Share

Bab 4

Author: Lysa
Tidak dekat. Dua kata singkat itu bagaikan sebilah pedang tajam yang menghunjam tepat ke tengah dahi Irene, menusuknya hingga berdarah-darah dan penuh luka.

Tiba-tiba, dia tertawa. Ya, tidak dekat. Mereka hanyalah dua orang asing yang pernah menemani satu sama lain selama sepuluh tahun dan pernah berjanji untuk menua bersama hingga akhir hayat.

Namun, Cheria yang mendengar jawaban itu tampak sangat bahagia. Di dalam mata cerahnya tersimpan ketergantungan yang mendalam serta rasa tersipu-sipu layaknya seorang gadis muda.

Dia berjinjit pelan. Bibir merahnya mendekati Tristan. Irene melihat semuanya dengan jelas. Tristan tidak mundur selangkah pun. Dia hanya perlu sedikit memalingkan wajah untuk menghentikannya dengan sopan, tetapi dia tidak melakukannya.

Bibir gadis itu mendarat di rahang tegas pria itu. Mesra dan ambigu.

Irene merasa seperti ada mesin penggiling daging yang menghancurkan tubuh dan darahnya hingga tak bersisa sedikit pun, lalu menyeretnya jatuh ke neraka. Dia bahkan tidak ingat bagaimana dirinya turun dari lantai atas.

Ketika menerima telepon dari Tristan, kesadaran Irene akhirnya mulai kembali. Suara pria itu pun terdengar agak kaku.

"Kamu sudah turun? Tadi ... seharusnya nggak lihat apa-apa, 'kan?"

"Kamu takut aku lihat sesuatu?" tanya Irene dengan pelan.

Pada saat yang sama, air mata mengalir hingga ke sudut bibirnya. Asin, getir. Rasa yang paling dia benci.

Dia benar-benar tidak mengerti. Apakah ini yang disebut peduli? Kalau memang peduli, lalu kenapa memilih mengkhianatinya?

"Nggak kok." Tristan menghela napas lega. Karena rasa bersalah dan kepanikannya, dia tidak menyadari suara Irene telah berubah menjadi setenang air tak beriak.

Dengan nada yang lebih ringan, dia berkata, "Ya sudah, cepat naik. Bukannya kamu ingin bahas sesuatu sama aku?"

"Aku nggak jadi ke tempatmu." Napas Irene membentuk uap putih yang melayang ke udara. Dengan linglung, dia bergumam, "Kurasa, hal itu sudah nggak penting lagi buat kamu."

Setelah mengatakan itu, dia mengabaikan suara Tristan yang terkejut sekaligus kesal, lalu langsung menutup telepon.

....

Hubungan yang telah berlangsung selama sepuluh tahun ternyata membutuhkan usaha yang sangat besar untuk dituntaskan sepenuhnya.

Hanya untuk membereskan perhiasan-perhiasan mahal, pakaian pasangan, kamera, dan foto instan saja, sudah memenuhi dua kotak besar.

Barang-barang yang dibawanya pulang dari negeri asing dengan penuh harapan untuk ditata di rumah, kini semuanya disumbangkan ke lembaga amal.

Setelah mengantar petugas pengumpul barang yang pergi dengan senyuman puas, Irene membuka lemari kaca itu.

Permukaan kacanya bersih tanpa setitik debu pun. Terlihat jelas betapa pemiliknya sangat menjaganya.

Perlahan-lahan, Irene mengeluarkan tiket-tiket pesawat yang ada di dalam. Lembar pertama bertanggal 6 Maret 2023.

Perpisahan singkat yang terasa lebih manis daripada malam pengantin baru. Pada malam itulah, di sebuah apartemen yang bernuansa asing, dia dan Tristan pertama kali menyerahkan diri satu sama lain.

Suhu tubuh pria itu membara. Meskipun menahan diri hingga keringat memenuhi dahinya, Tristan tetap mengendalikan hasratnya dengan hati-hati sambil terus menenangkan Irene dengan lembut.

Lembar kesepuluh bertanggal 7 April 2023. Dalam jarak waktu hanya satu bulan, Tristan sudah terbang sepuluh kali. Karena saat itu Irene tidak cocok dengan lingkungan setempat dan terserang flu.

Tristan begitu cemas hingga menukar jadwal kerja dengan rekan-rekannya dan berkali-kali terbang ke luar negeri.

Pada masa itu, pria yang biasanya gila kebersihan itu sampai memiliki janggut tipis di dagunya. Matanya dipenuhi guratan merah kelelahan. Namun, dia tidak pernah sekali pun mengeluh lelah.

Lembar ke-450 bertanggal 1 Februari 2024. Itu adalah Tahun Baru pertama yang mereka rayakan di luar negeri.

Malam Tahun Baru, di luar turun salju. Di dalam ruangan, perapiannya menyala dengan hangat. Di luar jendela ada kembang api yang gemerlap. Di dalam rumah ada mereka berdua yang begitu lengket dan tak terpisahkan.

Lembar ke-700 .... Kenangan dari hari ke hari terus muncul di benaknya. Irene baru menyadari bahwa dia ternyata tidak pernah melupakan semua yang terjadi di antara mereka.

Sepuluh tahun .... Semuanya sudah terukir dalam tulang dan meresap ke dalam jiwa. Namun, justru pada saat inilah semua itu harus dicabut sedikit demi sedikit dari tulang dan jiwanya.

Lembar-lembar kertas yang melambangkan waktu itu dilemparkan ke dalam api. Tak lama kemudian, nyala api itu padam. Kehangatan yang dibawanya pun ikut menghilang.

Menatap tumpukan abu di lantai, Irene samar-samar bisa melihat nama dua kota yang tertera pada sisa-sisa kertas yang belum sepenuhnya terbakar.

Kota Anrodi, Negara Marisius. Jaraknya bagaikan langit dan bumi.

Rasanya separuh hatinya telah dicungkil keluar. Tenggorokannya seperti tersumbat gumpalan kapas yang mengembang.

Ada ribuan kesedihan yang ingin dia teriakkan, tetapi tidak ada satu suara pun yang mampu keluar.

'Tristan, di antara aku dan kamu, semuanya sudah berakhir sepenuhnya .... Kita sudah nggak saling berutang apa pun lagi.'

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 21

    "Kamu pergi saja."Setelah waktu yang terasa sangat lama, Tristan menutup matanya dengan kuat dan berkata dengan suara tertahan kepada Irene, "Pergi sekarang juga."Irene tidak ragu sedikit pun. Dia segera bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Atas perintah Tristan, pintu yang terkunci itu kembali dibuka. Sebelum Irene benar-benar menghilang dari pandangannya, pria itu akhirnya bertanya dengan suara lirih, "Benarkah ... kita sudah nggak punya kemungkinan lagi?"Suara seraknya yang terendam alkohol terdengar rendah dan berat, membuat dirinya tampak semakin kesepian dan menyedihkan.Irene tidak menjawab. Namun, Tristan sudah mendapatkan jawabannya. Entah itu tawa mengejek dirinya sendiri atau karena kesedihan yang telah mencapai puncaknya, dia tiba-tiba tertawa pelan.Lalu dia berteriak ke arah punggung Irene, "Irene, jangan lupakan aku ... dan jangan membenciku."Irene melangkah keluar dari hotel.Langit dipenuhi awan gelap yang pekat. Angin dingin bercampur kabu

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 20

    Malam pun segera tiba.Tempat yang telah disiapkan berada di dalam ruang VIP. Begitu melangkah masuk, Irene langsung terkejut melihat beberapa brankas yang terbuka di atas meja. Di dalamnya tersusun tumpukan demi tumpukan uang tunai.Jika dihitung secara kasar, jumlahnya memang mencapai 20 miliar. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak membuat Irene senang. Sebaliknya, dia merasa semuanya sangat tidak normal. Langkahnya langsung terhenti dan secara naluriah dia berbalik hendak pergi.Akan tetapi, sudah terlambat.Pintu telah ditutup dari luar. Terdengar bunyi "klik" saat kunci diputar.Pupil mata Irene menyusut tajam. Dia segera berjalan cepat menuju pintu dan mencoba memutar gagangnya. Namun sekeras apa pun dia menekan, pintu itu tidak mau terbuka."Irene ...."Suara yang sangat familier milik Tristan terdengar dari belakangnya.Amarah Irene langsung berkobar. Dia sudah muak dengan sikap Tristan yang terus mengejarnya tanpa henti."Tristan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Apa ka

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 19

    Dyson.Jika Tristan adalah tuan muda kalangan elite ibu kota yang membuat banyak orang iri, maka keberadaan Dyson adalah sosok bangsawan konglomerat yang sama sekali tak terjangkau.Sejak kecil dia tumbuh di luar negeri, tetapi di dalam negeri tidak pernah kekurangan cerita tentang dirinya. Atau lebih tepatnya, legenda tentang dirinya.Kecerdasan luar biasa hanyalah kelebihan paling sepele yang dimilikinya. Yang lebih mengerikan, dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri pada usia 15 tahun dan hanya dalam waktu satu tahun berhasil menjadikannya perusahaan terkemuka di dalam maupun luar negeri.Saat ini dia masih berstatus mahasiswa, tetapi aset yang dimilikinya tak terhitung jumlahnya. Tidak diragukan lagi, dia adalah orang terkaya di dunia."Kamu pikir aku akan percaya?" balas Tristan langsung. Dia sama sekali tidak percaya Irene bisa memiliki hubungan dengan Dyson.Begitu membayangkan Irene menemukan seseorang yang seratus kali lebih unggul darinya, seseorang yang sama sekali tidak

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 18

    Album foto itu mendadak terasa dingin. Saat digenggam di telapak tangan, bahkan sudut-sudutnya terasa menusuk dan membuat sakit.Tristan menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju beberapa langkah dan menarik Irene ke sisinya. Dia tahu tenaganya agak terlalu besar, tetapi itu sudah hasil dari usahanya menahan diri.Hanya Tuhan yang tahu, rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki langsung membanjiri tubuhnya saat melihat ada pria lain muncul di samping Irene."Irene, aku punya hadiah untukmu," katanya dengan suara tertahan.Awalnya, Tristan mengira Irene pasti akan menanyakan ke mana dia pergi setelah dirinya menghilang tanpa sepatah kata selama dua hari. Namun dia sama sekali tidak menyangka, kalimat pertama yang diucapkan Irene saat melihatnya justru adalah, "Bukannya kamu sudah pergi? Kenapa masih di sini?"Begitu kata-kata itu diucapkan, Tristan hampir tidak mampu mempertahankan senyum di wajahnya. Otot-otot wajahnya menegang saat dia memaksakan tawa kaku."Istriku, mana mungkin

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 17

    Tristan bahkan tidak ingat bagaimana dirinya diusir oleh petugas keamanan. Sepertinya dia tidak merasa malu. Tidak juga merasa marah. Yang ada hanyalah ketidakpercayaan yang memenuhi seluruh hatinya.Irene tidak pernah mengatakan kata-kata perpisahan seperti itu kepadanya. Di hadapannya, Irene selalu lembut. Selalu penuh pengertian. Selalu memaafkan. Tristan-lah yang telah kehilangan dirinya.Namun, dia tidak rela menyerah begitu saja. Irene adalah orang yang ingin dia genggam tangannya hingga akhir hayat. Dia bersedia melakukan apa saja, asalkan Irene mau memaafkannya.Karena itu, Tristan menunggu sangat lama. Dia menunggu hingga matahari perlahan tenggelam. Barulah Irene keluar dari aula konferensi.Di sekelilingnya ada beberapa teman kuliah yang tersenyum cerah.Mereka memuji Irene dalam bahasa asing, mengatakan bahwa dia begitu luar biasa dan jumlah dana investasi yang berhasil diperoleh jauh melampaui perkiraan mereka.Namun, Irene hanya menggeleng dengan rendah hati. "Ini adalah

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 16

    Mungkin karena langit masih berbelaskasihan padanya. Pada akhirnya, Tristan benar-benar berhasil bertemu dengan Irene. Dia berdiri di area penonton yang remang-remang, sementara Irene berada di tengah panggung dan bersinar terang.Sorotan lampu jatuh ke tubuhnya, membalutnya dengan lingkaran cahaya yang memukau.Irene mengenakan setelan blazer dan rok pendek yang rapi serta elegan. Rambut yang disanggul semakin menonjolkan kesan tegas dan bersih, sementara beberapa helai rambut tipis di dekat dahinya membuatnya tampak lebih anggun.Setiap senyuman, setiap gerakan, dan setiap ekspresinya memancarkan kepercayaan diri.Dengan bahasa asing yang fasih dan penuh pesona, dia menjelaskan proyek startup miliknya dengan tenang dan sistematis.Irene benar-benar telah berubah ....Tristan berdiri terpaku di bawah panggung, menatapnya dengan penuh keterpesonaan.Tidak. Lebih tepatnya, Irene seolah kembali menjadi sosok yang pertama kali dia temui dahulu.Tristan masih ingat dengan jelas. Saat dia m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status