“Tuangkan lagi.”Suara Adrian terdengar serak. Matanya merah dipenuhi urat-urat darah, napasnya berbau alkohol. Ia terduduk lemas di sofa kulit hitam di ruang kerjanya. Kancing atas kemejanya terbuka, dasinya terlepas longgar, sementara sebotol wiski yang hampir habis tergeletak di atas meja di depannya.Markus berdiri di dekat pintu dengan wajah penuh kekecewaan.“Sudah cukup, Adrian. Kamu sudah minum terlalu banyak.”Adrian menoleh dengan tatapan kosong.“Kau pikir kalau aku berhenti minum, semua ini akan hilang dari pikiranku? Tidak, Markus. Perusahaanku sedang hancur, para investor pergi, dan Rosemary...” Tenggorokannya tercekat. Suaranya pecah. “Rosemary menutup pintu di hadapanku. Dia lebih memilih melihatku hancur daripada kembali kepadaku.”Markus menarik sebuah kursi lalu duduk di hadapannya.“Adrian, dengarkan aku. Kamu harus mulai menerima kenyataan. Rosemary mungkin tidak akan pernah kembali. Kamu boleh memohon, berlutut, bahkan mengorbankan segalanya, tetapi dia sudah mem
آخر تحديث : 2026-07-05 اقرأ المزيد