Teilen

Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18
Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18
Anonima

Bab 1

Anonima
“Menikah! Menikah!”

Tepat di tengah-tengah kerumunan aku berlutut sambil menunggu jawaban darinya. Temanku bersorak dengan antusias, suaranya memenuhi di alun-alun.

“Sudah cukup, jangan berisik.”

Wanita yang sedang aku lamar itu seraya mengambil bunga yang ada di tanah, kemudian melemparkannya dengan kasar ke tubuhku, ekspresi wajahnya penuh kemarahan.

“Kenapa kamu bisa seegois ini? Apa tidak ada hal yang bisa kamu lakukan selain memaksaku menikah? Aku sudah sering bilang padamu, untuk sekarang aku belum bisa menikah.”

Sebenarnya kamu tidak bisa menikah, atau memang tidak mau menikah denganku?

Tenggorokanku tercekat, dadaku sesak sampai aku tidak sanggup melontarkan sepatah kata pun.

Situasi seperti ini bukan pertama kalinya bagiku, tapi kali ini yang paling memalukan.

Selama delapan tahun kami berpacaran, sudah delapan belas kali aku melamarnya dan delapan belas kali juga aku ditolak. Bahkan dalam urusan dipermalukan, badut pun harus mengaku kalah dan memanggilku bos.

Mungkin hanya aku yang sanggup mengubah sebuah lamaran menjadi seperti perjalanan penuh rintangan.

Setelah waktu cukup lama untuk menenangkan diri, aku memungut cincin itu dan mendekat ke arahnya lagi. Raut wajahku tampak memohon dengan sangat hati-hati.

“Linda, jangan bercanda. Teman dan keluarga kita semuanya hadir di sini. Cepat pakai cincin ini.”

Aku ingin membuatnya mempertimbangkan usaha orang-orang yang sudah hadir di sini, setidaknya jangan menolak lagi.

Namun hal itu justru membuat Linda naik pitam. Dia menampar wajahku dengan keras, lalu menatapku dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian. Orang-orang di sekitar seketika terdiam.

“Bercanda? Menurutku kamulah candaan terbesar di sini. Menggelikan sekali, masih berani memaksaku menggunakan tekanan moral. Apa kamu tidak tahu kalau Fino punya depresi? Kamu selalu memaksaku menikah, apa kamu baru akan berhenti jika dia sudah mati?”

Dia berkata ini pemaksaan dengan tekanan moral, padahal sebenarnya dia yang melakukan tekanan moral padaku.

Dia bisa bilang tidak suka padaku, juga bisa bilang tidak punya perasaan padaku atau merasa tidak cocok jika hidup bersamaku.

Tapi alasan penolakannya malah karena laki-laki lain, sahabatnya sejak kecil.

Karena sahabatnya itu mengalami depresi, Linda tidak bisa meninggalkannya. Lalu bagaimana denganku? Pacarku memikirkan laki-laki lain dan aku harus menanggungnya, apa aku pantas diperlakukan seperti ini?

Aku menggertakkan gigiku dengan kuat untuk menahan amarah yang mendesak di dadaku. Aku menunduk menatap cincin di tanganku, kemudian bertanya, “Kalau depresinya sampai seumur hidup, apa berarti kamu tidak akan menikah denganku seumur hidup juga?”

Saat aku melontarkan pertanyaan itu, aku masih punya sedikit harapan padanya. Aku ingin Linda menyangkalnya dan berkata semua yang dia katakan barusan hanyalah bercanda, kemudian dia setuju menikah denganku.

Namun jawaban Linda justru seperti menghantamku dengan keras.

Dia merebut cincin di tanganku lalu melemparnya dengan keras, seraya berteriak dengan nada meremehkan.

“Priya, dia itu sahabatku sejak kecil, dia tumbuh bersamaku. Apa kamu ingin aku mengabaikan dia begitu saja?”

“Lagipula, selama ini kamu bisa bersabar. Kalau mencoba tahan sekali lagi, memangnya kamu tidak bisa?”

Cincin itu semakin menjauh dari jarak pandanganku, sampai akhirnya benar-benar menghilang, tidak terlihat lagi. Seperti hatiku yang tenggelam ke dasar jurang, sedikit pun tidak bisa melihat cahaya harapan.

Teman-temanku tampak kebingungan, mereka ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya mereka hanya bisa mencoba mencairkan suasana.

“Linda memang lucu, ini pasti hanya untuk menguji keseriusan Priya. Tidak apa-apa, kami akan mencari cincin itu sampai ketemu.”

“Kami tidak akan mengganggu lamaran kalian lagi, jangan bertengkar ya.”

Mereka dengan santai mengabaikan kejadian yang baru saja terjadi, lalu mulai menunduk dan berjongkok untuk mencari cincin itu.

Dari sini aku bisa melihat sikapku terhadap Linda, aku seperti seekor anjing yang mengibaskan ekor untuk memohon belas kasihan.

Aku mencintainya. Selama ini aku mengira jika aku sudah berusaha maksimal, aku akan berhasil mendapatkan wanita yang kucintai. Karena itu aku selalu merendahkan diriku sendiri di hadapan Linda.

Sedangkan teman-temanku, karena mereka tahu betapa pentingnya Linda bagiku, mereka rela mengabaikan rasa malu dan mencari cincin yang tidak lagi penting itu di jalanan.

Sementara itu, Linda malah menghentakkan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi itu sambil menatap mereka dengan penuh sikap merendahkan.

“Priya, hanya untuk memaksaku menikah, kamu memakai cara yang menjijikkan. Bahkan kamu sampai memanfaatkan teman-temanmu sendiri.”

Setelah berkata seperti itu, Linda pergi bersama teman-teman perempuannya, meninggalkanku berdiri di tengah terpaan angin, dengan mata merah yang mulai berkaca-kaca.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 11

    “Tidak seperti itu. Fino hanya aku anggap sebagai teman. Waktu itu dia memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya.”Ucap Linda dengan wajah pucatnya, tapi kemudian terdiam.Fino yang berdiri di sampingnya sudah bisa menjadi bukti terkuat yang membuatnya tidak bisa membantah lagi.Aku memejamkan mataku lalu berjalan pergi. Kenangan masa laluku terlalu pahit, tidak mencoba mengingatnya lagi adalah pilihan terbaik.Keesokan harinya, aku naik pesawat paling pagi dan meninggalkan tempat itu.Linda masih berusaha menghubungiku, tapi Fino malah bertindak gila dan nekat.Dia membawa masalah ini sampai ke ranah dunia maya, sehingga Linda menjadi sorotan dalam diskusi dan perdebatan publik di internet.Bahkan tidak sedikit orang yang menyalahkanku. Menurut pemikiran sebagian orang, mereka berdua adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan ada yang menyebut mereka pasangan yang ditakdirkan bersama, sementara akulah yang selama ini menjadi penghalang jodoh mereka.Tidak ada orang yang p

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 10

    Orang yang dulu paling dia jaga dan sayangi, kini ternyata tidak lagi berharga.Mendengar itu, aku menoleh ke arah Fino yang sedang memejamkan mata merasakan rasa sakitnya, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sana dan langsung menusukkannya ke arah jantungnya sendiri.Semua orang di sana tidak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Aku berlari secepat mungkin yang aku bisa untuk menghentikannya.Di saat yang genting seperti ini, tidak boleh sampai terjadi kecelakaan. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, opini publik akan terpengaruh, dan proyek kami juga akan terkena dampaknya.Dari belakang, Sarah berteriak penuh kecemasan, “Satpam! Apa tidak lihat ada orang yang mau bunuh diri? Cepat hentikan dia! Priya, kamu harus berhati-hati!”Suara Sarah terdengar panik. Linda juga seketika tersadar. Saat aku berhasil mencengkeram tangan Fino, dia pun buru-buru berusaha merebut pisaunya.Pisau yang dia gunakan memang hanya pisau buah berukuran kecil, daya rusaknya

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 9

    Mau seberapa ideal seorang pacar di dunia ini, pada akhirnya tetap sama saja. Di hadapan cinta, tetap terlihat rendah.Setelah pesawatku mendarat, saking banyaknya panggilan dan pesan yang masuk, rasanya ponselku hampir meledak. Melihat notifikasi merah yang mencolok mata itu, aku menggelengkan kepala dan merasa ini sedikit aneh.Linda sebelumnya tidak pernah peduli padaku. Ini pertama kalinya dia menelepon dan mengirim pesan bertubi-tubi hanya karena takut kehilanganku.Tapi perhatian dan kasih sayang yang datang terlambat itu terasa tidak berharga.Aku menghapus dan memblokir semua kontak Linda, lalu sepenuhnya mencurahkan fokus dan perhatianku pada pekerjaan.Kesibukan bisa membuat seseorang melupakan segala rasa sakit, sekaligus dapat menghasilkan keuntungan.Tapi sesuatu yang paling tidak disangka-sangka adalah Linda datang menyusul.Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan tempat ini. Saat bertemu dengannya, aku berpura-pura tidak mengenalnya dan menganggapnya orang asing.

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 8

    Itu adalah impianku dulu, sekaligus godaan terbesar untukku. Tapi pada akhirnya manusia akan tumbuh dewasa dan berkembang.“Linda, aku harus buru-buru mengejar pesawat. Kalau ada sesuatu, kita bicarakan lain kali saja.”Aku mendorongnya menjauh dengan sikap yang dingin, sama seperti saat dia berkali-kali mendorongku untuk menolak lamaranku.Aku sedang sibuk, kita bicarakan nanti saja.Jangan ganggu aku dulu, bicara nanti saja.Kalimat-kalimat itu telah menjadi kutukan yang membelengguku selama delapan tahun. Sekarang, ketika kalimat semacam itu keluar dari mulutku, aku baru menyadari kalau alasan seperti itu memang yang paling mudah dan ampuh digunakan. Hanya perlu membuka mulut sedikit dan mengeluarkan beberapa patah kata, masalah beres.Linda yang tidak siap dengan tindakanku, tubuhnya otomatis terhempas ke dinding hingga dia tersentak dan napasnya tercekat karena kesakitan.Aku tidak melihat keadaannya, dengan dingin aku membuka pintu, ingin segera pergi. Namun aku langsung menabrak

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 7

    Dalam raut muka Linda penuh rasa sesal, kelihatan kasat mata.Selama delapan tahun, ini adalah yang pertama kalinya. Tapi aku sudah tidak butuh lagi.“Kita tidak bisa seperti dulu lagi, Linda.”Penolakan yang berkali-kali, dan berkali-kali pula aku diabaikan. Cinta kami sudah lama tidak lagi utuh, hanya meninggalkan satu per satu retakan yang sangat dalam.Cermin yang sudah pecah tidak mungkin kembali utuh, begitu pula dengan rasa cinta ini.“Linda, kamu bukan tipe orang yang sulit melepaskan sesuatu. Besok aku akan pergi. Mari kita berpisah dengan baik-baik.”Aku tidak ada niat untuk memberitahu Linda di mana tempat baruku. Dengan sikap tegas aku melepaskan genggaman tangannya, lalu masuk ke kamar tamu untuk tinggal di sana sementara.Dari luar pintu terdengar tangisan yang tertahan. Dengan hati-hati dan penuh permohonan, Linda memohon agar aku menatapnya sekali lagi.Aku bersandar di pintu, perlahan rasa perih dan sesak itu menyeruak dan menyebar di dalam dadaku.Seandainya penyesala

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 6

    Setelah aku menyuarakan kalimat harapan itu, aku merasa semua emosi yang membuat hatiku sesak selama ini langsung lenyap.Namun Linda benar-benar ketakutan, matanya terbelalak, menatapku dengan penuh ketidakpercayaan, air matanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba.“Apa maksudmu? Aku sudah bilang kalau aku dan Fino tidak punya hubungan apa pun. Kenapa kita harus putus? Priya, aku mengaku salah. Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini?”“Apa pun masalahnya, pasti masih bisa kita bicarakan. Fino hanya sedang sakit, nanti dia pasti akan sembuh. Kalau dia sudah sembuh, kita langsung menikah.”Tanganku menggenggam gagang koper dengan erat. Sedangkan tangan Linda terulur ke arahku dengan wajah memelas.“Bicaralah padaku, Priya. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku begitu saja?”Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa?Aku menghindar dari uluran tangan Linda dengan sikap acuh, lalu menjawab datar, “Linda, kita sudah menjalin hubungan selama delapan tahun, aku sudah melamarmu delapan belas kali. S

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status