Se connecterTak mau membuang waktu, Keisha bergegas menuju salah satu lift dan kembali ke ruang konferensi. Debaran jantungnya yang hebat memekakkan telinga. Bagaimana jika keluarga Wicaksana berniat untuk mengambil putri kecil perempuannya?
Saat Keisha mendorong pintu ruang konferensi, ia seketika panik saat melihat Mayra berada dalam gendongan pria itu. Keisha khawatir Daffa akan mengenali Mayra, Keisha segera turun tangan dan mengambil putrinya kembali. Wajah Keisha terlihat marah dan penuh emosi. Namun, jauh di lubuk hatinya, jantungnya berdebar kencang. Kebetulan macam apa ini? Bagaimana mungkin Daffa bertemu Mayra tepat setelah ia datang ke perusahaan? Ia tidak ingin Daffa tahu tentang Mayra. Sama sekali! Putrinya hanya miliknya! Pertanyaan Daffa awalnya tidak terpikirkan. Ia berusaha mencari cara untuk pergi tanpa membuat pria itu curiga. “Semuanya, keluar!!” perintah Daffa dengan gigi terkatup sambil melirik wanita yang telah ia dambakan selama bertahun-tahun. Kali ini, udara di sekitar ruangan menjadi dingin. Para staf segera pamit keluar, menghindari ketegangan yang menyesakkan di ruangan itu. “Siapa Ayah anak itu, Keisha?!” Tanya Daffa dengan gigi terkatup, rasa sakit yang melepuh menggerogoti hatinya. “Saya tidak mengerti bagaimana Ayah bayi saya bisa menjadi urusan Anda, Tuan Daffa.” Desis Keisha, matanya yang penuh amarah dan kebencian menatap tajam ke arah Daffa. Keheningan menyelimuti mereka tepat ketika rahang Daffa mengatup rapat. Matanya tampak dipenuhi begitu banyak emosi. Ia mengerutkan kening dan bertanya pada Keisha dengan suara rendah yang berbahaya. “Apa kamu benar-benar tidur dengan orang lain hanya beberapa minggu setelah kita putus?” Daffa sangat yakin Keisha masih perawan sama seperti dirinya di saat mereka melakukan hal itu. Jika memang Keisha punya anak, Keisha pasti sudah menjalin hubungan dengan pria lain tak lama setelah mereka putus. Kesadaran itu membuat hati Daffa terasa seperti diremas-remas hingga hancur. Menanggapi hal itu, Keisha tertawa terbahak-bahak. Ia menatap mata Daffa dan menjawab, “Jangan terlalu sombong. Apa kamu pikir kamu akan menjadi satu-satunya pria dalam hidupku hanya karena kamu cinta pertamaku??” Ucapnya dingin dan datar. Deg! Dada Daffa terasa sesak memikirkan hal itu. Ia hampir tak bisa bernapas ketika menyimpulkan, ‘Dia memang sudah tidur dengan orang lain?’ Batinnya tak terima. Daffa merasa seperti ada kucing yang mencakar-cakar hatinya. Dengan nada menuduh, ia kembali bertanya, “Jadi kamu selingkuh?” Keisha tak percaya dengan apa yang didengarnya. Siapa yang selingkuh dari siapa di antara mereka? Apa Daffa lupa bagaimana dia mencampakkannya tanpa alasan dan menghancurkan hatinya hingga tak bisa diperbaiki enam tahun yang lalu? “Maaf karena telah mengganggu mimpi indahmu. Tapi kamu bukan satu-satunya pria di dunia ini!! Bukankah kamu terlalu naif untuk usiamu? Kita sudah putus, kenapa aku tidak boleh punya pria lain?!” Ujar Keisha mengejek. Daffa mengusap rambut cokelat pirangnya dengan tangan saat amarah melandanya. “Aku tak menyangka kamu akan melompat ke ranjang pria lain hanya beberapa minggu setelah kita putus!” Daffa melirik Keisha dan mendesis, “Kamu juga punya anak dengan orang lain... Apa-apaan ini?!!” Keisha mengangkat sebelah alis. Ia menyeringai dan mengejek, “Dan kamu masih bersama pelacurmu itu? Siapa kamu yang menghakimiku padahal kamu sudah lama bersama Adeeva?” “Apa maksudmu??” Daffa mengerutkan alisnya. Sejak kapan ia bersama Adeeva? Ia mempertahankan Adeeva hanya untuk menahan agar tidak didekati wanita lain, tapi ia tidak pernah melakukan apa pun dengannya. “Adeeva dan—” “Aku tidak tertarik untuk tau tentang kisah cintamu itu!!” Potong Keisha cepat dengan nada ketus. Mereka berbicara dengan suara pelan agar malaikat kecil di belakang Keisha tidak bisa mendengar mereka. “Disini urusan pekerjaan. Jadi jangan bicarakan kehidupan pribadi kita!!” Tambah Keisha. Namun, ketika Mayra merasa kedua orang dewasa itu sedang bertengkar, ia melirik Daffa, “Jangan bertengkar dengan Ibuku, Paman!” Ucapnya serius. “Apakah Paman sedang menindas Ibuku? Ibuku bilang orang yang suka menindas itu orang jahat,” Tambah Mayra, berdiri di antara Keisha dan Daffa, “Jangan jahat pada Ibuku!” Lanjut Mayra sambil melirik kembali ke arah Daffa. Daffa yang hampir meledak tiba-tiba berhenti mendengar suara lembut gadis kecil itu. Kemarahannya langsung lenyap. Daffa tidak tahu kenapa, tetapi ia tetap bersikap lembut pada gadis itu. Tatapan Daffa melembut saat ia melirik Mayra, “Ibumu dan aku hanya mengobrol, Putri Kecil.” Jawabnya sambil tersenyum lembut. Mayra dan Daffa saling tersenyum. Keisha yang memperhatikan interaksi mereka seketika tercengang. ‘Kenapa Daffa begitu lembut pada Mayra?’ Batin Keisha. Khawatir jika mereka tinggal lebih lama lagi, Daffa mungkin menyadari sesuatu. Keisha dengan cepat menempatkan Mayra di belakangnya, “Karena rapat sudah selesai, aku akan pergi!” Ujarnya. Daffa mengerutkan alisnya, bertanya-tanya mengapa Keisha begitu buru-buru ingin pergi. Sejak tadi Keisha terlihat tetap tenang selama rapat berlangsung, tetapi mengapa tiba-tiba wanita itu jadi cemas? Tak ingin membuat Keisha semakin tidak nyaman, ia mengangguk dan melihat ke arah gadis kecil itu, “Mayra, sampai jumpa lain kali!” Ucapnya tersenyum ramah. Keisha sudah membawa putrinya keluar dari ruang rapat, namun Mayra kembali menoleh dan melambaikan tangan ke arah Daffa, “Selamat tinggal, Paman. Sampai jumpa...” Ujarnya riang sambil terus berjalan. °°° “Mommy, apa Mommy marah pada aku?” Tanya Mayra pada Ibunya saat pintu ruang rapat itu tertutup. Keisha menggendong Mayra dan menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lembut pada putri kecilnya, “Tidak, sayang. Mommy tidak marah. Tapi Mommy mau Mayra mendengarkan perkataan Mommy dan tidak merepotkan Tante Quinn lain kali, oke?” Mayra hanya mengangguk, lalu melingkarkan tangannya di leher Keisha. Keisha kemudian melirik Felix Brooks, “Saya tidak akan ikut makan siang bersama kalian, Pak Felix. Saya mau makan siang dengan putriku saja.” Felix Brooks tersenyum dan mengangguk, “Tentu, Nona Keisha. Silahkan.” Saat Keisha berjalan pergi, orang-orang di luar ruang konferensi penasaran dengan identitas Keisha yang sebenarnya. Wanita itu tampak dekat dengan sang CEO. Mereka bertanya-tanya apa hubungan mereka karena sang CEO tersebut mampu mengabaikan kekasaran Keisha tadi. Namun, beberapa karyawan lama dari departemen hukum mengenali Keisha karena Keisha sering mengunjungi perusahaan enam tahun yang lalu. Seorang wanita berusia tiga puluhan tiba-tiba berkata, “Saya terkejut mengetahui bahwa wanita itu adalah Direktur Hukum baru kita. Bukankah dia sudah putus dengan Pak Daffa?” Tanyanya penasaran. Karyawan lain yang berdiri di luar ruang konferensi penasaran dengan cerita itu. “Jadi maksud kamu Pengacara baru kita itu punya hubungan dengan Pak Daffa? Bukannya Pak Daffa itu menjalin hubungan dengan Nona Adeeva Afsheen dan aku dengar mereka akan segera menikah?!” Salah satu dari mereka bertanya dengan bisikan pelan. Karyawan yang memulai cerita itu membocorkan rahasia tentang apa yang diketahuinya. Tak lama kemudian, gosip menyebar di seluruh perusahaan.Sophia selesai mengemasi barang-barangnya. Ia hendak mengangkat tasnya, ketika tas itu jatuh ke lantai, barang-barang di dalamnya berserakan.“Biar kubantu,” tawar Keenan.Keenan berdiri dan mulai membantu Sophia mengumpulkan barang-barangnya. Namun, ia menemukan sebuah gelang yang mengingatkannya pada sesuatu.Sebuah bayangan dari enam tahun lalu terlintas di benaknya dan jantungnya berdebar kencang. Meskipun tidak jelas, ia dapat mengingat gelang itu dengan sangat jelas.Saat dibius, ia seperti binatang di ranjang. Ia mencekik wanita yang sedang berhubungan seks dengannya dan wanita itu memegang pergelangan tangannya untuk mengurangi cengkeramannya... gelang itu ada di pergelangan tangan wanita itu.Jantung Keenan berdebar kencang saat ia melirik Sophia dan bertanya, “Sudah berapa lama kamu memiliki gelang ini?”Tangan Keenan gemetar saat memegang gelang yang familiar itu. Apa artinya ini? Mengapa gelang ini bersama Sophia?Keenan menarik napas tajam, jantungnya berdebar kencang men
“Maukah kamu menikah denganku?!!” Keenan tiba-tiba melamar.Mata Sophia melebar, mulutnya ternganga. Ia tersentak dan matanya membulat ke arah Keenan sebelum bertanya, “A-Apa? Kamu serius?” ulangnya memastikan.Keenan mengangguk serius, “Ya. Aku serius. Ada apa? Kamu butuh waktu? Kurasa aku tidak butuh waktu lebih lama untuk tahu bahwa kamulah orang yang tepat untukku!”Jantung Sophia berdebar kencang, “Keenan, itu gila. Kita baru saja memulai hubungan kita dan kamu langsung ingin kita menikah?” Tanyanya heran.“Aku tidak akan berubah pikiran tentangmu. Aku senang bersamamu dan kurasa aku bisa hidup bersamamu. Aku akan menjadi ayah dari anakmu dan kamu akan menjadi istriku!!” Ujar Keenan, sambil menatap mata gelap Sophia dengan serius.Sophia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Keenan. Apakah pria itu serius?“Kenapa kamu tak bisa menganggapku serius, Sophia? Aku benar-benar ingin menikahimu!” Keenan memperjelas setelah Sophia mencoba menepis kata-katanya sebagai gertakan.Siapa y
Video itu masih diputar di latar belakang dan jantung Sophia semakin berdebar kencang tak menentu. Apa yang baru saja terjadi? Bagaimana ia bisa mengacaukan pertemuan sepenting ini? Tubuhnya gemetar karena rasa bersalah merayapinya.“Keenan, aku—”“Matikan benda itu dan ikut aku ke ruanganku, sekarang!!” perintah Keenan, lalu keluar dari ruang konferensi.Wajah Keenan tanpa ekspresi, tetapi rahangnya terkatup dan matanya lebih dingin dari biasanya.Hati Sophia hancur berkeping-keping. Bagaimana pertemuan yang telah ia rencanakan dengan cermat bisa menjadi bencana? Ia bertanya pada dirinya sendiri lagi dalam hati.Hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu. Ansel telah mengakses file pribadinya saat pengawal Keenan itu meretas komputernya sebelumnya. Ini adalah perbuatannya. Wanita itu pasti ingin mempermalukan dirinya di depan para investor dan juga, untuk memberi tahu Keenan tentang rahasianya.‘Aku akan memberitahunya pada waktu yang tepat!’ Batin Sophia, ‘Tidak ada yang lebih buru
Saat itu Senin pagi, dan Sophia seharusnya memberikan presentasi tentang perangkat lunak baru yang telah ia kembangkan untuk perusahaan.Setelah banyak malam tanpa tidur, ia akhirnya berhasil menciptakan perangkat lunak yang menurutnya akan bekerja dengan baik dengan model bisnis Pradipta Investment. Tentu saja, ia harus mempresentasikannya kepada para investor untuk mendapatkan persetujuan mereka dan agar mereka menginvestasikan lebih banyak dana ke perusahaan tersebut.Sophia sedang berada di ruangan IT, meninjau presentasinya, dan teleponnya tiba-tiba berdering. Senyum tersungging di bibirnya ketika ia melihat itu adalah pesan dari Keenan Ananta.Mereka telah berkencan makan siang sejak hari itu dan kemudian semakin dekat seiring waktu yang mereka habiskan bersama.Sophia ingin berkonsentrasi membaca naskahnya, tetapi ia harus membalas pesan teks karena itu dari Keenan. Jantungnya berdebar kencang saat membaca apa yang dikirim Keenan.Keenan: {Hai, sayang. Apa kamu siap untuk hari
Mereka memutuskan untuk menjamu Quinn di perkebunan keluarga mereka yang memiliki kebun anggur yang luas. Jadi, Meisya memastikan semuanya beres sebelum Quinn dan Satria tiba.Meisya sangat gembira ingin bertemu tunangan Satria. Putranya akhirnya akan menikah dan memberinya banyak cucu. Ini adalah mimpi Meisya yang menjadi kenyataan.“Mama, Papa rasa semuanya sempurna, sayang. Mereka hanya masuk begitu saja melalui gerbang,” Ujar Andara tersenyum.Mata Meisya membelalak. Ia bertanya, “Mereka sudah di sini? Oh tidak… Kuenya belum siap. Aku masih harus melakukan beberapa—”“Ayolah, sayangku. Aku yakin menantu perempuan kita akan menyukai apa yang telah Mama persiapkan sejauh ini. Ayo, kita sambut mereka di pintu,” saran Andara, “Di luar, para pengasuh kita pasti sudah pergi. Mari kita temui calon istri Satria.”Mereka berdua sangat gembira bertemu dengan wanita yang telah diputuskan putra mereka untuk dinikahi. Lagipula, teman Satria, Daffa Satya Wicaksana, sudah menikah dan memiliki du
Keisha sedang libur kerja, jadi ia menelepon Quinn dan mereka pergi berbelanja di mall.Karena punya waktu luang, Keisha ingin membeli hadiah untuk suaminya sebagai bentuk apresiasi, jadi ia mengajak sahabatnya ke mall untuk membantunya memilih hadiah yang sempurna.“Menurutmu, hadiah apa yang disukai pria?” tanya Keisha kepada Quinn sambil berjalan-jalan di mal.“Aku tidak tahu. Bukankah Daffa sudah punya banyak uang? Mungkin berikan sesuatu yang tidak bisa dia beli dengan uang,” saran Quinn.“Aku tahu Mas Daffa kaya, tapi aku tetap ingin membelikannya sesuatu. Mungkin jam tangan? Itu akan istimewa karena dari aku. Dia selalu memberiku hadiah, jadi aku ingin membalas budi,” komentar Keisha.Mereka pergi ke toko perhiasan dan Keisha membeli jam tangan Rolex edisi terbatas untuk suaminya. Ia meminta agar jam tangan itu diukir dengan tulisan, 'Aku mencintaimu, Daffa',dan dibungkus rapi.Kemudian mereka pergi ke toko pakaian dan memilih beberapa pakaian untuk Daffa, “Aku tahu Mas Daffa p







