Share

Bab 5 

Penulis: AnindYa
Setelah pulang kerja, Keisha mengajak Dinda makan malam bersama. Mereka sudah tidak bertemu selama dua minggu dan punya banyak hal untuk dibicarakan.

"Kamu benar-benar sudah putuskan mau cerai sama Kak Sam?"

Dinda dan Keisha sudah berteman sejak kecil. Dinda mengetahui segala hal tentangnya.

"Monica dan anaknya sudah tinggal di rumah kami. Kalau aku masih nggak cerai, apa posisiku di rumah itu?"

Dinda bercanda, "Bibi anak itu?"

Melihat Keisha hampir marah, Dinda segera takut dan berujar, "Iya, cerai saja! Kamu sudah seharusnya ceraikan dia sejak lama. Siapa yang masih perawan setelah lima tahun menikah? Bahkan istri tetanggaku yang koma saja lagi hamil anak kedua. Kakak keduamu itu mau berlagak jadi pria suci? Jangan-jangan, dia mau jaga kesuciannya untuk Monica?"

Keisha tetap diam. Dia tidak mengatakan bahwa Samuel sudah tidur di kamar Monica. Itu terlalu memalukan dan dia tidak sanggup mengatakannya.

"Biarkan saja dia. Lagian, aku sudah nggak bisa terima dia lagi."

Di dalam hati Keisha, Samuel sudah tidak bersih lagi. Bukan hanya tubuhnya yang kotor, hatinya bahkan lebih kotor lagi. Dia tidak menginginkan apa pun yang kotor.

Dinda terlihat lega. "Ini baru Keisha yang kukenal. Kak Sam seharusnya setuju untuk cerai, 'kan?"

"Dia nggak setuju."

Brak! Dinda membanting cangkir air di tangannya ke meja. Untungnya, cangkir itu terbuat dari kayu.

"Apa dia itu psikopat? Atau punya mentalitas feodal?"

Keisha mengambil tisu untuk menyeka tetesan air dari wajahnya, lalu menyeka air di meja.

"Dinda, pelankan suaramu. Ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan."

Dinda memperhatikan Keisha yang menyeka air dengan tenang. Amarahnya langsung memuncak. "Kak Sam menindasmu karena kamu begitu patuh sama dia!"

Keisha memutar-mutar cincin pernikahannya. "Aku sudah janji ke Nenek."

Cincin itu adalah bagian dari maskawin Linda dari keluarganya dulu. Itu adalah barang antik yang tak ternilai harganya dan diberikan kepada Keisha lima tahun yang lalu. Di matanya, cincin itu adalah kenang-kenangan dari Linda dan tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini.

Dinda menghela napas. Amarahnya berubah menjadi ketidakberdayaan.

Pada musim dingin 17 tahun yang lalu, Keisha yang masih kecil ditelantarkan di jalanan oleh kerabatnya dan hampir mati kedinginan. Linda yang membawanya pulang. Selain itu, Linda juga memberinya kehidupan dan pendidikan terbaik, serta kasih sayang yang paling besar.

Sebelum meninggal, Linda berlutut di hadapan Keisha dan memohon padanya untuk menikah dengan Samuel. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak punya pilihan lain. Dia bukannya tidak bisa meninggalkan Samuel, tetapi tidak bisa mengingkari janjinya kepada Linda.

Keisha tersenyum tenang. "Dari dulu, yang mengikatku bukanlah Samuel, melainkan hatiku sendiri dan jasa Nenek."

Terlepas dari pernikahan ini, Samuel tetap adalah kakak keduanya, juga cucu yang paling disayangi Linda.

Dari lima tahun yang lalu, Keisha sudah mengerti apa artinya ketidakberdayaan. Betapa sulit pun situasi saat ini, itu tidak mungkin lebih sulit daripada lima tahun lalu.

Dengan kepulangan Monica, hati Keisha justru sudah bebas. Dia mungkin harus menepati janjinya kepada Linda, tetapi dia tidak perlu lagi setia pada Samuel.

Dinda memutar cangkir airnya. Terdapat sedikit penyesalan di matanya.

"Aku masih ingat waktu kelas tiga SMA, kamu pernah demam tinggi dan dirawat di rumah sakit. Kak Sam lagi di luar negeri untuk hadiri kompetisi penting, tapi dia langsung terbang pulang untuk temani kamu dan ceritakan lelucon kepadamu. Kamu mengeluh dia berisik, tapi dia nggak berani berhenti karena takut kamu ketiduran."

Keisha mengencangkan cengkeramannya pada sumpit dan menggumamkan "emm". Dia mengingat semua ini. Kebaikan Samuel terhadapnya di masa lalu memang tak terbantahkan.

"Dulu, dia benar-benar perhatian sama kamu. Aku bahkan sempat diam-diam naksir sama dia untuk beberapa saat. Betapa baiknya pemuda yang lembut dan ceria itu!" Setelah berbicara sampai di sini, Dinda memasang tampang cemberut dan menambahkan, "Siapa sangka dia akan jadi begitu keras kepala dan bodoh."

Keisha tidak menjawab. Dia mengambil potongan terakhir sayuran hijau dari mangkuknya dan memakannya. Setelah mengeluarkan tisu untuk menyeka mulutnya, dia berkata sambil tersenyum, "Semua itu sudah berlalu."

Momen-momen kecil dan hangat di masa lalu itu nyata, begitu pula dengan jarak yang terasa mencekik saat ini.

Setiap kali bertemu, Keisha dan Dinda selalu memiliki begitu banyak hal untuk dibicarakan. Ketika Keisha tiba di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat.

Samuel yang biasanya sudah tidur pada jam-jam seperti ini sedang membaca buku sendirian di ruang tamu. Dia mengenakan pakaian kasual hitam. Ada selimut tipis yang menutupi lututnya. Profil wajahnya terlihat tampan dan dingin di bawah cahaya lembut.

Samuel memegang buku dengan kedua tangan, tetapi sepertinya tidak membalik satu halaman pun setelah sekian lama. Dia hanya mempertahankan postur yang sama. Tatapannya tertunduk dan wajahnya diselimuti oleh kesuraman yang samar.

Kecelakaan mobil itu sudah sepenuhnya mengubah kepribadian Samuel. Pikirannya menjadi sulit ditebak. Keisha kerap curiga bahwa yang tersisa darinya hanyalah seberkas bayangan yang melayang di dunia. Dia terlihat rapuh, bagaikan bayangan bulan sabit di air yang bisa dihancurkan setiap saat.

"Kamu pergi ke mana?" Suara Samuel terdengar berat dan rendah. Matanya masih tertuju pada buku di tangannya.

"Makan malam bareng Dinda."

Keisha melepas sepatu hak tingginya dan mengenakan sandal rumah yang lembut. Sudah lama dia tidak memakai sepatu hak tinggi. Setelah memakainya seharian, kakinya terasa sakit dan pegal.

"Mau kubantu naik ke lantai atas?" tanya Keisha sebelum meninggalkan ruang tamu.

Samuel meletakkan bukunya pertanda setuju.

"Kamu diskusi sama Dinda tentang gimana caranya untuk cerai denganku?" ucap Samuel dengan tiba-tiba. Nadanya terdengar sangat mengejek.

Keisha mendorong kursi roda ke dalam lift sambil menjawab dengan acuh tak acuh, "Kamu juga tahu, percuma saja aku diskusi sama siapa pun. Kecuali kamu ...."

Samuel menyela dengan dingin, "Jangan mimpi. Kita sudah saling kenal selama 17 tahun. Kamu seharusnya tahu aku nggak pernah lepaskan apa yang kuinginkan dengan semudah itu."

Keisha tentu saja tahu. Hal ini membuat Samuel terlihat sangat dominan bahkan di usia mudanya. Saat pertama kali bertemu, dia juga agak takut pada Samuel karena hal ini. Setelah kecelakaan mobil itu, obsesi Samuel pun meningkat.

Keisha menjawab dengan sungguh-sungguh, "Aku manusia, bukan benda."

Yang terpenting, Keisha adalah milik dirinya sendiri.

Lift naik dengan mulus. Keisha memandang sosok saling bertautan yang terpantul di dinding kaca. Yang satu duduk, yang satu berdiri. Ada rasa asing yang sangat jelas di antara keduanya.

Saat keluar dari lift, Keisha melihat Maxwell berdiri di luar pintu. Tanpa bertanya, dia mendorong Samuel ke arahnya. Monica sebenarnya tidak perlu begitu mewaspadainya. Tidak ada apa pun yang terjadi antara dia dan Samuel selama lima tahun pernikahan mereka. Kemungkinannya makin kecil lagi sekarang.

Samuel memperhatikan Keisha berbalik dan kembali ke kamar, lalu memijat pelipisnya.

"Max, kamu pergi cari Mama saja dulu. Aku masih harus kerja."

Seusai berbicara, Samuel naik lift ke lantai atas. Mike mengikutinya tanpa suara.

Lantai atas adalah aula yang luas. Selain meja, kursi, dan sofa, hanya ada beberapa teleskop serta dua baris rak buku. Di antaranya, ada dua sisi dinding yang terbuat dari kaca sehingga memungkinkan cahaya bulan dan lampu jalan bersinar masuk.

Samuel bangkit dari kursi rodanya dan berdiri di depan salah satu dinding kaca. Dia menghadap pusat kota ibu kota yang terang benderang. Hiruk-pikuk lalu lintas memudar menjadi keheningan di lantai atas.

Mike berdiri agak jauh dalam cahaya redup. Matanya sesekali melirik waspada ke arah pintu.

Samuel berdiri membelakangi cahaya. Sosoknya yang tinggi dan tegap terlihat bak pohon pinus. Kedua kakinya lurus dan kuat, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda cacat.

"Kamu mungkin berpikir aku adalah bajingan hina yang menipu dua wanita. Aku berutang terlalu banyak pada Monica dan Max. Kalau aku nggak pura-pura lumpuh, mereka nggak akan berada dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. Mengenai Keisha ...."

Samuel berhenti sejenak, lalu menyalakan sebatang rokok dan memainkannya di tangan. "Aku dan dia punya waktu seumur hidup bersama. Dia akan mengerti kesulitanku."

Keisha yang berdiri di luar pintu mendengar suara orang berbicara. Tangannya yang hendak membuka pintu pun tiba-tiba menegang. Dia tidak bisa tidur dan ingin naik untuk melihat bintang. Tak disangka, Samuel juga ada di sini.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 50 

    Pintu terkunci dan pagar pembatas di sisi pengemudi sepenuhnya menjebaknya. Suara Keisha bergetar karena takut. "Aku akan beri kamu uang. Berapa banyak uang yang kamu mau? Tolong lepaskan aku ...." Tidak ada respons. Sopir itu bersikap seperti patung hingga membuat orang merinding. Mobil melaju kencang menuju pinggiran kota dan makin jauh dari kota.Menyadari bahwa tidak ada gunanya dia memohon, Keisha memaksa dirinya untuk tenang. Dia dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dipakainya di kursi belakang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Setelah berpikir sejenak, dia melepas sepatu hak tingginya dan memukul tepi kaca jendela dengan sekuat tenaga menggunakan tumitnya yang keras.Melihat ini melalui kaca spion, sopir itu pun menggeram, "Berhenti!" Keisha seperti tidak mendengarnya dan lanjut memukul jendela dengan sekuat tenaga. Kekuatan yang telah dikembangkan untuk merawat Samuel melalui olahraga teratur selama lima tahun di rumah, kini sepenuhnya digunakan di sini.Sebuah retakan muncu

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 49

    Samuel mengerutkan kening sambil menatap Keisha yang diapit oleh Geoffrey di sebelah kiri dan Frans di sebelah kanan.Geoffrey buru-buru menjelaskan, "Pak Frans orang yang kuundang. Kami punya hubungan kerja sama." Geoffrey selalu merasa Samuel menaruh permusuhan terhadap Frans, sedangkan Frans sepertinya juga tidak menyukai Samuel. Dia tidak tahu kapan kedua orang ini mulai bermusuhan. Untuk saat ini, dia hanya bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan keributan."Pak Samuel, duduklah di sini." Geoffrey memberikan tempat duduknya dan Samuel duduk tanpa sungkan.Keisha yang terjebak di antara Samuel dan Frans pun merasa sangat canggung. Jika tahu mereka akan datang, dia tidak akan datang.Monica duduk di sebelah Samuel sehingga Geoffrey mau tak mau menggeser satu tempat duduk lagi."Tadi, Keisha dan Pak Frans sepertinya lagi ngobrol dengan asyik. Kalian berdua seharusnya cukup dekat, 'kan?" Keisha pura-pura tidak mendengar. Monica telah melihat lukisannya, sedangkan Frans

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 48 

    Malam keakraban itu diadakan di auditorium panti asuhan anak-anak penyandang disabilitas. Keisha dan Geoffrey datang lebih awal untuk melihat apakah ada yang dapat mereka bantu.Di panti asuhan, anak-anak ini dirawat dengan baik. Mereka juga ceria dan lincah. Seorang gadis yang kedua kakinya diamputasi mengenakan kaki palsu. Dia terlihat sangat bersemangat. Saat Keisha sedang merias wajahnya, dia terus mengoceh tanpa henti."Kakak, aku akan menari tarian robot malam ini! Menari dengan kaki palsu. Keren 'kan?""Tahun lalu, aku masih nggak bisa jalan, tapi tahun ini aku bisa menari! Paman Geoffrey hebat banget! Dia macam pesulap!" Kaki palsu yang dikenakan gadis ini dibuat khusus untuknya oleh Geoffrey. Melihat senyumnya yang berseri-seri, Keisha merasakan sesuatu yang aneh. Inilah makna dari pekerjaannya.Sebelum ini, tujuan Keisha hanyalah membantu Samuel berjalan normal. Seperti sinar matahari setelah kegelapan yang panjang, dia menemukan tujuan yang lebih luas dan lebih membahagiaka

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 47

    Keisha tetap tidak terpengaruh. Dia tidak ingin punya anak dengan Samuel, juga tidak membutuhkan perhatiannya yang datang terlambat.Samuel menunduk dan berkata dengan nada pelan, "Ada enam lepuhan. Aku akan transfer 12 miliar kepadamu. Anggap saja itu kompensasi atas rasa sakitnya. Oke?" Keisha mengangkat tangannya yang terluka dan meliriknya dengan tenang. Lepuhan dan kemerahan di tangannya terlihat sangat mengerikan, sedangkan rasa sakitnya juga belum berkurang sedikit pun."12 miliar? Pak Samuel benar-benar murah hati." Suara Keisha tidak keras, tetapi mantap dan tegas. "Aku akan terima uang itu. Gimanapun, anak kalian yang melukaiku." Samuel terlihat seperti sedang memberi kompensasi kepada Keisha, tetapi sebenarnya sedang melindungi Monica dan Maxwell. Tangannya sudah terbakar, tetapi mereka bahkan tidak perlu meminta maaf karena ada orang yang akan menangani masalah ini untuk mereka.Jika 12 miliar bisa membuat Keisha bungkam, juga menyelamatkan Monica dan Maxwell dari penderi

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 46

    "Kamu pergi ke mana hari ini?" Mata Samuel melembut dan nadanya mengandung keakraban yang alami. Dia mendorong kursi rodanya ke arah Keisha dan memberi isyarat agar Keisha membawanya ke ruang makan."Aku pergi bantu Dinda. Dia baru buka toko di mal," jawab Keisha sambil mendorong kursi roda. Nadanya terdengar tenang.Keisha tidak sepenuhnya berbohong. Dia benar-benar menghadiri upacara pemotongan pita sebelum pergi bekerja."Bagus juga. Kamu suka binatang. Kelak, kamu boleh lebih sering ke sana untuk bersantai." Samuel tidak curiga. Dia juga sudah mendengar tentang pembukaan toko Dinda. Dinda adalah sahabat terbaik Keisha. Keisha pasti hadir.Keisha menggumamkan "emm" dengan pelan, lalu mendorong kursi roda Samuel ke depan meja. Samuel memang seperti ini, sangat percaya diri hingga terkesan arogan. Hanya karena sudah memberi perintah pada Keisha untuk mengundurkan diri, dia berasumsi Keisha akan dengan patuh meninggalkan Kira Memoria. Sementara Samuel dan Monica sibuk bekerja dan per

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 45 

    Ketika melihat kesedihan di mata Keisha, hati Samuel terasa seperti tertusuk panah."Satu tahun. Kalau kamu masih ingin pergi setelah satu tahun, aku akan biarkan kamu pergi. Selama setahun itu, kamu nggak boleh ungkit tentang perceraian lagi." Samuel tidak percaya Keisha bisa meninggalkannya. Dia hanya merasa bahwa kemunculan Monica dan Maxwell sudah membuat Keisha kehilangan akal sehatnya untuk sementara. Setelah menangani urusan Monica dan Maxwell, mereka bisa kembali seperti semula, saling bergantung dan saling memiliki."Oke. Sepakat, ya." Dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan, satu tahun bukanlah apa-apa. Keisha setuju tanpa ragu. Selama bisa membebaskan diri dari belenggu, dia rela menunggu.Samuel menatap wajah Keisha yang cantik. Meskipun sedang membahas tentang perceraian, raut wajahnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. Dia tidak bisa menahan diri dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Keisha. Namun, Keisha sudah berpaling. Langkahnya ringan dan siluetnya perl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status