Share

Bab 3

Penulis: Darmawangsa
Di belakangnya, dua pria berpakaian hitam bergegas menghampiri, buka payung untuknya.

“Aduh, celaka, aku nabrak orang. Dia … dia … dia nggak mati, kan?”

Menatap Johan yang tergeletak nggak sadarkan diri, hati Kirana Gunawan serasa seperti terbakar oleh rasa cemas.

Dengan tinggi sekitar 170 cm, seluruh tubuhnya pancarkan aura bangsawan. Bahkan kerutan panik di wajahnya pun tampak begitu indah.

“Tapi, nona, sekarang kita nggak punya waktu urusi orang lain. Kondisi Tuan Besar sangat kritis, nyawanya mungkin nggak lama lagi!”

Salah satu pengawalnya berkata dengan cemas.

Dengar itu, Kirana nggak jawab. Ekspresinya justru semakin kacau, bibirnya yang pucat terkatup rapat.

“Tapi … dia ….”

Kirana tetap nggak bisa merasa tenang. Gimanapun juga, pria ini terluka karena dirinya.

“Itu juga nggak bisa dihindari. Siapa sangka ada orang tiba-tiba muncul? Hujannya terlalu deras, kita sama sekali nggak sempat bereaksi.”

“Benar, Nona. Kondisi Tuan Besar jauh lebih penting. Paling-paling orang ini bisa diselesaikan dengan uang ganti rugi.”

Kedua pengawal itu ikut menimpali.

Di mata mereka, pria yang tertabrak ini sama sekali nggak penting, cukup dengan uang, semuanya beres.

Tik … tik … tik ….

Air hujan menghantam wajah Johan seperti pisau tajam, seakan ia hanyalah mainan nggak bertuan yang dibuang di pinggir jalan.

Di mata Kirana, terselip rasa nggak tega.

Tanpa diduga, ia langsung membungkuk dan gendong Johan, lalu bergegas kembali ke mobil.

“Nona, kamu?!”

Kedua pengawal itu terkejut sampai mata mereka nyaris melotot.

Sulit dipercaya, putri kecil Keluarga Gunawan, salah satu dari empat keluarga besar di Lotunas, putri kesayangan Keluarga Gunawan dari wilayah Selatan, gendong seorang pria asing?!

“Cepat! Ke rumah sakit! Rumah sakit terbaik!”

Kirana berseru dengan nada dingin.

“Siap!!”

Mobil segera melaju menuju Rumah Sakit No.1 di Kota Sowangi.

Sementara itu, ketiga nona besar sama sekali nggak tahu bahwa Johan kecelakaan.

Mereka masih terkejut dengan ledakan emosi Johan sebelumnya.

Di telinga mereka, kata-katanya tentang memutuskan hubungan masih terngiang.

Terlepas dari statusnya sebagai “bank darah berjalan”, seharusnya mereka merasa puas jika Johan benar-benar pergi. Namun entah mengapa, di dalam hati mereka justru terasa nggak nyaman. Kosong.

Akhirnya, Dewi nggak bisa tahan lagi.

“Gimana kalau aku pergi ke kamarnya dan lihat keadaannya?”

“Nggak perlu.”

Ayu jawab dengan nada datar.

“Semua itu cuma sandiwara untuk kita. Dia nggak bisa hidup tanpa kita. Lagian, bukannya aku sudah kasih dia satu bulan masa jeda? Satu bulan cukup baginya untuk berpikir jernih.”

Kalau nggak ada mereka, Johan pasti nggak akan bisa bertahan hidup.

Belum lagi ia nggak punya rumah. Dan tokoh besar yang ia singgung tiga tahun lalu, orang itu pasti nggak akan lepaskan dia.

Saat itu, mereka habiskan dua triliun untuk lunakkan keadaan, agar tokoh besar tersebut berhenti kejar Johan.

Namun jika ia benar-benar keluar dari Keluarga Nugraha, keadaannya akan beda.

Lihat wajah Ayu yang begitu tenang, Fitri nggak tahan untuk tanya, “Kak Ayu, apa kamu nggak takut, sebulan lagi Johan benar-benar akan ceraikan kamu?”

Mata Ayu bergetar halus, namun ia nggak langsung jawab.

“Ayu, kalian mau pergi jenguk Kak Johan?”

Pada saat itu, suara Reza terdengar. Entah sejak kapan ia sudah duduk tegak.

Kepalanya tertunduk, suaranya pelan, “Kalian pergi saja. Gimanapun, sisa hidupku nggak sampai setengah tahun. Nggak peduli berapa banyak darah yang Kak Johan sumbangkan untukku, kenyataan ini nggak akan berubah.”

Begitu kata-kata itu keluar, wajah ketiga nona besar langsung berubah drastis. Mereka buru-buru hampiri dia.

“Nggak! Reza, kamu nggak akan mati! Aku nggak akan biarkan itu! Apa pun konsekuensinya, aku akan selamatkan kamu!”

“Benar! Bukannya ada Johan yang bisa donorkan darah untukmu? Selama dia ada, kamu pasti nggak akan mati!”

“Kami nggak pergi ke mana-mana! Kami akan tetap di sisimu! Reza, tugasmu cuma satu, bertahan hidup!”

Dewi dan Fitri ikut bersahut-sahutan.

Emosi ketiganya bergejolak, hingga mata mereka memerah.

Saat itu, seorang dokter masuk sambil bawa beberapa kantong darah.

“Tuan Reza, ada kantong darah baru.”

“Kantong darah baru?”

Dewi terkejut.

“Bukannya sebelumnya bilang nggak ada stok darah yang cocok dengan golongan darah Reza?”

“Aku juga baru terima kabar dari bagian transfusi. Sepertinya ada donor lain dengan golongan darah yang sama dengan Reza.” Dokter jelaskan.

Dengar itu, mata Ayu dan dua lainnya langsung berbinar.

“Bisa nggak kamu bantu kami cari tahu siapa donor itu?”

Meskipun mereka punya Johan sebagai bank darah berjalan, gimana jika suatu hari ia nggak ada?

Bukannya penyakit Reza akan tambah parah?

Kalau ada donor lain dengan golongan darah sama, itu berarti lapisan pengaman ganda!

“Nggak bisa. Donor tersebut dengan tegas minta kami rahasiakan identitasnya.” Dokter menggeleng.

Ketiga nona besar mengernyit, saling tukar pandang.

Akhirnya, Ayu berkata dengan nada memohon, “Tolonglah. Kami mohon, apa pun caranya, carilah informasi orang itu. Kami pasti akan beri imbalan besar.”

“Ini … baiklah. Aku akan coba.”

Dokter akhirnya ngalah. Ketiga nona besar segera sampaikan kabar baik itu kepada Reza.

Saat dengar itu, Reza juga tampak terkejut. Jika "bank darah berjalan" punya pengganti, bukannya itu berarti Johan bisa mati?

Lagian, satu-satunya nilai Johan yang masih tersisa adalah sumbangkan darah untuknya.

Itulah alasan mengapa ia mati-matian kendalikan Johan.

Namun mereka sama sekali nggak tahu, donor darah anonim itu adalah Johan sendiri.

...

Saat ini, Johan sedang terbaring di ruang rawat lain.

Kirana duduk di samping tempat tidurnya sambil telepon. Wajah cantiknya sedingin es.

“Paman, aku paham posisiku. Nggak perlu diingatkan lagi. Aku nggak akan mati! Aku pasti bisa bertahan lewati tahun ini!”

Ia pun menutup telepon dengan kesal.

Dadanya naik turun dengan cepat, lama sekali sebelum ia bisa tenangkan diri.

Salah satu pengawal tanya dengan suara pelan, “Nona, apa benar di Kota Sowangi kita bisa temukan cara agar kamu bisa hidup lewati tahun ini?”

“Aku juga nggak yakin. Tapi Kakek bilang, titik balik hidupku akan muncul di Kota Sowangi, di tahun terakhir hidupku.”

Alis Kirana berkerut dalam.

“Namun baru saja tiba di Kota Sowangi, Raja Naga sudah alami kecelakaan parah dan nyawanya terancam. Bahkan Nona juga nggak sengaja tabrak seseorang. Awal yang buruk.”

Dengar itu, kerutan di dahi Kirana semakin dalam. Kirana menghela napas pelan.

“Kita jalani saja selangkah demi selangkah. Kakek diserang di Kota Sowangi, pasti ada dalang di baliknya. Yang terpenting sekarang adalah gimana bisa selamatkan Kakek.”

“Siapa keluarga pria yang baru saja alami kecelakaan itu? Hasil pemeriksaannya sudah keluar.”

Pada saat itu, seorang dokter masuk. Pengawal itu hendak jelaskan, “Bukan kami.”

Namun Kirana langsung ulurkan tangan.

“Kasih ke aku.”

Ia menunduk baca sekilas. Dan seketika, Kirana membeku.

“Apa? Luka lecet ringan di kulit kepala?”

“Nggak mungkin.”

Ia kira matanya salah lihat.

Namun ketika ia periksa sekali lagi dengan saksama, hasilnya tetap sama.

“Cepat kalian lihat!”

Ia panggil kedua pengawalnya.

Mereka adalah saudara kembar yang telah lama berlatih bela diri, paling paham soal kondisi tubuh.

Begitu mereka periksa tulang Johan, keduanya sama-sama terkejut.

“Nggak mungkin. Ini benar-benar mustahil. Ditabrak mobil dengan kecepatan seperti itu, mustahil cuma lecet di kulit kepala. Bahkan orang yang latihan ilmu pengerasan tubuh pun nggak bisa!”

Terutama karena situasi saat itu begitu jelas dalam ingatan mereka, kecepatan mobil mencapai hampir 180 kilometer per jam! Tubuhnya terpental belasan meter, darahnya mengalir begitu banyak.

Namun hasilnya cuma luka ringan?!

Ini benar-benar nggak masuk akal!

“Dia sudah mau sadar!”

Tiba-tiba, mereka berseru kaget.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 50

    “Johan, ini adalah Token Napas Naga milik Pasukan Napas Naga kami!”“Johan, ini Token Harimau Putih dari Pasukan Harimau Putih!”“Johan, ini Token Taring Serigala dari Pasukan Taring Serigala!”Johan berada dalam dilema, diterima salah, ditolak pun nggak enak.“Terima saja. Nanti, ke depannya kamu akan butuh itu.”Lanny tersenyum sambil berkata demikian.Barulah Johan terima semuanya.“Kalau gitu, terima kasih kepada para kapten.”Makna dari keempat token itu terlalu besar!Itu adalah simbol kekuatan pasukan khusus yang mengguncang setengah dunia militer!Cukup untuk buat sebuah negara merasa gentar!Ke depannya, siapa lagi yang berani sentuh Johan? Dan itu bahkan belum termasuk tiga pasukan khusus lainnya!Ia telah selamatkan Bagas, artinya ia adalah Penolong Besar Tujuh Pasukan Khusus!Nggak heran semua orang ingin kasih yang terbaik.Masalah pun terselesaikan dengan sempurna.Dalam perjalanan pulang, Kirana terus menatap Lanny dengan sorot mata aneh.“Bibi, kamu suka Kak Johan, yah?

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 49

    Mana bisa ini disebut isyarat halus?Itu jelas sudah terang-terangan sekali!Namun Johan pura-pura nggak lihat apa pun.Sejak awal, ia memang nggak pernah akui kalau Nabila punya “utang budi”, hanya Nabila saja yang terus-terusan ungkit itu.Sebaliknya, Nabila justru mulai gelisah. Ia sudah kasih isyarat sejelas itu, namun Johan tetap nggak ada reaksi sama sekali?“Kamu itu kenapa sih, kok dari tadi kedip-kedip mata begitu?”Terry yang ada di sampingnya lihat perubahan ekspresi Nabila dan nggak tahan untuk tanya.“Ah? Nggak apa-apa kok ….”Nabila buru-buru tarik kembali pandangannya dan tundukkan kepala.Johan telah nolak dia.Rasa frustrasi datang bercampur dengan kekesalan.Gimanapun juga, ia adalah wanita terkenal dalam militer. Wajah cantik, tubuh proporsional, semuanya ada. Kenapa Johan nggak tertarik sama sekali?Walaupun sudah ada Kirana, masa sampai abaikan dia seperti ini?Nabila merenung sejenak, lalu merasa masalahnya ada pada kesan pertama, saat pertama kali ketemu Johan, i

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 48

    Lihat pemandangan itu, Nabila dan Xavier langsung murka.“Hei, Harvey! Terry! Kalian berdua masih punya muka, nggak?! Kita datang ke sini untuk lindungi keselamatannya Johan! Tapi kalian malah jadikan ini ajang cari muka?!”Mereka bahkan belum sempat buka mulut, dua orang yang datang belakangan ini justru sudah lebih dulu bicara tanpa sungkan!“Bukannya Johan berdiri di sini dengan sangat aman?”Terry dan Harvey masih genggam tangannya Johan, seperti genggam harta karun, nggak mau lepaskan.“Dengan kemampuan Johan yang setinggi ini, kalau berada di luar sungguh sia-siakan bakatmu. Kamu tertarik nggak untuk bergabung dengan Pasukan Taring Serigala? Seluruh saudara kami anggap kamu sebagai penyelamat. Mereka semua ingin ketemu dengan kamu! Ada banyak posisi di Pasukan Taring Serigala, kamu mau lakukan apa pun, silakan.”Harvey lontarkan undangan dengan sangat alami.Terry ikut menimpali, “Kalau nggak tertarik ke Pasukan Taring Serigala juga nggak masalah. Pasukan Harimau Putih kami juga

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 47

    Bum!Krak!Krak!Dalam sekejap mata, tiga pria berbaju hitam roboh bersamaan, leher mereka terpelintir patah.Cepat. Bersih. Mengerikan.Hanya tersisa satu orang, pemimpin mereka yang masih berdiri.“Hissh!”Pria itu tersadar, seluruh bulu kuduknya berdiri.Ia tarik napas dalam-dalam, dingin menjalar hingga ke tulang.Bahkan Nabila dan Xavier yang berada nggak jauh dari sana pun membeku di tempat.Apa yang baru saja mereka lihat?!Johan, orang yang seharusnya mereka lindungi dengan nyawa baru saja patahkan leher tiga pembunuh kelas atas dengan begitu mudah?!Terry dan Harvey yang baru pertama kali lihat Johan benar-benar terguncang!Bukannya katanya Johan perlu perlindungan?Bukannya kata mereka, dia “kelinci putih” yang nggak berdaya?Lalu apa ini?!Dia bunuh pembunuh kelas elit dalam hitungan detik?!Apa kalian bercanda?!Namun, Xavier dan Nabila pun sama terdiamnya.Ini … ini ….Bahkan Kirana dan Lanny menatap dengan mata terbelalak, nggak percaya.Sementara itu, Johan yang belum sa

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 46

    Mereka melaju secepat mungkin menuju vila pinggiran kota milik Lanny.Begitu lihat begitu banyak orang datang bersamaan, Lanny langsung terkejut.“Kenapa ini? Kalian mau apa?”“Bibi, di mana Kak Johan?”Kirana tanya dengan wajah penuh kecemasan.“Adik kecil itu? Dia sudah pergi dari tadi.”Lanny tertegun sejenak, lalu jawab dengan nada heran.“Apa?! Sudah pergi?!”Begitu dengar itu, raut wajah semua orang langsung berubah drastis.Kirana bahkan hampir nangis.“Kak Nabila, gimana ini? Kak Johan sudah lama perginya, sekarang nggak ada yang tahu dia di mana. Jangan-jangan dia sudah ….”Kalimat itu terputus di tenggorokan. Air matanya jatuh deras, seperti mutiara yang talinya putus.Wajah Nabila pucat pasi, sementara keringat dingin mengalir di pelipis Xavier.“Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi?”Lihat situasi semakin nggak wajar, Lanny nggak bisa nahan diri untuk tanya.Nabila terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada orang yang ingin bunuh Johan .…”“Apa?!”Boom!Kepala Lanny seketika

  • Penyesalan Mantan Istri yang Terlambat   Bab 45

    Harvey tiba-tiba ubah nada bicaranya, menatap Bagas dan yang lainnya.Mata Nabila dan Xavier langsung berubah.Sial! Mereka diam-diam mengumpat dalam hati.Mereka sempat kira Harvey dan Terry hanya datang untuk jenguk, nggak nyangka justru singgung soal Johan!Xavier nyaris menggeram. Licik!Jelas-jelas mereka sengaja.Mereka pasti sudah lama tahu informasi tentang Johan.Selama ini, Pasukan Napas Naga dan Pasukan Kopa Cara saja sudah saling bersitegang, kalau dua orang ini ikut terlibat, situasinya bisa makin kacau!Pikirkan hal itu, raut wajah Nabila dan Xavier pun segera mengeras. Namun Bagas sama sekali nggak pikirkan urusan itu.Ia justru senang bisa ceritakan kembali pengalaman dirinya yang nyaris masuk ke gerbang kematian.“Kalian bicara soal Johan? Kalian pasti sudah dengar kabarnya, nyawa tua ini sebenarnya sudah hampir masuk ke alam baka. Tapi Johan dengan paksa tarik aku kembali dari gerbang neraka! Kalian bilang, ini ajaib atau nggak? Hahaha!”Begitu dengar kisah itu, mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status