LOGINMereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya.
"Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.
Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.
Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan.
"Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.
Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci mereka berdua di dalam ruangan yang sunyi itu. Arka masih belum berbalik. Lia tetap berdiri di posisinya, beberapa meter di belakang Arka. Ia tidak bicara, tidak bergerak, membiarkan keheningan bekerja untuknya. Ia tahu bahwa dalam permainan psikologis, siapa yang bicara pertama biasanya adalah pihak yang lebih lemah.
Detik demi detik berlalu. Keheningan di antara mereka terasa seperti kabel baja yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. Akhirnya, Arka berbalik perlahan.
Tatapan mata pria itu tajam, seperti pisau yang sedang membedah keberadaan Lia. Arka menatapnya mulai dari ujung kaki, mengikuti garis belahan roknya, naik ke pinggangnya yang ramping, hingga berhenti cukup lama di bagian dadanya yang terekspos oleh kerah cowl neck gaunnya. Terakhir, matanya terkunci pada mata Lia.
Lia bisa melihat kilatan ketertarikan yang sangat singkat di mata abu-abu Arka sebelum segera digantikan oleh kedinginan yang biasa. Arka meletakkan gelasnya di atas meja kerja mahoninya dan berjalan mendekat. Setiap langkah Arka terasa seperti ancaman fisik bagi Lia, namun ia menolak untuk mundur. Ia membalas tatapan Arka dengan kepala tegak, membiarkan Arka melihat keberanian di matanya.
"Pamanmu bilang dia mengirim seorang gadis yang patuh," suara Arka terdengar lebih dekat sekarang, hanya beberapa langkah darinya. Arka mengamati riasan wajah Lia yang tajam dan gaun hitamnya yang berani.
"Tapi kamu terlihat seperti wanita yang sedang merencanakan kudeta, bukan persembahan."
Lia tersenyum, sebuah senyuman kecil yang tidak mencapai matanya. "Kepasrahan adalah hal yang membosankan, bukan, Tuan Arka? Saya pikir seorang pria di posisi Anda lebih menghargai tantangan daripada sekadar boneka yang bisa ditarik talinya."
Arka mengangkat alisnya, tampak sedikit terhibur oleh keberanian Lia. Ia melangkah lebih dekat lagi, hingga aroma parfum Lia mulai bercampur dengan aroma tubuhnya. Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Lia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Arka.
"Tantangan?" Arka mengulangi kata itu dengan nada mengejek. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Lia, melainkan untuk mengambil seuntai rambut Lia yang jatuh di bahunya. Ia merasakan tekstur rambut itu di antara jemarinya dengan gerakan yang sangat lambat, sangat intim.
"Kamu pikir gaun ini dan tatapan tajammu itu adalah sebuah tantangan? Di rumah ini, tantangan biasanya berakhir dengan kehancuran bagi pihak yang mencoba memberikannya."
"Lalu, apa yang Anda inginkan?" tanya Lia, suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang karena kedekatan fisik mereka. "Jika Anda menginginkan wanita yang menangis dan memohon belas kasihan, Anda bisa mengirim saya kembali sekarang juga. Tapi saya ragu Anda akan melakukan itu."
Arka melepaskan rambut Lia dan menatapnya dengan intensitas yang seolah mampu menembus pakaiannya. "Pamanmu menjanjikan jaminan yang murni. Tapi kamu datang ke sini mengenakan gaun pemancing seperti ini. Apa yang sedang kamu coba pancing, Lia Sanjaya? Apakah kamu pikir kamu bisa memanipulasi saya dengan kecantikanmu?"
"Saya hanya memberikan apa yang seharusnya Anda dapatkan sebagai kreditor utama keluarga saya," jawab Lia diplomatis. "Presentasi yang baik adalah kunci dari setiap kesepakatan bisnis, bukan? Dan saya di sini untuk memastikan bahwa kesepakatan antara Anda dan Paman Surya berjalan lancar ... sesuai dengan cara saya."
Arka tertawa, suara tawa yang pendek dan kering. Ia tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mencengkeram rahang Lia dengan cukup kuat, memaksa Lia untuk mendongak sepenuhnya ke arahnya. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun sangat posesif dan mendominasi.
Lia menarik napas tajam. "Dia bilang aku aman untuk malam ini.""Di rumah ini, keamanan adalah apa yang Tuan Arka definisikan pada detik itu juga, Nona," jawab Benyamin datar sembari memberikan isyarat ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai atas, sayap paling privat dari mansion tersebut.Lia tidak membantah. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, keraguan adalah kelemahan. Ia mengikuti Benyamin melewati koridor yang lebih gelap, di mana dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang memancarkan aroma sejarah dan kekuasaan. Detak jantung Lia berdentum di telinganya, seirama dengan langkah sepatunya di atas karpet Persia yang tebal. Ketika mereka sampai di depan pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi, Benyamin berhenti dan membukanya tanpa ketukan."Masuklah," perintah pria tua itu pelan.Lia melangkah masuk, dan pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang final. Ruang kerja itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi dua lantai dan dinding yang sepenuhnya tertutup ole
"Makanlah," kata Arka, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap memiliki nada perintah yang tak terbantahkan. "Kamu akan butuh energi untuk apa yang akan terjadi selanjutnya."Lia tersenyum misterius dan mulai menikmati hidangan mewah di depannya. Di setiap suapannya, ia merasakan kekuasaan yang mulai bergeser. Ia bukan lagi tawanan. Ia adalah tamu yang berbahaya. Dan ia akan memastikan bahwa Arka Dirgantara tidak akan pernah bisa melupakan malam di mana Lia Sanjaya masuk ke dalam hidupnya dengan mengenakan gaun pemancing yang mematikan itu.Sepanjang makan malam, percakapan mereka adalah rangkaian serangan dan pertahanan verbal yang cerdik. Arka mencoba menggali masa lalu Lia, mencoba mencari titik lemahnya, namun Lia selalu berhasil membelokkan pertanyaan itu kembali kepada Arka atau menjawabnya dengan kejujuran yang justru semakin membuat Arka terpesona. Mereka bicara tentang kekuasaan, tentang pengkhianatan, dan tentang bagaimana dunia ini hanya milik mereka yang berani meng
Satu jam kemudian, Benyamin kembali mengetuk pintunya.Lia bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun hitamnya yang tidak kusut sedikit pun, dan mengenakan kembali sepatunya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya. Saat ia melangkah keluar, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai Lia Sanjaya sang guru TK. Ia adalah sebuah entitas baru. Seorang wanita yang lahir dari pengkhianatan dan ditempa oleh ambisi.Ia dibawa menuju ruang makan yang sangat mewah, di mana sebuah meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang telah disiapkan hanya untuk mereka berdua. Arka sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat dan jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.Cahaya lilin di atas meja memberikan nuansa yang sangat intim sekaligus mencekam. Arka menengadah saat Lia masuk, matanya kembali menelusuri penampilannya dengan intensitas yang sama."Duduklah, Nona Sanjaya," per
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Sanjaya," bisik Arka, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Arka di bibirnya. "Kamu bukan penentu cara di sini. Kamu adalah jaminan. Dan jaminan tidak memiliki hak untuk bernegosiasi. Kamu mungkin punya keberanian, dan gaun ini ... gaun ini memang melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tapi jangan pernah berpikir sekejap pun bahwa kau memegang kendali atas apa yang akan terjadi di antara kita."Lia menatap balik ke dalam mata abu-abu Arka yang gelap. Alih-alih merasa takut oleh dominasi fisik itu, ia justru merasakan dorongan adrenalin yang luar biasa. Ia merasakan tantangan di balik kata-kata Arka. Pria ini ingin menghancurkan pertahanannya, ingin melihatnya tunduk. Dan Lia tahu, semakin ia melawan, semakin Arka akan terobsesi padanya."Kita lihat saja nanti, Tuan Arka," balas Lia pelan, hampir berupa bisikan. "Terkadang, jaminan yang paling berharga adalah jaminan yang paling sulit untuk dikuasai."Arka t
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari kayu jati berukir. Benyamin mengetuk perlahan, lalu membukanya."Nona Sanjaya sudah tiba, Tuan," lapor Benyamin.Lia melangkah masuk ke dalam ruangan itu sebelum dipersilakan. Ruang kerja Arka jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan rak buku setinggi langit-langit, sementara di ujung ruangan terdapat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana. Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela dengan segelas cairan berwarna amber di tangannya.Ruangan itu dipenuhi dengan aroma maskulin yang kuat—campuran antara tembakau mahal, kulit, dan aroma hutan setelah hujan. Aura kekuasaan di sini begitu pekat hingga Lia merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam wilayah predator yang paling mematikan."Kamu boleh pergi, Benyamin," suara Arka terdengar rendah, berwibawa, dan dingin.Pintu di belakang Lia tertutup dengan bunyi
"Siapkan mobilnya sekarang," perintah Lia tanpa kompromi. "Aku tidak ingin menghabiskan satu detik pun lagi di rumah yang penuh dengan bau bangkai ini."Rina bergegas keluar untuk memanggil sopir, sementara Lia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia tidak butuh waktu lama untuk berkemas. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian sederhana dan sebuah foto kecil orang tuanya yang ia selipkan di balik saku bajunya.***Saat ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, Lia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang baru saja membuat kesepakatan dengan iblis untuk melindungi kehormatan orang-orang yang ia cintai. Pacing hidupnya yang tenang sebagai seorang guru TK telah berakhir dalam semalam. Kini, ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lain."Ayah ... Ibu ... maafkan aku," bisiknya pada bayangan di cermin. "Aku akan menjaga nama kalian, meskipun aku harus kehilangan diriku sendiri di mansion itu."Lia keluar dari kamarnya dan menuruni tangg







