Share

Bab 404

Penulis: Kael_99
"Ayah, cepat letakkan benda itu. Tadi Ibu cuma menakut-nakutiku, kenapa Ayah malah menganggapnya serius?" ucap Bramo sambil menghindar, tetapi dia tidak berani terlalu menjauh karena takut Bernard sampai celaka.

Di samping, Baron berdiri dengan kedua tangan yang disilangkan di dada. Wajahnya tampak sedang menikmati kehebohan. Sama sekali tidak terlihat ekspresi empati yang seharusnya dimiliki seorang dokter terhadap pasien.

Sebenarnya, hari ini Baron datang semata-mata karena tidak enak menolak permohonan Bramo yang datang berkali-kali. Pada dasarnya, penyakit Alzheimer hanya bisa dikendalikan dengan obat. Kehadiran dokter pun kebanyakan hanya untuk menenangkan perasaan keluarga pasien.

Karena itu, Baron memang tidak berniat memeriksa kondisi Bernard secara mendalam. Baginya cukup menjalani prosedur standar, menyarankan minum obat teratur, lalu selesai.

"Bernard, jangan bikin ribut lagi. Cepat, biarkan dokter periksa kamu!"

Liana yang tidak tahan melihat adegan itu, bergegas maju untuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 406

    Ditambah lagi, belakangan ini Keluarga Taniwan masih memiliki beberapa urusan lain yang juga membutuhkan banyak uang. Saat itu Bramo benar-benar panik, keringat dingin bercucuran di dahinya, wajahnya penuh dengan ekspresi memohon."Kamu bilang 200 juta per botol itu mahal? Begitu aku melangkah keluar dari pintu ini, bisa saja langsung jadi 400 juta per botol!"Baron menanggapi dengan acuh tak acuh, sambil bersikap seolah hendak pergi.Faktanya, obat yang digunakan untuk mempertahankan kondisi Alzheimer itu adalah salah satu sarana utama Baron untuk mengeruk uang.Sebagai dokter spesialis kejiwaan utama di Rumah Sakit Teguh, Baron memegang kekuasaan yang cukup besar. Mengatur dan mengintervensi jalur distribusi obat jelas bukan hal yang sulit baginya.Jika benar-benar dihitung, biaya produksi obat itu paling tinggi hanya sekitar 400 ribu per botol. Namun lewat tangan Baron, harganya langsung melonjak minimal puluhan juta.Dalam waktu kurang dari beberapa tahun saja, Baron yang serakah s

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 405

    Menghadapi ejekan Baron, Bradford hanya meliriknya sekilas dengan tenang, lalu mulai memeriksa kondisi tubuh Bernard secara serius.Baron yang semula tampak garang tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tanpa sadar, dia bahkan mundur setengah langkah, seolah teringat kembali adegan saat Bradford menahan Bramo hanya dengan satu tangan.Sorot mata Bradford sebenarnya tidak memperlihatkan emosi yang berlebihan, tetapi perasaan yang ditimbulkannya pada Baron persis seperti sedang dibidik oleh seekor binatang buas.Mungkin karena takut benar-benar memancing amarah Bradford, Baron tidak melanjutkan ejekannya. Namun jika harus pergi begitu saja, dia jelas tidak rela. Terlihat mata Baron berputar cepat beberapa kali. Seolah mendapatkan ide, senyum puas kembali merekah di wajahnya."Bramo, kondisi ayahmu sekarang hanya bisa dipertahankan dengan obat. Kalau sampai mendapat rangsangan atau tindakan lain, belum tentu obat-obatan itu masih bisa menyelamatkan nyawanya."Sambil berb

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 404

    "Ayah, cepat letakkan benda itu. Tadi Ibu cuma menakut-nakutiku, kenapa Ayah malah menganggapnya serius?" ucap Bramo sambil menghindar, tetapi dia tidak berani terlalu menjauh karena takut Bernard sampai celaka.Di samping, Baron berdiri dengan kedua tangan yang disilangkan di dada. Wajahnya tampak sedang menikmati kehebohan. Sama sekali tidak terlihat ekspresi empati yang seharusnya dimiliki seorang dokter terhadap pasien.Sebenarnya, hari ini Baron datang semata-mata karena tidak enak menolak permohonan Bramo yang datang berkali-kali. Pada dasarnya, penyakit Alzheimer hanya bisa dikendalikan dengan obat. Kehadiran dokter pun kebanyakan hanya untuk menenangkan perasaan keluarga pasien.Karena itu, Baron memang tidak berniat memeriksa kondisi Bernard secara mendalam. Baginya cukup menjalani prosedur standar, menyarankan minum obat teratur, lalu selesai."Bernard, jangan bikin ribut lagi. Cepat, biarkan dokter periksa kamu!"Liana yang tidak tahan melihat adegan itu, bergegas maju untuk

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 403

    Setelah diperkenalkan dengan begitu resmi oleh Bramo, raut wajah Baron jelas terlihat membaik. Meskipun, semburat ejekan di wajahnya sama sekali belum menghilang."Bramo, di zaman sekarang ini banyak penipu, apalagi yang sengaja mengincar orang tua. Jumlahnya malah lebih banyak lagi," kata Baron dengan nada seolah penuh keprihatinan.Sambil berbicara, Baron juga menatap Bradford dengan penuh minat. Meski tidak menyebut nama secara langsung, makna di balik ucapannya jelas-jelas sedang menyindir Bradford.Bukan tanpa alasan. Sebagai dokter spesialis kejiwaan utama di Rumah Sakit Teguh, Baron selalu diperlakukan bak tokoh penting ke mana pun dia pergi. Namun di rumah kecil Keluarga Taniwan hari ini, dia malah dibiarkan menunggu cukup lama.Cuma seorang bocah muda yang masih bau kencur saja bisa disebut dokter sakti. Baron sendiri juga kerap dipanggil dokter sakti. Jelas saja, dia merasa keberadaan Bradford telah menurunkan nilai dari sebutan "dokter sakti" itu sendiri.Mendengar ucapan te

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 402

    "Divya, cepat masuk. Ini temanmu? Ayo, cepat, masuk sama-sama!"Saat ini, Liana yang masih kesal, sama sekali tidak tertarik pada Bramo maupun Baron. Dia malah menyambut Divya dan Bradford dengan penuh antusias."Nenek, ini teman baru yang baru aku kenal, namanya Bradford. Dia seorang dokter. Kelihatannya memang masih muda, tapi kemampuannya benar-benar pantas disebut dokter sakti. Aku kepikiran untuk memintanya memeriksa Kakek Bernard."Sambil berbicara, Divya menyapa Liana dan menarik Bradford berjalan ke tengah halaman.Meski Divya sendiri masih menyimpan keraguan apakah Bradford benar-benar bisa mengobati Alzheimer, di depan orang lain dia tetap memilih meninggikan kemampuan Bradford.Lagi pula, memberi harapan kepada pasien dan keluarga pasien pengidap Alzheimer juga sangat penting. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi tekanan batin mereka.Tak seorang pun di halaman menyadari bahwa Baron, yang tadinya terlihat santai, seketika menunjukkan kilatan kekesalan di wajahnya setelah m

  • Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin   Bab 401

    Dibandingkan dengan Bernard yang tampak bungkuk, Bramo jelas jauh lebih kekar. Tingginya sekitar 185 sentimeter, berat badannya setidaknya di atas 100 kilogram. Wajahnya yang gelap memperlihatkan raut gembira yang sulit disembunyikan.Hari ini Bramo datang dengan tergesa-gesa, tujuannya tak lain adalah membawa Baron untuk memeriksa penyakit ayahnya.Sejak Bernard didiagnosis menderita Alzheimer, Bramo sudah mencari informasi ke mana-mana. Pada akhirnya, semua orang mengatakan bahwa Baron, dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Teguh, adalah yang paling berwibawa dan paling andal.Sebagai seorang anak, Bramo tentu ingin mencarikan dokter terbaik untuk ayahnya yang sakit. Saat itu, dia langsung berusaha menghubungi Baron.Namun, sebagai otoritas psikiatri yang diakui di Darmo, bukan perkara mudah bagi Bramo untuk meminta Baron memeriksa ayahnya. Keluarga Taniwan memang punya uang. Meski tidak berlebihan, tetap saja cukup untuk sekadar mengurus sana-sini. Masalah utamanya adalah relasi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status