Beranda / Romansa / Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku / Bab 3. Meninggalkan Kediaman Sanjaya. 

Share

Bab 3. Meninggalkan Kediaman Sanjaya. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-28 08:09:37

​"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."

​Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.

***

Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain.

​"Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."

​Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Di ruang tamu, Surya sedang berbicara di telepon, kemungkinan besar sedang mengonfirmasi "pengiriman" kepada asisten Arka. Lia tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu depan di mana sebuah mobil hitam legam sudah menunggu di bawah guyuran hujan.

​Ia masuk ke dalam mobil tanpa satu pun kata perpisahan. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Sanjaya, Lia menatap gerbang rumah itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak merasa sedih. Ia merasa hampa, namun di tengah kehampaan itu, ada tekad yang sangat kuat.

​Ia tahu Arka Dirgantara adalah pria yang berbahaya. Ia tahu bahwa ia sedang melangkah masuk ke dalam sangkar emas seorang Alpha yang haus akan kekuasaan. Namun, Lia tidak akan masuk ke sana sebagai korban yang gemetar.

​Ia akan menggunakan kecantikannya, kecerdasannya, dan rasa sakitnya sebagai senjata. Jika Arka ingin sebuah persembahan, maka Lia akan memberinya persembahan yang tidak akan pernah bisa pria itu lupakan. Persembahan yang akan membuat Arka Dirgantara menyadari bahwa ia baru saja memasukkan seorang wanita yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan sekaligus memujanya.

​Mobil terus melaju membelah kegelapan malam menuju perbukitan elit tempat mansion Arka berada. Lia menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang dingin, membiarkan pemandangan kota yang kabur karena hujan melewati matanya. Pikirannya sudah mulai menyusun strategi. Ia tahu ia harus terlihat menarik di depan Arka, ia harus membuat pria itu menginginkannya lebih dari sekadar pemuas hasrat sesaat. Ia harus menjadi kebutuhan bagi Arka.

​Hanya dengan menjadi tak tergantikan bagi sang Alpha, ia bisa memiliki kekuatan untuk membalas dendam pada Paman Surya. Kesepakatan neraka ini baru saja dimulai, dan Lia Sanjaya siap untuk menarikan tarian maut di atas api yang paling panas sekalipun.

​Ketika mobil akhirnya memasuki kompleks mansion yang megah dengan penjagaan yang luar biasa ketat, Lia menarik napas panjang. Cahaya lampu dari mansion Dirgantara memantul di matanya, menciptakan kilatan yang penuh rahasia. Ia tidak lagi peduli pada nasibnya sendiri. Fokusnya kini hanyalah satu: Bertahan hidup, menguasai Sang Alpha, dan menghancurkan para pengkhianat.

​Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer mansion yang megah. Seorang pelayan dengan seragam rapi membukakan pintu untuknya. Lia keluar dari mobil, tidak membiarkan setetes air hujan pun merusak harga dirinya. Ia berdiri tegak di depan kemegahan yang mengintimidasi itu, menatap pintu besar yang akan menjadi pintu masuk menuju babak baru hidupnya.

​"Selamat datang, Nona Sanjaya," sambut seorang pria paruh baya yang tampak sangat efisien dan dingin—Benyamin. "Tuan Arka sudah menunggu laporannya, namun ia meminta Anda untuk segera dibawa ke ruangannya."

​Lia mengangguk singkat. "Bawa saya padanya."

​Suaranya tidak bergetar. Langkahnya mantap. Lia Sanjaya tidak akan pernah kembali lagi sebagai gadis yang sama. Malam ini, di bawah bayang-bayang mansion sang Alpha, sebuah perang psikologis dan gairah yang gelap resmi dimulai. Ia telah setuju untuk menjadi jaminan, dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara mendapatkan jaminan yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 100. Topeng Dingin Arka. 

    Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."​Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."​Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 99. Formalitas yang Menyakitkan. 

    ​Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.​Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 98. ketakutan Sang Alpha.

    ​Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.​Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   bab 97. Dinding Transparan. 

    ​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.​Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.​Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 95. Jawaban Arka.

    ​Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status