Share

Bab 3

Penulis: Anonima
“Priya, aku tahu bicaraku memang agak kasar, tapi semua ini demi keluarga kita. Dan juga soal kejadian kemarin, aku salah karena telah menolakmu dengan sangat dingin. Tapi kamu juga tahu keadaan Fino sekarang.”

“Dia tidak bisa menahan guncangan emosional, dia hanya punya aku di sisinya. Kamu juga tidak mau istrimu nantinya masih terus menerus memikirkan pria lain, kan?”

“Kalau Fino sudah sembuh dan aku sudah jauh lebih tenang, aku bisa sepenuhnya menjadi milikmu.”

“Jangan marah lagi, ya?”

Linda meraih tanganku, seraya mengucapkan beberapa kalimat yang katanya demi kebaikanku tapi dengan nada kaku dan hambar.

Aku merasa ini sangat lucu. Berkali-kali menolakku di depan banyak orang itu demi kebaikanku, mengabaikanku demi menemani pria lain itu juga demi kebaikanku.

Dia sudah sangat sering mengatakan alasan-alasan yang terdengar mulia seperti itu. Aku tidak ingin mendengarnya, aku menggunakan kekuatanku untuk menepis tangannya dengan keras.

“Aku tahu, aku berangkat kerja dulu.”

Karena tepisanku itu Linda sempat terhuyung. Ekspresi marahnya terpampang jelas, tetapi begitu bertemu dengan sorot mataku yang dingin, kemarahan itu menghilang cepat.

Selama ini aku tidak pernah bersikap sedingin ini pada Linda. Jadi dia merasa sedikit gelisah, dia tidak punya pilihan lagi selain membiarkanku pergi.

Jarak antara rumah dan tempat kerjaku sebenarnya sangat jauh. Perjalanannya memakan waktu sekitar dua jam. Dulu, aku memang rela menanggung kesulitan ini agar Linda bisa dekat dengan pekerjaannya dan lebih nyaman.

Setelah dipikir-pikir lagi, bukankah tinggal lebih dekat dengan tempat kerjaku justru akan membuat hidupku lebih mudah?

Begitu terpikirkan hal itu, aku langsung bertindak. Aku menghubungi agen properti, mencari banyak referensi rumah yang posisinya dekat dengan kantorku, lalu mulai melakukan negosiasi harga.

Rekan kerjaku tampak sedikit heran melihatku datang ke kantor sepagi ini.

Bagaimanapun, sejak dulu, karena aku harus mengurus Linda dan menyiapkan sarapan untuknya, aku sering sampai ke kantor tepat sebelum jam kerja dimulai, bahkan aku juga sering terlambat.

Karena hal itu, meskipun kemampuanku mencolok, pihak perusahaan tetap tidak berani menaikkan jabatanku.

Atasanku sudah berkali-kali berbicara tentang hal ini denganku.

“Membangun karier dulu baru mengurus keluarga, Priya, saat ini adalah masa emas untuk perkembangan kariermu, jangan sampai rugi besar karena hal sepele.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Terutama saat melihat rekan-rekan yang masuk perusahaan dalam waktu yang sama denganku sudah naik jabatan, rasa frustrasiku mencapai puncaknya.

Sekarang sudah lebih baik, aku tidak akan terlambat lagi. Atasanku menepuk bahuku.

“Lebih baik ikhlas saja. Priya, kalau sejak dulu kamu menunjukkan sikap seperti ini, proyek-proyek penting pasti sudah dari dulu diserahkan padamu.”

Aku menganggukkan kepala sambil merenung, kemudian mengeluarkan dokumen proyek yang ditargetkan perusahaan selanjutnya dari tumpukan berkas.

“Pak, Anda tahu bahwa selama bertahun-tahun ini karier saya selalu di posisi yang sama, tidak maju tidak mundur. Kalau Anda memang percaya pada keahlian saya, apakah proyek kali ini bisa diserahkan kepada saya?”

Atasanku terlihat sedikit terkejut, proyek ini membutuhkan kerja sama di beberapa kota. Seseorang sepertiku yang tidak bisa terpisah dari Linda, tidak ada alasan untuk sukarela meminta proyek seperti ini.

Namun sikapku sangat tegas. Setelah berpikir sepanjang pagi, akhirnya atasanku memutuskan untuk menyerahkan proyek itu kepadaku.

“Priya, aku harap kamu tidak mengecewakanku.”

Aku mengangguk mantap, lalu tubuh dan hatiku sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaan, aku tidak melihat ponsel sepanjang hari.

Secara logika, hal ini akan membuat Linda senang. Karena dia selalu terganggu ketika aku mengabari tentang keseharianku dan makanan enak kepadanya.

Tapi saat aku pulang kerja, ponselku justru menerima banyak pesan.

Di pesan itu ada foto pemandangan yang dilihat Linda, beberapa hal yang dia temui, dan juga sebuah ajakan.

[Bagaimana kalau kita pergi makan di Vila Matahari Terbenam? Sekalian menikmati senja. Kamu sangat ingin mengunjungi tempat itu, kan? Kamu boleh memesan sesuka hatimu, anggap saja ini penebusan dariku.]

Aku sangat terkejut. Tempat itu sudah dibuka sejak tiga tahun lalu, dan selama tiga tahun itu aku selalu mengajak Linda pergi ke sana, tapi dia seolah-olah tidak mendengar ajakanku.

Sekarang tempat itu malah dijadikan Linda sebagai ‘penebusan’ untukku. Aku berpikir sangat lama, tapi setelah membaca pesannya bahwa dia sudah ada di bawah Gedung perusahaanku, aku pun berjalan turun dengan sangat santai.

Linda sangat jarang menjemputku. Meski aku yang membeli mobil itu, tapi yang menikmatinya bukanlah aku.

Jadi aku merasa sudah sewajarnya untuk melewati kursi depan dan langsung menuju ke kursi belakang. Melihat itu, Linda langsung buru-buru menarikku.

“Mana mungkin hanya kita berdua tapi kamu duduk di belakang?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 11

    “Tidak seperti itu. Fino hanya aku anggap sebagai teman. Waktu itu dia memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya.”Ucap Linda dengan wajah pucatnya, tapi kemudian terdiam.Fino yang berdiri di sampingnya sudah bisa menjadi bukti terkuat yang membuatnya tidak bisa membantah lagi.Aku memejamkan mataku lalu berjalan pergi. Kenangan masa laluku terlalu pahit, tidak mencoba mengingatnya lagi adalah pilihan terbaik.Keesokan harinya, aku naik pesawat paling pagi dan meninggalkan tempat itu.Linda masih berusaha menghubungiku, tapi Fino malah bertindak gila dan nekat.Dia membawa masalah ini sampai ke ranah dunia maya, sehingga Linda menjadi sorotan dalam diskusi dan perdebatan publik di internet.Bahkan tidak sedikit orang yang menyalahkanku. Menurut pemikiran sebagian orang, mereka berdua adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan ada yang menyebut mereka pasangan yang ditakdirkan bersama, sementara akulah yang selama ini menjadi penghalang jodoh mereka.Tidak ada orang yang p

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 10

    Orang yang dulu paling dia jaga dan sayangi, kini ternyata tidak lagi berharga.Mendengar itu, aku menoleh ke arah Fino yang sedang memejamkan mata merasakan rasa sakitnya, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sana dan langsung menusukkannya ke arah jantungnya sendiri.Semua orang di sana tidak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Aku berlari secepat mungkin yang aku bisa untuk menghentikannya.Di saat yang genting seperti ini, tidak boleh sampai terjadi kecelakaan. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, opini publik akan terpengaruh, dan proyek kami juga akan terkena dampaknya.Dari belakang, Sarah berteriak penuh kecemasan, “Satpam! Apa tidak lihat ada orang yang mau bunuh diri? Cepat hentikan dia! Priya, kamu harus berhati-hati!”Suara Sarah terdengar panik. Linda juga seketika tersadar. Saat aku berhasil mencengkeram tangan Fino, dia pun buru-buru berusaha merebut pisaunya.Pisau yang dia gunakan memang hanya pisau buah berukuran kecil, daya rusaknya

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 9

    Mau seberapa ideal seorang pacar di dunia ini, pada akhirnya tetap sama saja. Di hadapan cinta, tetap terlihat rendah.Setelah pesawatku mendarat, saking banyaknya panggilan dan pesan yang masuk, rasanya ponselku hampir meledak. Melihat notifikasi merah yang mencolok mata itu, aku menggelengkan kepala dan merasa ini sedikit aneh.Linda sebelumnya tidak pernah peduli padaku. Ini pertama kalinya dia menelepon dan mengirim pesan bertubi-tubi hanya karena takut kehilanganku.Tapi perhatian dan kasih sayang yang datang terlambat itu terasa tidak berharga.Aku menghapus dan memblokir semua kontak Linda, lalu sepenuhnya mencurahkan fokus dan perhatianku pada pekerjaan.Kesibukan bisa membuat seseorang melupakan segala rasa sakit, sekaligus dapat menghasilkan keuntungan.Tapi sesuatu yang paling tidak disangka-sangka adalah Linda datang menyusul.Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan tempat ini. Saat bertemu dengannya, aku berpura-pura tidak mengenalnya dan menganggapnya orang asing.

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 8

    Itu adalah impianku dulu, sekaligus godaan terbesar untukku. Tapi pada akhirnya manusia akan tumbuh dewasa dan berkembang.“Linda, aku harus buru-buru mengejar pesawat. Kalau ada sesuatu, kita bicarakan lain kali saja.”Aku mendorongnya menjauh dengan sikap yang dingin, sama seperti saat dia berkali-kali mendorongku untuk menolak lamaranku.Aku sedang sibuk, kita bicarakan nanti saja.Jangan ganggu aku dulu, bicara nanti saja.Kalimat-kalimat itu telah menjadi kutukan yang membelengguku selama delapan tahun. Sekarang, ketika kalimat semacam itu keluar dari mulutku, aku baru menyadari kalau alasan seperti itu memang yang paling mudah dan ampuh digunakan. Hanya perlu membuka mulut sedikit dan mengeluarkan beberapa patah kata, masalah beres.Linda yang tidak siap dengan tindakanku, tubuhnya otomatis terhempas ke dinding hingga dia tersentak dan napasnya tercekat karena kesakitan.Aku tidak melihat keadaannya, dengan dingin aku membuka pintu, ingin segera pergi. Namun aku langsung menabrak

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 7

    Dalam raut muka Linda penuh rasa sesal, kelihatan kasat mata.Selama delapan tahun, ini adalah yang pertama kalinya. Tapi aku sudah tidak butuh lagi.“Kita tidak bisa seperti dulu lagi, Linda.”Penolakan yang berkali-kali, dan berkali-kali pula aku diabaikan. Cinta kami sudah lama tidak lagi utuh, hanya meninggalkan satu per satu retakan yang sangat dalam.Cermin yang sudah pecah tidak mungkin kembali utuh, begitu pula dengan rasa cinta ini.“Linda, kamu bukan tipe orang yang sulit melepaskan sesuatu. Besok aku akan pergi. Mari kita berpisah dengan baik-baik.”Aku tidak ada niat untuk memberitahu Linda di mana tempat baruku. Dengan sikap tegas aku melepaskan genggaman tangannya, lalu masuk ke kamar tamu untuk tinggal di sana sementara.Dari luar pintu terdengar tangisan yang tertahan. Dengan hati-hati dan penuh permohonan, Linda memohon agar aku menatapnya sekali lagi.Aku bersandar di pintu, perlahan rasa perih dan sesak itu menyeruak dan menyebar di dalam dadaku.Seandainya penyesala

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 6

    Setelah aku menyuarakan kalimat harapan itu, aku merasa semua emosi yang membuat hatiku sesak selama ini langsung lenyap.Namun Linda benar-benar ketakutan, matanya terbelalak, menatapku dengan penuh ketidakpercayaan, air matanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba.“Apa maksudmu? Aku sudah bilang kalau aku dan Fino tidak punya hubungan apa pun. Kenapa kita harus putus? Priya, aku mengaku salah. Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini?”“Apa pun masalahnya, pasti masih bisa kita bicarakan. Fino hanya sedang sakit, nanti dia pasti akan sembuh. Kalau dia sudah sembuh, kita langsung menikah.”Tanganku menggenggam gagang koper dengan erat. Sedangkan tangan Linda terulur ke arahku dengan wajah memelas.“Bicaralah padaku, Priya. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku begitu saja?”Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa?Aku menghindar dari uluran tangan Linda dengan sikap acuh, lalu menjawab datar, “Linda, kita sudah menjalin hubungan selama delapan tahun, aku sudah melamarmu delapan belas kali. S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status