini. Dan gadis itu tahu persis apa itu.Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l
Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk
Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit
Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau
Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb
Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena







