เข้าสู่ระบบ"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja, Lia? Kamu pikir kamu punya pilihan?" Surya bertanya dengan nada mengejek. "Kamu memang kuat mental, mirip sekali dengan mendiang ayahmu. Tapi kamu juga punya kelemahan yang sama dengan dia. Idealisme dan rasa hormat yang bodoh pada masa lalu."
Lia memicingkan mata, firasatnya memburuk. "Apa maksudmu?"
Surya mengeluarkan sebuah dokumen dari laci terkunci dan melemparkannya ke atas meja.
"Itu adalah sertifikat kepemilikan lahan mausoleum keluarga Sanjaya. Di sana ayah dan ibumu dimakamkan dalam kedamaian yang sangat mahal, bukan? Dan di sampingnya, ada berkas investigasi palsu yang sudah kusiapkan selama berbulan-bulan."
Lia mendekat, tangannya gemetar saat membaca sekilas berkas itu. "Ini ... ini dokumen penggelapan pajak atas nama Ayah? Ini semua palsu! Ayah tidak pernah melakukan ini!"
"Memang palsu," sahut Surya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tapi dengan koneksiku, besok pagi dokumen ini akan berada di meja kejaksaan. Nama besar ayahmu akan terseret ke lumpur. Dia akan dikenal sebagai koruptor yang merampok uang negara di masa jayanya. Dan yang lebih menarik lagi ...." Surya menjeda kalimatnya, membiarkan ketegangan meracuni udara. "... Area pemakaman itu. Lahan itu sudah aku jadikan jaminan tambahan. Jika kamu tidak pergi ke mansion Arka malam ini, besok pagi alat berat akan meratakan mausoleum itu untuk proyek jalan tol yang baru saja aku tandatangani pengalihfungsiannya. Ayah dan ibumu akan dibuang ke pemakaman massal tanpa nama."
Lia merasakan dunianya seolah runtuh. Rasa sakit di dadanya begitu menyesakkan hingga ia sulit bernapas. Ancaman ini jauh lebih keji daripada sekadar kemiskinan. Surya sedang mengancam untuk menghancurkan satu-satunya hal yang paling Lia jaga: kehormatan orang tuanya dan kedamaian mereka di alam sana.
"Kamu ... kamu monster," bisik Lia, suaranya bergetar oleh kemarahan yang meluap.
"Aku hanya seorang pria yang ingin bertahan hidup, Lia. Dan kamu adalah kuncinya," Surya mendekat, suaranya kini melunak dengan cara yang menjijikkan. "Jadilah gadis yang penurut. Pergilah ke mansion Dirgantara. Arka tidak akan menyakitimu jika kamu tahu cara melayaninya. Dia pria yang haus akan kontrol. Berikan dia kontrol itu, dan aku akan membakar semua dokumen palsu ini dan memastikan makam orang tuamu tidak akan pernah disentuh selamanya."
Lia menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya yang pucat. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Rina dan Surya menunggu dengan napas tertahan, yakin bahwa mereka telah memenangkan permainan ini.
Tiba-tiba, Lia mengangkat kepalanya. Tidak ada setetes pun air mata. Matanya justru memancarkan kilat yang lebih tajam dan dingin daripada sebelumnya. Ia berdiri tegak, memperbaiki kerah pakaiannya dengan gerakan yang sangat tenang—ketenangan yang mematikan.
"Baik," ucap Lia. Satu kata itu terdengar seperti keputusan hukuman mati bagi dirinya sendiri. "Aku akan pergi ke mansion Arka Dirgantara."
Surya tersenyum lebar, hendak memeluk Lia, namun Lia mundur satu langkah dengan tatapan yang membekukan gerakannya.
"Jangan sentuh aku," desis Lia. "Aku setuju untuk pergi, tapi bukan sebagai budak kalian. Aku pergi sebagai jaminan untuk memastikan kalian tidak akan pernah lagi menyentuh nama baik ayahku. Dan dengarkan ini baik-baik, Paman Surya ... Bibi Rina ... Kalian pikir kalian sedang menjualku untuk menyelamatkan diri kalian?"
Lia melangkah mendekat ke arah Surya, suaranya kini berbisik namun sangat tajam di telinga pria itu. "Aku akan memberikan 'kepatuhan' pada Arka Dirgantara. Aku akan memberikan apa pun yang dia minta. Tapi aku akan memastikan, bahwa begitu aku mendapatkan kepercayaannya, orang pertama yang akan kuhancurkan di bawah kakiku adalah kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan kalian menikmati satu sen pun dari kebebasan yang aku tukar malam ini."
Surya tertegun, ada rasa takut yang mendadak muncul di hatinya melihat tatapan Lia. Gadis ini bukan lagi keponakan yang bisa ia remehkan. Ia baru saja mengirimkan sebuah bom waktu ke rumah pria paling berkuasa di negeri ini.
Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.
Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me
Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus
Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang
Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag
Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li







