LOGINNamun, masih ada putrinya di sini. Apa dia harus membiarkan Hasna mengalami semua ini?Memikirkan hal itu, Divya meneteskan air mata. Dia merasa sangat terhina.Pada saat yang sama, Nareen sudah melangkah mendekati Divya tanpa rasa sungkan. Dengan tubuh yang hanya mengenakan celana pendek berukuran besar, dia menoleh ke Yahya dan berkata, "Bawa anakmu pergi. Jangan sampai dia mengganggu urusanku dengan Bu Guru Divya.""Tenang saja, Pak Nareen. Aku langsung bawa anak itu pergi." Yahya segera meraih Hasna."Jangan sentuh aku! Aku mau Mama!" Hasna menangis keras, memeluk erat kaki Divya.Sementara itu, Nareen sudah berdiri di depan Divya, mengulurkan kedua tangannya dan meraih tubuhnya."Pergi!" Divya menendang selangkangan Nareen dengan marah.Buk! Satu suara benturan tumpul terdengar. Kaki Divya mengenai selangkangan Nareen dengan keras!"Ugh!" Bola mata Nareen berputar. Tubuhnya langsung meringkuk. Dia nyaris pingsan karena kesakitan."Kuat juga ... aku suka!" Setelah menahan sebentar,
Tepat saat dua pengawal Nareen hendak menutup pintu, sebuah tangan menahan pintu dari luar.Salah satu pengawal itu sedikit mengernyit. Dia membuka pintu, lalu bertanya, "Cari siapa?"Orang di luar tidak menjawab. Dia langsung mencengkeram leher pengawal itu, sementara tangan satunya mencekik leher rekannya. Kemudian, dia membenturkan kepala mereka berdua dengan keras.Buk! Suara benturan tumpul terdengar. Keduanya memutar bola mata, tak sempat bersuara, dan langsung pingsan.Bradford mencengkeram leher kedua orang itu dan menyeret mereka masuk ke halaman. Dia melempar mereka begitu saja ke sudut tembok, lalu mengunci pintu gerbang dan menoleh ke arah rumah.Saat itu, Yahya dan Nareen sudah masuk ke rumah dan menutup pintu dari dalam.Divya mendongak melihat mereka, lalu berteriak ketakutan, "Yahya, kamu mau apa? Turunkan Hasna!"Yahya menatapnya sambil mencibir. "Divya, ini Pak Nareen. Dia suka perempuan seusiamu, jadi aku bawa dia ke sini biar kenalan sama kamu."Melihat ekspresi mes
Lewat jalan yang dulu dilalui ibunya, Bradford bisa melihat sendiri pemandangan yang pernah dilihat ibunya.Terutama Gang Jarayu ini, pasti dulu setiap hari dilewati ibunya saat masih kecil dan remaja.Bahkan di salah satu batu bata tua di gang itu, dia melihat tulisan yang dipahat bertahun-tahun lalu.[ Aku cinta Bella! ]Pasti ini dibuat oleh seorang pria yang menyukai ibunya di suatu senja hari sekitar 30 tahun lalu, menggunakan pisau kecil untuk mengukirnya."Pak Nareen, mantan istri dan anakku tinggal di sini." Tiba-tiba, dari ujung gang terdengar suara yang familier.Bradford mengerutkan alis, menoleh untuk melihat. Ternyata Yahya, mantan suami Divya. Dia datang dengan membawa tiga pria.Tiga pria itu jelas mengikuti seorang pria paruh baya di depan, sementara dua pria besar di belakang tampak sebagai pengawal pribadinya."Pak Yahya, kamu tulus sekali. Demi menandatangani kontrak denganku, sampai-sampai mantan istri dilibatkan?"Pria paruh baya yang dipanggil Nareen itu memiliki
"Dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat, dua puluh lima ...."Di Gang Jarayu, tiga gadis kecil sedang bermain lompat karet bersama. Sambil melompat, mereka berhitung dan menyanyikan lagu-lagu anak-anak, mengisi gang kumuh yang suram itu dengan keceriaan.Salah satu dari gadis kecil itu adalah Hasna, putri Divya, baru berusia lima tahun.Saat melompat, mata Hasna yang cerah menangkap sosok seorang kakek yang keluar dari sebuah rumah tak jauh dari sana. Rambutnya memutih, tubuhnya gemetar. Mata Hasna langsung berbinar dan dia berlari mendekat."Kakek Bernard, halo!"Bernard menatap Hasna, tersenyum hangat, lalu bertanya, "Kamu anak siapa?""Kakek Bernard, aku Hasna! Kakek lupa aku lagi!" Hasna cemberut, tidak terlalu senang. Dia mendengus dan menambahkan, "Nama mamaku Divya, murid Kakek dulu.""Oh, anaknya Divya ya. Divya sudah punya anak? Bukankah dia baru jadi guru di sekolah kita? Kapan dia nikah?" Bernard terlihat bingung.Saat ini, seorang wanita tua ikut kel
Aulia memutar bola mata, menatap Affan dengan malu dan marah.Melihat Bradford tetap diam, Affan berkata dengan cemas kepada Aulia, "Aulia, kamu bantu ayahmu bicara dong!"Aulia mendengus dingin. "Uang itu memang bukan milikmu, kamu harus mengembalikannya. Jadi orang harus jujur. Kalau bukan hakmu, kamu bisa memakainya dengan tenang?""Tak tahu diri! Kenapa aku punya anak seperti kamu? Malah bela orang luar! Menyebalkan sekali!" Affan berteriak marah sampai wajahnya merah padam dan matanya melotot. Orang-orang lain hanya menatapnya seperti badut, sama sekali tak menghiraukannya.Bradford menikmati kepala ikan dengan santai. Beberapa saat kemudian, Cipta tak tahan lagi dan mencoba bertanya, "Tuan Clayden, aku masih ada urusan lain. Kalau nggak ada perintah lagi, kami boleh pamit dulu?""Hm." Bradford mengangguk ringan. "Silakan."Hati Cipta terasa lega seperti beban besar terangkat. Dia tak sabar ingin meninggalkan tempat itu."Tunggu." Tiba-tiba, Bradford memanggil Cipta.Jantung Cipta
Saat Cipta berlutut di hadapan Bradford, seluruh ruangan kembali hening. Udara seakan-akan membeku. Setiap orang tercengang, penuh ketidakpercayaan!Orang itu adalah Cipta, Kepala Organisasi Kalis, sosok yang terkenal di Kota Jiramo! Di Kota Jiramo, mendengar Organisasi Kalis, jangankan orang biasa, bahkan sebagian elite pun harus tunduk!Anggota biasa Organisasi Kalis saja bisa berjalan bebas di kota ini, apalagi Cipta? Namun kini, Cipta malah berlutut di hadapan Bradford tanpa memedulikan wajahnya sendiri.Siapa sebenarnya Bradford hingga bisa membuat orang sehebat Cipta tunduk? Apakah semata karena hubungannya dengan Tuan Hardara? Meskipun begitu, kedudukan Bradford memang cukup untuk membuat orang bergidik!Bradford menatap Cipta. Matanya menyingkap sedikit rasa kagum. Cipta tahu kapan harus tunduk. Memang sosok yang luar biasa.Sebenarnya, Bradford tidak berniat menindak Cipta. Walaupun hari ini tidak bertemu Cipta, dia pasti akan mencari kesempatan untuk bertemu.Apalagi, dia sud







