LOGINPemakaman Ayana dilakukan secara tertutup. Tidak ada keramaian, tidak ada kerabat jauh yang datang membawa karangan bunga atau ucapan belasungkawa. Hanya keluarga Brilian serta beberapa teman sekelas Ayana yang hadir untuk mengantar kepergiannya.
Langit tampak mendung. Angin berhembus pelan di antara pepohonan pemakaman. Beberapa orang berdiri dengan pakaian serba hitam. Wajah mereka muram. Tidak banyak kata yang terucap. Keheningan terasa lebih berat daripada tangisan. Brilian berdiri paling depan, tepat di samping kedua orang tuanya. Matanya sembab, tetapi ia tidak lagi menangis. Air matanya seolah telah habis sejak semalam. Perlahan, peti mati Ayana diturunkan ke dalam liang lahat. Tanah mulai ditimbunkan sedikit demi sedikit. Suara tanah yang jatuh ke atas peti kayu terdengar begitu jelas di tengah kesunyian. Setiap sekop tanah yang jatuh terasa seperti pukulan bagi hati mereka yang menyaksikan. Semakin lama, peti itu semakin tertutup tanah. Kayu cokelat yang tadi terlihat perlahan menghilang dari pandangan. Hingga akhirnya, peti mati itu benar-benar tidak terlihat lagi. Ayana kini benar-benar pergi. Di sisi lain, Mansion Artha berdiri megah dengan arsitektur yang menjulang dan halaman luas yang tertata rapi. Namun pada malam itu, suasana di dalam mansion jauh dari kata tenang. Para pelayan mondar-mandir dengan wajah tegang. Di tangan mereka terdapat baskom berisi air, handuk, serta berbagai perlengkapan medis darurat. Suasana terasa riuh dan penuh kepanikan. "Cepat! Bawa ke ruang rawat!" teriak seorang pria paruh baya dengan nafas terengah. Tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat. Kedua tangannya terus mengepal seolah menahan sesuatu yang hendak meledak di dalam dadanya. Anak perempuan satu-satunya mengalami kecelakaan. Anak bungsu kesayangan keluarga Artha itu kini berada di dalam ruang perawatan darurat yang telah disiapkan di mansion tersebut. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisinya. Segala sesuatu kini berada di tangan dokter yang sedang berusaha menyelamatkannya. Braaakhh. Pintu besar di ruang utama tiba-tiba didobrak dengan keras. Tiga pemuda masuk dengan penampilan yang berantakan. Nafas mereka terengah, pakaian mereka kusut, seolah mereka berlari tanpa peduli apa pun sejak mendengar kabar itu. "Bagaimana keadaan Ayna, Dad?" tanya Lucas dengan suara tegang. Ia adalah putra pertama keluarga Artha. "Princes di mana, Dad?" tanya Gabriel, anak kedua, dengan nada tak kalah panik. "Daddy..." suara lirih datang dari Michael, anak ketiga yang berdiri di belakang kedua kakaknya. Pria yang mereka panggil ayah itu berdiri kaku. Wajahnya terlihat lebih tua malam ini. Matanya memerah walaupun ia tidak menangis. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab. "Berdoa saja yang terbaik." Hanya itu jawabannya. Namun kalimat singkat itu sudah cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu memahami betapa mengerikan kecelakaan yang dialami oleh Ayna. Ketiga pemuda itu terdiam. Tubuh mereka gemetar. Kekuatan di kaki mereka seolah menghilang. Mereka ambruk terduduk di lantai. Ruangan itu kembali dipenuhi kesunyian yang menyesakkan. Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya panik, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya memerah. Begitu melihat suaminya, ia langsung menghampiri. Tangannya meraih kerah baju pria itu dengan kuat. "Ayna kenapa? Kemana saja kamu, Imanuel?" tanya wanita itu dengan suara gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Kenapa harus Ayna, Nuel?" ucapnya lagi dengan suara pecah. Matanya memerah. Meskipun ia seorang dokter, ia tidak memiliki keberanian untuk menangani putrinya sendiri. Imanuel Caesar Artha hanya menundukkan kepalanya. Ia memang tidak menangis, tetapi hatinya terasa seperti tertusuk ribuan duri yang tak terlihat. Di sudut ruangan, tiga anak laki-laki keluarga itu hanya duduk dengan mata kosong. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Di dalam ruang perawatan, layar monitor mesin EKG menampilkan garis lurus. Suara tik... tik... tik... terdengar pelan, mengisi ruangan yang dipenuhi aroma antiseptik. Dokter yang menangani tubuh itu perlahan mengangkat tangannya. Wajahnya terlihat pasrah. Kepalanya menggeleng perlahan ke kanan dan ke kiri. "Waktu kematian pukul delapan malam, hari Selasa, tanggal dua puluh tiga Februari." Perawat yang berdiri di samping tempat tidur membacakan waktu kematian Ayna dengan suara formal. Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam. Tubuh Ayna kemudian ditutupi dengan kain putih. Perawat itu menarik kain tersebut perlahan, menutup tubuh gadis itu hingga ke bagian dada. Namun sebelum kain itu benar-benar menutup kepalanya, kelopak mata Ayna bergerak sangat pelan. Perawat yang bertugas sedikit tersentak. Ia menatap wajah Ayna beberapa detik lebih lama. Namun kemudian ia menggeleng pelan. Mungkin ia hanya salah melihat. Dengan gerakan hati-hati, ia kembali menarik kain itu untuk menutup kepala Ayna. Tiba-tiba, kedua mata Ayna terbuka lebar. Nafasnya tersentak. "Ukhh..." Lenguhan itu terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat perawat tadi melompat ke belakang. "Aaakhh! Hantu!" teriaknya sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Semua orang di ruangan itu terkejut. Dokter yang baru saja hendak melepas pakaian operasinya langsung berbalik dan masuk kembali. "Pasang kembali semua alatnya," perintah dokter dengan suara tegas. Para perawat yang berada di ruangan itu segera bergerak cepat. Mereka membantu dokter memasang kembali semua alat medis yang sebelumnya telah dilepaskan. Hanya satu perawat yang masih berdiri kaku karena syok. Elektroda dipasang kembali. Selang infus diperiksa. Monitor EKG kembali menyala dengan gelombang detak yang perlahan muncul. Beberapa detik kemudian, salah satu perawat yang bertugas sebagai perawat sirkuler membaca hasil monitor dengan mata terbelalak. "Detak jantung stabil. Tekanan darah meningkat. Vitalitas tubuh pulih dengan cepat." Dokter yang menangani itu mengangguk pelan. Ia merasa heran dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. Padahal mesin EKG sebelumnya telah menunjukkan garis lurus. Waktu kematian pun telah ditetapkan secara resmi. Namun pasien itu tiba-tiba membuka mata. Apakah ini hanya sebuah keajaiban sesaat atau sesuatu yang lain? Dokter itu tidak berani berspekulasi lebih jauh. Ia memilih tetap bersikap profesional dan fokus memeriksa keadaan Ayna saat ini. "Halo, apakah Anda mendengar saya, Nona?" tanya Dokter Max dengan nada sopan. Ayna tidak memberikan respons. Matanya tampak kosong, seolah tidak memiliki semangat hidup sama sekali. Pandangannya jauh dan hampa. "Siapa aku? Bukankah aku sudah mati? Apakah ini malaikat maut?" Ayana, jiwa yang kini berada di dalam tubuh Ayna, bermonolog dalam hati. Tempat yang ia lihat saat ini terasa begitu asing bagi pandangan matanya. Perlahan ia memberanikan diri menoleh, menatap seorang pria yang mengenakan seragam dokter lengkap di hadapannya. "Maaf... apakah Anda malaikat maut?" tanyanya pelan dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dokter Max tertegun. Matanya sedikit membesar karena pertanyaan yang tidak terduga itu. "Maksud Anda bagaimana, Nona?" tanya Dokter Max dengan serius. Ayana terdiam. Dalam hatinya ia kembali bertanya. Jika pria itu bukan malaikat maut, lalu siapa dia sebenarnya? "I... Ini di mana? Apakah di surga?" tanya Ayana lagi dengan suara pelan. "Nona Ayna, apakah Anda merasa sakit di bagian tertentu? Jika iya, katakan saja. Saya akan membantu memeriksa Anda," ucap Dokter Max dengan tenang. "Nona Ayna? Namaku?" tanya Ayana dengan wajah terheran-heran. Ia kemudian menggelengkan kepalanya, namun gerakan itu membuatnya meringis kesakitan. "Siapkan alat general check-up sekali lagi. Pasien perlu diperiksa secara menyeluruh," ucap Dokter Max tegas. Ia kini semakin yakin bahwa Ayna benar-benar telah kembali dari kematian. Brankar tempat Ayna berbaring kemudian dimasukkan ke dalam mesin pemeriksaan. Dalam waktu singkat, seluruh hasil pemeriksaan mulai muncul di layar. Para perawat dan Dokter Max yang menatap hasil tersebut terlihat sangat terkejut. "Ini seriusan? Padahal tadi..." Perawat itu menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan Dokter Max yang tajam. "Biarkan Nona muda beristirahat dulu. Keluarkan dari alat itu, lalu bawa kembali ke tempat semula. Saya akan keluar sebentar," ucap Dokter Max. Ia membawa berkas yang berisi hasil pemeriksaan menyeluruh itu bersamanya. Berkas tersebut akan ia tunjukkan kepada keluarga pasien yang sedang menunggu di luar ruangan ini.Di sisi lain, Arthur berhasil menyusul mobil yang sebelumnya menabrak mereka.Mobil tanpa plat itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang mulai sepi. Namun, baru beberapa saat melarikan diri, sosok Arthur tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan mobil tersebut.Tatapan matanya dingin.Perlahan, Arthur mengangkat salah satu tangannya ke atas.Detik berikutnya—Braaaakkkh!!!Kap mobil bagian depan langsung penyok seketika. Suara benturan keras menggema di sekitar jalan. Mesin mobil itu mendadak mati total, lalu asap tebal mulai keluar dari bagian depan kendaraan."Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung terbatuk-batuk akibat asap yang semakin memenuhi ruangan sempit itu."Pintunya! Cepat buka pintunya!""Kenapa nggak bisa dibuka?!"Mereka mulai panik.Tangan mereka terus menarik gagang pintu dengan kasar, tetapi tetap saja pintu mobil itu tidak bisa terbuka.Mereka benar-benar terperangkap di dalam.Asap semakin tebal.Oksigen perlahan menipis.Wajah-
Brilian duduk santai di kursinya yang berada tepat di belakang kursi milik Ayuna. Begitu melihat Ayuna masuk ke dalam kelas, senyum jahil langsung terukir di bibirnya. Tatapannya mengikuti setiap langkah gadis itu. Perlahan, tangan Brilian bergerak menyentuh kursi di depannya.Ayuna yang sama sekali tidak menyadari dirinya akan dijahili, langsung duduk begitu saja.Braaaakkhh!!!Brrruukkh!!!Tubuh Ayuna langsung terjatuh ke lantai."Akh..." ringis Ayuna pelan sambil menahan sakit. Rasa nyeri langsung menjalar di tubuhnya akibat jatuh yang cukup keras itu. Sementara itu, Brilian hanya menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya tampak puas, seolah kejadian tadi hanyalah permulaan.Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan berubah. Bisik-bisik para murid mulai menghilang, berganti dengan keheningan yang menegangkan. Semua orang menahan napas. Sudah lama kelas itu tidak dipenuhi keributan seperti ini."Lo gila, hah!" bentak Ayuna. Ia langsung berdiri dan menatap Brilian dengan sorot mata ta
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayuna, Brilian juga langsung dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya.Gadis itu masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika dibaringkan di atas ranjang pasien. Beberapa dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.Suasana di dalam ruangan terasa tegang.Rahayu berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh kecemasan, sedangkan Biantara terus memperhatikan proses pemeriksaan tanpa berkedip.Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Brilian akhirnya menutup hasil pemeriksaan dan menatap kedua orang tua gadis itu."Pasien hanya mengalami syok dan terlalu terkejut," ucap dokter tersebut dengan suara tenang. "Karena itulah pasien sampai pingsan.""Syukurlah..." Rahayu langsung menghela napas lega.Tangannya terulur perlahan, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.Biantara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara."Apa yang perlu kami perhatikan, Dok?" tanyanya serius.Dokter itu terdiam ses
"Aku cuma nganterin sampai di sini," ucap Ayna sambil menunjuk pintu ruang kepala sekolah. Arthur menganggukkan kepala pelan, tanda mengerti dengan ucapan gadis itu. "Baik," jawabnya singkat. Beberapa detik kemudian, Arthur kembali menatap Ayna. "Kamu boleh pergi. Terima kasih," ucapnya tenang. Ayna mengangguk pelan. "Iya." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung membalikkan badan. Langkahnya perlahan menjauh dari pintu ruang kepala sekolah, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di sana. Ayna melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan tenang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, namun sosok Ayuna masih belum terlihat. Bangku gadis itu kosong. Seperti biasanya. Ayna menarik kursinya perlahan, lalu duduk tanpa banyak bicara. "Belum masuk lagi?" gumam salah satu murid pelan. "Sepertinya iya," jawab yang lain sambil mengangkat bahu. Ayna tidak menanggapi percakapan itu. Ia hanya diam, menopang dagunya sambil menatap ke arah jendela kelas. --- Di rumah sak
Tidak membutuhkan waktu lama, Ayna sudah rapi dengan seragam lengkapnya. Rambutnya tertata, penampilannya bersih dan anggun. Ia melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni setiap anak tangga dengan langkah teratur.Suara tapak kakinya terdengar hingga ke ruang makan.Tarina menoleh, lalu tersenyum saat melihat putrinya turun dari tangga."Kenapa tidak menggunakan lift saja, sayang?" tanya Tarina dengan nada lembut.Ayna membalas dengan senyuman. Ia tetap melangkah menuruni tangga hingga mencapai lantai bawah."Aku ingin sehat, Mom. Naik liftnya jangan dulu," jawab Ayna ringan.Tarina mengangguk pelan, masih tersenyum. "Baiklah. Bagus juga kalau begitu."Di meja makan, Logan, Gabriel, dan Michael sudah duduk dengan santai. Begitu melihat Ayna, ketiganya langsung menyapa."Pagi, Princess," ucap Logan."Pagi," sambung Gabriel dengan senyum hangat."Pagi juga," tambah Michael, menatap adiknya penuh keakraban.Ayna tersenyum lebar."Pagi, abang-abang," jawabnya ceria.Ia kemudian mengalihka
"Tolong... tolong aku... pergi! Jangan mendekat!" suara Ayuna dari dalam kamar kembali terdengar. Suaranya panik dan bergetar, membuat suasana di depan pintu yang tertutup itu semakin tegang. "Dobrak pintu!" perintah Rafael tegas. "Tapi, Ayah... di bawah sana..." Donggala mencoba berbicara, namun ucapannya terhenti saat melihat tatapan ayahnya yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Baik, Ayah," ucap Donggala akhirnya. Ia mundur selangkah, lalu mengumpulkan tenaga. Bugh! Bugh! Braaaakkkhhh! Pintu kamar itu akhirnya jebol. Daun pintu terhentak keras ke dalam. Di dalam kamar, Ayuna terlihat meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat, dan napasnya tidak teratur. "Ayuna..." panggil Rafael pelan. Ia berlari mendekat, lalu berlutut di samping putrinya. "Kamu kenapa, Ayuna?" "Ayana, Ayah... Ayana... hizk... hizk... dia datang... dia datang, Ayah!" ucap Ayuna terbata. Kepalanya masih tersembunyi di antara kedua lututnya. Rafael terdiam sejenak. Ia menat







