Share

Bab 2. Ancaman Surya. 

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-10-28 08:09:13

​"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja, Lia? Kamu pikir kamu punya pilihan?" Surya bertanya dengan nada mengejek. "Kamu memang kuat mental, mirip sekali dengan mendiang ayahmu. Tapi kamu juga punya kelemahan yang sama dengan dia. Idealisme dan rasa hormat yang bodoh pada masa lalu."

​Lia memicingkan mata, firasatnya memburuk. "Apa maksudmu?"

​Surya mengeluarkan sebuah dokumen dari laci terkunci dan melemparkannya ke atas meja.

"Itu adalah sertifikat kepemilikan lahan mausoleum keluarga Sanjaya. Di sana ayah dan ibumu dimakamkan dalam kedamaian yang sangat mahal, bukan? Dan di sampingnya, ada berkas investigasi palsu yang sudah kusiapkan selama berbulan-bulan."

​Lia mendekat, tangannya gemetar saat membaca sekilas berkas itu. "Ini ... ini dokumen penggelapan pajak atas nama Ayah? Ini semua palsu! Ayah tidak pernah melakukan ini!"

​"Memang palsu," sahut Surya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tapi dengan koneksiku, besok pagi dokumen ini akan berada di meja kejaksaan. Nama besar ayahmu akan terseret ke lumpur. Dia akan dikenal sebagai koruptor yang merampok uang negara di masa jayanya. Dan yang lebih menarik lagi ...." Surya menjeda kalimatnya, membiarkan ketegangan meracuni udara. "... Area pemakaman itu. Lahan itu sudah aku jadikan jaminan tambahan. Jika kamu tidak pergi ke mansion Arka malam ini, besok pagi alat berat akan meratakan mausoleum itu untuk proyek jalan tol yang baru saja aku tandatangani pengalihfungsiannya. Ayah dan ibumu akan dibuang ke pemakaman massal tanpa nama."

​Lia merasakan dunianya seolah runtuh. Rasa sakit di dadanya begitu menyesakkan hingga ia sulit bernapas. Ancaman ini jauh lebih keji daripada sekadar kemiskinan. Surya sedang mengancam untuk menghancurkan satu-satunya hal yang paling Lia jaga: kehormatan orang tuanya dan kedamaian mereka di alam sana.

​"Kamu ... kamu monster," bisik Lia, suaranya bergetar oleh kemarahan yang meluap.

​"Aku hanya seorang pria yang ingin bertahan hidup, Lia. Dan kamu adalah kuncinya," Surya mendekat, suaranya kini melunak dengan cara yang menjijikkan. "Jadilah gadis yang penurut. Pergilah ke mansion Dirgantara. Arka tidak akan menyakitimu jika kamu tahu cara melayaninya. Dia pria yang haus akan kontrol. Berikan dia kontrol itu, dan aku akan membakar semua dokumen palsu ini dan memastikan makam orang tuamu tidak akan pernah disentuh selamanya."

​Lia menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya yang pucat. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Rina dan Surya menunggu dengan napas tertahan, yakin bahwa mereka telah memenangkan permainan ini.

​Tiba-tiba, Lia mengangkat kepalanya. Tidak ada setetes pun air mata. Matanya justru memancarkan kilat yang lebih tajam dan dingin daripada sebelumnya. Ia berdiri tegak, memperbaiki kerah pakaiannya dengan gerakan yang sangat tenang—ketenangan yang mematikan.

​"Baik," ucap Lia. Satu kata itu terdengar seperti keputusan hukuman mati bagi dirinya sendiri. "Aku akan pergi ke mansion Arka Dirgantara."

​Surya tersenyum lebar, hendak memeluk Lia, namun Lia mundur satu langkah dengan tatapan yang membekukan gerakannya.

​"Jangan sentuh aku," desis Lia. "Aku setuju untuk pergi, tapi bukan sebagai budak kalian. Aku pergi sebagai jaminan untuk memastikan kalian tidak akan pernah lagi menyentuh nama baik ayahku. Dan dengarkan ini baik-baik, Paman Surya ... Bibi Rina ... Kalian pikir kalian sedang menjualku untuk menyelamatkan diri kalian?"

​Lia melangkah mendekat ke arah Surya, suaranya kini berbisik namun sangat tajam di telinga pria itu. "Aku akan memberikan 'kepatuhan' pada Arka Dirgantara. Aku akan memberikan apa pun yang dia minta. Tapi aku akan memastikan, bahwa begitu aku mendapatkan kepercayaannya, orang pertama yang akan kuhancurkan di bawah kakiku adalah kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan kalian menikmati satu sen pun dari kebebasan yang aku tukar malam ini."

​Surya tertegun, ada rasa takut yang mendadak muncul di hatinya melihat tatapan Lia. Gadis ini bukan lagi keponakan yang bisa ia remehkan. Ia baru saja mengirimkan sebuah bom waktu ke rumah pria paling berkuasa di negeri ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 8. Pertemuan Sang Alpha. 

    Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 7. Bukan Lagi Tawanan.

    "Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 6. Makan Malam. 

    Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 5. Hanya Jaminan. 

    "Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 4. Gaun Pemancing. 

    Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 3. Meninggalkan Kediaman Sanjaya. 

    ​"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."​Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***​Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain.​"Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."​Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status