공유

Bab 4

작가: Anonima
Hal ini memang terasa bukan sewajarnya. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Di kursi penumpang depan tercium aroma tipis, sangat familiar, itu aroma milik Fino.

Posisi kursinya juga sudah diatur ulang, kemungkinan menyesuaikan dengan sudut yang Fino sukai. Tapi aku merasa tidak nyaman, karena di dalam mobil itu tidak ada satu pun barang yang menjadi milikku.

Melihatku yang terus bergerak tidak nyaman, Linda membuka laci mobil dan dengan cekatan mengeluarkan obat anti mabuk perjalanan.

“Apa kamu tidak enak badan? Minum...”

Sebelum kalimatnya selesai diucapkan, Linda tiba-tiba teringat bahwa aku tidak mabuk perjalanan, dia lalu tersenyum dengan canggung.

“Kalau kursinya tidak nyaman, kamu boleh mengaturnya.”

Gerakan Linda sangat cepat, tapi pandanganku sempat menangkap bahwa di dalam laci itu masih ada foto Fino.

Aku pikir aku bisa menerimanya, namun saat benar-benar menghadapinya, hatiku tetap tidak bisa menahan emosi dan rasa sakit.

“Tidak usah.”

Dalam perjalanan itu aku hanya memandang ke luar jendela. Linda terus berusaha mencari topik pembicaraan, tapi semua topik pembicaraannya selalu berakhir membahas tentang Fino, lalu obrolan itu pun berhenti begitu saja.

Sesampainya kami di tempat tujuan, napasku terasa berat dan seluruh tubuhku menjadi sangat dingin.

Kalau tidak dibicarakan aku tidak akan tahu, setelah dibicarakan aku baru sadar, ternyata kehidupan pacarku sepenuhnya dibayang-bayangi orang lain.

Linda justru tampak sangat bersemangat. Dia sangat mengenal tempat ini, bahkan dia tidak membutuhkan bantuan pelayan. Linda langsung menyeretku berkeliling untuk memperkenalkan berbagai hal.

Ada beberapa pelayan juga yang menyapanya.

“Nona Linda datang lagi. Apa dia kakakmu? Kamu benar-benar beruntung, pacar dan kakakmu semuanya sangat tampan.”

Hanya dengan satu kalimat pujian itu, mampu mengubah ekspresi kami berdua.

Linda menatap sekilas pelayan itu dengan sorot mata tajam, lalu menjelaskan kepadaku.

“Penyakit Fino membuatnya harus sering berjalan-jalan. Tidak ada apa-apa di antara kami, mereka saja yang berpikir sembarangan.”

Aku bahkan belum berkata sepatah kata pun, tapi dia sudah panik menjelaskan. Justru reaksinya ini semakin membuktikan perkataan pelayan tadi.

Aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini, aku asal memilih tempat duduk dan memesan makanan.

Linda segera mengalihkan perhatiannya ke menu. Atau mungkin lebih tepatnya memang dia tidak pernah peduli apakah aku mempercayainya atau tidak. Lagipula aku mencintainya, aku lemah, aku akan mengelabui diriku sendiri.

Aku hanya diam, tidak berkata apa-apa lagi. Saat Linda hendak memesan, sebuah panggilan telepon menghentikannya. Dia hanya melirik sekilas ke ponselnya kemudian segera menjawab telepon itu dengan panik.

Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, yang jelas Linda hampir kehilangan kendali dan menendang kursi sampai jatuh, lalu berlari keluar tanpa peduli dengan sekitar.

“Penyakit Fino kambuh lagi. Aku akan pergi untuk melihatnya, kamu makanlah dulu.”

Dia berlari begitu cepat sampai kata-katanya tidak jelas terdengar. Pelayan tersenyum ramah kepadaku, tapi aku sudah sepenuhnya kehilangan selera, jadi aku hanya memesan beberapa makanan secara acak.

Satu jam berlalu, hidangannya sudah dingin, matahari juga perlahan mendekati puncak gunung, meninggalkan kilauan warna emas yang indah.

Aku mengangkat ponsel untuk memotretnya. Masih belum ada kabar apa pun dari Linda, tapi justru ada unggahan baru dari media sosial milik Fino.

Dalam foto itu, menampilkan Fino yang memeluk Linda dengan erat.

[Hanya keberadaanmu di sini saja sudah bisa membuatku merasa tenang, untunglah kamu selalu ada.]

Aku merasa sinar matahari yang menerpa tubuhku malah membawa rasa dingin. Aku juga membuat unggahan baru di media sosial.

[Sebenarnya, melihat matahari terbenam sendirian juga merupakan hal yang romantis.]

Aku tahu kalau unggahan Fino itu sengaja ditujukan padaku agar aku melihatnya. Dia ingin membuatku marah dan cemburu, lalu berharap aku akan mengamuk dan menuntut Linda, sehingga Linda akan semakin muak padaku.

Tapi setelah delapan tahun berlalu, hatiku sejak dulu sudah diisi oleh rasa dingin.

Aku tidak ingin bertengkar, aku juga sudah tidak punya energi untuk bertengkar.

Bahkan badut pun punya waktu istirahat, jadi untuk apa aku meneruskan memainkan peranku sendirian?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 11

    “Tidak seperti itu. Fino hanya aku anggap sebagai teman. Waktu itu dia memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya.”Ucap Linda dengan wajah pucatnya, tapi kemudian terdiam.Fino yang berdiri di sampingnya sudah bisa menjadi bukti terkuat yang membuatnya tidak bisa membantah lagi.Aku memejamkan mataku lalu berjalan pergi. Kenangan masa laluku terlalu pahit, tidak mencoba mengingatnya lagi adalah pilihan terbaik.Keesokan harinya, aku naik pesawat paling pagi dan meninggalkan tempat itu.Linda masih berusaha menghubungiku, tapi Fino malah bertindak gila dan nekat.Dia membawa masalah ini sampai ke ranah dunia maya, sehingga Linda menjadi sorotan dalam diskusi dan perdebatan publik di internet.Bahkan tidak sedikit orang yang menyalahkanku. Menurut pemikiran sebagian orang, mereka berdua adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama, bahkan ada yang menyebut mereka pasangan yang ditakdirkan bersama, sementara akulah yang selama ini menjadi penghalang jodoh mereka.Tidak ada orang yang p

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 10

    Orang yang dulu paling dia jaga dan sayangi, kini ternyata tidak lagi berharga.Mendengar itu, aku menoleh ke arah Fino yang sedang memejamkan mata merasakan rasa sakitnya, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sana dan langsung menusukkannya ke arah jantungnya sendiri.Semua orang di sana tidak ada yang menduga hal itu akan terjadi. Aku berlari secepat mungkin yang aku bisa untuk menghentikannya.Di saat yang genting seperti ini, tidak boleh sampai terjadi kecelakaan. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, opini publik akan terpengaruh, dan proyek kami juga akan terkena dampaknya.Dari belakang, Sarah berteriak penuh kecemasan, “Satpam! Apa tidak lihat ada orang yang mau bunuh diri? Cepat hentikan dia! Priya, kamu harus berhati-hati!”Suara Sarah terdengar panik. Linda juga seketika tersadar. Saat aku berhasil mencengkeram tangan Fino, dia pun buru-buru berusaha merebut pisaunya.Pisau yang dia gunakan memang hanya pisau buah berukuran kecil, daya rusaknya

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 9

    Mau seberapa ideal seorang pacar di dunia ini, pada akhirnya tetap sama saja. Di hadapan cinta, tetap terlihat rendah.Setelah pesawatku mendarat, saking banyaknya panggilan dan pesan yang masuk, rasanya ponselku hampir meledak. Melihat notifikasi merah yang mencolok mata itu, aku menggelengkan kepala dan merasa ini sedikit aneh.Linda sebelumnya tidak pernah peduli padaku. Ini pertama kalinya dia menelepon dan mengirim pesan bertubi-tubi hanya karena takut kehilanganku.Tapi perhatian dan kasih sayang yang datang terlambat itu terasa tidak berharga.Aku menghapus dan memblokir semua kontak Linda, lalu sepenuhnya mencurahkan fokus dan perhatianku pada pekerjaan.Kesibukan bisa membuat seseorang melupakan segala rasa sakit, sekaligus dapat menghasilkan keuntungan.Tapi sesuatu yang paling tidak disangka-sangka adalah Linda datang menyusul.Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan tempat ini. Saat bertemu dengannya, aku berpura-pura tidak mengenalnya dan menganggapnya orang asing.

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 8

    Itu adalah impianku dulu, sekaligus godaan terbesar untukku. Tapi pada akhirnya manusia akan tumbuh dewasa dan berkembang.“Linda, aku harus buru-buru mengejar pesawat. Kalau ada sesuatu, kita bicarakan lain kali saja.”Aku mendorongnya menjauh dengan sikap yang dingin, sama seperti saat dia berkali-kali mendorongku untuk menolak lamaranku.Aku sedang sibuk, kita bicarakan nanti saja.Jangan ganggu aku dulu, bicara nanti saja.Kalimat-kalimat itu telah menjadi kutukan yang membelengguku selama delapan tahun. Sekarang, ketika kalimat semacam itu keluar dari mulutku, aku baru menyadari kalau alasan seperti itu memang yang paling mudah dan ampuh digunakan. Hanya perlu membuka mulut sedikit dan mengeluarkan beberapa patah kata, masalah beres.Linda yang tidak siap dengan tindakanku, tubuhnya otomatis terhempas ke dinding hingga dia tersentak dan napasnya tercekat karena kesakitan.Aku tidak melihat keadaannya, dengan dingin aku membuka pintu, ingin segera pergi. Namun aku langsung menabrak

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 7

    Dalam raut muka Linda penuh rasa sesal, kelihatan kasat mata.Selama delapan tahun, ini adalah yang pertama kalinya. Tapi aku sudah tidak butuh lagi.“Kita tidak bisa seperti dulu lagi, Linda.”Penolakan yang berkali-kali, dan berkali-kali pula aku diabaikan. Cinta kami sudah lama tidak lagi utuh, hanya meninggalkan satu per satu retakan yang sangat dalam.Cermin yang sudah pecah tidak mungkin kembali utuh, begitu pula dengan rasa cinta ini.“Linda, kamu bukan tipe orang yang sulit melepaskan sesuatu. Besok aku akan pergi. Mari kita berpisah dengan baik-baik.”Aku tidak ada niat untuk memberitahu Linda di mana tempat baruku. Dengan sikap tegas aku melepaskan genggaman tangannya, lalu masuk ke kamar tamu untuk tinggal di sana sementara.Dari luar pintu terdengar tangisan yang tertahan. Dengan hati-hati dan penuh permohonan, Linda memohon agar aku menatapnya sekali lagi.Aku bersandar di pintu, perlahan rasa perih dan sesak itu menyeruak dan menyebar di dalam dadaku.Seandainya penyesala

  • Penolakan Untuk Lamaranku yang ke-18   Bab 6

    Setelah aku menyuarakan kalimat harapan itu, aku merasa semua emosi yang membuat hatiku sesak selama ini langsung lenyap.Namun Linda benar-benar ketakutan, matanya terbelalak, menatapku dengan penuh ketidakpercayaan, air matanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba.“Apa maksudmu? Aku sudah bilang kalau aku dan Fino tidak punya hubungan apa pun. Kenapa kita harus putus? Priya, aku mengaku salah. Bisakah kamu tidak bersikap seperti ini?”“Apa pun masalahnya, pasti masih bisa kita bicarakan. Fino hanya sedang sakit, nanti dia pasti akan sembuh. Kalau dia sudah sembuh, kita langsung menikah.”Tanganku menggenggam gagang koper dengan erat. Sedangkan tangan Linda terulur ke arahku dengan wajah memelas.“Bicaralah padaku, Priya. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku begitu saja?”Sebenarnya siapa yang meninggalkan siapa?Aku menghindar dari uluran tangan Linda dengan sikap acuh, lalu menjawab datar, “Linda, kita sudah menjalin hubungan selama delapan tahun, aku sudah melamarmu delapan belas kali. S

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status