แชร์

Bab 4. Gaun Pemancing. 

ผู้เขียน: Ucing Ucay
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-28 08:09:56

Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya.

"Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.

Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.

Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan.

"Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.

Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci mereka berdua di dalam ruangan yang sunyi itu. Arka masih belum berbalik. Lia tetap berdiri di posisinya, beberapa meter di belakang Arka. Ia tidak bicara, tidak bergerak, membiarkan keheningan bekerja untuknya. Ia tahu bahwa dalam permainan psikologis, siapa yang bicara pertama biasanya adalah pihak yang lebih lemah.

Detik demi detik berlalu. Keheningan di antara mereka terasa seperti kabel baja yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. Akhirnya, Arka berbalik perlahan.

Tatapan mata pria itu tajam, seperti pisau yang sedang membedah keberadaan Lia. Arka menatapnya mulai dari ujung kaki, mengikuti garis belahan roknya, naik ke pinggangnya yang ramping, hingga berhenti cukup lama di bagian dadanya yang terekspos oleh kerah cowl neck gaunnya. Terakhir, matanya terkunci pada mata Lia.

Lia bisa melihat kilatan ketertarikan yang sangat singkat di mata abu-abu Arka sebelum segera digantikan oleh kedinginan yang biasa. Arka meletakkan gelasnya di atas meja kerja mahoninya dan berjalan mendekat. Setiap langkah Arka terasa seperti ancaman fisik bagi Lia, namun ia menolak untuk mundur. Ia membalas tatapan Arka dengan kepala tegak, membiarkan Arka melihat keberanian di matanya.

"Pamanmu bilang dia mengirim seorang gadis yang patuh," suara Arka terdengar lebih dekat sekarang, hanya beberapa langkah darinya. Arka mengamati riasan wajah Lia yang tajam dan gaun hitamnya yang berani.

"Tapi kamu terlihat seperti wanita yang sedang merencanakan kudeta, bukan persembahan."

Lia tersenyum, sebuah senyuman kecil yang tidak mencapai matanya. "Kepasrahan adalah hal yang membosankan, bukan, Tuan Arka? Saya pikir seorang pria di posisi Anda lebih menghargai tantangan daripada sekadar boneka yang bisa ditarik talinya."

Arka mengangkat alisnya, tampak sedikit terhibur oleh keberanian Lia. Ia melangkah lebih dekat lagi, hingga aroma parfum Lia mulai bercampur dengan aroma tubuhnya. Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Lia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Arka.

"Tantangan?" Arka mengulangi kata itu dengan nada mengejek. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Lia, melainkan untuk mengambil seuntai rambut Lia yang jatuh di bahunya. Ia merasakan tekstur rambut itu di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat lambat, sangat intim. 

"Kamu pikir gaun ini dan tatapan tajammu itu adalah sebuah tantangan? Di rumah ini, tantangan biasanya berakhir dengan kehancuran bagi pihak yang mencoba memberikannya."

"Lalu, apa yang Anda inginkan?" tanya Lia, suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang karena kedekatan fisik mereka. "Jika Anda menginginkan wanita yang menangis dan memohon belas kasihan, Anda bisa mengirim saya kembali sekarang juga. Tapi saya ragu Anda akan melakukan itu."

Arka melepaskan rambut Lia dan menatapnya dengan intensitas yang seolah mampu menembus pakaiannya. "Pamanmu menjanjikan jaminan yang murni. Tapi kamu datang ke sini mengenakan gaun pemancing seperti ini. Apa yang sedang kamu coba pancing, Lia Sanjaya? Apakah kamu pikir kamu bisa memanipulasi saya dengan kecantikanmu?"

"Saya hanya memberikan apa yang seharusnya Anda dapatkan sebagai kreditor utama keluarga saya," jawab Lia diplomatis. "Presentasi yang baik adalah kunci dari setiap kesepakatan bisnis, bukan? Dan saya di sini untuk memastikan bahwa kesepakatan antara Anda dan Paman Surya berjalan lancar ... sesuai dengan cara saya."

Arka tertawa, suara tawa yang pendek dan kering. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mencengkeram rahang Lia dengan cukup kuat, memaksa Lia untuk mendongak sepenuhnya ke arahnya. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun sangat posesif dan mendominasi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 100. Topeng Dingin Arka. 

    Arka tetap tenang, ketenangannya justru terasa lebih menyakitkan daripada jika ia berteriak balik. "Uang adalah bahasa yang paling jujur di dunia ini, Lia. Dengan uang ini, aku memastikan kamu tidak butuh siapa pun selain aku. Aku membelikanmu keamanan, kenyamanan, dan eksklusivitas. Jika kamu merasa ini sebagai penghinaan, itu karena kamu masih melihat dunia dengan cara yang naif. Di duniaku, segalanya memiliki harga. Dan kamu ... kamu adalah sesuatu yang aku bayar sangat mahal agar tetap murni dan tidak tersentuh."​Lia tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Jadi itu alasannya? Kamu ingin mengingatkanku kembali bahwa aku adalah barang milikmu? Kamu mendorongku menjauh dengan tumpukan uang ini karena kamu takut, kan? Kamu takut karena semalam kamu hampir kehilangan kendali atas emosimu sendiri."​Rahang Arka mengeras mendengar kata "takut", namun ia tidak membiarkan topeng dinginnya retak. "Aku tidak pernah takut, Lia.

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 99. Formalitas yang Menyakitkan. 

    ​Langkah kaki Lia Sanjaya yang biasanya ringan kini terdengar berat dan ragu saat ia melintasi koridor panjang menuju ruang kerja utama Arka Dirgantara. Karpet tebal yang membentang di bawah kakinya seolah-olah menyedot seluruh energinya, meninggalkannya dalam kondisi emosional yang kosong. Di belakangnya, Yudha berjalan dengan jarak konstan yang menjengkelkan—tiga langkah tepat di belakang bahu kirinya—menjadi pengingat fisik bahwa kebebasannya bukan lagi miliknya. Lia bisa merasakan tatapan pria itu di punggungnya, sebuah pengawasan yang terasa seperti serangga yang merayap di kulitnya.​Ketika pintu jati ganda yang megah itu terbuka, Lia disambut oleh suhu udara yang beberapa derajat lebih dingin daripada koridor di luar. Ruang kerja Arka tampak seperti kuil kekuasaan yang sunyi. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca raksasa tidak memberikan kesan hangat, melainkan menciptakan kontras yang tajam antara cahaya dan bayangan di sudut-sudut ruangan. Arka duduk di balik me

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 98. ketakutan Sang Alpha.

    ​Kesunyian di dalam ruang kerja utama Arka Dirgantara bukanlah jenis kesunyian yang membawa ketenangan, melainkan jenis kesunyian yang berat, pekat, dan tajam, seolah-olah setiap partikel udara di ruangan itu telah membeku menjadi kristal es yang siap melukai siapa pun yang berani menarik napas terlalu dalam. Di balik meja jati kuno yang luas dan gelap, Arka duduk mematung. Tubuhnya yang tegap masih terbungkus sempurna oleh setelan jas tiga lapis yang kaku, namun di balik topeng profesionalisme yang tanpa cela itu, sebuah badai sedang berkecamuk di dalam rongga dadanya. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding kaca transparan di sampingnya kini terasa terlalu terang, terlalu jujur, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan dan ketegangan yang biasanya ia sembunyikan dengan sangat rapi dari dunia luar.​Arka mengalihkan pandangannya ke arah monitor pengawas yang menampilkan sudut ruang makan kecil di sebelah. Di sana, ia bisa melihat Lia Sanjaya yang sedang duduk dengan bahu tegang, menus

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   bab 97. Dinding Transparan. 

    ​Suasana di dalam mansion Dirgantara pagi itu terasa sangat berbeda, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar dan digantikan oleh gas nitrogen yang membekukan segalanya. Setelah badai emosi yang meledak di hotel—antara gairah yang menghancurkan dan tirani yang membinasakan—Lia Sanjaya terbangun di kamar barunya dengan perasaan seolah ia baru saja dipindahkan ke dimensi lain. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar tamu yang mewah; ini adalah mahakarya arsitektur yang dirancang khusus oleh Arka untuk menjadi suaka sekaligus sel isolasi paling mutakhir. Dinding-dindingnya dilapisi kain sutra abu-abu muda yang elegan, namun di balik kelembutan itu, Lia bisa merasakan kehadiran teknologi pengawasan yang tertanam di setiap sudut.​Lia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu besar yang kini dijaga oleh dua pria berseragam hitam di luar sana. Ia menunggu Arka. Ia terbiasa dengan rutinitas Arka yang posesif, yang akan masuk tanpa mengetuk, menariknya ke dalam pelukan yang

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 96. Sangkar Emas yang Menguat. 

    ​Matahari sudah menggantung tinggi di atas langit Jakarta, namun bagi Lia Sanjaya, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan ketajaman yang menelanjangi realitas baru dalam hidupnya. Di dalam suite yang masih menyisakan aroma parfum Arka dan jejak badai semalam, Lia berdiri terpaku saat pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Ia mengira Arka akan masuk sendirian untuk membawanya pergi, namun yang muncul di balik daun pintu kayu jati itu adalah sebuah pemandangan yang seketika membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.​Arka berdiri di tengah, namun di belakangnya, berdiri barisan pria bersetelan jas hitam dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi yang menyerupai robot. Mereka bukan lagi sekadar staf keamanan gedung atau supir yang biasa ia lihat. Mereka memiliki aura yang jauh lebih berbahaya—dingin, sigap, dan memiliki tatapan yang tidak pernah lepas dari objek tugas mereka. Ada enam orang baru, dan Lia tahu, kehadiran mereka bukan untuk menjaga hotel, melainkan untuk menjag

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 95. Jawaban Arka.

    ​Lia menelan ludah, menatap Arka dengan tatapan yang tajam sekaligus memohon. "Jika kamu bisa melakukan hal sekejam ini pada orang lain hanya karena masalah sepele ... jika kamu bisa menghancurkan hidup Adrian tanpa penyesalan hanya karena dia membuatmu kesal ... lalu bagaimana denganku?" Lia menarik napas panjang, suaranya merendah menjadi bisikan yang menghantui. "Apakah kamu akan melakukan hal yang sama padaku jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu? Jika aku melakukan kesalahan, atau jika aku ingin pergi, apakah kamu juga akan mengaktifkan mesin penghancurmu untuk melumatku sampai tidak ada yang tersisa?"​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti sebilah pedang yang siap jatuh. Ruangan itu seketika menjadi begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman palu hakim. Lia menatap Arka, mencari secercah jaminan, sebuah kata-kata manis yang biasanya diberikan oleh pria yang mencintai wanitanya—janji bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Lia, janji bahwa Li

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status