MasukKeisha melipat bibirnya menjadi garis tipis dan mengabaikan ucapan Daffa. Ia kembali memperhatikan berkas-berkas di tangannya dan terus memeriksanya.
Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benak Daffa. Ia melirik Felix Brooks dan mengusulkan, “Karena rapat sudah selesai, bagaimana kalau aku mentraktir timmu makan siang?” Hanya itu cara agar ia bisa berinteraksi dengan Keisha lebih lama karena Keisha tetap bersikeras mengabaikan keberadaannya. Felix yang dahinya berbintik-bintik keringat menghela napas lega ketika miliarder itu tidak tersinggung dengan kekasaran karyawannya. Felix tersenyum senang dan menjawab dengan antusias, “Suatu kehormatan untuk kami, Tuan Daffa.” Mereka mulai berdiri ketika Keisha tiba-tiba menerima telepon. “Apa?!!” Sikap tenang Keisha tiba-tiba berubah ketika ia menjawab telepon di ponselnya. Ia terlihat sangat panik saat ia bergegas keluar dari ruang konferensi. Melihat reaksi Keisha, alis Daffa berkerut. Karena penasaran, ia pun mengikuti Keisha, alisnya terus berkerut mengikuti langkah kaki Keisha. Tapi wanita itu sudah menghilang dari lorong. Daffa tak kuasa menahan perasaan tak nyaman yang mencengkeram hatinya. ‘Apa yang terjadi? Siapa yang meneleponnya sampai membuatnya secemas itu?’ Batin Daffa cemas. Sementara itu, Keisha masih menempelkan ponselnya di telinga saat memasuki lift. Ia bertanya di telepon, “Bagaimana Mayra bisa sampai di sini, Quinn?” [Tiba-tiba dia ingin melihat tempat kerja barumu. Kamu tau betapa lemahnya aku terhadap air mata putri kecil kita. Aku tak bisa menolak... Jadi aku memutuskan membawanya ke sini, tapi tiba-tiba Mayra kabur dan aku tak bisa menemukannya!] Quinn Edwards, sahabat Keisha, menjawab dengan panik di ujung telepon. Keisha bertemu Quinn Edwards enam tahun lalu ketika Keisha meninggalkan Man City. Saat itu, Keisha bekerja paruh waktu di sebuah kafe, sementara Quinn datang untuk menulis bukunya. Mereka langsung akrab dan menjadi teman dekat. Quinn adalah seorang penulis dan bisa bekerja dari mana saja. Jadi, ketika ia mendengar Keisha akan pindah, ia memutuskan untuk ikut pindah bersamanya untuk merasakan kota baru itu. “Quinn, seharusnya kamu menolak! Aku tidak tau kenapa kamu membawanya ke sini, padahal kamu tau Daffa juga akan ada di sini. Aku tidak ingin dia bertemu putriku. Jangan pernah!” seru Keisha sambil menggertakkan gigi. Tidak mungkin Keisha akan mengizinkan mereka bertemu. Daffa tidak pantas tahu tentang sosok Mayra. Keisha menutup telepon dan mulai mencari putrinya, berharap ia dengan cepat menemukan Mayra sebelum putrinya itu bertemu dengan Daffa Satya Wicaksana. Pada saat yang sama, lift pribadi sang CEO mencapai lantai dasar. Ia keluar dan melihat sekeliling, tidak melihat Keisha di mana pun. Ia hendak memanggil asistennya untuk memeriksa apakah Keisha sudah keluar dari gedung, namun tiba-tiba ia merasakan tarikan kecil di celananya. “Permisi, Paman. Apa Paman melihat Ibu saya?” Daffa melirik ke bawah dan mendapati mata hijau kecokelatan yang besar menatapnya. Seketika, ia merasakan sesuatu yang aneh bergejolak di hatinya ketika ia melihat wajah mungil yang menggemaskan itu. ‘Putri siapa yang menggemaskan ini?’ Batinnya. Entah kenapa, wajah gadis kecil itu tampak familier dan ia merasa langsung menyukainya. Sambil tersenyum, Daffa berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu sebelum bertanya, “Siapa ibumu, sayang?” Mayra mengerjap dan menatap mata Daffa. Ia ingat Keisha pernah berpesan agar ia tidak memberi tahu orang asing siapa ibunya. “Ibuku orangnya cantik, Paman.” Jawab Mayra polos. Daffa mengangkat sebelah alisnya. “Oke, seperti apa rupanya? Aku akan membantumu mencarinya.” Tanyanya lagi. “Ibuku tampak seperti bidadari,“ Jawab Mayra. Matanya kemudian berkaca-kaca dan bibirnya cemberut. “Bantu aku menemukan Ibuku, Paman.” Tambahnya. Hati Daffa mencelos melihat air mata yang menggenang di mata gadis kecil itu. Tatapannya melembut dan ia bertanya-tanya mengapa ia merasa ada hubungan dekat dengan anak itu. ‘Apa karena usiaku sudah tiga puluh dua tahun dan siap untuk memulai berkeluarga?’ Batin Daffa. “Nama kamu siapa, sayang?” Tanya Daffa lembut. “Mayra. Apa kita akan menemukan Ibu?” Tanya Mayra lagi, tak sabar. Daffa menggendong Mayra dan berdiri. Mayra merengkuhnya dalam pelukannya dan melingkarkan lengan mungilnya di leher Daffa. Membuat hati Daffa berdebar tak terkira. Aroma Mayra meresap ke hidungnya dan memberinya rasa familiar. “Aku akan meminta asistenku untuk menemukan Ibumu,” Saran Daffa. Daffa lalu kembali ke ruang konferensi dan menginstruksikan Aaron, “Ambil rekaman cctv pintu masuk dan bawa ke sini sekarang juga!!” Titahnya serius. “Itu anak siapa, Pak?” Tanya Aaron hati-hati, terkejut melihat bosnya menggendong seorang gadis kecil, ‘Apa karyawan sekarang boleh membawa anak-anak mereka ke tempat kerja?’ Batinnya bertanya-tanya. Daffa menatap Aaron dengan dingin dan berkata, “Ambil rekamannya, Aaron!!” Desaknya. Ketika Aaron mengangguk dan bergegas keluar dari ruang konferensi, staf yang tersisa tak henti-hentinya melirik interaksi Daffa dan gadis kecil itu. Daffa menepuk pelan punggung Mayra dengan menenangkan. Dan Mayra membenamkan wajahnya di leher Daffa, bersembunyi dari tatapan penasaran para staf yang menatapnya tajam. “Tidak apa-apa,” Daffa menenangkan dengan lembut. “Kami akan menemukan Ibumu.” Jelasnya. Mulut para karyawan ternganga. Mereka tak pernah tahu Bos mereka memiliki sisi yang begitu lembut dan baik hati. Daffa Satya Wicaksana selalu tampak serius dan tegas. Mereka tak pernah menyangka sang CEO menyukai anak kecil. Sang CEO tampak alami saat berbasa-basi dengan gadis kecil dalam gendongannya. Yang tidak mereka ketahui adalah Daffa berpengalaman dengan anak-anak. Sejak dulu Daffa harus membantu orang tuanya mengasuh saudara-saudaranya, jadi ia tahu cara menghibur anak. Beberapa menit kemudian, pintu ruang konferensi tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Keisha. Begitu meliha putri kecilnya dalam gendongan Daffa, lubang hidungnya melebar dan alisnya berkerut. Keisha segera menghampiri mereka dan merebut anak itu dari gendongan Daffa, sambil mendesis, “Jauhi putriku!” Keisha seperti induk ayam yang berusaha melindungi anak-anaknya. Ia menurunkan Mayra dan menempatkannya di belakangnya dengan protektif agar tidak terlihat oleh Daffa. Napas terengah-engah bergema di ruang konferensi saat emosi Keisha meledak. Mereka semua meliriknya, bertanya-tanya mengapa Keisha bereaksi berlebihan seolah-olah Daffa Satya Wicaksana bisa menyakiti putrinya. Butuh beberapa detik bagi Daffa untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Ternyata gadis kecil yang ia temukan adalah putri Keisha. Keterkejutan awalnya tiba-tiba berubah menjadi amarah saat ia menghubungkan dua hal. ‘Keisha punya anak?’ Rasa cemburu yang membara berkobar dalam dirinya saat ia meliriknya. “Apa kamu membiarkan pria lain menyentuhmu? Sialan kau, Keisha!!” Daffa mengusap rambutnya dengan kasar, urat-urat di dahinya menonjol. “Apa kamu sudah tidur dengan pria lain?!” Bentaknya lagi. Beberapa jam yang lalu, Keisha telah bertanya-tanya di seluruh perusahaan apakah ada yang melihat putrinya, menelusuri setiap departemen dan memeriksa setiap toilet. Ketika ia membayangkan akan kehilangan anaknya, ketakutan yang ia rasakan sungguh luar biasa. Jantungnya berdegup kencang dan perutnya melilit hebat saat ia mencari di seluruh perusahaan tapi tidak menemukan Mayra dimanapun. Ia hampir kehilangan kendali karena semua orang mengaku tidak melihat anak yang hilang. Ia baru menghela napas lega ketika ia menjawab pertanyaan resepsionis di lantai dasar. “Oh, seorang gadis kecil berbaju merah muda? Saya melihatnya beberapa menit yang lalu,” Jawab resepsionis itu. Namun, kata-katanya selanjutnya yang membuat lutut Keisha lemas. “Pak CEO membawa gadis kecil itu bersamanya. Saya melihat mereka memasuki lift pribadi Pak Daffa,” Tambah resepsionis itu. Hati Keisha mencelos saat rasa takut melilit pikirannya. Mengapa Daffa mau membawa putrinya? Apakah pria itu tahu...?Sophia selesai mengemasi barang-barangnya. Ia hendak mengangkat tasnya, ketika tas itu jatuh ke lantai, barang-barang di dalamnya berserakan.“Biar kubantu,” tawar Keenan.Keenan berdiri dan mulai membantu Sophia mengumpulkan barang-barangnya. Namun, ia menemukan sebuah gelang yang mengingatkannya pada sesuatu.Sebuah bayangan dari enam tahun lalu terlintas di benaknya dan jantungnya berdebar kencang. Meskipun tidak jelas, ia dapat mengingat gelang itu dengan sangat jelas.Saat dibius, ia seperti binatang di ranjang. Ia mencekik wanita yang sedang berhubungan seks dengannya dan wanita itu memegang pergelangan tangannya untuk mengurangi cengkeramannya... gelang itu ada di pergelangan tangan wanita itu.Jantung Keenan berdebar kencang saat ia melirik Sophia dan bertanya, “Sudah berapa lama kamu memiliki gelang ini?”Tangan Keenan gemetar saat memegang gelang yang familiar itu. Apa artinya ini? Mengapa gelang ini bersama Sophia?Keenan menarik napas tajam, jantungnya berdebar kencang men
“Maukah kamu menikah denganku?!!” Keenan tiba-tiba melamar.Mata Sophia melebar, mulutnya ternganga. Ia tersentak dan matanya membulat ke arah Keenan sebelum bertanya, “A-Apa? Kamu serius?” ulangnya memastikan.Keenan mengangguk serius, “Ya. Aku serius. Ada apa? Kamu butuh waktu? Kurasa aku tidak butuh waktu lebih lama untuk tahu bahwa kamulah orang yang tepat untukku!”Jantung Sophia berdebar kencang, “Keenan, itu gila. Kita baru saja memulai hubungan kita dan kamu langsung ingin kita menikah?” Tanyanya heran.“Aku tidak akan berubah pikiran tentangmu. Aku senang bersamamu dan kurasa aku bisa hidup bersamamu. Aku akan menjadi ayah dari anakmu dan kamu akan menjadi istriku!!” Ujar Keenan, sambil menatap mata gelap Sophia dengan serius.Sophia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Keenan. Apakah pria itu serius?“Kenapa kamu tak bisa menganggapku serius, Sophia? Aku benar-benar ingin menikahimu!” Keenan memperjelas setelah Sophia mencoba menepis kata-katanya sebagai gertakan.Siapa y
Video itu masih diputar di latar belakang dan jantung Sophia semakin berdebar kencang tak menentu. Apa yang baru saja terjadi? Bagaimana ia bisa mengacaukan pertemuan sepenting ini? Tubuhnya gemetar karena rasa bersalah merayapinya.“Keenan, aku—”“Matikan benda itu dan ikut aku ke ruanganku, sekarang!!” perintah Keenan, lalu keluar dari ruang konferensi.Wajah Keenan tanpa ekspresi, tetapi rahangnya terkatup dan matanya lebih dingin dari biasanya.Hati Sophia hancur berkeping-keping. Bagaimana pertemuan yang telah ia rencanakan dengan cermat bisa menjadi bencana? Ia bertanya pada dirinya sendiri lagi dalam hati.Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu. Ansel telah mengakses file pribadinya saat pengawal Keenan itu meretas komputernya sebelumnya. Ini adalah perbuatannya. Wanita itu pasti ingin mempermalukan dirinya di depan para investor dan juga, untuk memberi tahu Keenan tentang rahasianya.‘Aku akan memberitahunya pada waktu yang tepat!’ Batin Sophia, ‘Tidak ada yang lebih buru
Saat itu Senin pagi, dan Sophia seharusnya memberikan presentasi tentang perangkat lunak baru yang telah ia kembangkan untuk perusahaan.Setelah banyak malam tanpa tidur, ia akhirnya berhasil menciptakan perangkat lunak yang menurutnya akan bekerja dengan baik dengan model bisnis Pradipta Investment. Tentu saja, ia harus mempresentasikannya kepada para investor untuk mendapatkan persetujuan mereka dan agar mereka menginvestasikan lebih banyak dana ke perusahaan tersebut.Sophia sedang berada di ruangan IT, meninjau presentasinya, dan teleponnya tiba-tiba berdering. Senyum tersungging di bibirnya ketika ia melihat itu adalah pesan dari Keenan Ananta.Mereka telah berkencan makan siang sejak hari itu dan kemudian semakin dekat seiring waktu yang mereka habiskan bersama.Sophia ingin berkonsentrasi membaca naskahnya, tetapi ia harus membalas pesan teks karena itu dari Keenan. Jantungnya berdebar kencang saat membaca apa yang dikirim Keenan.Keenan: {Hai, sayang. Apa kamu siap untuk hari
Mereka memutuskan untuk menjamu Quinn di perkebunan keluarga mereka yang memiliki kebun anggur yang luas. Jadi, Meisya memastikan semuanya beres sebelum Quinn dan Satria tiba.Meisya sangat gembira ingin bertemu tunangan Satria. Putranya akhirnya akan menikah dan memberinya banyak cucu. Ini adalah mimpi Meisya yang menjadi kenyataan.“Mama, Papa rasa semuanya sempurna, sayang. Mereka hanya masuk begitu saja melalui gerbang,” Ujar Andara tersenyum.Mata Meisya membelalak. Ia bertanya, “Mereka sudah di sini? Oh tidak… Kuenya belum siap. Aku masih harus melakukan beberapa—”“Ayolah, sayangku. Aku yakin menantu perempuan kita akan menyukai apa yang telah Mama persiapkan sejauh ini. Ayo, kita sambut mereka di pintu,” saran Andara, “Di luar, para pengasuh kita pasti sudah pergi. Mari kita temui calon istri Satria.”Mereka berdua sangat gembira bertemu dengan wanita yang telah diputuskan putra mereka untuk dinikahi. Lagipula, teman Satria, Daffa Satya Wicaksana, sudah menikah dan memiliki du
Keisha sedang libur kerja, jadi ia menelepon Quinn dan mereka pergi berbelanja di mall.Karena punya waktu luang, Keisha ingin membeli hadiah untuk suaminya sebagai bentuk apresiasi, jadi ia mengajak sahabatnya ke mall untuk membantunya memilih hadiah yang sempurna.“Menurutmu, hadiah apa yang disukai pria?” tanya Keisha kepada Quinn sambil berjalan-jalan di mal.“Aku tidak tahu. Bukankah Daffa sudah punya banyak uang? Mungkin berikan sesuatu yang tidak bisa dia beli dengan uang,” saran Quinn.“Aku tahu Mas Daffa kaya, tapi aku tetap ingin membelikannya sesuatu. Mungkin jam tangan? Itu akan istimewa karena dari aku. Dia selalu memberiku hadiah, jadi aku ingin membalas budi,” komentar Keisha.Mereka pergi ke toko perhiasan dan Keisha membeli jam tangan Rolex edisi terbatas untuk suaminya. Ia meminta agar jam tangan itu diukir dengan tulisan, 'Aku mencintaimu, Daffa',dan dibungkus rapi.Kemudian mereka pergi ke toko pakaian dan memilih beberapa pakaian untuk Daffa, “Aku tahu Mas Daffa p







