Share

Bab 7 

Penulis: AnindYa
Begitu mendengar suara Monica, Keisha baru menyadari bahwa Monica dan Samuel juga hadir di acara lelang ini. Samuel tidak pernah menghadiri acara seperti ini. Meskipun ada barang lelang yang disukai Keisha, dia akan menyuruh asistennya untuk mendapatkan barang itu. Malam ini, dia mungkin datang untuk menemani Monica.

Samuel berkata dengan tenang, "Itu barang yang disukai Keisha. Kamu ganti yang lain."

"Desain 'Hati Mawar' unik dan akan sangat membantu pekerjaanku di industri perhiasan. Aku benar-benar membutuhkannya." Monica dengan lembut meletakkan tangannya di lutut Samuel dan memohon, "Kita belikan Keisha perhiasan yang lebih bagus saja, ya?"

Sebelum Samuel sempat menjawab, suara jernih Keisha terdengar dari belakang.

"6 miliar!"

Monica menunduk dengan wajah dipenuhi kekecewaan. "Bagi Keisha, 'Hati Mawar' cuma sebuah bros cantik. Tapi bagiku, itu adalah sebuah karya seni. Sam, kamu bilang kamu akan memberiku apa pun yang kuinginkan."

Samuel bersandar di kursinya dan menyahut dengan ekspresi datar, "Tawarlah."

Keisha kurang tertarik pada perhiasan. Mungkin ini hanya sekadar rasa suka sesaat. Samuel bisa membelikannya batu permata yang lebih besar. Sebaliknya, Monica memiliki pengetahuan tentang batu permata dan bahkan berencana untuk bekerja di industri perhiasan.

"6,4 miliar!" Kilatan puas muncul di mata Monica. Nadanya saat menawar juga tanpa sadar meninggi.

"7 miliar!" Keisha mengangkat papan penawarannya dan menaikkan harga dengan tenang. Lagi pula, uang itu akan dipotong dari rekening Samuel. Itu adalah harta bersama. Jika Monica berani menawar dengan uang dari harta bersama mereka, dia juga tidak punya alasan untuk ragu.

"8 miliar!"

"9 miliar!"

...

Keduanya tidak mengalah dan masing-masing menaikkan harga. Setelah beberapa putaran penawaran, Keisha menawarkan harga setinggi 20 miliar.

"Sam, Keisha bertekad untuk merebutnya dariku." Monica menurunkan papan penawarannya dan menatap "Hati Mawar" yang berkilauan dengan tidak rela. "Aku nggak rela menghamburkan uangmu. Nilai bros itu sama sekali nggak mencapai 20 miliar. Biarkan saja Keisha memilikinya."

Samuel berpikir sejenak, lalu memberi isyarat kepada seorang staf dan membisikkan sesuatu.

Juru lelang menerima isyarat itu dan tidak terburu-buru untuk mengetuk palu. "Perhiasan mudah didapatkan, tapi cinta sulit ditemukan. Apa ada orang lain yang masih ingin menawar?"

Keisha dengan gugup mengamati ruangan. Jika tidak ada orang lain yang menawar, dia bisa mendapatkan kembali barang peninggalan ibunya.

Tepat pada saat itu, seorang staf berjalan mendekat dan berbisik, "Nyonya Keisha, Pak Samuel bilang dia nggak pernah memberimu izin untuk pakai akun lelangnya. Kalau mau melanjutkan penawaran, kamu perlu membayar deposit terpisah."

Mendengar ini, Keisha membeku. Papan penawaran itu terkulai di depannya. Kedua tangannya terkepal erat hingga terasa sakit. Hatinya terasa bagaikan tenggelam ke dalam danau es, rasa dingin yang menusuk itu menggerogoti dada dan tulang rusuknya.

Keisha secara naluriah melirik punggung orang yang dikenalnya di barisan pertama. Orang itu bahkan tidak menoleh. Ini terasa bagaikan tamparan di wajah dan membuatnya sangat malu. Bahkan ketika Monica dan putranya pindah ke rumahnya, dia juga tidak pernah merasa begitu sedih dan kecewa.

"Oke, aku akan bayar depositnya sekarang," ucap Keisha dengan susah payah. Mulutnya terasa seperti disumbat dengan kain lembap dan berjamur, sangat menjijikkan.

"Tapi prosedurnya butuh waktu. Kalau ada orang yang bersedia menawar 20 miliar selama proses ini, aku khawatir ...."

"Segera mulai prosedurnya."

Ketika Keisha bangkit dari kursinya, terdengar suara juru lelang berujar, "Karena ada sedikit masalah, kalau ada yang bersedia menawar 20 miliar dan nggak ada yang menaikkan harga lagi, 'Hati Mawar' akan menjadi miliknya."

"20 miliar!" Monica mengangkat papan penawarannya tinggi-tinggi dan berseru dengan suara menggelegar.

Langkah Keisha pun terhenti. Satu tangannya mencengkeram sandaran kursi dan wajahnya pucat pasi. Dia tidak akan mendapatkan bros itu. Seluruh tabungannya hanya berjumlah 40 miliar. Meskipun punya cukup waktu, Monica memiliki dukungan Samuel. Dia tidak akan bisa menang.

Rasa tak berdaya dan amarah meluap dalam dirinya. Perlakuan tidak adil ini membuat tenggorokannya terasa tercekat hingga dia hampir tidak bisa bernapas.

Keisha menatap bros di atas panggung yang sangat familier itu. Pandangannya perlahan-lahan menjadi kabur. Dia merasa seperti sudah kembali menjadi gadis kecil itu, hanya bisa menyaksikan harta orang tuanya lenyap satu per satu tanpa mampu melakukan apa-apa.

"20 miliar sekali! Apa masih ada yang mau menaikkan harga?"

"20 miliar dua kali!"

"20 miliar ...."

"22 miliar!" seru seorang pria yang bergegas masuk sambil mengangkat papan penawarannya. Dia bahkan belum sempat duduk. "Nggak peduli berapa pun tawaran orang lain, aku akan menaikkan harga sampai mendapatkannya."

Semua orang menatap pria itu. Bisikan orang-orang segera memenuhi ruangan. Beberapa orang mulai meragukan diri mereka sendiri. Apa mungkin bros ini adalah barang antik yang tak ternilai harganya? Jika bukan, situasi ini terlalu aneh.

Sebelumnya, sudah ada dua orang yang menawar hingga harganya mencapai 20 miliar. Sekarang, bahkan ada orang yang rela menawarkan harga setinggi apa pun untuk mendapatkannya.

Yang paling terkejut adalah Keisha. Kenapa Owen ingin mendapatkan "Hati Mawar"?

"Pada saat ini, cinta sudah mencapai puncaknya! Para hadirin sekalian, apakah ada orang lain yang bersedia melanjutkan denyut cinta ini?"

Tatapan juru lelang tertuju pada Monica. Dia terlihat sangat tenang dan tidak menunjukkan niat untuk menawar lebih lanjut.

Samuel berujar dengan tenang, "Momo, kamu boleh lanjut menawar."

Monica tersenyum padanya. "Nggak usah. Niatmu jauh lebih berharga daripada 'Hati Mawar'."

Monica sama sekali tidak tertarik pada bros itu. Dia hanya ingin bersaing dengan Keisha untuk mencari kesenangan.

Samuel tidak berbicara. Dia menghindari tatapannya dan sedikit menoleh ke belakang.

Keisha duduk di sana dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat dan matanya berlinang air mata. Hati Samuel pun terasa sesak dan seperti ditusuk sesuatu.

"Aku pulang dulu. Tawar saja apa pun yang kamu inginkan."

Terakhir kali Samuel melihat Keisha menangis adalah ketika neneknya meninggal. Itu hanyalah sebuah bros, apakah Keisha harus memilikinya?

Asisten Samuel datang untuk mendorong kursi rodanya. Monica juga ikut berdiri.

"Aku nggak tertarik dengan barang-barang lainnya. Ayo kita pulang bareng."

Samuel tidak menjawab. Saat melewati Keisha, dia berhenti, tetapi tidak berani menatap gadis itu.

"Lihat saja apakah ada perhiasan lain yang kamu suka. Aku akan membelikannya untukmu. Anggap saja itu kompensasi."

Lagi-lagi kompensasi. Di mata Samuel, segala sesuatu di dunia ini sepertinya dapat ditebus dengan uang.

Keisha menengadahkan kepalanya untuk menahan air mata dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dia melirik Samuel dengan penuh ejekan. Tanpa mengatakan apa-apa, dia melangkah keluar.

Dulu, Samuel adalah pendukungnya. Sekarang, dia menjadi senjata yang digunakan orang luar untuk melawannya. Keisha merasa sangat sakit, sama seperti saat kehilangan barang peninggalan ibunya.

"Sam, kamu naik ke mobil saja dulu. Aku akan menghibur Keisha."

Monica menarik Keisha dan menghentikannya di depan pintu. Kebaikan yang ditunjukkannya tadi sudah hilang dan digantikan oleh ekspresi dingin nan menantang. Matanya berkilau penuh kesombongan.

"Keisha, setelah bertahun-tahun, kamu masih belum berubah sedikit pun. Dulu, kamu nggak bisa mengalahkanku. Sekarang juga sama."

Keisha mencibir, "Iya, kamu memang suka rebutan sama aku, baik itu perhiasan, pakaian, maupun barang murahan lainnya."

Apa pun yang Keisha sukai, apa pun yang Samuel belikan untuknya, Monica akan merebutnya. Dulu, karena Monica adalah tunangan kakak keduanya, Keisha tidak ingin memperburuk keadaan dan selalu mengalah. Lagi pula, semua itu adalah barang-barang yang tidak berarti baginya. Selain itu, setiap kali Monica merebut sesuatu darinya, Samuel akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih mahal.

Namun, situasi kali ini berbeda. Bros itu bukan sesuatu yang tidak berarti. Jika bukan karena Monica sengaja berebutan dengannya, dia bisa saja memenangkan "Hati Mawar" sebelum Owen datang.

Keisha mengamati Monica dari atas ke bawah dengan jijik. Senyum mengejek merekah di bibir merahnya. "Tapi Monica, cuma anjing liar yang selalu berusaha merebut barang orang lain."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 50 

    Pintu terkunci dan pagar pembatas di sisi pengemudi sepenuhnya menjebaknya. Suara Keisha bergetar karena takut. "Aku akan beri kamu uang. Berapa banyak uang yang kamu mau? Tolong lepaskan aku ...." Tidak ada respons. Sopir itu bersikap seperti patung hingga membuat orang merinding. Mobil melaju kencang menuju pinggiran kota dan makin jauh dari kota.Menyadari bahwa tidak ada gunanya dia memohon, Keisha memaksa dirinya untuk tenang. Dia dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dipakainya di kursi belakang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Setelah berpikir sejenak, dia melepas sepatu hak tingginya dan memukul tepi kaca jendela dengan sekuat tenaga menggunakan tumitnya yang keras.Melihat ini melalui kaca spion, sopir itu pun menggeram, "Berhenti!" Keisha seperti tidak mendengarnya dan lanjut memukul jendela dengan sekuat tenaga. Kekuatan yang telah dikembangkan untuk merawat Samuel melalui olahraga teratur selama lima tahun di rumah, kini sepenuhnya digunakan di sini.Sebuah retakan muncu

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 49

    Samuel mengerutkan kening sambil menatap Keisha yang diapit oleh Geoffrey di sebelah kiri dan Frans di sebelah kanan.Geoffrey buru-buru menjelaskan, "Pak Frans orang yang kuundang. Kami punya hubungan kerja sama." Geoffrey selalu merasa Samuel menaruh permusuhan terhadap Frans, sedangkan Frans sepertinya juga tidak menyukai Samuel. Dia tidak tahu kapan kedua orang ini mulai bermusuhan. Untuk saat ini, dia hanya bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan menimbulkan keributan."Pak Samuel, duduklah di sini." Geoffrey memberikan tempat duduknya dan Samuel duduk tanpa sungkan.Keisha yang terjebak di antara Samuel dan Frans pun merasa sangat canggung. Jika tahu mereka akan datang, dia tidak akan datang.Monica duduk di sebelah Samuel sehingga Geoffrey mau tak mau menggeser satu tempat duduk lagi."Tadi, Keisha dan Pak Frans sepertinya lagi ngobrol dengan asyik. Kalian berdua seharusnya cukup dekat, 'kan?" Keisha pura-pura tidak mendengar. Monica telah melihat lukisannya, sedangkan Frans

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 48 

    Malam keakraban itu diadakan di auditorium panti asuhan anak-anak penyandang disabilitas. Keisha dan Geoffrey datang lebih awal untuk melihat apakah ada yang dapat mereka bantu.Di panti asuhan, anak-anak ini dirawat dengan baik. Mereka juga ceria dan lincah. Seorang gadis yang kedua kakinya diamputasi mengenakan kaki palsu. Dia terlihat sangat bersemangat. Saat Keisha sedang merias wajahnya, dia terus mengoceh tanpa henti."Kakak, aku akan menari tarian robot malam ini! Menari dengan kaki palsu. Keren 'kan?""Tahun lalu, aku masih nggak bisa jalan, tapi tahun ini aku bisa menari! Paman Geoffrey hebat banget! Dia macam pesulap!" Kaki palsu yang dikenakan gadis ini dibuat khusus untuknya oleh Geoffrey. Melihat senyumnya yang berseri-seri, Keisha merasakan sesuatu yang aneh. Inilah makna dari pekerjaannya.Sebelum ini, tujuan Keisha hanyalah membantu Samuel berjalan normal. Seperti sinar matahari setelah kegelapan yang panjang, dia menemukan tujuan yang lebih luas dan lebih membahagiaka

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 47

    Keisha tetap tidak terpengaruh. Dia tidak ingin punya anak dengan Samuel, juga tidak membutuhkan perhatiannya yang datang terlambat.Samuel menunduk dan berkata dengan nada pelan, "Ada enam lepuhan. Aku akan transfer 12 miliar kepadamu. Anggap saja itu kompensasi atas rasa sakitnya. Oke?" Keisha mengangkat tangannya yang terluka dan meliriknya dengan tenang. Lepuhan dan kemerahan di tangannya terlihat sangat mengerikan, sedangkan rasa sakitnya juga belum berkurang sedikit pun."12 miliar? Pak Samuel benar-benar murah hati." Suara Keisha tidak keras, tetapi mantap dan tegas. "Aku akan terima uang itu. Gimanapun, anak kalian yang melukaiku." Samuel terlihat seperti sedang memberi kompensasi kepada Keisha, tetapi sebenarnya sedang melindungi Monica dan Maxwell. Tangannya sudah terbakar, tetapi mereka bahkan tidak perlu meminta maaf karena ada orang yang akan menangani masalah ini untuk mereka.Jika 12 miliar bisa membuat Keisha bungkam, juga menyelamatkan Monica dan Maxwell dari penderi

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 46

    "Kamu pergi ke mana hari ini?" Mata Samuel melembut dan nadanya mengandung keakraban yang alami. Dia mendorong kursi rodanya ke arah Keisha dan memberi isyarat agar Keisha membawanya ke ruang makan."Aku pergi bantu Dinda. Dia baru buka toko di mal," jawab Keisha sambil mendorong kursi roda. Nadanya terdengar tenang.Keisha tidak sepenuhnya berbohong. Dia benar-benar menghadiri upacara pemotongan pita sebelum pergi bekerja."Bagus juga. Kamu suka binatang. Kelak, kamu boleh lebih sering ke sana untuk bersantai." Samuel tidak curiga. Dia juga sudah mendengar tentang pembukaan toko Dinda. Dinda adalah sahabat terbaik Keisha. Keisha pasti hadir.Keisha menggumamkan "emm" dengan pelan, lalu mendorong kursi roda Samuel ke depan meja. Samuel memang seperti ini, sangat percaya diri hingga terkesan arogan. Hanya karena sudah memberi perintah pada Keisha untuk mengundurkan diri, dia berasumsi Keisha akan dengan patuh meninggalkan Kira Memoria. Sementara Samuel dan Monica sibuk bekerja dan per

  • Pengumuman Cintaku Membuat Mantan Suamiku Tak Lagi Lumpuh   Bab 45 

    Ketika melihat kesedihan di mata Keisha, hati Samuel terasa seperti tertusuk panah."Satu tahun. Kalau kamu masih ingin pergi setelah satu tahun, aku akan biarkan kamu pergi. Selama setahun itu, kamu nggak boleh ungkit tentang perceraian lagi." Samuel tidak percaya Keisha bisa meninggalkannya. Dia hanya merasa bahwa kemunculan Monica dan Maxwell sudah membuat Keisha kehilangan akal sehatnya untuk sementara. Setelah menangani urusan Monica dan Maxwell, mereka bisa kembali seperti semula, saling bergantung dan saling memiliki."Oke. Sepakat, ya." Dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan, satu tahun bukanlah apa-apa. Keisha setuju tanpa ragu. Selama bisa membebaskan diri dari belenggu, dia rela menunggu.Samuel menatap wajah Keisha yang cantik. Meskipun sedang membahas tentang perceraian, raut wajahnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. Dia tidak bisa menahan diri dan mengulurkan tangan untuk menyentuh Keisha. Namun, Keisha sudah berpaling. Langkahnya ringan dan siluetnya perl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status