공유

Bab 5

작가: Lysa
"Kok bisa jadi begini?!" Setelah mendengarkan Irene menceritakan semuanya dengan nada datar, sahabatnya menggebrak meja dengan kesal.

Kemudian, dia mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran dan menghiburnya. "Irene, jangan sedih lagi."

Kesedihan terbesar adalah ketika hati sudah mati. Irene menggeleng pelan dan berkata dengan lirih bahwa dirinya tidak akan bersedih lagi. Sebaliknya, sahabatnya malah menangis dan terisak-isak sambil terus menenggak minuman keras.

"Dari mana Tristan dapat keyakinan kalau kamu nggak bakal pergi? Bahkan aku saja tahu sifatmu. Lebih baik hancur daripada mengalah dalam hal seperti ini."

"Memang pria bajingan itu seharusnya merasakan gimana rasanya kehilangan kamu sepenuhnya! Dia nggak tahu informasi universitas barumu, 'kan? Aku berani bersumpah, nanti saat dia nggak bisa menemukan kamu, dia pasti bakal nyesal sampai nangis darah!"

Setelah selesai berbicara, dia langsung merebahkan kepalanya di atas meja bar. Irene hanya bisa tertegun. Akankah Tristan seperti itu?

Pada akhirnya, pacar sahabatnya datang menjemput, sementara Irene menyelesaikan pembayaran.

Begitu berbalik, dia justru bertabrakan dengan salah satu sahabat masa kecil Tristan. Mata pria itu langsung berbinar-binar. Dia meraih lengan Irene. "Kak Irene, cepat ikut aku bujuk Tristan. Dia mabuk!"

Di tengah usahanya melepaskan diri, Irene sudah lebih dulu diseret masuk ke ruang VIP. Di dalam, semua orang sedang tertawa terbahak-bahak.

"Cheria kalah lagi! Hukuman kali ini adalah cium lawan jenis! Siapa ya yang beruntung kali ini?"

Cheria menghampiri Tristan dengan sorot mata yang berkilau, tampak tak berdaya sekaligus manja. Dengan suara lembut, dia memohon, "Pak Tristan, bantu aku ya?"

Kerah baju Tristan sedikit terbuka. Matanya memerah akibat alkohol. Minuman keras membuat pikirannya sedikit lamban. "Hm? Apa?"

Setelah memahami situasinya, dia sebenarnya ingin menggeleng dan meminta teman-temannya berhenti bercanda. Namun, wajah gadis yang memerah itu sudah berada sangat dekat. Telapak tangannya yang lembut juga perlahan menyentuh bagian bawah perut Tristan.

Tatapan Tristan langsung meredup. Jakunnya bergerak naik turun. Kemudian, dia mencium Cheria dengan keras. Karena membelakangi pintu, dia tidak melihat kehancuran di sorot mata Irene.

Sebaliknya, setelah terengah-engah, Cheria melirik ke arah Irene. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kemenangan. Kemudian, dia menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, 'Dasar wanita tua.'

Tatapan Irene sontak membeku. Dengan nada dingin, dia memerintahkan sahabat Tristan untuk melepaskannya. Pria itu terus meminta maaf sambil membela Tristan.

Sementara itu, Cheria diam-diam sudah berjalan mendekat. Mata dan alisnya melengkung dengan indah saat tersenyum. "Pak Tristan menciumku dengan sangat intens. Bahkan memakai lidahnya .... Kamu nggak cemburu, 'kan?"

"Cemburu karena kamu masih muda, tapi sudah jadi pelakor yang nggak tahu malu?" Irene mencibir dingin.

Ekspresi Cheria langsung berubah. Karena malu sekaligus marah, dia membalas dengan ketus, "Orang yang nggak dicintai itu yang pelakor! Usiamu hampir 30 tahun. Kamu pikir kamu pantas dibandingkan sama aku?"

Cheria menarik tali bahunya yang tipis, lalu melirik pakaian biasa yang dikenakan Irene dan tertawa mengejek. "Pantas saja Pak Tristan nggak tertarik sama kamu. Bukan cuma tua, kamu bahkan nggak punya pesona wanita sedikit pun."

"Aku dengar kamu pergi ke luar negeri untuk kuliah? Jangan-jangan kamu lepas semua pakaianmu di depan dosen pembimbing, terus tidur sama pria-pria asing itu satu per satu sampai akhirnya mendapat kesempatan itu?"

Baru saja kata-kata itu dilontarkan, Irene langsung mengangkat tangan dan menampar Cheria.

Plak! Suara tamparan yang nyaring menggema. Kepala Cheria tertoleh ke samping. Dengan wajah tidak percaya, dia perlahan menoleh kembali dan menjerit tak terkendali, "Berani-beraninya kamu memukulku?!"

"Kenapa nggak berani?" Tatapan Irene dingin seperti es. "Tutup mulutmu yang lebih bau daripada kotoran itu!"

Suara pertengkaran mereka makin lama makin keras. Akhirnya, Tristan yang tubuhnya masih dipenuhi bau alkohol memperhatikan sudut ruangan yang remang-remang itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 21

    "Kamu pergi saja."Setelah waktu yang terasa sangat lama, Tristan menutup matanya dengan kuat dan berkata dengan suara tertahan kepada Irene, "Pergi sekarang juga."Irene tidak ragu sedikit pun. Dia segera bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Atas perintah Tristan, pintu yang terkunci itu kembali dibuka. Sebelum Irene benar-benar menghilang dari pandangannya, pria itu akhirnya bertanya dengan suara lirih, "Benarkah ... kita sudah nggak punya kemungkinan lagi?"Suara seraknya yang terendam alkohol terdengar rendah dan berat, membuat dirinya tampak semakin kesepian dan menyedihkan.Irene tidak menjawab. Namun, Tristan sudah mendapatkan jawabannya. Entah itu tawa mengejek dirinya sendiri atau karena kesedihan yang telah mencapai puncaknya, dia tiba-tiba tertawa pelan.Lalu dia berteriak ke arah punggung Irene, "Irene, jangan lupakan aku ... dan jangan membenciku."Irene melangkah keluar dari hotel.Langit dipenuhi awan gelap yang pekat. Angin dingin bercampur kabu

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 20

    Malam pun segera tiba.Tempat yang telah disiapkan berada di dalam ruang VIP. Begitu melangkah masuk, Irene langsung terkejut melihat beberapa brankas yang terbuka di atas meja. Di dalamnya tersusun tumpukan demi tumpukan uang tunai.Jika dihitung secara kasar, jumlahnya memang mencapai 20 miliar. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak membuat Irene senang. Sebaliknya, dia merasa semuanya sangat tidak normal. Langkahnya langsung terhenti dan secara naluriah dia berbalik hendak pergi.Akan tetapi, sudah terlambat.Pintu telah ditutup dari luar. Terdengar bunyi "klik" saat kunci diputar.Pupil mata Irene menyusut tajam. Dia segera berjalan cepat menuju pintu dan mencoba memutar gagangnya. Namun sekeras apa pun dia menekan, pintu itu tidak mau terbuka."Irene ...."Suara yang sangat familier milik Tristan terdengar dari belakangnya.Amarah Irene langsung berkobar. Dia sudah muak dengan sikap Tristan yang terus mengejarnya tanpa henti."Tristan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Apa ka

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 19

    Dyson.Jika Tristan adalah tuan muda kalangan elite ibu kota yang membuat banyak orang iri, maka keberadaan Dyson adalah sosok bangsawan konglomerat yang sama sekali tak terjangkau.Sejak kecil dia tumbuh di luar negeri, tetapi di dalam negeri tidak pernah kekurangan cerita tentang dirinya. Atau lebih tepatnya, legenda tentang dirinya.Kecerdasan luar biasa hanyalah kelebihan paling sepele yang dimilikinya. Yang lebih mengerikan, dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri pada usia 15 tahun dan hanya dalam waktu satu tahun berhasil menjadikannya perusahaan terkemuka di dalam maupun luar negeri.Saat ini dia masih berstatus mahasiswa, tetapi aset yang dimilikinya tak terhitung jumlahnya. Tidak diragukan lagi, dia adalah orang terkaya di dunia."Kamu pikir aku akan percaya?" balas Tristan langsung. Dia sama sekali tidak percaya Irene bisa memiliki hubungan dengan Dyson.Begitu membayangkan Irene menemukan seseorang yang seratus kali lebih unggul darinya, seseorang yang sama sekali tidak

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 18

    Album foto itu mendadak terasa dingin. Saat digenggam di telapak tangan, bahkan sudut-sudutnya terasa menusuk dan membuat sakit.Tristan menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju beberapa langkah dan menarik Irene ke sisinya. Dia tahu tenaganya agak terlalu besar, tetapi itu sudah hasil dari usahanya menahan diri.Hanya Tuhan yang tahu, rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki langsung membanjiri tubuhnya saat melihat ada pria lain muncul di samping Irene."Irene, aku punya hadiah untukmu," katanya dengan suara tertahan.Awalnya, Tristan mengira Irene pasti akan menanyakan ke mana dia pergi setelah dirinya menghilang tanpa sepatah kata selama dua hari. Namun dia sama sekali tidak menyangka, kalimat pertama yang diucapkan Irene saat melihatnya justru adalah, "Bukannya kamu sudah pergi? Kenapa masih di sini?"Begitu kata-kata itu diucapkan, Tristan hampir tidak mampu mempertahankan senyum di wajahnya. Otot-otot wajahnya menegang saat dia memaksakan tawa kaku."Istriku, mana mungkin

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 17

    Tristan bahkan tidak ingat bagaimana dirinya diusir oleh petugas keamanan. Sepertinya dia tidak merasa malu. Tidak juga merasa marah. Yang ada hanyalah ketidakpercayaan yang memenuhi seluruh hatinya.Irene tidak pernah mengatakan kata-kata perpisahan seperti itu kepadanya. Di hadapannya, Irene selalu lembut. Selalu penuh pengertian. Selalu memaafkan. Tristan-lah yang telah kehilangan dirinya.Namun, dia tidak rela menyerah begitu saja. Irene adalah orang yang ingin dia genggam tangannya hingga akhir hayat. Dia bersedia melakukan apa saja, asalkan Irene mau memaafkannya.Karena itu, Tristan menunggu sangat lama. Dia menunggu hingga matahari perlahan tenggelam. Barulah Irene keluar dari aula konferensi.Di sekelilingnya ada beberapa teman kuliah yang tersenyum cerah.Mereka memuji Irene dalam bahasa asing, mengatakan bahwa dia begitu luar biasa dan jumlah dana investasi yang berhasil diperoleh jauh melampaui perkiraan mereka.Namun, Irene hanya menggeleng dengan rendah hati. "Ini adalah

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 16

    Mungkin karena langit masih berbelaskasihan padanya. Pada akhirnya, Tristan benar-benar berhasil bertemu dengan Irene. Dia berdiri di area penonton yang remang-remang, sementara Irene berada di tengah panggung dan bersinar terang.Sorotan lampu jatuh ke tubuhnya, membalutnya dengan lingkaran cahaya yang memukau.Irene mengenakan setelan blazer dan rok pendek yang rapi serta elegan. Rambut yang disanggul semakin menonjolkan kesan tegas dan bersih, sementara beberapa helai rambut tipis di dekat dahinya membuatnya tampak lebih anggun.Setiap senyuman, setiap gerakan, dan setiap ekspresinya memancarkan kepercayaan diri.Dengan bahasa asing yang fasih dan penuh pesona, dia menjelaskan proyek startup miliknya dengan tenang dan sistematis.Irene benar-benar telah berubah ....Tristan berdiri terpaku di bawah panggung, menatapnya dengan penuh keterpesonaan.Tidak. Lebih tepatnya, Irene seolah kembali menjadi sosok yang pertama kali dia temui dahulu.Tristan masih ingat dengan jelas. Saat dia m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status