مشاركة

Bab 2

مؤلف: Anonima
Satu per satu temanku mulai berdiri, mereka mengerumuniku untuk menenangkanku, ekspresi wajah yang mereka tunjukkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Selama delapan tahun ini, mereka sudah terbiasa menyaksikan aku diabaikan oleh Linda, mereka juga sudah sering menasihatiku.

Hati Linda tidak ada padaku, dia hanya menyukai Fino. Hanya butuh satu panggilan telepon dari Fino, di hari perayaan sekalipun, atau bahkan jika aku sedang sekarat, aku tetap harus mengizinkannya pergi.

Tapi aku tidak mengerti, orang yang selalu sibuk pamer sepanjang hari, mana mungkin sedang mengalami depresi? Kalau memang dia punya depresi, apa dia tidak punya kerabat atau teman dekat yang lain?

Tidak, Fino memang sengaja hanya mencari Linda, dia sengaja berada di tengah-tengah hubungan kami dan membuatku dipermalukan.

“Tidak apa-apa, kalian tidak perlu mencari lagi, itu barang yang tidak penting. Malam ini kita akan minum sampai mabuk.”

Aku memalingkan wajah lalu menyeka air mata di ujung mataku. Aku memaksakan senyumku, mengajak teman-temanku berjalan menuju kedai minuman.

Semua orang tertawa dan bersenang-senang, sementara aku hanya menunduk dan menatap dengan lekat unggahan sosial media milik Fino.

Linda pergi menemui Fino. Tidak seperti ketika bersamaku, saat bersama Fino, Linda selalu bersikap hati-hati dan cenderung menyenangkan hati Fino. Bicaranya pun terdengar lembut dan penuh perhatian.

Unggahan itu terasa seperti deklarasi perang yang ditujukan padaku.

Linda membelikan Fino sepasang cincin, tangan mereka saling bertautan, wajah mereka menempel ke satu sama lain dengan ekspresi bahagia.

Dalam unggahan itu tertulis,

[Saat mendengar Linda akan menikah, aku menjadi sedih. Tapi untungnya, wanitaku ini bilang, seumur hidupnya dia hanya akan mengenakan cincin dariku.]

Kata-kata itu sangat dalam dan penuh cinta, aku tidak bisa menahan rasa mual yang tiba-tiba datang. Aku langsung meraih minuman di samping meja dan menghabiskannya sekali teguk, memaksa cairan itu turun, seolah cairan itu bisa menekan perasaanku.

Semua orang di meja itu menyadari ada yang salah denganku. Dengan nada paling santai, mereka mencoba menenangkanku.

“Jangan sedih. Mungkin Linda masih mau memikirkan hal ini dengan matang. Rumah tangga itu berbeda dengan pacaran.”

“Iya benar, kalian sudah bersama bertahun-tahun, tidak akan ada masalah.”

Saat sampai di akhir kalimat, nada bicara teman-temanku terdengar agak ragu.

Aku menekan tombol suka pada unggahan Fino, lalu menenggak satu gelas demi satu gelas minuman keras di depan mataku, seolah-olah dengan begitu aku bisa meredakan rasa sakit yang bergejolak di dadaku.

Teman-temanku tidak berkata apa-apa lagi, mereka hanya menemaniku dalam diam dan tatapan penuh simpati.

Beberapa menit berlalu, suara “ding dong” yang menandakan ada notifikasi ponsel berbunyi tanpa henti. Aku menunduk untuk melihatnya, itu dari Linda.

Dia mengirim banyak pesan yang sebagian besar berisi makian.

[Kamu itu untuk apa sih bertingkah berlebihan? Hanya karena kehilangan cincin kamu sampai pergi ke unggahan sosial medianya Fino dan menyukainya, itu membuatnya sedih.]

[Aku tidak habis berpikir, kenapa seorang pria dewasa bisa menjadi seperti wanita yang cengeng dan suka meributkan masalah? Cepat minta maaf ke Fino, kalau tidak, aku bakal bikin kamu menyesal.]

Hanya karena aku menyukai unggahan Fino, hal itu bisa langsung menjadi kesalahanku. Aku tidak bisa menahan tawa getirku, lalu aku minum sampai benar-benar mabuk parah dan pulang dengan langkah sempoyongan.

Linda tidak suka bau rokok dan alkohol. Selama delapan tahun ini aku sudah menahannya, tapi sekarang aku tidak mau menahannya lagi.

Dengan langkah yang terhuyung aku masuk ke kamar dan begitu menjatuhkan diri ke kasur aku langsung tertidur lelap.

Malam itu Linda tidak pulang, tanpa banyak berpikir pun aku sudah tahu tempat keberadaannya.

Aku tidak punya keinginan untuk bertanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunggunya dan tidak membiarkan lampu menyala, aku tidur hingga pagi datang.

“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak lihat rumah berantakan dan barang berserakan di mana-mana? Priya, kalau ini cara yang kamu pakai untuk membuat ribut denganku, aku sarankan buang niat itu dan cepatlah masak untuk sarapan.”

Karena aku terlalu memanjakannya dan kesehatan Linda juga memang buruk sejak kecil, lambungnya punya masalah yang cukup serius, dia hanya bisa makan sarapan buatanku agar tubuhnya merasa nyaman sepanjang hari.

Aku menatap Linda, bibirku menyunggingkan senyum tipis, kemudian aku menggeser tubuhku untuk menghindarinya dan menjawab dengan nada dingin, “Belilah makanan apa pun, aku mau pergi bekerja.”

Setelah diabaikan olehnya, aku biasanya memang merajuk. Linda sudah tidak asing dengan hal seperti ini.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 11

    “Tidak seperti itu. Fino hanya aku anggap sebagai teman. Waktu itu dia memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya.”Ucap Linda dengan wajah pucatnya, tapi kemudian terdiam.Fino yang berdiri di sampingnya sudah bisa menjadi bukti terkuat yang membuatnya tidak bisa membantah lagi.Aku memejamkan mataku lalu berjalan pergi. Kenangan masa laluku terlalu pahit, tidak mencoba mengingatnya lagi adalah pilihan terbaik.Keesokan harinya, aku naik pesawat paling pagi dan meninggalkan tempat itu.Linda masih berusaha menghubungiku, tapi Fino malah bertindak gila dan nekat.Dia membawa masalah ini sampai ke ranah dunia maya, sehingga Linda menjadi sorotan dalam diskusi dan perdebatan publik di internet.Bahkan tidak sedikit orang yang menyalahkanku. Menurut pemikiran sebagian orang, mereka berdua adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan ada yang menyebut mereka pasangan yang ditakdirkan bersama, sementara akulah yang selama ini menjadi penghalang jodoh mereka.Tidak ada orang yang p

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 10

    Orang yang dulu paling dia jaga dan sayangi, kini ternyata tidak lagi berharga.Mendengar itu, aku menoleh ke arah Fino yang sedang memejamkan mata merasakan rasa sakitnya, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sana dan langsung menusukkannya ke arah jantungnya sendiri.Semua orang di sana tidak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Aku berlari secepat mungkin yang aku bisa untuk menghentikannya.Di saat yang genting seperti ini, tidak boleh sampai terjadi kecelakaan. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, opini publik akan terpengaruh, dan proyek kami juga akan terkena dampaknya.Dari belakang, Sarah berteriak penuh kecemasan, “Satpam! Apa tidak lihat ada orang yang mau bunuh diri? Cepat hentikan dia! Priya, kamu harus berhati-hati!”Suara Sarah terdengar panik. Linda juga seketika tersadar. Saat aku berhasil mencengkeram tangan Fino, dia pun buru-buru berusaha merebut pisaunya.Pisau yang dia gunakan memang hanya pisau buah berukuran kecil, daya rusaknya

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 9

    Mau seberapa ideal seorang pacar di dunia ini, pada akhirnya tetap sama saja. Di hadapan cinta, tetap terlihat rendah.Setelah pesawatku mendarat, saking banyaknya panggilan dan pesan yang masuk, rasanya ponselku hampir meledak. Melihat notifikasi merah yang mencolok mata itu, aku menggelengkan kepala dan merasa ini sedikit aneh.Linda sebelumnya tidak pernah peduli padaku. Ini pertama kalinya dia menelepon dan mengirim pesan bertubi-tubi hanya karena takut kehilanganku.Tapi perhatian dan kasih sayang yang datang terlambat itu terasa tidak berharga.Aku menghapus dan memblokir semua kontak Linda, lalu sepenuhnya mencurahkan fokus dan perhatianku pada pekerjaan.Kesibukan bisa membuat seseorang melupakan segala rasa sakit, sekaligus dapat menghasilkan keuntungan.Tapi sesuatu yang paling tidak disangka-sangka adalah Linda datang menyusul.Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan tempat ini. Saat bertemu dengannya, aku berpura-pura tidak mengenalnya dan menganggapnya orang asing.

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 8

    Itu adalah impianku dulu, sekaligus godaan terbesar untukku. Tapi pada akhirnya manusia akan tumbuh dewasa dan berkembang.“Linda, aku harus buru-buru mengejar pesawat. Kalau ada sesuatu, kita bicarakan lain kali saja.”Aku mendorongnya menjauh dengan sikap yang dingin, sama seperti saat dia berkali-kali mendorongku untuk menolak lamaranku.Aku sedang sibuk, kita bicarakan nanti saja.Jangan ganggu aku dulu, bicara nanti saja.Kalimat-kalimat itu telah menjadi kutukan yang membelengguku selama delapan tahun. Sekarang, ketika kalimat semacam itu keluar dari mulutku, aku baru menyadari kalau alasan seperti itu memang yang paling mudah dan ampuh digunakan. Hanya perlu membuka mulut sedikit dan mengeluarkan beberapa patah kata, masalah beres.Linda yang tidak siap dengan tindakanku, tubuhnya otomatis terhempas ke dinding hingga dia tersentak dan napasnya tercekat karena kesakitan.Aku tidak melihat keadaannya, dengan dingin aku membuka pintu, ingin segera pergi. Namun aku langsung menabrak

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 7

    Dalam raut muka Linda penuh rasa sesal, kelihatan kasat mata.Selama delapan tahun, ini adalah yang pertama kalinya. Tapi aku sudah tidak butuh lagi.“Kita tidak bisa seperti dulu lagi, Linda.”Penolakan yang berkali-kali, dan berkali-kali pula aku diabaikan. Cinta kami sudah lama tidak lagi utuh, hanya meninggalkan satu per satu retakan yang sangat dalam.Cermin yang sudah pecah tidak mungkin kembali utuh, begitu pula dengan rasa cinta ini.“Linda, kamu bukan tipe orang yang sulit melepaskan sesuatu. Besok aku akan pergi. Mari kita berpisah dengan baik-baik.”Aku tidak ada niat untuk memberitahu Linda di mana tempat baruku. Dengan sikap tegas aku melepaskan genggaman tangannya, lalu masuk ke kamar tamu untuk tinggal di sana sementara.Dari luar pintu terdengar tangisan yang tertahan. Dengan hati-hati dan penuh permohonan, Linda memohon agar aku menatapnya sekali lagi.Aku bersandar di pintu, perlahan rasa perih dan sesak itu menyeruak dan menyebar di dalam dadaku.Seandainya penyesala

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 6

    Setelah aku menyuarakan kalimat harapan itu, aku merasa semua emosi yang membuat hatiku sesak selama ini langsung lenyap.Namun Linda benar-benar ketakutan, matanya terbelalak, menatapku dengan penuh ketidakpercayaan, air matanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba.“Apa maksudmu? Aku sudah bilang kalau aku dan Fino tidak punya hubungan apa pun. Kenapa kita harus putus? Priya, aku mengaku salah. Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini?”“Apa pun masalahnya, pasti masih bisa kita bicarakan. Fino hanya sedang sakit, nanti dia pasti akan sembuh. Kalau dia sudah sembuh, kita langsung menikah.”Tanganku menggenggam gagang koper dengan erat. Sedangkan tangan Linda terulur ke arahku dengan wajah memelas.“Bicaralah padaku, Priya. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku begitu saja?”Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa?Aku menghindar dari uluran tangan Linda dengan sikap acuh, lalu menjawab datar, “Linda, kita sudah menjalin hubungan selama delapan tahun, aku sudah melamarmu delapan belas kali. S

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status