Share

Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat
Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat
Auteur: Darmawangsa

Bab 1

Auteur: Darmawangsa
“Nona Ayu, jangan sedot lagi! Dia hampir mati!”

“Teruskan! Operasinya Reza lebih penting! Terus ambil darahnya!”

Di sebuah Rumah Sakit di Kota Sowangi, sebuah transfusi darah darurat tengah berlangsung.

Tiga wanita yang sangat cantik berdiri di samping dengan wajah penuh kecemasan.

Mereka semua adalah wanita yang memiliki tempat istimewa di hati Johan Hidayat, dan salah satu dari mereka adalah istri barunya!

Namun saat ini, ketiganya justru mengelilingi seorang pria lain, wajah mereka dipenuhi rasa cemas dan khawatir.

Sama sekali nggak peduli dengan Johan yang tubuhnya sudah gemetar hebat akibat darahnya yang terus diambil.

Johan merasa sangat dingin. Namun sedingin apa pun tubuhnya, nggak sebanding dengan rasa dingin di hatinya!

Tiga wanita terpenting dalam hidupnya, demi pria lain rela abaikan hidup dan matinya, terus kuras darahnya!

“Ayu, hentikan! Kalau diteruskan Kak Johan nggak akan sanggup, aku masih bisa bertahan kok. Uhuk, uhuk ….”

Pria itu berkata dengan wajah penuh kepedulian pada Johan, namun tiba-tiba ia terbatuk hebat.

Ketiga wanita cantik itu langsung panik.

“Reza, nggak usah pikirkan dia! Kamu yang paling penting! Tenang saja, kami pasti akan selamatkan kamu!”

Johan yang memalingkan wajah, justru bertemu dengan tatapan menantang dari Reza Setiawan.

Tatapan itu seolah berkata "Lihat? Demi selamatkan aku, tiga wanita yang paling kamu cintai rela kuras darahmu sampai kering!"

Karena Reza adalah cinta pertama di hati mereka bertiga, sedangkan Johan cuma penggantinya!

Tiga tahun lalu, pada suatu malam Johan dijebak.

Ia menyinggung seorang tokoh besar, ditinggalkan keluarganya tanpa belas kasihan, bahkan dipukuli hingga sekujur tubuhnya penuh luka.

Di ambang kematian, Ayu Nugraha, Dewi Hartono, dan Fitri Kurniawan tiga putri keluarga terpandang muncul!

Mereka datang seperti malaikat. Selamatkan dia.

Bahkan orang tua Ayu angkat dia sebagai anak angkat, kasih dia nama baru, Johan Nugraha.

Selama tiga tahun berikutnya, ia dimanjakan habis-habisan oleh ketiga nona besar itu, jadi kisah indah yang terkenal di kalangan elite Kota Sowangi.

Johan pun nggak mengecewakan. Ia bantu kelola bisnis Keluarga Nugraha, disukai orang tua Ayu, dan akhirnya dijodohkan untuk nikah dengan Ayu.

Bahkan Dewi dan Fitri pun juga janji di masa depan, mereka akan nikah dengannya!

Namun, nggak lama setelah pernikahan itu, cinta pertama mereka yang hilang selama bertahun-tahun, Reza, kembali. Dan hidupnya hanya tersisa setengah tahun.

Ketiga nona besar itu jadi gila!

Sejak saat itu, Johan akhirnya ngerti dirinya cuma pengganti.

Ia sangat mirip dengan Reza, nggak cuma wajah, tapi aura, bahkan golongan darah langka mereka pun sama.

Karena itulah ia diselamatkan.

Karena itulah ia diangkat anak.

Dan karena itulah ia menikah dengan Ayu.

Sejak Reza kembali, seluruh perhatian ketiga nona besar itu tertuju ke Reza.

Satu panggilan telepon darinya, cukup untuk buat mereka tinggalkan ulang tahun Johan.

Satu kalimat darinya, cukup untuk buat mereka perintahkan Johan berlutut dan minta maaf ….

“Dokter, tolong ambil lebih banyak lagi. Aku mohon, jangan sampai Reza kenapa-kenapa!”

Ketiga nona besar mohon bersamaan, mata mereka memerah.

Namun efek samping pengambilan darah berlebihan mulai muncul di Johan.

Penglihatannya kabur, dan seluruh tubuhnya mulai bergetar nggak terkendali.

Nggak nyangka, ketiga nona besar itu justru kira ia hendak kabur.

Mereka lari mendekat dan tekan anggota tubuhnya dengan kuat.

“Masih mau kabur?! Selama darah untuk operasi Reza belum cukup, kamu nggak boleh pergi!”

Pada saat itu, Johan benar-benar putus asa.

Kejang di tubuhnya semakin hebat, matanya memerah seperti darah.

Ia ingin teriak. Namun Ayu, dalam kepanikan cengkeram lehernya dengan kuat, hingga ia hampir kehabisan napas.

800 cc!

1000 cc!

1200 cc!

...

Jumlah darah melonjak dengan cepat!

Bip! Bip! Bip!

Hingga akhirnya alat medis keluarkan bunyi alarm yang menusuk telinga.

“Sudah hampir setengah darahnya habis! Pasien syok! Hentikan!”

Dokter paksa hentikan transfusi darah.

Semua perawat menatap Johan dengan wajah ngeri.

Wajah tampannya kini pucat pasi, bagaikan patung es yang nggak bernyawa.

Ruang transfusi dipenuhi jeritan ketakutan.

Ketiga nona besar yang tadi menahannya pun terguncang dan segera lepaskan pegangan.

Baru saat itu, mereka lihat wajah Johan yang nyaris nggak bernyawa,

Ayu dan yang lainnya rasakan ketakutan mulai menyusup ke hati mereka.

“Operasi Tuan Reza bisa dimulai!”

Namun suara dokter itu langsung terdengar. Ketiga nona besar segera berbalik dan hampiri Reza.

Ayu bahkan tanpa menoleh berkata ke asistennya, Mila Zebua, “Bawa dia pergi. Belikan suplemen terbaik. Pastikan kondisi darahnya pulih karena nanti masih harus terus transfusi untuk Reza.”

“Siap.”

Mila mengangguk pelan. Namun hatinya terguncang hebat!

Biasanya, pengambilan darah Johan selalu dibatasi.

Tapi kali ini, demi operasi cinta pertama mereka, nggak ada satu pun dari mereka yang hentikan prosesnya. Nyaris merenggut nyawa seseorang!

Setelah koma selama beberapa hari, Johan akhirnya terbangun di ranjang rumah sakit.

Orang yang jagain dia adalah Mila.

Ia bangkit dengan susah payah.

“Ayu di mana?”

“Nona sedang temani Pak Reza. Nona Dewi dan Nona Fitri juga ada di sana.”

Ia terdiam sejenak lalu lanjutkan, “Jangan salahkan ketiga nona besar. Operasi Reza butuh banyak darah, mereka panik hingga kehilangan kendali, nggak perhatikan jumlah pengambilan darah. Tapi mereka sudah belikan banyak suplemen untuk kamu.”

“Nggak apa-apa. Ini memang utangku ke mereka.” Johan tersenyum tipis.

Ia tambahkan pelan, “Sudah sembilan puluh sembilan kali.”

Mila terkejut. “Sembilan puluh sembilan kali apa?”

Sejak Reza kembali, Johan sadar akan posisinya.

Ia pernah ajukan perceraian pada Ayu.

Namun Ayu tolak itu. Untuk patahkan harapannya, Ayu berkata asal, "Kalau kamu transfusi darah untuk Reza seratus kali, aku akan kasih kamu kebebasan."

Ia nggak pernah nyangka, kalimat yang diucapkan tanpa pikir itu benar-benar terwujud.

Johan telah donorkan darahnya 99 kali! Namun Ayu nggak pernah benar-benar hitung itu.

Hati dan pikirannya sepenuhnya milik cinta pertamanya.

Dalam benaknya, Johan mungkin belum sampai sepuluh kali kasih donor darah.

Satu kali lagi. Satu kali saja. Maka utang budi itu akan lunas!

Ia akhirnya bisa cerai!

Johan tarik napas dalam, turun dari tempat tidur, hendak temui mereka

BRAK!

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Yang masuk adalah Dewi dan Fitri!

“Lihat kan? Dia baik-baik saja. Kak Ayu cuma terlalu khawatir,” kata Fitri santai.

Sudut bibir Johan melengkung getir, mengejek diri sendiri. Setiap kali ia pingsan karena anemia, Fitri selalu menatapnya dengan sinis, kira ia sengaja pura-pura lemah demi tarik simpati.

Sejak Reza kembali, gadis kecil yang dulu selalu mengekorinya, yang manja dan ceria telah menghilang.

“Johan, karena kamu sudah nggak apa-apa, tolong belikan aku sekotak kue teratai. Reza mau makan itu.” Dewi berkata sambil menatapnya.

Dengar itu, Johan justru tertawa.

Mau beli kue teratai asli, harus ditempuh dengan perjalanan lewati setengah kota.

Dengan kondisi tubuhnya sekarang, mungkin ia akan mati di jalan sebelum sampai.

Dulu, ia pernah beli itu, ia kira Dewi yang suka makan itu.

Sampai suatu hari ia lihat kue yang ia beli dengan lari di tengah hujan, disuapkan Dewi secara langsung ke mulut Reza.

Baru saat itu ia ngerti. Bukan Dewi yang suka kue teratai. Melainkan Reza, cinta pertamanya.

Dewi adalah penganut paham anti-nikah.

Ia pernah berkata, sepanjang hidupnya, punya Reza saja sudah cukup.

Perasaan mereka melampaui pernikahan, lebih bebas, lebih romantis.

Alasan ia bersedia menikah dengan Johan dulu, hanya karena Reza pergi.

Bagi ketiga nona besar, Reza adalah tempat mereka menggantungkan perasaan yang berbeda.

Dan dirinya, sejak awal hingga akhir cuma pengganti.

Entah karena marah, atau karena hatinya sudah mati.

Mata Johan semakin merah.

Ia tersenyum, lalu menolak dengan tersenyum, “Dewi, kalau Reza-mu ingin makan kue teratai, beli saja sendiri. Ngapain cari aku?”

“Apa katamu?!”

Begitu kata-kata itu keluar, seluruh ruang rawat langsung sunyi.

Tatapan bertemu.

Dalam mata Johan, Dewi nggak lihat kepatuhan. Nggak lihat penyerahan diri.

Yang ia lihat adalah penolakan.

Johan nolak mereka?

Bahkan Fitri pun terperangah. Matanya terbelalak tak percaya.

Selama ini, apa pun yang mereka perintahkan, Johan selalu patuh. Bahkan jika disuruh mati sekalipun.

Wajah Dewi langsung dipenuhi amarah.

“Johan, apa maksudmu?! Cuma transfusi darah saja! Reza baru saja sadar dan ingin makan kue Teratai, hal sekecil ini pun kamu nggak bisa penuhi?!”

Johan menatapnya dengan tenang. Kekecewaan di hatinya semakin dalam.

Hati ketiga nona besar itu sepenuhnya milik Reza.

Hidup atau matinya nggak ada artinya.

“Dewi, jangan persulit Kak Johan. Uhuk, uhuk.”

Saat itu, Reza masuk dengan ditopang Ayu.

Sambil terbatuk, ia berkata dengan rasa bersalah, “Ini salahku. Aku nggak seharusnya begitu sadar langsung ingin makan kue teratai. Kak Johan sudah donorkan begitu banyak darah untukku, gimana bisa aku masih suruh dia beli kue?”

Dengan beberapa kalimat saja, ia tempatkan dirinya sebagai korban lemah.

Seolah-olah jika Johan nggak belikan dia kue, itu adalah dosa besar yang nggak terampuni.

“Kak Johan, maafkan aku.”

Bahkan ia membungkuk minta maaf.

Lihat itu, wajah ketiga nona besar langsung menggelap.

“Reza, kamu ngapain?! Cepat berdiri! Johan itu memang hidup untukmu!”

Dewi dan Fitri bantu dia berdiri.

Mereka berkata dengan sungguh-sungguh, “Jangan tertipu oleh penampilannya. Dia itu memang anak angkat Keluarga Nugraha, suami Kak Ayu. Tapi sebenarnya, alasan dia bisa hidup adalah kamu. Ke depannya, apa pun yang kamu butuhkan, suruh saja dia. Nggak perlu pedulikan perasaannya.”

Johan nggak berkata apa pun.

Matanya hanya menatap Reza tanpa berkedip. Bukan karena kata-kata kejam ketiga nona besar itu. Melainkan karena pada saat Reza membungkuk tadi, ia sempat perlihatkan senyum dingin yang bengis ke arah Johan. Sama sekali beda dengan sosok lemah yang baru saja ia perlihatkan!

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status