Masuk“Rose! Ya Tuhan, wajahmu pucat sekali. Apa yang terjadi?”
Suara Lila, sahabat terdekatnya, langsung terdengar begitu Rosemary membuka pintu apartemennya. Rosemary tidak menjawab. Tubuhnya limbung, mantel yang basah oleh hujan hampir melorot dari bahunya. Ia berjalan melewati ruang tamu dengan tatapan kosong, seolah jiwanya tertinggal di ballroom hotel itu. “Rosemary! Hei, jawab aku!” Lila bergegas menghampirinya dan meraih lengannya. “Kamu membuatku takut.” Rosemary tiba-tiba berhenti. Bahunya bergetar hebat. Sebuah bisikan rapuh keluar dari bibirnya, “Dia... menceraikanku. Di depan semua orang.” Lila membeku. “Apa?!” Rosemary perlahan menoleh. Air mata mengalir deras di pipinya. “Adrian... suamiku... dia memberikan kalung berlian kepada wanita lain. Lalu... dia berkata, ‘Mulai malam ini, aku menceraikanmu.’ Semua orang menertawakanku, Lila. Mereka menertawakanku seolah aku ini badut!” Tangisnya langsung pecah. Ia ambruk ke lantai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Ya Tuhan...” Lila berlutut dan memeluk sahabatnya yang gemetar. “Rose... aku tidak percaya dia tega melakukan ini kepadamu.” Rosemary menggeleng keras sambil menangis semakin pilu. “Aku memberikan seluruh hidupku untuknya, Lila! Aku berhenti bekerja demi membantunya membangun bisnisnya. Aku mengorbankan semua impianku. Aku pikir dia akan menghargainya, tapi ternyata...” suaranya pecah, “dia justru mempermalukanku di depan semua orang!” Lila mengusap lembut rambutnya, berusaha menenangkan. “Tarik napas, Rose. Tenanglah. Kamu tidak sendirian. Aku ada di sini.” Rosemary mendorong pelan tubuh Lila. Matanya merah dan bengkak. “Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa, Lila? Apa salahku?!” Lila menggeleng tegas. “Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia yang salah. Dia pria brengsek yang tidak tahu berterima kasih.” Rosemary tiba-tiba berdiri dan mondar-mandir di ruang tamu. “Wanita itu... wanita berbaju merah itu... siapa sebenarnya dia? Kenapa Adrian menyebutnya cinta pertamanya? Kenapa aku tidak pernah tahu?” “Wanita berbaju merah?” Lila mengernyit. “Kamu mengenalnya?” Rosemary menggeleng. Wajahnya dipenuhi luka batin. “Tidak. Tapi dia menyeringai padaku, Lila. Seolah-ofah dia sudah memenangkan hati Adrian.” Lila mengepalkan kedua tangannya. “Kalau aku bertemu wanita itu, akan kutampar dia.” Rosemary tersenyum pahit. “Menamparnya tidak akan menghapus rasa malu yang kurasakan malam ini.” “Tidak akan menghapus tatapan jijik orang-orang saat mereka melihatku.” “Tidak akan menghapus tawa mereka, Lila. Aku... aku dipermalukan.” Tubuhnya kembali melemah hingga ia menjatuhkan diri ke sofa. Kedua tangan menutupi wajahnya, sementara suaranya yang tertahan dipenuhi isak tangis. “Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa sekarang.” Lila duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat. “Rose... dengarkan aku. Kamu lebih kuat daripada yang kamu kira. Jangan biarkan mereka menghancurkanmu.” Rosemary menatapnya dengan mata sembap. “Bagaimana aku bisa kuat setelah suamiku membuangku seperti sampah di depan semua orang? Kamu tahu apa yang mereka lakukan, Lila? Mereka merekam semuanya! Aku bisa melihat kilatan kamera saat hidupku hancur... mereka pasti akan menyebarkannya ke mana-mana. Besok semua orang akan melihat videonya. Aku akan menjadi bahan tertawaan!” Lila terdiam. Ia tahu Rosemary benar. Di era media sosial seperti sekarang, momen mengerikan itu bisa menyebar hanya dalam hitungan jam. Rosemary menundukkan kepala. Suaranya kembali bergetar. “Aku memberikan seluruh hidupku kepada Adrian. Aku pikir... dia akan selalu ada untukku.” Ia menahan isak. “Aku bahkan menolak pekerjaan impianku di luar negeri karena dia memohon agar aku tetap tinggal. Aku mempercayainya... dan sekarang dia menginjak-injakku seperti ini.” Keheningan memenuhi ruangan, hanya dipecahkan oleh tangis Rosemary. Lila menarik napas panjang. “Rose... dengarkan aku baik-baik. Adrian bukan pria yang pantas mendapatkan air matamu. Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu demi wanita lain. Dia juga tidak akan mempermalukanmu di depan seluruh dunia.” Rosemary menggeleng lemah. “Aku tidak bisa menerimanya, Lila... sungguh tidak bisa. Tadi malam... wajahnya begitu dingin, seolah aku tidak pernah berarti apa pun baginya. Seolah aku hanya... penghalang.” Lila mengusap air matanya dengan lembut. “Mungkin dia sudah bersama wanita itu sejak lama. Mungkin semua ini memang sudah direncanakan.” Kepala Rosemary langsung terangkat. “Sejak lama?” “Ya. Semua ini tidak mungkin terjadi begitu saja dalam semalam. Wanita itu pasti sudah lama berada di dekatnya, menggoda dan memengaruhinya. Dan Adrian... terlalu lemah untuk menolaknya.” Rosemary terdiam. Air matanya masih menggenang, tetapi jauh di dalam hatinya mulai muncul kobaran api yang baru. “Kalau begitu... selama ini aku sudah dibohongi. Semua senyumnya, semua ucapan ‘aku mencintaimu’... ternyata hanya topeng.” Lila mengangguk perlahan. “Rose... aku tahu ini sangat berat. Tapi berhentilah bertanya apa kesalahanmu. Mulailah bertanya apa yang bisa kamu lakukan mulai sekarang.” Napas Rosemary tertahan saat menatap sahabatnya. “Apa yang bisa kulakukan, Lila? Semua orang sudah melihat bagaimana aku dibuang. Semua orang menertawakanku. Aku... bahkan takut keluar rumah besok.” Lila menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu bisa bangkit lagi. Kamu bisa membuktikan bahwa kamu bukan wanita lemah yang bisa diinjak-injak begitu saja.” Rosemary terdiam cukup lama. Air matanya masih menetes, tetapi raut wajahnya perlahan berubah menjadi tegas. “Bangkit lagi...” “Ya.” Tatapan Lila dipenuhi keyakinan. “Balas dendam, Rose. Bukan dengan air mata, tetapi dengan menunjukkan bahwa tanpa dia, kamu jauh lebih kuat. Buat Adrian menyesal karena pernah meninggalkanmu.” Rosemary membeku. Kata-kata itu menancap tepat ke dalam jiwanya. Balas dendam. Perlahan ia berdiri, lalu menatap bayangannya sendiri di cermin besar ruang tamu. Wajahnya tampak hancur, matanya sembap, tetapi jauh di dalam sorot matanya mulai menyala secercah api. “Adrian...” bisiknya, setajam pecahan kaca. “Kamu pikir kamu bisa mempermalukanku di depan semua orang, lalu hidup bahagia bersamanya? Kamu salah besar.” Lila menatapnya, terkejut melihat perubahan ekspresinya. “Rose?” Rosemary tersenyum tipis, getir namun penuh tekad. “Aku sudah memberikan segalanya untuknya. Sekarang giliranku mengambil kembali semuanya... bahkan lebih dari itu.” Ia mengepalkan kedua tangannya erat. “Aku bersumpah, Lila. Aku tidak akan tinggal diam. Adrian akan membayar semua yang telah dia lakukan padaku. Dia... akan menyesal.”“Rosemary!”Suara berat itu menggema di koridor rumah sakit. Rosemary, yang sejak tadi duduk di samping ranjang kakeknya, tersentak kaget. Matanya yang sembap langsung menoleh ke arah pintu—dan di sana berdiri Adrian, wajahnya pucat, tatapan matanya cemas, dengan napas yang tidak teratur.“Adrian…” bisik Rosemary parau. Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak, sebuah suara lain memotong dengan tajam.“Kamu masih punya muka untuk datang ke sini?!” Tatapan mata Bibi Clara setajam baja, wajahnya memerah karena amarah.Adrian terpaku sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah masuk, mencoba mendekat. “Aku datang bukan untuk membuat keributan. Markus memberi tahuku… bahwa kondisi Kakek Rosemary memburuk. A—aku hanya ingin memastikan beliau baik-baik saja.”“Baik-baik saja?!” Daniel, sepupu Rosemary, menyela dengan nada mengejek. “Apa kamu pikir Ayah baik-baik saja setelah mendengar berita bahwa pernikahanmu dengan Rose hancur karena perselingkuhanmu? Apa kamu tidak sadar
“Tidak! Dokter! Bagaimana keadaan kakek saya?!” Rosemary berlari tergesa-gesa masuk ke ruang ICU, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah.Seorang perawat menahannya sebelum ia sempat menerobos masuk. “Tenang dulu, Nona Rosemary. Pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis. Anda boleh menjenguknya, tetapi tolong jangan membuat keributan.”Rosemary mengangguk cepat, matanya sudah berkaca-kaca. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, dan hatinya seketika hancur berkeping-keping begitu melihat sosok sang kakek.“Kakek…” suaranya bergetar lirih.Lelaki tua itu terbaring tak sadarkan diri, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang di hidungnya, dan jalur infus tertancap di lengannya. Monitor jantung berbunyi lemah, seolah-olah bisa berhenti berdetak kapan saja.Rosemary menutupi mulut dengan tangannya; bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. “Bagaimana… bagaimana semua ini bisa terjadi?”Perawat yang sempat menahannya tadi menarik napas panjang dan melangk
Cahaya temaram di kamar rumah sakit itu hanya ditemani oleh bunyi berisik yang teratur dari monitor jantung. Kakek Rosemary terbaring lemah di atas ranjang, selang oksigen terpasang di hidungnya, matanya terbuka sejenak sebelum terpejam kembali. Keheningan menyelimuti ruangan itu sampai sebuah ketukan lembut terdengar di pintu.“Permisi… bolehkah aku masuk?” Suara Cassandra mengalun masuk, terdengar lembut namun sarat akan kepura-puraan.Perawat yang sedang bertugas menoleh. “Keluarga?”Cassandra menyunggingkan senyuman hangat. “Teman dekat keluarga. Aku datang karena sangat mencemaskan kondisinya.”Kakek Rosemary perlahan membuka matanya. Meskipun sangat lemah, ia mencoba untuk tersenyum. “Siapa… kamu?”Cassandra melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Ia menundukkan kepalanya, suaranya melembut dalam nada yang paling manis. “Aku Cassandra, teman Adrian… dan juga Rosemary. Aku mendengar Kakek sedang kurang sehat, jadi aku ingin berkunjung.”Tatap mata lelaki tua i
“Rosemary, tunggu sebentar.”Adrian berhasil menyusulnya di ruang belakang panggung, tepat di saat suara tepuk tangan penonton akhirnya mulai mereda. Rosemary masih bersusah payah untuk mengatur napasnya, matanya memerah karena menahan tangis.“Aku tidak punya waktu untukmu, Adrian.” Ia meletakkan map desainnya di atas meja, suaranya terdengar dingin. “Malam ini bukan tentang kamu. Ini tentang aku—yang akhirnya bisa berdiri tegak kembali.”Adrian terdiam sejenak, lalu melangkah lebih dekat. “Aku tahu. Dan aku bangga padamu, Rose. Kamu… kamu lebih kuat dari yang pernah kubayangkan.”Rosemary berbalik dengan cepat, matanya berkilat tajam. “Jangan mencoba bersikap manis padaku sekarang. Setelah semua luka yang kamu tinggalkan, kata-kata itu tidak ada artinya lagi.”Lila bergegas masuk sambil membawa segelas air. “Kak, minum ini. Kakak harus tenang.” Ia melirik Adrian dengan penuh curiga. “Dan kamu… jangan berani-berani menambah beban pikirannya.”“Aku di sini bukan untuk memberb आम्हाला—
“Lila, cepat! Pastikan semua gaun sudah berada di tempatnya!” Suara Rosemary terdengar tegas, meskipun wajahnya memancarkan kelelahan yang amat mendalam.Suasana di belakang panggung dipenuhi kekacauan yang riuh. Para model berlarian, perias wajah sibuk dengan kuas dan palet kosmetik mereka, sementara panitia penyelenggara bergegas merapikan kursi penonton. Atmosfer yang tegang terasa menekan bagaikan beban yang berat.Lila berlari mendekat sambil membawa papan klip berisi daftar periksa. “Semuanya sudah siap, Kak! Tapi… aku masih merasa cemas. Koleksi ini diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimana jika—”Rosemary memotong kalimatnya dengan tatapan mata yang berkobar. “Tidak ada kata bagaimana jika. Kita sudah diinjak-injak terlalu lama. Malam ini, aku harus berdiri tegak.”Di sisi lain aula, Cassandra duduk di area VIP. Sebuah senyuman licik melengkung di bibirnya saat kamera-kamera media menyorot ke arahnya.“Ini akan menjadi malam terakhir bagi Rosemary. Mari kita tont
“Pastikan semua gaun siap untuk pertunjukan minggu depan!” Suara Rosemary menggema di dalam butik kecilnya, yang kini dipadati oleh gulungan kain dan gaun-gaun yang setengah jadi.Lila mengangguk sambil memeriksa daftarnya. “Kak, tinggal tiga gaun lagi yang perlu disempurnakan. Semuanya berjalan lancar.”Rosemary menyunggingkan senyuman tipis, meskipun wajahnya tampak sangat lelah. “Bagus. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa aku masih berdiri tegak.”Di seberang kota, Cassandra duduk di kantornya dengan ekspresi wajah yang menggelap. Asistennya baru saja memberi tahu bahwa undangan untuk pertunjukan Rosemary mulai menarik perhatian media.“Kamu pasti bercanda! Setelah semua yang kulakukan, dia masih berani menggelar pertunjukan?” Cassandra menghantam mejanya dengan penuh amarah.Asistennya menundukkan kepala. “Maaf, Nyonya. Tapi… tampaknya publik penasaran. Banyak yang ingin melihat apakah Rosemary benar-benar bisa bangkit kembali.”Cassandra







