LOGINKeduanya langsung tersedak minuman keras yang kuat itu dan batuk bertubi-tubi, kepalanya pun seketika terasa ringan.Bradford agak geli sekaligus tidak tahu harus tertawa atau tidak. Diam-diam, dia menggunakan kekuatan spiritual untuk membantu melancarkan efek alkohol di tubuh mereka, barulah mereka berdua merasa sedikit lebih nyaman.Meski begitu, beberapa saat kemudian, keduanya tetap menunjukkan tanda-tanda mabuk ringan."Kak Bradford, hari ini benar-benar minta maaf. Mengundang kamu makan di rumah, tapi malah membuatmu menghadapi urusan yang menyebalkan. Maafkan aku," kata Aulia. Karena pengaruh alkohol, emosinya semakin mudah bergejolak. Wajahnya memerah, matanya tampak sedikit sayu saat dia meminta maaf atas kejadian tadi."Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu merasa bersalah atas masalah yang disebabkan oleh ayahmu," Bradford menenangkannya.Aulia memaksakan senyum, tetapi matanya kembali perlahan basah oleh air mata.Melihat hal itu, Citra mengelus kepala Aulia dengan penuh kasih da
"Sialan kamu!"Affan memaki dengan kasar, tetapi wajahnya dipenuhi ketakutan. Dia menatap Bradford dengan pandangan garang, tetapi tidak berani bergerak lagi. Dia bersandar pada dinding sambil berjuang untuk berdiri, lalu menunjuk Aulia dan berkata, "Kamu membiarkan temanmu memukul ayahmu sendiri, apa kamu nggak takut kena azab?"Aulia membalas dengan dingin, "Itu karena kamu sendiri yang sudah keterlaluan!"Affan menggertakkan gigi karena marah. "Pokoknya sekarang aku sudah menerima uang mahar dari Keluarga Yustisio. Aku sama sekali nggak mengizinkan kamu berhubungan dengan pria lain. Kamu harus segera menikah dengan Yanuar. Aku masih menunggu amplop besar dari mereka!""Nggak mungkin! Jangan bermimpi!" teriak Aulia dengan mata memerah, suaranya serak karena emosi."Seharusnya kamu tahu bagaimana kedudukan Keluarga Yustisio di kota ini. Bukan kamu yang berhak menentukan urusan ini. Kalau kamu nggak menikah, kita akan sama-sama celaka!"Affan mencibir dingin, lalu melirik Citra dengan
Suaranya tidak pelan, membuat Affan di luar pintu mendengarnya dengan jelas.Affan membanting pintu sambil berteriak dengan marah, "Aulia, sialan kamu. Jangan menjelek-jelekkan aku di depan orang luar! Bagaimanapun juga aku ini ayahmu. Tanpa aku, mana mungkin ada kamu! Dasar anak durhaka!"Aulia berteriak dari balik pintu dengan penuh kepedihan dan amarah, "Pergi saja bisa nggak? Kami sudah nggak ada hubungan apa pun denganmu! Kami nggak ingin melihatmu lagi!""Nggak bisa! Kamu jelaskan dulu! Siapa bocah yang kamu bawa pulang hari ini? Apa hubungan kalian sebenarnya?"Affan melanjutkan dengan nada mengancam, "Aulia, aku peringatkan kamu, kamu harus menikah dengan Yanuar! Uang mahar dari pihak sana sudah aku terima, kamu sama sekali nggak boleh sama pria lain!""Apa hakmu mengatur hidupku?" teriak Aulia. "Aku sudah bilang dari dulu, aku nggak akan pernah menikah dengan Yanuar!" Aulia menangis karena marah. Dia menendang keras pintu masuk sambil berteriak penuh emosi.Affan yang berada d
Setelah meninggalkan toko obat tradisional, Aulia terus mengejar Bradford dengan pertanyaan sepanjang jalan, seperti seorang anak kecil yang penuh penasaran."Pak Bradford, permen lolipop itu dari mana asalnya?""Di sebelah toko obat ada sebuah minimarket kecil, lolipopnya dari toko itu.""Kapan kamu beli lolipop? Kenapa aku nggak tahu?""Aku nggak beli."Bradford tersenyum. Dia hanya menggunakan teknik khusus untuk memindahkan lolipop itu dari toko ke tangannya. Namun, pada saat yang sama, dia juga memindahkan 10 ribu ke atas meja pemilik toko, sehingga pemiliknya tidak dirugikan.Sedangkan uang 10 ribu itu, dia memindahkannya dari tangan Aulia."Kalau begitu, ini juga bisa disebut sulap? Hebat sekali, ya?"Baru saat itu Aulia menghitung ulang uang receh di tangannya, dan benar saja, jumlahnya berkurang 10 ribu.Meski begitu, dia tetap merasa sulit dipercaya. Walaupun sudah tahu awal dan akhir kejadiannya, dia tetap tidak bisa memahami bagaimana Bradford melakukannya.Setibanya di sup
Soal pembayaran, Aulia tentu tidak membiarkan Bradford mengeluarkan uang. Bahkan sebelum semua barang selesai dibungkus, dia sudah lebih dulu berebut membayar. Setelah semua barang dibeli dan mereka hendak pergi, dari luar masuk sepasang ayah dan anak.Sang ayah, yang berusia awal 30-an, menggendong putranya di dalam pelukan. Anak itu menangis keras. Jika diperhatikan dengan saksama, lengannya tampak terkilir dan terkulai lemas tanpa tenaga."Dokter, boleh saya tanya, apakah Anda bisa mengobati lengan anak saya?" Begitu masuk, sang ayah langsung bertanya kepada seorang tabib yang sedang berjaga."Mengobati tulang itu bukan perkara mudah. Kalau bukan tabib tua yang berpengalaman, nggak ada yang berani melakukannya. Sebaiknya kamu bawa anakmu ke rumah sakit saja." Tabib itu hanya melirik sekilas lalu menggeleng."Bukannya orang bilang pengobatan tradisional bisa benarin tulang yang terkilir? Kenapa cari tabib yang bisa benarin tulang saja sesulit itu," gerutu sang ayah dengan wajah gelis
Nama lengkap ibu Aulia adalah Citra Rahayu. Dia adalah wanita yang baik hati dan sederhana. Sebenarnya, dia juga memiliki paras yang tidak kalah menarik. Hanya saja, karena terbaring di tempat tidur lebih dari setahun, penampilannya menjadi tampak menua.Kini, dia telah berhasil diselamatkan dan anggota tubuhnya kembali bisa bergerak dengan leluasa. Selama dia mengikuti anjuran Bradford dengan baik, cukup banyak beristirahat, serta mengonsumsi obat tradisional selama satu bulan, kondisi tubuhnya akan pulih sepenuhnya. Karena suasana hatinya membaik, raut wajahnya pun terlihat jauh lebih segar.Bagi Aulia sendiri, penyakit ibunya selama ini seperti beban yang terus menekan hatinya. Sekarang beban itu akhirnya menghilang, membuat perasaannya ikut lega dan penuh kebahagiaan."Pak Bradford, ini sedikit tanda terima kasih dariku. Mohon Bapak menerimanya."Seolah teringat sesuatu, Aulia berbalik dan mengeluarkan sebuah kartu ATM dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada Bradford. "Di dalamnya







