LOGIN"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."
Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.
***
Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain.
"Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."
Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Di ruang tamu, Surya sedang berbicara di telepon, kemungkinan besar sedang mengonfirmasi "pengiriman" kepada asisten Arka. Lia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu depan di mana sebuah mobil hitam legam sudah menunggu di bawah guyuran hujan.
Ia masuk ke dalam mobil tanpa satu pun kata perpisahan. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Sanjaya, Lia menatap gerbang rumah itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak merasa sedih. Ia merasa hampa, namun di tengah kehampaan itu, ada tekad yang sangat kuat.
Ia tahu Arka Dirgantara adalah pria yang berbahaya. Ia tahu bahwa ia sedang melangkah masuk ke dalam sangkar emas seorang Alpha yang haus akan kekuasaan. Namun, Lia tidak akan masuk ke sana sebagai korban yang gemetar.
Ia akan menggunakan kecantikannya, kecerdasannya, dan rasa sakitnya sebagai senjata. Jika Arka ingin sebuah persembahan, maka Lia akan memberinya persembahan yang tidak akan pernah bisa pria itu lupakan. Persembahan yang akan membuat Arka Dirgantara menyadari bahwa ia baru saja memasukkan seorang wanita yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan sekaligus memujanya.
Mobil terus melaju membelah kegelapan malam menuju perbukitan elit tempat mansion Arka berada. Lia menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang dingin, membiarkan pemandangan kota yang kabur karena hujan melewati matanya. Pikirannya sudah mulai menyusun strategi. Ia tahu ia harus terlihat menarik di depan Arka, ia harus membuat pria itu menginginkannya lebih dari sekadar pemuas hasrat sesaat. Ia harus menjadi kebutuhan bagi Arka.
Hanya dengan menjadi tak tergantikan bagi sang Alpha, ia bisa memiliki kekuatan untuk membalas dendam pada Paman Surya. Kesepakatan neraka ini baru saja dimulai, dan Lia Sanjaya siap untuk menarikan tarian maut di atas api yang paling panas sekalipun.
Ketika mobil akhirnya memasuki kompleks mansion yang megah dengan penjagaan yang luar biasa ketat, Lia menarik napas panjang. Cahaya lampu dari mansion Dirgantara memantul di matanya, menciptakan kilatan yang penuh rahasia. Ia tidak lagi peduli pada nasibnya sendiri. Fokusnya kini hanyalah satu: Bertahan hidup, menguasai Sang Alpha, dan menghancurkan para pengkhianat.
Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer mansion yang megah. Seorang pelayan dengan seragam rapi membukakan pintu untuknya. Lia keluar dari mobil, tidak membiarkan setetes air hujan pun merusak harga dirinya. Ia berdiri tegak di depan kemegahan yang mengintimidasi itu, menatap pintu besar yang akan menjadi pintu masuk menuju babak baru hidupnya.
"Selamat datang, Nona Sanjaya," sambut seorang pria paruh baya yang tampak sangat efisien dan dingin—Benyamin. "Tuan Arka sudah menunggu laporannya, namun ia meminta Anda untuk segera dibawa ke ruangannya."
Lia mengangguk singkat. "Bawa saya padanya."
Suaranya tidak bergetar. Langkahnya mantap. Lia Sanjaya tidak akan pernah kembali lagi sebagai gadis yang sama. Malam ini, di bawah bayang-bayang mansion sang Alpha, sebuah perang psikologis dan gairah yang gelap resmi dimulai. Ia telah setuju untuk menjadi jaminan, dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara mendapatkan jaminan yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







