Share

Part 5. Siapa Perempuan Itu?

Kutarik nafas lalu dihembuskan perlahan, mengatur emosi yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Permasalahan yang ada harus diselesaikan satu per satu. Tak perlu lagi aku meratapi, tentang apa yang sudah terjadi. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Dan mungkin ini jalan terbaik. 

Mencoba ikhlas dan rela tentu takkan mudah. Tapi kalo menurut Yang Kuasa aku mampu menjalani, ya sudah berbesar hati saja. Aku kuat demi diri sendiri dan Ibu, itu saja saat ini.

Ku pandangi satu per satu foto yang berderet di atas nakas. Sungguh indah memang untuk dikenang, tak ada yang menyangka rumah tangga yang ku harap hanya sekali seumur hidup berakhir dengan persoalan yang menurutku itu konyol.

***

Malam harinya ku kemas satu per satu baju dan perlengkapan pribadi, rasanya semakin sesak jika aku tetap tinggal di rumah penuh kenangan ini. Sewaktu mau menutup pintu kamar. Tiba-tiba bell berbunyi, sembari ucapan salam dari luar.

"Assalamualaikum, Rinjani, buka pintunya!" suara yang tak asing lagi, dia mantan suamiku, Mas Reno.

"Waalaikumsalam." jawabku pelan sambil berjalan menuju pintu utama dan membukakan pintu, aku hanya diam membisu ketika pintu sudah terbuka. Tak ku hiraukan Mas Reno yang sudah berdiri di depan pintu.

"Mau kemana kamu malam-malam begini Rin, pake bawa koper segala?" sepertinya dia heran karena aku keluar membawa sebuah koper.

"Apa peduli mu, Mas. Bukankah aku bukan istrimu lagi." sungutku sembari tetap berjalan ke arah mobil.

"Hmm, atau kau mau kumpul keb* dengan selingkuhanmu itu? Iya. Wah, hebat-hebat." sindirnya sambil tepuk tangan.

"Jaga mulutmu ya, Mas!" aku berusaha mengontrol emosiku supaya tidak terpancing oleh ucapan Mas Reno.

"Benar-benar wanita jal*ng kau ya, Rinjani. Tidak salah kalau aku menalakmu. Dan kau wanita yang tak tahu diri." mulutnya semakin menjadi mencaci diriku.

"Terserah kata mu saja, Mas. Aku tak peduli." sambil mengangkat bahu dengan nada datar ku balas caciannya, buat apa juga meladani toh tidak merubah semuanya.

"Kau persis sama dengan Ibumu wanita jal*ng." teriaknya.

Kali ini tak bisa lagi ku redam emosi yang tertahan sejak tadi. Ku menoleh tajam ke arahnya, "lancang sekali mulutmu Mas, jika kamu benci denganku tak usah membawa nama Ibu dalam masalah kita. Aku tak mengapa dicampakkan begini, asal jangan Ibuku yang kamu hina." cecarku, ingin rasanya menampar mulut tak bermoral itu tapi aku tak ingin menodai tangan ini hanya demi laki-laki macam dia.

Ku banting pintu mobil dengan keras, biar dia tahu betapa murkanya aku dengan ucapannya yang tak bermoral itu. Apa ini sikap aslinya? Berani lancang kamu sama Ibuku. Laju mobilku tak stabil, emosi ku masih membludak, airmata juga masih mengucur dengan deras.

***

Mobilku terhenti di sebuah hotel kecil yang jaraknya lebih kurang satu jam dari rumahku. Cukuplah tempat ini menjadi penginapan ku beberapa hari kedepan. Setidaknya aku bisa beristirahat dengan tenang, tanpa ada bayang-bayang kenangan.

Berjalan menuju meja receptionist, tampak ada beberapa costumer penghuni hotel. Tapi, ada yang mengganggu pandanganku. Terlihat ada Rinata dan seorang teman perempuannya, tetapi sepertinya Rinata tidak melihat aku yang sedang berjalan menuju meja receptionist.

Ku tutupi setengah muka ini dengan cardigan yang daritadi terikat di bahuku, berharap Rinata tidak mengenali sosokku.

Lalu siapa perempuan yang bersama Rinata? Apa yang mereka lalukan di hotel malam-malam begini? 

Ah, sudahlah tak perlu ku hiraukan keberadaan Rinata dan temannya itu. Mending aku check-in dulu daripada keburu penuh kamar hotelnya. Di maklumin saja, hotel yang ku singgahi ini termasuk terfavorit, walaupun hanya bintang empat. Tetapi, posisi hotel yang strategis membuatnya banyak diminati.

Belum lagi hotel ini sering dipakai untuk acara-acara besar, salah satunya symposium acara kedokteran. Otomatis para peserta juga banyak menginap di sini.

"Mba, aku mau check-in selama seminggu atas nama Rinjani Haseena Putri." ucapku kepada petugas receptionist dia seorang wanita berparas ayu, dilihat dari pin yang melekat dibajunya, dia bernama Wandini.

"Baik Bu, Ibu mau bednya yang mana? Single atau yang big Bu?" tanyanya ramah.

"Yang besar aja, terus saya mau kamar yang viewnya pemandangan kota ini ya."

"Baik Bu, ini Bu kunci kamarnya, ada yang bisa dibantu lagi Bu?" serayanya sambil menawarkan bantuan.

"Oh, tidak terima kasih." kurapikan KTP lalu mengambil kunci kamar yang mirip seperti kartu ATM, dan berjalan menuju lift.

Sambil berjalan menuju lift, ku putar bola mata ke arah dimana Rinata dan teman perempuannya yang duduk di sofa tamu paling pojok, alangkah terkejutnya aku melihat Mas Reno duduk di antara mereka.

Ku tutup lagi setengah wajah ini dengan cardigan, lalu  berdiri di dekat tonggak sambil menguntit mereka bertiga. Lebih baik aku mencari tahu apa yang dilakukan Mas Reno di sini.

Aku yang berdiri di dekat tonggak sambil menjulurkan kepala sedikit, berharap ada informasi yang aku dapatkan dari menguntit mereka. Tiba-tiba ada yang memukul pundak ku, ketika menoleh.

"Mba, permisi anda ngapain ya berdiri di dekat tonggak dengan seperti ini?" tanya seorang satpam hotel.

"Eh, ti-tidak ngapa-ngapain Pak." agak gugup aku menjawabnya karena jantungku yang berdebar kencang melihat sosok mantan suamiku ada bersama sekretaris pribadiku sendiri.

"Sikap anda sedikit mencurigakan Bu, jangan sampai anda membuat masalah di hotel ini!" pungkasnya dengan suara agak lantang.

"Siapa juga yang bikin masalah, Pak? Apa salah, saya berdiri di dekat tonggak seperti ini?" aku berusaha membela diri supaya si satpam tidak menaruh curiga.

"Gelagat Ibu saya lihat seperti lagi membuntuti seseorang? Lebih baik Ibu pergi dari sini atau akan saya bawa ke posko satpam!" kali ini aku tak bisa lagi membela diri daripada mengundang perhatian banyak orang terlebih lagi kalau Mas Reno dan Rinata tahu keberadaanku, kuputuskan untuk pergi.

Kutarik kasar koper yang berada di samping, sambil berdengus ke satpam yang masih berdiri mematung. Aku pikir dia akan meninggalkan ku, rupanya malah dia masih berdiri tegak menunggu kepergianku dari tempat itu.

Aku yang tergesa-gesa masuk ke dalam lift karena takut Mas Reno dan Rinata tahu kalau aku berada di hotel yang sama dengan mereka. Ketika pintu lift terbuka, aku juga gegabah langsung masuk tanpa memerhatikan keadaan sekitar.

"Duh, hati-hati dong Mba." laki-laki bersuara oktaf itu mengagetkanku.

"Ma-maaf Pak, saya lagi buru-buru soalnya." aku membela diri supaya lelaki yang tertabrak oleh ku tak marah.

Aku menabrak seorang laki-laki bertubuh ideal, saat mau masuk lift. Sedangkan posisinya laki-laki itu ada di depan ku. Di dalam lift hanya ada aku dan laki-laki berkulit putih kebule-bulean itu. Betapa malunya aku, bisa gegabah seperti ini.

Duh Rinjani sabar, tak perlu tergesa seperti ini. Melihat sosok Mas Reno dengan Rinata membuyarkan semuanya. Malah menabrak orang yang tidak di kenal, syukur-syukur wanita, ini malah seorang laki-laki yang ku tabrak.

Keluar dari lift dengan tergesa-gesa kali ini bukan karena takut kelihatan oleh Mas Reno dan Rinata lagi tetapi karena malu telah menabrak orang lain dan sepanjang jalan menuju kamar, bathin ku masih bertanya-tanya apa yang dilakukan Mas Reno dengan Rinata di hotel ini? Lalu perempuan yang bersama mereka itu siapa?

Emosi ku yang masih naik turun serta fokus ku yang berantakan membuat pintu kamar tidak terbuka-buka. Padahal berulang kali aku tempelkan kartu check-in tetapi tetap saja tidak terbuka pintu kamarnya.

"Mba, kartunya terbalik."

Ketika ku menoleh ke samping kanan, ternyata lelaki yang aku tabrak di lift tadi, ya ampun raut wajahku seakan memerah dibuatnya, malu lebih tepatnya. "Eh, iya Pak. Makasih banyak." ucapku, pintu kamar terbuka, lalu buru-buru masuk sebelum lelaki itu tahu betapa malunya aku atas kejadian tadi.

Meletakan koper dan tas pribadi, lalu menuju lobi. Berharap masih kutemukan mereka.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Wina
seharusnya qm cari tahu Rinjani sapa tau tuh Reno yg selingkuh tuh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status