공유

Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam
Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam
작가: Zeaauthor

bab 1

작가: Zeaauthor
last update 게시일: 2026-07-05 20:09:08

“Suamimu sedang merayakan hari jadi cinta pertamanya malam ini. Jika ingin tahu, datanglah ke Grand Aurora Hotel, Ballroom Utama.”

Dada Rosemary berdebar kencang. Jemarinya gemetar saat membaca pesan misterius itu.

“Tidak... ini pasti hanya lelucon murahan,” gumamnya pelan. Namun semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin kuat rasa penasaran itu mencekik hatinya.

Dengan langkah tergesa-gesa, ia meraih mantel, menggenggam tasnya, lalu bergegas menuju hotel yang disebutkan dalam pesan. Gerimis tipis membasahi jalanan, sementara cahaya lampu kota tampak samar di balik kabut.

Ballroom Grand Aurora Hotel dipenuhi denting gelas kristal dan tawa para tamu. Alunan orkestra yang lembut mengisi ruangan, sementara aroma anggur bercampur parfum mahal memenuhi udara.

Tatapan Rosemary menyapu seluruh ruangan.

Lalu... ia melihatnya.

Suaminya—Adrian.

Pria itu berdiri gagah dalam balutan setelan jas hitam yang elegan, tersenyum hangat. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda mengenakan gaun merah menyala, wajahnya berseri seolah malam itu memang diciptakan khusus untuknya.

Dan di tangan Adrian...

Sebuah kotak beludru hitam perlahan terbuka.

“Untukmu, Sayang,” suara Adrian menggema jelas melalui mikrofon. “Kalung berlian ini adalah simbol cinta pertamaku, cinta yang tak akan pernah pudar, seberapa pun lamanya waktu berlalu.”

Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Tawa dan sorak sorai memenuhi udara.

Rosemary membeku.

Kakinya terasa terpaku di lantai marmer saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.

Kalung berlian?

Simbol cinta pertama?

Ia menelan ludah, memaksa amarah yang menggelegak di dadanya tetap tertahan. Kemudian, dengan langkah mantap, ia menerobos kerumunan.

“Adrian!”

Suara Rosemary menggema nyaring, membuat alunan orkestra seketika terhenti. Semua mata langsung tertuju kepadanya.

Senyum Adrian menghilang saat menoleh.

“Rosemary?”

Wanita bergaun merah menatapnya dengan terkejut. Para tamu mulai berbisik-bisik, bahkan beberapa menahan tawa.

Rosemary melangkah semakin dekat, matanya menyala penuh amarah.

“Apa maksud semua ini, Adrian? Memberikan kalung berlian kepada wanita lain di depan semua orang? Hari apa sebenarnya yang sedang kalian rayakan?”

Adrian mengembuskan napas panjang. Ia meletakkan kotak itu ke tangan wanita tersebut sebelum melangkah maju.

“Rosemary... seharusnya kamu tidak berada di sini.”

“Tidak seharusnya berada di sini?!” Rosemary berusaha menahan suaranya yang bergetar. “Aku istrimu! Aku berhak tahu kenapa suamiku memamerkan cintanya kepada wanita lain di depan umum!”

Bisik-bisik para tamu semakin ramai. Beberapa orang bahkan mengangkat ponsel untuk merekam skandal itu.

Wanita bergaun merah tersenyum sinis.

“Mungkin karena aku adalah cinta pertamanya, sementara kamu... hanya datang belakangan.”

“Diam!”

Rosemary menatapnya tajam.

“Aku tidak sedang berbicara denganmu. Aku sedang berbicara dengan suamiku.”

Wajah Adrian mengeras.

“Sudah cukup, Rosemary. Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri.”

Rosemary melangkah lebih dekat. Suaranya bergetar karena amarah.

“Yang memalukan di sini adalah kamu, Adrian! Seorang suami yang mengkhianati janji sucinya sendiri!”

Terdengar helaan napas kaget dari berbagai sudut ruangan. Sebagian tertawa, sebagian lagi hanya menyaksikan dengan tegang.

Tiba-tiba Adrian merebut mikrofon dari pembawa acara. Wajahnya tegang, tetapi suaranya terdengar lantang.

“Baik. Kalau kamu ingin mendengar kebenarannya, akan kukatakan di sini, di depan semua orang.”

Mata Rosemary membelalak.

“Mulai malam ini,” ucap Adrian dingin, “aku menceraikanmu, Rosemary.”

Dunia Rosemary seolah runtuh seketika.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Tawa pecah dari beberapa sudut ruangan.

“A... apa yang baru saja kamu katakan?”

Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Tatapan Adrian tetap teguh.

“Kamu tidak salah dengar. Aku menceraikanmu. Mulai sekarang kamu bukan lagi bagian dari hidupku.”

“Adrian!” seru Rosemary putus asa. “Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu di depan semua orang? Setelah semua yang telah kulakukan untukmu?”

Wanita bergaun merah menyelipkan lengannya ke lengan Adrian sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Semuanya sudah berakhir, Rosemary. Kamu hanyalah masa lalu. Sekarang Adrian memilihku.”

Rosemary terhuyung hingga hampir terjatuh. Tangannya mencengkeram tas dengan erat.

“Ini... ini gila.”

Air mata memenuhi pelupuk matanya.

“Kamu benar-benar mempermalukanku di depan semua orang.”

Seorang pria di tengah kerumunan terkekeh.

“Kasihan sekali. Istrinya dibuang seperti sampah.”

Gelak tawa pun menyusul. Beberapa wanita menutup mulut mereka sambil menahan cekikikan.

Wajah Rosemary memerah karena malu.

Seluruh tubuhnya gemetar, terombang-ambing antara kemarahan dan patah hati.

“Belum cukup kamu mengkhianatiku, Adrian? Kamu juga harus menghinaku di depan mereka semua?!”

Adrian memalingkan wajahnya dengan dingin.

“Pulanglah, Rosemary. Jangan membuat keributan.”

“Keributan?” Rosemary melangkah hingga hampir menyentuh dada Adrian. “Kaulah yang memulai semuanya! Kamu menikamku dari belakang, lalu melucuti harga diriku di depan dunia!”

Wanita bergaun merah tertawa pelan.

“Oh, Rosemary. Seharusnya kamu tahu. Cinta pertama selalu menjadi pemenangnya.”

Rosemary menoleh tajam ke arahnya.

“Cinta pertama? Cinta sejati tidak akan pernah menghancurkan rumah tangga wanita lain!”

Ruangan kembali riuh.

Adrian mengangkat tangannya, memberi isyarat agar orkestra kembali bermain, seolah ingin mengakhiri drama itu.

Namun Rosemary menghentikannya.

“Tidak, Adrian. Kamu tidak akan lolos semudah itu.”

Suaranya bergetar, tetapi terdengar tegas.

“Aku akan memastikan semua orang tahu siapa dirimu sebenarnya. Seorang pengecut, pengkhianat, dan pria yang tidak mengerti arti kesucian janji pernikahan.”

Adrian menatapnya tajam, lalu berkata dengan suara dingin yang cukup keras untuk didengar semua orang,

“Kamu bukan lagi istriku, Rosemary.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Semuanya tidak akan berakhir semudah ini, Adrian. Aku akan membuatmu menyesal karena telah mempermalukanku malam ini.”

Rosemary berbalik dan berjalan meninggalkan ballroom, melewati kerumunan tamu yang sebagian mencibir, sebagian lagi hanya terpaku.

Di belakangnya, tawa wanita bergaun merah dan alunan musik perlahan menelan sisa-sisa harga dirinya.

Rosemary melangkah keluar dari ballroom dengan kaki yang masih gemetar.

Namun sorot matanya berubah menjadi dingin dan penuh tekad.

Setetes air mata nyaris jatuh, tetapi bibirnya berbisik pelan di tengah badai yang berkecamuk dalam hatinya,

“Aku tidak akan membiarkan drama ini berakhir sesuai keinginanmu, Adrian.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 49

    “Rosemary!”Suara berat itu menggema di koridor rumah sakit. Rosemary, yang sejak tadi duduk di samping ranjang kakeknya, tersentak kaget. Matanya yang sembap langsung menoleh ke arah pintu—dan di sana berdiri Adrian, wajahnya pucat, tatapan matanya cemas, dengan napas yang tidak teratur.“Adrian…” bisik Rosemary parau. Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak, sebuah suara lain memotong dengan tajam.“Kamu masih punya muka untuk datang ke sini?!” Tatapan mata Bibi Clara setajam baja, wajahnya memerah karena amarah.Adrian terpaku sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah masuk, mencoba mendekat. “Aku datang bukan untuk membuat keributan. Markus memberi tahuku… bahwa kondisi Kakek Rosemary memburuk. A—aku hanya ingin memastikan beliau baik-baik saja.”“Baik-baik saja?!” Daniel, sepupu Rosemary, menyela dengan nada mengejek. “Apa kamu pikir Ayah baik-baik saja setelah mendengar berita bahwa pernikahanmu dengan Rose hancur karena perselingkuhanmu? Apa kamu tidak sadar

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 48

    “Tidak! Dokter! Bagaimana keadaan kakek saya?!” Rosemary berlari tergesa-gesa masuk ke ruang ICU, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah.Seorang perawat menahannya sebelum ia sempat menerobos masuk. “Tenang dulu, Nona Rosemary. Pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis. Anda boleh menjenguknya, tetapi tolong jangan membuat keributan.”Rosemary mengangguk cepat, matanya sudah berkaca-kaca. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, dan hatinya seketika hancur berkeping-keping begitu melihat sosok sang kakek.“Kakek…” suaranya bergetar lirih.Lelaki tua itu terbaring tak sadarkan diri, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang di hidungnya, dan jalur infus tertancap di lengannya. Monitor jantung berbunyi lemah, seolah-olah bisa berhenti berdetak kapan saja.Rosemary menutupi mulut dengan tangannya; bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. “Bagaimana… bagaimana semua ini bisa terjadi?”Perawat yang sempat menahannya tadi menarik napas panjang dan melangk

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 47

    Cahaya temaram di kamar rumah sakit itu hanya ditemani oleh bunyi berisik yang teratur dari monitor jantung. Kakek Rosemary terbaring lemah di atas ranjang, selang oksigen terpasang di hidungnya, matanya terbuka sejenak sebelum terpejam kembali. Keheningan menyelimuti ruangan itu sampai sebuah ketukan lembut terdengar di pintu.“Permisi… bolehkah aku masuk?” Suara Cassandra mengalun masuk, terdengar lembut namun sarat akan kepura-puraan.Perawat yang sedang bertugas menoleh. “Keluarga?”Cassandra menyunggingkan senyuman hangat. “Teman dekat keluarga. Aku datang karena sangat mencemaskan kondisinya.”Kakek Rosemary perlahan membuka matanya. Meskipun sangat lemah, ia mencoba untuk tersenyum. “Siapa… kamu?”Cassandra melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Ia menundukkan kepalanya, suaranya melembut dalam nada yang paling manis. “Aku Cassandra, teman Adrian… dan juga Rosemary. Aku mendengar Kakek sedang kurang sehat, jadi aku ingin berkunjung.”Tatap mata lelaki tua i

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 46

    “Rosemary, tunggu sebentar.”Adrian berhasil menyusulnya di ruang belakang panggung, tepat di saat suara tepuk tangan penonton akhirnya mulai mereda. Rosemary masih bersusah payah untuk mengatur napasnya, matanya memerah karena menahan tangis.“Aku tidak punya waktu untukmu, Adrian.” Ia meletakkan map desainnya di atas meja, suaranya terdengar dingin. “Malam ini bukan tentang kamu. Ini tentang aku—yang akhirnya bisa berdiri tegak kembali.”Adrian terdiam sejenak, lalu melangkah lebih dekat. “Aku tahu. Dan aku bangga padamu, Rose. Kamu… kamu lebih kuat dari yang pernah kubayangkan.”Rosemary berbalik dengan cepat, matanya berkilat tajam. “Jangan mencoba bersikap manis padaku sekarang. Setelah semua luka yang kamu tinggalkan, kata-kata itu tidak ada artinya lagi.”Lila bergegas masuk sambil membawa segelas air. “Kak, minum ini. Kakak harus tenang.” Ia melirik Adrian dengan penuh curiga. “Dan kamu… jangan berani-berani menambah beban pikirannya.”“Aku di sini bukan untuk memberb आम्हाला—

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 45

    “Lila, cepat! Pastikan semua gaun sudah berada di tempatnya!” Suara Rosemary terdengar tegas, meskipun wajahnya memancarkan kelelahan yang amat mendalam.Suasana di belakang panggung dipenuhi kekacauan yang riuh. Para model berlarian, perias wajah sibuk dengan kuas dan palet kosmetik mereka, sementara panitia penyelenggara bergegas merapikan kursi penonton. Atmosfer yang tegang terasa menekan bagaikan beban yang berat.Lila berlari mendekat sambil membawa papan klip berisi daftar periksa. “Semuanya sudah siap, Kak! Tapi… aku masih merasa cemas. Koleksi ini diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimana jika—”Rosemary memotong kalimatnya dengan tatapan mata yang berkobar. “Tidak ada kata bagaimana jika. Kita sudah diinjak-injak terlalu lama. Malam ini, aku harus berdiri tegak.”Di sisi lain aula, Cassandra duduk di area VIP. Sebuah senyuman licik melengkung di bibirnya saat kamera-kamera media menyorot ke arahnya.“Ini akan menjadi malam terakhir bagi Rosemary. Mari kita tont

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 44

    “Pastikan semua gaun siap untuk pertunjukan minggu depan!” Suara Rosemary menggema di dalam butik kecilnya, yang kini dipadati oleh gulungan kain dan gaun-gaun yang setengah jadi.Lila mengangguk sambil memeriksa daftarnya. “Kak, tinggal tiga gaun lagi yang perlu disempurnakan. Semuanya berjalan lancar.”Rosemary menyunggingkan senyuman tipis, meskipun wajahnya tampak sangat lelah. “Bagus. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa aku masih berdiri tegak.”Di seberang kota, Cassandra duduk di kantornya dengan ekspresi wajah yang menggelap. Asistennya baru saja memberi tahu bahwa undangan untuk pertunjukan Rosemary mulai menarik perhatian media.“Kamu pasti bercanda! Setelah semua yang kulakukan, dia masih berani menggelar pertunjukan?” Cassandra menghantam mejanya dengan penuh amarah.Asistennya menundukkan kepala. “Maaf, Nyonya. Tapi… tampaknya publik penasaran. Banyak yang ingin melihat apakah Rosemary benar-benar bisa bangkit kembali.”Cassandra

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status