Share

Pria Normal

Author: Caramelly
last update publish date: 2026-06-10 21:17:58

Ruangan itu mendadak hening.

Aldwin tidak langsung menjawab. Daisha mencoba membaca pikirannya, tapi tidak terbaca.

Daisha tidak melihat keterkejutan di wajah putra mahkota. Juga tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Terlalu tenang. Seolah ucapan Daisha, tidak menggoyahkannya.

Tanpa Daisha ketahui, di dalam ruangan ini, ada sosok lain yang mendengarkan pembicaraan mereka. Kaelith yang sedang membaca dokumen mengangkat wajahnya pelan. Tangannya berhenti membalik halaman.

Kaelith mengerutkan da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Alasan Daisha

    Radeva membelalak. Ia baru saja mendapatkan pengusiran dari dua orang sekaligus.Radeva mendekat, melihat Daisha dan Claude silih berganti. "Ada apa dengan kalian?"Claude dan Daisha menoleh secara bersamaan. Tatapan keduanya membuat Radeva mundur. "Oke, aku akan keluar." Radeva mengangkat tangannya dan mundur keluar.Setelah memastikan hanya ada mereka berdua, Claude menutup pintu ruangan itu serapat mungkin.Kini hanya ada mereka berdua. Hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya Daisha turun dari ranjang. Kedua kakinya menyentuh lantai. Matanya menatap Claude.Di satu sisi Daisha sudah berhati-hati dan waspada."Senior sudah tahu identitas—""Aku tidak peduli," potong Claude.Daisha membeku.Claude melanjutkan perkataannya. "Kamu pasti memiliki alasan untuk itu. Pasti tidak mudah menyembunyikan itu semua dari semua orang."Daisha bergeming mendengarnya. Daisha tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak bisa sepenuhnya percaya kepada Claude. Di akademi ini, Daisha tidak dapat

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Sebuah Penjelasan

    Mendengar itu pengawal Aldwin terdiam.“Saya rasa tidak Yang Mulia. Jikapun ada, hanya ada satu dari seribu manusia.”Aldwin meneguk teh dingin itu, lalu tersenyum miring.“Jadi, aku sudah menemukan jawabannya.”Pengawal pribadinya mengerutkan dahi, ia tidak sepenuhnya mengerti perkataannya. Aldwin langsung berdiri, mengayunkan kakinya menuju balkon di depannya. Menatap ke arah balai pengobatan dan kota kekaisaran dan yang berada di arah berbeda.Balai pengobatan.Kini hanya ada Daisha sendirian di dalam ruangan itu. Ia kembali duduk, menatap pergelangan tangannya. Daisha mengepal tangannya, lalu kembali membukanya. Merasakan sesuatu yang tidak bisa ia ingat.Daisha menghela napas panjang.“Apa hanya perasaanku saja.”Saat itu, Daisha mendengar suara elang emas miliknya. Daisha berjalan ke arah jendela, lalu membuka jendela sedikit dan elang putih keemasan itu hinggap di ambang jendela.Daisha tersenyum mengelus kepalanya. "Anak pintar." Lalu mengambil gulungan surat itu. "Pergi."E

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Bekas Luka yang Sama

    Daisha menatap Kaelith yang kini sudah duduk tegak di sisi ranjang. Daisha tidak langsung menjawab. Matanya masih memandangi Kaelith, ia kembali bertanya-tanya apakah mungkin Kaelith yang mengetahui identitasnya?Pertanyan di hatinya membuatnya sedikit gelisah.Daisha melihat ada banyak arang di depan sana. Pantas saja tubuhnya hangat. Lalu, matanya jatuh kepada selimut tebal. Pola selimut ini berbeda dengan yang biasa para bangsawan gunakan di asrama. Daisha pernah melihat selimut seperti ini, yaitu kediaman putra mahkota. Namun, sosok Aldwin sama sekali tidak terlihat."Senior tidur di sini semalam?" tanya Daisha akhirnya.Kaelith tidak menjawab. Ia mengambil gelas berisikan air dan memberikannya kepada Daisha."Minum dulu."Daisha meraih gelas itu dari tangan Kaelith. Lalu meneguknya pelan-pelan. Setelah itu, Kaelith menaruh gelas di meja."Bagaimana perasaanmu?" tanya Kaelith."Lebih baik." Daisha menarik napas. "Tangan masih sedikit berat. Tapi sudah tidak pusing." Daisha tersen

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Sumber Kehangatan

    “Yang Mulia, tolong lepaskan tangan Anda sebentar. Saya perlu memeriksa tangannya dengan jelas.”Aldwin menatap Daisha. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Daisha. Dan saat jemarinya terlepas dari tangan Daisha, sekilas Aldwin merasakan getaran yang menyengat dadanya. Sebuah perasaan asing, yang tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan terhadap seorang pria.Aldwin kemudian berdiri tegak dan menghalau pikiran aneh dalam benaknya. Aldwin mengepalkan tangan. Berdiri di sisi Claude yang kini, berlutut di sisi ranjang, jari-jarinya langsung menekan titik nadi di pergelangan tangan Daisha.Nadinya terasa lemah dan tidak teratur.Claude menarik lengan Daisha perlahan ke atas, memeriksa bagian dalam lengannya. Warna kulit, dan kondisi pembuluh darah, tanda-tanda lain.Di bawah cahaya malam. Aldwin melihat bekas luka panjang membentang dari sisi dalam pergelangan tangan Daisha. Sebuah bekas luka lama tertinggal di kulit putihnya.Aldwin yang berdiri di sisi lain ranjan

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Dingin!

    Aldwin melihat punggung Allen menghilang di saat yang sama pintu tertutup.Pengawal pribadi Aldwin menatapnya.“Yang Mulia, apa rencana Anda?Sepertinya kali ini akan lebih sulit menyingkirkan bidak Pangeran kedua.”“Aku tahu,” jawab Aldwin. “Namun, sesulit apapun, aku harus menyingkirkan satu persatu orang di sisi Pangeran Kedua.”Aldwin mengayunkan kakinya meninggalkan aula dewan. Langit sudah gelap, Aldwin teringat Daisha dan kondisinya saat ini.“Yang Mulia, Anda tidak ingin melihat Shankara?” tanya pengawal pribadi.“Lanjutkan penyelidikan, ke aula disiplin.”Aldwin membawa tubuhnya menuju aula disiplin. Dan setibanya di sana, sekretarisnya di anggota dewan membungkuk kepada Aldwin.“Bagaimana penyelidikannya?” tanya Aldwin.“Dirtha, masih tidak mengakuinya Yang Mulia. Dia juga memiliki alibi kuat.”Aldwin mengepal tangan di balik jubah akademinya.“Pelayan itu?” tanya Aldwin.“Keterangannya berubah satu jam yang lalu. Pelayan itu mengatakan kalau dia diminta keponakan menteri rit

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kau Punya Bukti?

    Radeva dan Claude membeku di luar sana. Sebelum akhirnya Radeva menatap Claude.“Kenapa kau menahanku?” bisik Radeva.Claude tidak menjawab. Tangan Claude masih membentang di depan tubuh Radeva. Tatapan mata Claude memberikan isyarat agar Radeva tetap diam.Namun, hanya ada keheningan di dalam sana.Radeva sendiri tampak bingung. Kenapa Claude mendadak bersikap misterius seperti ini.Kaelith membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Suaranya tercekat, pertanyaan Daisha membuatnya kikuk. Dan di tengah kebuntuan itu, tirai dibuka dari luar dan sosok Claude muncul bersama Radeva."Shankara, kau sudah sadar?" Claude melangkah masuk, langsung menuju sisi ranjang, sengaja memotong keheningan yang baru membuat suasana menjadi ambigu.Daisha dan Kaelith menoleh. Kaelith berdiri dan memberi ruang untuk Claude memeriksanya.Claude meraih pergelangan tangan Daisha, memeriksa nadinya. Seolah pertanyaan tadi tidak pernah ada."Bagus.” Claude menatap Daisha.”Nadimu sudah jau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status