LOGINSore itu Devan pulang lebih awal dari biasanya. Mesin cetak di pabriknya sedang menjalani perawatan rutin, jadi seluruh operator sif siang dipulangkan dua jam lebih cepat.
Di warung depan gang, ia membeli sebungkus gorengan hangat dan dua bungkus kopi saset. Bukan makanan mewah, tapi cukup untuk menghangatkan perut di sore yang mendung. Sesampainya di teras depan Rumah Kos, ia mendapati Agung sudah duduk di kursi bambu bersama seorang perempuan berseragam pabrik yang belum pernah Devan lihat. Rambutnya diikat asal-asalan dan kantung matanya tebal, tapi senyumnya lebar saat melihat Devan mendekat. "Eh, Mas Devan! Sini gabung." Agung menggeser duduknya dan menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Kenalan dulu, ini Tiwi dari Kamar Nomor 6. Baru pulang sif pagi." "Halo, Mas. Tiwi." Perempuan itu mengulurkan tangan dengan canggung. "Maaf ya kemarin-kemarin belum sempat kenalan, pulang kerja langsung tepar." "Devan. Sama, Mbak, saya juga baru dua hari di sini." Devan duduk dan meletakkan bungkusan gorengannya di tengah meja. "Nih, dimakan bareng. Tadi beli kebanyakan." Agung langsung menyambar satu bakwan tanpa basa-basi. Tiwi tertawa kecil melihatnya, lalu ikut mengambil satu. "Tiwi ini penghuni paling rajin di kosan, Mas," kata Agung sambil mengunyah. "Tiap hari berangkat subuh, pulang sore, kadang lembur sampai malam. Tapi kalau urusan gelap-gelapan, jangan tanya. Paling penakut seantero kosan." "Ih, apaan sih, Mas Agung," protes Tiwi sambil memukul lengan Agung pelan. "Siapa juga yang tidak takut kalau memang ada yang aneh." Devan menyeruput kopinya. "Memang kerja di mana, Mbak?" "Pabrik garmen di kawasan industri sebelah timur." Tiwi menghela napas. "Target jahitannya tidak manusiawi, Mas. Satu hari harus selesai tiga ratus potong. Kalau tidak sampai, dipotong gaji. Tangan sampai kram." "Masih mending kram tangan, Mbak," sahut Agung. "Coba jadi kurir, tiap hari kena semprot pelanggan. Kemarin ada yang marah-marah karena paketnya datang telat lima menit. Lima menit, Mas! Padahal hujan deras, jalanan banjir." Devan tertawa kecil. "Pabrik saya juga sama. Mandornya galak, mesinnya tua, gajinya pas-pasan. Tapi mau bagaimana lagi." "Itulah nasib perantau," kata Agung sambil mengangkat bungkusan kopi sasetnya seperti mengangkat gelas bir. "Cheers." Mereka bertiga tertawa. Devan merasa dadanya sedikit lebih ringan sore itu. Setidaknya di kosan ini ia punya teman-teman yang nasibnya sama, yang paham rasanya berjuang dari nol di kota orang. Tapi tawa itu tidak bertahan lama. Tiwi merapatkan jaketnya meski sore itu tidak terlalu dingin. Suaranya turun menjadi bisikan. "Mas Devan, saya mau cerita sesuatu. Tapi jangan ngetawain ya." Devan menurunkan gelasnya. "Kenapa, Mbak?" "Kosan ini memang bagus dan murah. Tapi …." Tiwi menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum melanjutkan. "Saya sering merinding kalau pakai kamar mandi luar atau naik ke jemuran lantai dua." "Merinding kenapa?" "Ada bayangan, Mas." Tiwi menelan ludah. "Beberapa kali saya lihat ada yang lewat di lorong atas. Seperti orang jalan biasa, tapi waktu saya cek, tidak ada siapa-siapa di sana." Agung mendengus geli dan menepuk bahu Tiwi. "Sudah kubilang, itu pasti efek kelelahan, Mbak. Mata capek, kurang tidur, wajar kalau lihat yang aneh-aneh." "Tapi saya lihatnya bukan sekali, Mas! Sudah tiga kali, dan selalu lewat tengah malam." "Ya itu namanya kurang tidur tiga kali," sahut Agung sambil tertawa. Tapi Devan tidak ikut tertawa. Pikirannya melayang ke sosok bungkuk di lorong semalam. Ia memperhatikan wajah Agung lebih teliti. Baru dua hari lalu ia berkenalan dengan pemuda itu, tapi Devan yakin wajah Agung saat ini terlihat lebih pucat dibanding kemarin pagi. Bibirnya sedikit kering dan matanya kurang bercahaya. "Mas Agung sendiri tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh?" tanya Devan hati-hati. Agung menggaruk tengkuknya, lalu memijatnya pelan. "Kalau aneh sih tidak ya. Cuma beberapa hari terakhir badan terasa cepat lemas saja. Padahal makan teratur, tidur juga cukup. Dan mimpi buruknya itu lho, hampir tiap malam." "Mimpi apa?" "Macam-macam. Yang paling sering, rasanya seperti ada yang menindih dada. Berat sekali, mau teriak tidak bisa." Agung tertawa hambar. "Tapi ya sudahlah, paling kecapekan biasa." Devan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Ceklek. Pintu rumah pemilik kos terbuka. Bu Nunik melangkah keluar membawa sepiring besar pisang goreng yang masih mengepulkan uap. Aromanya manis, tapi ada bau samar lain yang menyelip di antaranya, bau kembang yang tidak bisa Devan kenali. "Wah, ramai sekali di sini!" sapa Bu Nunik dengan senyum lebarnya. Ia meletakkan piring itu di meja, tepat di hadapan Agung dan Tiwi. "Ayo dimakan, anak-anak. Biar tetap bertenaga. Ibu goreng sendiri tadi." Devan menatap pisang goreng itu. Ingatannya langsung melayang pada kecoa yang kejang dan mati mengering setelah memakan suwiran opor ayam kemarin. Dan kilatan lega di mata Eva saat makanan itu tumpah sebelum masuk ke mulutnya. "Nak Devan tidak ambil?" Bu Nunik menoleh ke arahnya. "Terima kasih, Bu. Saya sudah kenyang, tadi makan di pabrik." Devan tersenyum tipis sambil menolak sehalus mungkin. Di bawah meja, kakinya bergerak menyenggol kaki Tiwi pelan. Tiwi menoleh bingung, tapi sebelum ia sempat membaca isyarat Devan, tangan Agung sudah lebih dulu menyambar pisang goreng dari piring. "Wah, enak banget, Bu!" seru Agung sambil mengunyah dengan mulut penuh. Ia meraih potongan kedua, lalu ketiga, tanpa jeda. Bu Nunik berdiri di samping meja, menatap Agung yang melahap pisang goreng buatannya. Senyumnya tidak berubah, tapi matanya menyipit dengan sorot yang membuat Devan tidak nyaman. Sorot puas. "Makan yang banyak ya, Nak Agung. Biar badan tetap kuat."Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l
Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk
Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit
Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau
Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb
Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena







