Share

Bab 6

Penulis: AnindYa
"Dia akan mengerti kesulitanku."

Baru saja Keisha sampai di lantai atas, dia langsung mendengar kalimat itu. Yang bisa membuat Samuel berbincang dari hati ke hati sampai larut malam hanyalah Monica.

"Dia" yang Samuel maksud hanya mungkin Keisha. Kesulitan apa yang mungkin dimiliki Samuel? Keisha tidak mengerti, juga tidak ingin mengerti.

Keisha menarik tangannya dari gagang pintu dan berbalik untuk turun. Dia tidak berniat menguping, apalagi masuk dan mengganggu mereka.

Keesokan harinya, Keisha tetap berangkat kerja pagi-pagi sekali. Kemacetan lalu lintas pagi hari membuatnya frustrasi. Namun, memikirkan rumahnya yang berantakan membuat bunyi klakson yang tak henti-hentinya terasa menyenangkan. Ini jauh lebih baik daripada tangisan Maxwell.

Ketika tiba di kantor, seorang pria paruh baya berkacamata berbingkai tipis keluar dari kantor presdir.

Pria itu mengenakan rompi jas hitam yang berpotongan rapi dan dasi dengan warna senada. Manset emas di kemeja putihnya memiliki warna emas muda yang sama dengan jam tangannya. Dia mempertahankan bentuk tubuhnya dengan sangat baik, juga berpakaian rapi dan terlihat cukup bergaya.

Owen memperkenalkan mereka, "Keisha, ini Pak Evan."

Keisha buru-buru membungkuk dan menyapa, "Halo, Pak Evan."

Evan mengangguk dan menuruni tangga secara perlahan. "Keisha, kelak kalau kamu butuh bantuan, datanglah padaku. Anggap saja tempat ini seperti rumah sendiri."

Setiap gerak-gerik Evan memancarkan kelembutan dan wibawa.

Keisha merasa dia tidak terlihat seperti seorang pebisnis, melainkan seperti seorang cendekiawan terpelajar dari zaman kuno.

"Terima kasih, Pak Evan."

Keisha merasakan tatapan Evan dan dengan penasaran membalas tatapannya. Makin dilihat, dia merasa Evan makin familier. Namun, dia yakin dirinya tidak mengenal orang sepenting ini.

Semua orang di kantor diam-diam menyaksikan hal ini dari balik komputer mereka dan saling bertukar pandangan. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Evan menaruh begitu banyak perhatian terhadap seseorang.

Evan mengalihkan pandangannya dan melangkah keluar, diikuti oleh Owen dan tiga sekretaris lainnya. Owen melambaikan tangan kepada Keisha untuk memberi isyarat agar dia ikut. Keisha mengambil laptopnya dan dengan cepat menyusul mereka.

Lift turun beberapa lantai. Owen mengikuti Evan ke ruang konferensi yang luas dan terang, sedangkan ketiga sekretaris lain pergi ke ruang samping. Keisha mengikuti mereka ke ruang samping dan duduk.

Seorang sekretaris wanita bernama Yasmin menunjuk ke headphone di meja dan berujar, "Nanti, Pak Evan mau bahas tentang kerja sama dengan presdir Grup Nusa Pratama. Kita bertanggung jawab untuk merekam dan merangkum rapat ini."

"Terima kasih," kata Keisha sambil tersenyum. Dia mengenakan headphone dan menyalakan laptopnya.

Sepuluh menit kemudian, suara laki-laki yang dalam dan magnetis terdengar melalui headphone. Suara yang familier ini membuat Keisha tersentak. Jantungnya berdebar kencang dan sosok seseorang terlintas di benaknya.

Namun, Keisha hanya melamun sesaat sebelum kembali fokus dan lanjut merekam. Di hari pertama bekerja, dia tidak boleh melakukan kesalahan.

Dua jam kemudian, rapat itu berakhir.

Keisha mengambil laptopnya dan terlebih dahulu keluar dari ruangan. Dia dengan cemas memperhatikan pintu ruang rapat yang tertutup.

Yasmin mengikutinya keluar. "Keisha, kita harus segera kembali dan menyusun notulen rapat. Pak Evan mau melihatnya nanti."

Keisha berjalan sambil menoleh. Hingga dia memasuki lift, tidak ada seorang pun yang keluar dari ruang rapat. Dia kembali ke meja kerjanya dan mencari informasi tentang Grup Nusa Pratama.

Informasi di internet tentang perusahaan ini sangat sedikit. Ini adalah perusahaan multinasional yang popularitasnya telah menanjak dalam setengah tahun terakhir. Presdirnya bernama Francesco, orang Negara Aurevia.

Keisha belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dia pun menutup halaman web dengan lesu. Ada terlalu banyak orang yang suaranya mirip. Suara Samuel dan Matthew juga sangat sulit dibedakan.

Hari ini, Keisha sangat sibuk. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Sebelum pulang kerja, Owen mengatakan bahwa dia telah merangkum pengetahuan profesional yang terlibat dalam rapat dengan sangat baik. Evan juga menyuruhnya untuk lebih sering berhubungan dengan departemen teknologi.

Kabar baik ini menghilangkan rasa lelah Keisha. Sejak menikah, dia tidak pernah menerima pengakuan apa pun dari orang lain. Dengan sisa waktu belasan menit sebelum jam kerja berakhir, dia dengan santai membolak-balik majalah yang ditinggalkan Owen di mejanya.

Halaman pertama berisi informasi tentang lelang yang akan diadakan di Pusat Budaya dan Seni pukul 7.30 malam ini. Dia menelusuri katalog barang yang akan dilelang dengan penasaran.

Ketika masih hidup, Linda gemar mengoleksi berbagai vas dan perhiasan. Di bawah pengaruhnya, Keisha juga mulai memperhatikan berbagai acara lelang. Ketika membuka halaman ketiga, sebuah bros mawar yang terbuat dari lilitan benang emas dan bertakhtakan rubi segera menarik perhatiannya.

Napas Keisha pun tercekat. Hidungnya terasa sangat perih karena ingin menangis. Luapan emosi menghantam dadanya seperti batu kasar. Itu adalah "Hati Mawar", bros favorit ibunya, juga tanda kasih sayang dari ayahnya.

Setelah kecelakaan orang tua Keisha, ada beberapa kerabat yang datang berkunjung. Kemudian, banyak barang di vila mereka yang hilang. Bahkan bros ini juga lenyap.

Saat itu, Keisha baru berusia delapan tahun. Dia hanya ingat bahwa jasad orang tuanya juga tidak utuh. Dia yang masih kecil menggenggam erat dua guci dan berusaha untuk berdiri tegak karena ditarik-tarik oleh para kerabat yang lebih tua.

Baik bibi maupun pamannya mengatakan ingin membawanya pulang. Semua orang memperebutkannya. Namun, hanya dalam waktu setengah tahun, kerabat yang dulunya memperebutkannya mulai merasa jenuh dan saling melemparnya ke satu sama lain.

Keisha baru mengetahui makna ungkapan "memakan habis harta warisan tanpa ahli waris" ketika dewasa. Yang mereka perebutkan adalah harta, bukan dia. Pada saat itu, dia hanyalah beban.

Keisha menatap lekat bros di majalah itu dan merasa sangat sedih hingga kesulitan bernapas. Dia seolah-olah kembali ke masa ketika masih berusia delapan tahun, di mana kerabatnya hanya asal meletakkan guci abu orang tuanya.

Keisha segera keluar dari perusahaan. Untuk menghindari kemacetan, dia naik sepeda sewaan ke Pusat Budaya dan Seni. Selama setengah tahun berpindah-pindah di rumah para kerabat, dia tidak mendapatkan satu pun barang peninggalan orang tuanya. Dia harus mendapatkan kembali "Hati Mawar".

Bros itu bukan barang antik, hanya dibuat dengan baik dan batu rubinya sedikit bernilai. Keisha merasa seharusnya tidak ada orang yang akan menawar dengan harga tinggi.

Begitu tiba di Pusat Budaya dan Seni, Keisha langsung menjalani verifikasi identitas. Setelah memastikan bahwa dia adalah istri Samuel, presdir Grup Wiratama, staf tidak memintanya untuk membayar uang muka.

"Nyonya Keisha, Pak Samuel sudah melakukan reservasi online dan membayar uang muka. Ini papan penawaranmu."

Keisha mengambil papan penawaran bernomor "122" itu. Samuel telah melakukan reservasi dan membayar uang muka. Itu artinya, berapa pun harga yang dia tawar, semuanya akan dipotong dari rekening Samuel.

Keisha memasuki tempat yang didekorasi khusus dengan membawa papan penawaran. Dia bertekad untuk mendapatkan barang peninggalan ibunya.

Berhubung Keisha langsung datang setelah pulang kerja dan tidak berganti pakaian, staf mengira dia hanyalah seorang karyawan yang menggantikan bosnya untuk menawar. Staf pun mengantarnya ke tempat duduk di sudut yang agak belakang.

Setengah jam kemudian, semua tempat perlahan terisi. Juru lelang yang mengenakan pakaian tradisional melangkah ke panggung. Seluruh ruangan pun menjadi hening.

Menurut majalah tersebut, "Hati Mawar" adalah produk lelang nomor sembilan. Keisha menunggu dengan cemas dan tidak begitu memperhatikan barang lelang sebelumnya. Sampai juru lelang mengucapkan "Hati Mawar", dia baru duduk tegak. Tangannya yang memegang papan penawaran agak gemetar.

"Ini bukan perhiasan biasa. Setiap kelopaknya dibentuk dari lilitan benang emas dan dilapisi satu demi satu dengan cermat. Intinya adalah batu rubi berkualitas tinggi dan langka yang beratnya mencapai 5,21 karat. Warnanya murni, batunya terpasang sempurna dan menjadi jantung yang berdetak dari mawar emas ini. Bros ini melambangkan kekuatan cinta yang tak tergoyahkan ...."

Keisha menahan napas dan menatap "Hati Mawar" dengan saksama. Dia takut barang peninggalan ibunya akan hilang lagi.

Akhirnya, tatapan juru lelang menyapu semua orang di ruangan. Dia berujar dengan nada serius dan khidmat, "Para hadirin sekalian, penawaran awal untuk 'Hati Mawar' adalah 4 miliar."

"4,2 miliar!" Keisha mengangkat papan penawarannya tanpa ragu. Tangannya berkeringat dingin, jantungnya berdebar kencang. Dia diam-diam berdoa agar tidak ada yang menawar lebih tinggi darinya.

Mendengar suara itu, Samuel yang duduk di barisan depan langsung menoleh. Monica juga ikut menoleh.

"Sam, kamu nggak bilang Keisha mau datang."

"Aku nggak tahu dia mau datang."

Tatapan Samuel tertuju pada bros itu. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Jarang sekali ada perhiasan yang disukai Keisha.

Tepat pada saat ini, Monica yang ada di sampingnya mengangkat papan penawarannya dan berseru, "5 miliar!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 50 

    Pintu terkunci dan pagar pembatas di sisi pengemudi sepenuhnya menjebaknya. Suara Keisha bergetar karena takut. "Aku akan beri kamu uang. Berapa banyak uang yang kamu mau? Tolong lepaskan aku ...." Tidak ada respons. Sopir itu bersikap seperti patung hingga membuat orang merinding. Mobil melaju kencang menuju pinggiran kota dan makin jauh dari kota.Menyadari bahwa tidak ada gunanya dia memohon, Keisha memaksa dirinya untuk tenang. Dia dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dipakainya di kursi belakang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Setelah berpikir sejenak, dia melepas sepatu hak tingginya dan memukul tepi kaca jendela dengan sekuat tenaga menggunakan tumitnya yang keras.Melihat ini melalui kaca spion, sopir itu pun menggeram, "Berhenti!" Keisha seperti tidak mendengarnya dan lanjut memukul jendela dengan sekuat tenaga. Kekuatan yang telah dikembangkan untuk merawat Samuel melalui olahraga teratur selama lima tahun di rumah, kini sepenuhnya digunakan di sini.Sebuah retakan muncu

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 49

    Samuel mengerutkan kening sambil menatap Keisha yang diapit oleh Geoffrey di sebelah kiri dan Frans di sebelah kanan.Geoffrey buru-buru menjelaskan, "Pak Frans orang yang kuundang. Kami punya hubungan kerja sama." Geoffrey selalu merasa Samuel menaruh permusuhan terhadap Frans, sedangkan Frans sepertinya juga tidak menyukai Samuel. Dia tidak tahu kapan kedua orang ini mulai bermusuhan. Untuk saat ini, dia hanya bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan keributan."Pak Samuel, duduklah di sini." Geoffrey memberikan tempat duduknya dan Samuel duduk tanpa sungkan.Keisha yang terjebak di antara Samuel dan Frans pun merasa sangat canggung. Jika tahu mereka akan datang, dia tidak akan datang.Monica duduk di sebelah Samuel sehingga Geoffrey mau tak mau menggeser satu tempat duduk lagi."Tadi, Keisha dan Pak Frans sepertinya lagi ngobrol dengan asyik. Kalian berdua seharusnya cukup dekat, 'kan?" Keisha pura-pura tidak mendengar. Monica telah melihat lukisannya, sedangkan Frans

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 48 

    Malam keakraban itu diadakan di auditorium panti asuhan anak-anak penyandang disabilitas. Keisha dan Geoffrey datang lebih awal untuk melihat apakah ada yang dapat mereka bantu.Di panti asuhan, anak-anak ini dirawat dengan baik. Mereka juga ceria dan lincah. Seorang gadis yang kedua kakinya diamputasi mengenakan kaki palsu. Dia terlihat sangat bersemangat. Saat Keisha sedang merias wajahnya, dia terus mengoceh tanpa henti."Kakak, aku akan menari tarian robot malam ini! Menari dengan kaki palsu. Keren 'kan?""Tahun lalu, aku masih nggak bisa jalan, tapi tahun ini aku bisa menari! Paman Geoffrey hebat banget! Dia macam pesulap!" Kaki palsu yang dikenakan gadis ini dibuat khusus untuknya oleh Geoffrey. Melihat senyumnya yang berseri-seri, Keisha merasakan sesuatu yang aneh. Inilah makna dari pekerjaannya.Sebelum ini, tujuan Keisha hanyalah membantu Samuel berjalan normal. Seperti sinar matahari setelah kegelapan yang panjang, dia menemukan tujuan yang lebih luas dan lebih membahagiaka

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 47

    Keisha tetap tidak terpengaruh. Dia tidak ingin punya anak dengan Samuel, juga tidak membutuhkan perhatiannya yang datang terlambat.Samuel menunduk dan berkata dengan nada pelan, "Ada enam lepuhan. Aku akan transfer 12 miliar kepadamu. Anggap saja itu kompensasi atas rasa sakitnya. Oke?" Keisha mengangkat tangannya yang terluka dan meliriknya dengan tenang. Lepuhan dan kemerahan di tangannya terlihat sangat mengerikan, sedangkan rasa sakitnya juga belum berkurang sedikit pun."12 miliar? Pak Samuel benar-benar murah hati." Suara Keisha tidak keras, tetapi mantap dan tegas. "Aku akan terima uang itu. Gimanapun, anak kalian yang melukaiku." Samuel terlihat seperti sedang memberi kompensasi kepada Keisha, tetapi sebenarnya sedang melindungi Monica dan Maxwell. Tangannya sudah terbakar, tetapi mereka bahkan tidak perlu meminta maaf karena ada orang yang akan menangani masalah ini untuk mereka.Jika 12 miliar bisa membuat Keisha bungkam, juga menyelamatkan Monica dan Maxwell dari penderi

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 46

    "Kamu pergi ke mana hari ini?" Mata Samuel melembut dan nadanya mengandung keakraban yang alami. Dia mendorong kursi rodanya ke arah Keisha dan memberi isyarat agar Keisha membawanya ke ruang makan."Aku pergi bantu Dinda. Dia baru buka toko di mal," jawab Keisha sambil mendorong kursi roda. Nadanya terdengar tenang.Keisha tidak sepenuhnya berbohong. Dia benar-benar menghadiri upacara pemotongan pita sebelum pergi bekerja."Bagus juga. Kamu suka binatang. Kelak, kamu boleh lebih sering ke sana untuk bersantai." Samuel tidak curiga. Dia juga sudah mendengar tentang pembukaan toko Dinda. Dinda adalah sahabat terbaik Keisha. Keisha pasti hadir.Keisha menggumamkan "emm" dengan pelan, lalu mendorong kursi roda Samuel ke depan meja. Samuel memang seperti ini, sangat percaya diri hingga terkesan arogan. Hanya karena sudah memberi perintah pada Keisha untuk mengundurkan diri, dia berasumsi Keisha akan dengan patuh meninggalkan Kira Memoria. Sementara Samuel dan Monica sibuk bekerja dan per

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 45 

    Ketika melihat kesedihan di mata Keisha, hati Samuel terasa seperti tertusuk panah."Satu tahun. Kalau kamu masih ingin pergi setelah satu tahun, aku akan biarkan kamu pergi. Selama setahun itu, kamu nggak boleh ungkit tentang perceraian lagi." Samuel tidak percaya Keisha bisa meninggalkannya. Dia hanya merasa bahwa kemunculan Monica dan Maxwell sudah membuat Keisha kehilangan akal sehatnya untuk sementara. Setelah menangani urusan Monica dan Maxwell, mereka bisa kembali seperti semula, saling bergantung dan saling memiliki."Oke. Sepakat, ya." Dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan, satu tahun bukanlah apa-apa. Keisha setuju tanpa ragu. Selama bisa membebaskan diri dari belenggu, dia rela menunggu.Samuel menatap wajah Keisha yang cantik. Meskipun sedang membahas tentang perceraian, raut wajahnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. Dia tidak bisa menahan diri dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Keisha. Namun, Keisha sudah berpaling. Langkahnya ringan dan siluetnya perl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status