LOGINDi dalam kamar, Devan melepaskan jaket basahnya dan menatap kucing liar yang masih gemetaran itu.
"Kotor sekali badanmu. Kita mandi dulu, ya?" ujarnya pelan sambil menggendong Oyen ke kamar mandi. Aliran air keran dihidupkan hati-hati agar suaranya tidak terdengar dari lorong. Devan membersihkan sisa lumpur yang menempel di tubuh gempal kucing itu. Anehnya Oyen tidak memberontak saat dibilas air, hanya mengeong pelan sesekali. Setelah bersih, Devan mengeringkan bulu basah itu menggunakan handuk. Warna oren yang tadinya kusam kini tampak lebih terang. Ia membawa Oyen ke kasur, lalu merobek bungkus sosis siap makan dari saku celananya dan membaginya menjadi dua. Separuh untuk Oyen, separuh untuk dirinya sendiri. Oyen melahap sosis itu dengan rakus seolah belum makan berhari-hari. Devan mengunyah bagiannya sambil memperhatikan kucing itu makan, perutnya yang melilit sejak sore setidaknya sedikit terisi. Setelah kenyang, Oyen bergelung di samping bantal Devan. Suara dengkuran halusnya memenuhi kamar yang sunyi, memberikan kehangatan dan teman baru yang tidak ia sangka akan didapatkan malam ini. Devan membelai kepala Oyen sekali lagi sebelum matanya terpejam. Ia tertidur lebih cepat dari biasanya. *** Memasuki pukul dua dini hari, suasana di seluruh Rumah Kos Asri Riyadi berubah. Suara jangkrik yang sedari tadi menemani malam mendadak lenyap. Tidak ada bising kendaraan, tidak ada hembusan angin, tidak ada suara apa pun. Hanya kesunyian yang menekan gendang telinga. Suhu di dalam kamar anjlok drastis. Devan terbangun dengan tubuh menggigil. Ia buru-buru menarik selimut tipisnya hingga ke leher, napasnya mengepulkan uap putih setiap kali dihembuskan. "AC-nya kenapa?" gumamnya sambil menoleh ke dinding. Layar digital remote AC gelap. Mesin pendingin itu dalam keadaan mati. Tapi udara di dalam kamar terasa seperti ruang pendingin es. Dari balik dinding kamar mandi, terdengar desisan panjang. Pelan dan berat, seperti sesuatu yang sangat besar sedang menghela napas. Bulu kuduk Devan meremang. Desisan itu disusul bunyi gesekan kasar. Sreek .... Sreek .... Sesuatu merayap naik perlahan di dalam pipa saluran air. Bunyi geseknya berirama, lambat dan berat, seperti perut ular raksasa yang menyeret dinding pipa. Air di dalam ember kamar mandi bergetar. Riak-riak kecil merambat dari tengah ke tepi, padahal tidak ada yang menyentuhnya. Bersamaan dengan itu, bau amis lumpur rawa yang pekat menyeruak ke seluruh ruangan, membuat perut Devan bergejolak menahan mual. Saat yang sama, Oyen melompat bangun. Keempat kakinya menapak kaku di atas kasur dan seluruh bulu orennya berdiri tegak seperti sikat kawat. Grrrrr .... Kucing itu tidak mengeong. Mulut kecilnya mengeluarkan geraman rendah dari kerongkongan. Pandangan tajamnya terkunci tanpa berkedip ke sudut langit-langit kamar mandi yang tampak kosong. Devan menelan ludah. Ia perlahan turun dari kasur dan melangkah ke arah kamar mandi dengan hati-hati. "Ada apa, Yen? Tikus?" bisiknya. Tidak ada apa pun di dalam. Tidak ada hewan, tidak ada kebocoran pipa. Kamar mandi itu kosong. Devan mundur ke kamar dan beralih ke jendela kaca yang menghadap lorong. Jari-jarinya yang gemetar menyibak celah tirai perlahan. Di bawah siraman cahaya lampu neon yang remang, jantungnya seolah berhenti. Seseorang berdiri di sana. Tepat di depan pintu kamarnya. Sosok berpostur bungkuk itu mematung tanpa suara, tanpa langkah kaki, seolah sudah ada di situ sejak tadi tanpa Devan sadari. Sosok itu perlahan menempelkan wajahnya ke daun pintu. Gerakannya naik turun, patah-patah, seperti seekor binatang yang sedang mengendus mangsa dari balik kandang. Oyen mundur merapat ke betis tuannya. Hssss! Kucing itu mendesis buas, taring kecilnya terbuka lebar. Devan memucat. Kedua telapak tangannya mengepal erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya membeku di tempat, terpaku antara ingin berlari dan ingin bersembunyi. Lalu bahu kanannya berdenyut. Tanda lahir yang bentuknya menyerupai bekas cakaran itu mendadak terasa hangat, lalu panas, seolah ada bara yang menyala dari balik kulitnya. Hawa panas itu menjalar cepat ke seluruh dadanya selama beberapa detik. Bersamaan dengan itu, sosok di luar lorong bereaksi. Bayangan bungkuk itu melesat mundur dari ambang pintu dengan gerakan kaku dan janggal, seolah tersengat sesuatu yang membakar. Tubuhnya terhentak beberapa langkah ke belakang sebelum berbalik arah dan menghilang ke kegelapan lorong dapur belakang. Devan tidak bergerak selama beberapa saat. Ia menunggu napasnya kembali teratur dan denyut di bahunya mereda. Beberapa menit kemudian, ia memberanikan diri memutar selot kunci pintu. Klek. Melongokkan kepalanya ke luar. Lorong panjang bercat putih itu kosong melompong. Tidak ada sosok, tidak ada bayangan, tidak ada suara langkah. Hanya udara dingin yang menusuk tulang dan bau samar tanah basah yang perlahan memudar. Devan menutup pintu dan menguncinya kembali. Ia bersandar di pintu, menatap Oyen yang masih berdiri kaku di atas kasur dengan bulu yang belum sepenuhnya merebah. "Tempat apa sebenarnya kosan ini?" gumamnya di keheningan kamar.Eva berjalan berjingkat tanpa suara, membawa semangkuk lodeh yang ditutup serbet. Ia berhenti di depan Kamar Nomor 6 dan menoleh ke kanan dan kiri. Setelah yakin lorong kosong, ia meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dan mengambil mangkuk yang ditinggalkan Bu Nunik.Mangkuknya sama persis tapi isinya tidak.Setelah menukarkan mangkuk. Gadis itu berbalik dan melangkah kembali menuju dapur sambil mendekap mangkuk beracun di dadanya. Jalur itu melewati jendela kamar Devan.Langkah Eva berhenti.Matanya melebar saat menyadari jendela kamar Devan terbuka sedikit dan ada seseorang yang memperhatikannya dari baliknya. Wajahnya menegang, jari-jarinya mencengkeram tepi mangkuk.Devan tersenyum hangat dan mengacungkan ibu jarinya.Ketegangan di wajah Eva mengendur perlahan. Alisnya terangkat bingung, seolah tidak percaya ia tidak sedang dimarahi.Devan mengulurkan tangan ke luar jendela dengan telapak terbuka, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Sini.”Eva menoleh ke arah dapur, l
Senin pagi, Devan berangkat ke pabrik. Sepanjang jalan, pikirannya berputar pada ancaman Pak Riyadi semalam. Kalau Eva bicara, makhluk di ruang belakang akan membunuh orang tuanya di depan mata gadis itu. Kalau Devan diam, Agung dan Tiwi bisa jadi korban berikutnya.Ia harus menemukan cara melindungi mereka semua tanpa membuat orang tua Eva mati seketika. Dan sampai sekarang, ia belum tahu caranya.Menjelang siang, mesin cetak spanduk berhenti mendadak di tengah deru ruang produksi. Bimo dan dua operator lain mengerumuni mesin itu sambil saling menyalahkan, sementara mandor berdiri di belakang mereka dengan wajah menegang.Devan menyelinap di antara kerumunan, membuka penutup rol, dan menemukan selembar vinil yang tersangkut di sela rol penarik. Ia menariknya pelan-pelan agar tidak robek, lalu menutup kembali penutupnya dan menekan tombol hidup.Gerrr ... Tak-tak-tak!Mesin itu menyala lagi. Bimo bersiul panjang dan menepuk punggungnya keras-keras."Kerja bagus, Van." Mandor menyelipk
Minggu malam sekitar pukul sembilan, hujan rintik-rintik mulai turun dan menimpa atap kosan. Devan mengambil sebungkus mi instan dari lemari, memasukkan ke saku jaketnya, lalu membuka pintu kamar.Oyen sudah mengekor sampai ke ambang pintu, ekor bengkoknya menyapu betis Devan."Di dalam saja, Meng. Jangan keluar." Devan menunjuk ke arah kasur. Oyen mengeong pendek, tapi akhirnya duduk di tempat dan menatapnya dengan mata bulat selama Devan menutup pintu dan menguncinya dari luar.Lorong lantai satu lebih sepi dari biasanya. Lampu neon berdengung pelan, dan bau tanah basah dari luar merembes masuk lewat celah ventilasi. Devan sengaja melewati lorong sempit di samping dapur agar tidak perlu mendekati halaman belakang.Langkahnya terhenti di dekat pintu kayu yang menghubungkan kosan dengan rumah induk pemilik kos.Dari balik pintu itu terdengar suara perempuan yang membentak dengan nada tertahan, disusul isak tangis yang sangat Devan kenal. Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah sempit
Minggu pagi, Devan terbangun tanpa alarm. Hari ini ia libur, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kosan ini tubuhnya tidak diburu apa pun.Tumpukan pakaian kotor di sudut kamar sudah menggunung. Ia memasukkan semuanya ke ember di kamar mandi, menaburkan sisa deterjen sachet, lalu mengucek satu per satu sampai telapak tangannya memerah.Oyen duduk di ambang pintu kamar mandi sambil menjilati kaki depannya. Kucing itu tampak jauh lebih tenang daripada semalam.Devan memeras kemeja terakhir dan membawa ember ke lorong. Kantong sampah semalam masih tergeletak di sudut kamar, jadi ia menjinjingnya sekalian dengan tangan yang lain.Tali jemuran di lantai dua sudah penuh oleh seprai Tiwi dan Meli. Devan mendecak pelan, lalu berbelok ke lorong samping menuju halaman belakang yang jarang dilewati penghuni.Siang hari ternyata tidak seseram malam. Sampah ia buang ke tong di samping dapur, lalu ia melangkah ke tali jemuran di bawah pohon beringin.Tapi suasana di sana tetap terasa aneh. Dau
Malam itu sekitar pukul sembilan, Devan baru saja memarkir motornya di pekarangan setelah menyelesaikan sif siang di percetakan. Tubuhnya pegal, tapi setidaknya hari ini tidak ada lembur. Begitu masuk ke Kamar Nomor 3, Oyen langsung melompat turun dari kasur dan menggesekkan tubuh gempalnya ke pergelangan kaki Devan sambil mengeong. "Iya, iya. Lapar, ya?" Devan menuangkan biskuit kucing ke mangkuk plastik di sudut lemari. Oyen langsung menundukkan kepala dan makan dengan lahap, ekor bengkoknya bergoyang pelan. Sambil menunggu Oyen selesai makan, Devan mengumpulkan bungkus-bungkus bekas dan sisa kemasan biskuit ke dalam kantong plastik. Sudah menumpuk sejak kemarin dan mulai berbau. Ia membuka pintu kamar, dan melangkah ke lorong dengan kantong sampah di tangan. Tong sampah ada di samping dapur belakang, tinggal lurus melewati beberapa kamar. Tepat saat ia melewati Kamar Nomor 4 di seb
Keesokan paginya hari Sabtu, Devan terbangun lebih pagi dari biasanya. Sif kerjanya baru mulai siang nanti, jadi ia punya waktu luang.Setelah memberi Oyen biskuit khusus kucing yang dibelinya kemarin dan air minum, ia berjalan kaki keluar kamar, mengenakan kaos oblong dan sandal jepit. Perutnya butuh nasi uduk dan stok sabun mandinya sudah habis sejak kemarin. Di depan gerbang kosan, langkahnya melambat.Eva sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan. Gerakan sapunya lambat, nyaris malas-malasan, karena matanya tidak tertuju pada daun di bawah kakinya. Gadis itu menatap ke arah jalan raya di luar pagar dengan sorot yang Devan kenali seperti sorot orang yang sudah lama tidak pergi ke mana-mana."Pagi, Mbak Eva," sapa Devan.Eva menoleh, agak terkejut. "Pagi, Mas.""Saya mau ke warung ujung gang. Mbak mau titip sesuatu?" Devan berhenti di samping gerbang. "Atau sekalian mau ikut jalan? Saya mau beliin Mbak jajanan pasar buat ucapan terima kasih kemarin karena







