Share

Bab 2

Author: Darmawangsa
Reza lagi-lagi tunjukkan ekspresi itu. Setiap kali ketiga nona besar marahin dia, Reza selalu perlihatkan tatapan seperti itu, tatapan penuh provokasi yang menusuk dirinya!

Lebih dari itu, Reza sering jebak dia diam-diam, buat ketiga nona besar benci dengannya, bahkan kasih dia hukuman.

Awalnya, Johan kira Reza hanya ingin usir dia. Namun kemudian ia sadar Reza ingin ia mati!

Ia pernah coba jelaskan semuanya. Namun sia-sia.

Ketiga nona besar sama sekali nggak percaya dia.

Jika seseorang mencintai orang lain, apa pun yang dilakukan orang itu selalu benar.

Dan jika nggak dicintai, apa pun yang dilakukan selalu salah.

Tiba-tiba, saat Reza berdiri, sebuah liontin giok berbentuk stengah naga yang kuno jatuh dari tubuhnya.

Dalam sekejap, benda itu tarik perhatian semua orang.

Napas Johan tercekat. “Bukannya ini giok pertunanganku dulu dengan Ayu? Kok bisa ada di kamu?”

Itu adalah satu-satunya benda yang ia miliki, dan yang paling berharga.

Sejak kecil, saat ia dipungut, giok itu sudah tergantung di lehernya.

Ketika bertunangan dengan Ayu, Johan jadikan itu sebagai tanda pertunangan!

Reza membungkuk dan ambil giok itu.

Ia lalu menatap Johan dengan senyum mengejek.

“Maaf, Kak Johan, aku nggak tahu kalau giok punya kamu. Suatu kali aku lihat Ayu pakai itu, aku cuma penasaran ingin lihat saja, tapi nggak nyangka Ayu langsung kasih itu ke aku.”

Dengar kata-kata itu, hati Johan kembali terasa seperti disayat.

Ia menoleh ke arah Ayu. Begitu mudahnya wanita itu serahkan tanda pertunangan terpenting miliknya ke orang lain.

Namun di wajah Ayu, nggak ada rasa bersalah, nggak ada kegelisahan.

Yang ada hanyalah rasa nggak peduli yang dingin.

Saat itu, Johan ngerti. Benda terpenting baginya, di mata Ayu nggak berharga sama sekali.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Di tengah rasa amis di mulutnya,

ia menyadari dengan getir, segala kelembutan dan kasih sayang ketiga nona besar telah lama diberikan ke orang lain.

Lebih tepatnya, memang seharusnya diberikan ke orang itu.

Dirinya-lah yang sejak awal adalah kesalahan.

Tiga tahun kebersamaan, nggak sebanding dengan satu kalimat dari pria di hadapannya.

Pada saat ini, Johan sangat ingin segera donorkan darahnya untuk terakhir kali.

Dengan begitu, ia nggak akan berutang apa pun lagi ke Ayu.

“Kalau gitu, karena giok ini milik Kak Johan, sebaiknya dikembalikan ke pemiliknya.”

Reza ulurkan giok itu padanya. Johan hendak meraih itu, namun Reza tiba-tiba tarik tangannya kembali.

Dengan suara pelan yang hanya bisa didengar mereka berdua, ia berkata, “Johan, sebenarnya aku tahu segalanya.”

Tubuh Johan bergetar hebat.

“Di laci yang terkunci di kamarmu, ada sebuah buku harian. Di dalamnya ada catatan transfusi darahmu. Kamu ingin selesaikan seratus kali transfusi lalu pergi, kan?”

Hadapi senyum dingin penuh ejekan itu, wajah Johan memucat, napasnya semakin nggak teratur.

“Aku nggak bisa biarkan kamu pergi. Kalau kamu pergi, lalu aku gimana? Karena itu aku diam-diam robek catatan transfusi darahmu. Sembilan puluh sembilan kali transfusi, aku sobek hingga tersisa hanya beberapa kali saja. Bahkan catatan di rumah sakit pun sudah aku hapus.”

Suara Reza begitu lembut.

Namun bagi Johan, dinginnya terasa menusuk tulang dan menjalar ke seluruh tubuh.

Ia kepalkan tinjunya erat-erat.

“Apa kamu nggak takut Ayu dan yang lain tahu hal ini?”

“Mereka nggak akan tahu. Hati mereka selalu tertuju ke aku, mereka nggak pernah benar-benar perhatikan kamu. Karena aku, kamu nikmati tiga tahun kasih sayang mereka, itu sudah cukup. Donor darah adalah satu-satunya cara bagimu untuk balas budiku.”

Reza tertawa dingin.

“Oh ya, hampir lupa kasih tahu. Tubuhku sebenarnya nggak selemah itu. Beberapa kali transfusi sebelumnya, aku sengaja pingsan. Tujuannya agar kamu donorkan darah. Kamu nggak akan pernah bisa lepas dari genggamanku!”

BOOM!!

Dengar itu, Johan nggak sanggup tahan diri lagi.

Ia menerjang dan cengkeram leher Reza, matanya merah seperti darah sambil teriak histeris, “Kenapa kamu lakukan ini?! Kenapa kamu harus celakain aku?!”

“Berhenti! Johan, apa kamu sudah gila?!”

Sebelum ia sempat berbuat lebih jauh, ketiga nona besar berubah pucat dan segera pisahkan mereka.

“Johan, apa kamu gila?! Reza hanya mainkan giok jelekmu sebentar saja, kamu sudah nggak tahan?! Lagian Reza sama sekali nggak tahu apa-apa! Aku nggak pernah bilang ke dia kalau giok itu punya kamu!”

Saat itu, Ayu dan Dewi menatap Johan dengan wajah penuh amarah.

Fitri bahkan teriak ke dia, “Johan! Tahu diri sedikit! Jangan pikir karena kamu suami Kak Ayu kamu bisa berbuat seenaknya! Kalau mau dibilang, kamu itu sebenarnya cuma anak angkat! Kalau mau jujur, kamu itu cuma anjing! Kalau nggak ada Reza, kamu sudah mati sejak lama!!! Kalau bukan karena wajahmu mirip Reza, kami nggak akan habiskan dua triliun untuk selamatkan kamu!”

Semua orang memandangnya dengan kemarahan.

Hanya Reza yang berdiri di balik perlindungan mereka bertiga, menatap Johan dengan dingin.

Lihat pemandangan itu, Johan nggak teriak lagi.

Ia tiba-tiba jadi sangat tenang. Detik berikutnya, ia tersenyum lebar dan mengangguk.

“Benar. Kalau nggak ada kalian, mungkin aku sudah mati sejak lama. Karena itu mulai sekarang, mari kita putuskan hubungan. Termasuk dengan Ayu. Kita cerai saja.”

Begitu kalimat itu terucap, semua orang terdiam membeku.

Mata Dewi dan Fitri bergetar hebat.

Mereka nyaris nggak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

“Johan, kamu ….”

Fitri hendak bicara, namun Ayu potong dengan nada dingin, “Oke. Aku setuju.”

Pada saat itu, tatapan Ayu telah berubah jadi gunung es.

Nggak tersisa sedikit pun kelembutan atau kasih sayang seperti dulu. Sedikit pun nggak ada.

Johan tersenyum lebih dalam. Namun senyum itu semakin pucat.

“Tapi bukan sekarang.”

Ayu lanjutkan dengan nada datar, “Untuk perceraian, ada masa jeda selama satu bulan. Jika setelah itu kamu masih ingin putuskan hubungan dengan kami, aku akan setujuin itu.”

Satu bulan masa jeda.

Johan tersenyum sambil menitikkan air mata.

‘Masih ingin tipu aku dengan cara ini?’

'Dulu maksa aku donorkan darah seratus kali, sekarang masa jeda perceraian?'

Ketiga nona besar nggak pernah berpikir kalau dirinya benar-benar akan pergi!

Termasuk saat ini. Mereka tetap kira semua ini cuma luapan emosi sesaat!

Namun apa ini emosi atau bukan, mereka akan segera tahu itu.

Johan ambil kembali giok itu, lalu berbalik pergi.

Saat datang ke Keluarga Nugraha, ia hanya bawa giok ini.

Saat pergi pun, ia hanya bawa giok ini.

Nggak bawa apa pun yang lain!

Menatap punggung Johan yang menjauh, sudut bibir Reza terangkat membentuk senyum kejam.

‘Johan, kamu masih ingin kebebasan? Kecuali kamu mati, kamu hanya akan jadi bank darah berjalan milikku!’

Setelah pergi, Johan menuju ruang transfusi.

“Kok kamu lagi?”

Perawat yang bertugas terkejut lihat Johan.

Ia mengernyit.

“Nggak bisa. Beberapa hari lalu kamu sudah kehilangan terlalu banyak darah. Kalau terus dilanjutkan, nyawamu terancam. Ayu dan yang lain sudah berpesan ....”

“Ini yang terakhir.”

Johan berkata pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

Kini lengannya dipenuhi sembilan puluh sembilan bekas jarum. Ini adalah yang ke seratus. Dan juga yang terakhir!

Meski Reza hapus catatan donor darah, hati Johan tetap bersih.

Saat jarum besar menusuk pembuluh darahnya, darah merah segar mengalir deras melalui selang.

Rasa sakit buat tubuhnya bergetar tanpa sadar. Ia merasa ada sesuatu yang perlahan menghilang dari tubuhnya. Itu adalah kehidupan.

Namun Johan nggak merasa kesakitan.

Sebaliknya, ia tersenyum lega meski wajahnya pucat.

Urat-urat di lengannya menonjol, tubuhnya bergetar semakin hebat.

Ayu, Dewi, Fitri, tiga nona besar.

Ini adalah transfusi darah ke seratus kalinya untuk kalian!

Setelah ini, aku akan pergi.

Selanjutnya, nggak akan ada lagi “Johan Nugraha”!

“Tolong rahasiakan ini. Kali ini donor darahnya anonim.”

Sebelum pergi, Johan berpesan ke perawat.

Ia hanya ingin lunasi utang budi.

Apa ketiga nona besar tahu atau nggak, itu nggak penting baginya.

“Oke. Cepat pergi dari Kota Sowangi. Kalau kamu donor darah lagi, kamu benar-benar akan mati.”

Perawat itu menatapnya dengan iba.

Saat tinggalkan rumah sakit, Johan sudah terlalu lemah untuk jalan dengan normal.

Wajahnya pucat pasi. Penglihatannya pun nyaris hilang.

Tik tik tik.

Entah sejak kapan, hujan turun dengan deras, basahi seluruh tubuhnya.

Ia merasa sangat dingin. Namun bukan dingin secara fisik, melainkan dingin yang bekukan hatinya.

Di benaknya terlintas kenangan bersama ketiga nona besar, ada manis, ada sedih, ada keputusasaan. Namun pada akhirnya, semuanya kembali pada kehampaan.

Johan justru tertawa bahagia. Ia tahu, pada saat ini, ia bukan lagi seorang pengganti!

'Ayu, Dewi, Fitri, aku nggak utang apa pun lagi ke kalian!!!'

Dengan perasaan lega, Johan seret tubuhnya yang penuh luka untuk terus melangkah.

Kesadarannya perlahan memudar. Ia bahkan nggak sadar sedang menyeberang jalan.

Di balik lebatnya hujan, sebuah kendaraan melaju nggak terkendali ke arahnya.

Dengan kondisi tubuhnya yang lemah akibat donor darah berturut-turut, bahkan pria normal pun nggak akan sempat bereaksi.

BRAKK!

Suara benturan keras menggema. Tubuh Johan terpental puluhan meter.

Pada saat yang sama, setengah liontin giok berbentuk stengah naga yang ia genggam retak dan seberkas cahaya keemasan yang redup menyatu ke dalam tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya. Johan pun langsung nggak sadarkan diri.

Sesaat sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, ia samar-samar melihat seorang wanita bergaun putih, bertubuh tinggi dan berwajah sangat cantik, lari ke arahnya dengan wajah panik.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status