Share

Bab 07

Author: @doumbojoe
last update publish date: 2026-03-14 07:29:38

Di luar ruangan perawatan, keluarga Artha menunggu dengan penuh kecemasan. Wajah mereka pucat seperti kertas putih yang belum tersentuh tinta. Tidak ada satu pun yang benar-benar tenang. Setiap detik terasa begitu panjang bagi mereka.

Ceklek.

Pintu ruangan terbuka perlahan.

Imanuel dan istrinya berjalan lebih dulu. Mereka segera berdiri di hadapan Dokter Max yang baru saja menutup pintu ruang rawat.

"Bagaimana keadaan Princess, Dok?" tanya Imanuel dengan nada khawatir yang sulit disembunyikan.

"Bagaimana keadaan putriku, Dok?" tanya Tarina, istri Imanuel, dengan suara yang ikut bergetar.

Dokter Max menarik napas panjang. Wajahnya terlihat serius. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan.

Sayangnya, gelengan itu langsung disalahartikan oleh semua orang yang menunggu di sana.

Tarina langsung menangis histeris. Tubuhnya gemetar hebat. Sementara Imanuel hanya diam dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Tiga putra mereka pun tidak mampu menahan diri lagi. Mereka menangis sesenggukan sambil berusaha menghapus air mata yang terus mengalir.

Dokter Max terdiam sejenak. Untuk sesaat ia merasa bersalah melihat reaksi keluarga tuannya itu.

"Ini adalah rekapan medis Nona Ayna, Tuan," ucap Max sambil menyerahkan berkas di tangannya.

Ia kemudian melanjutkan penjelasannya dengan suara tenang.

"Untuk saat ini, keadaan Nona muda perlahan membaik. Nona sedang beristirahat dan kemungkinan akan terbangun setelah dua jam."

Imanuel tertegun. Air matanya masih mengalir tipis. Ia mendongakkan kepala dan menatap langsung ke arah Dokter Max.

"Maksud kamu apa, Dok?" tanya Imanuel dengan suara yang masih bergetar.

Nata yang berdiri di sampingnya juga menunggu jawaban itu dengan napas tertahan.

Dokter Max kembali menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan.

"Nona Ayna baik-baik saja. Kecelakaan memang membuat tubuhnya sempat mengalami kematian sesaat. Namun setelah itu, ia sadar kembali. Saat ini Nona hanya sedang beristirahat."

Penjelasan panjang itu membuat Nata menghela napas lega.

Namun beberapa detik kemudian tubuhnya justru melemas dan ambruk tak sadarkan diri.

"Tarina!" seru Imanuel panik.

Kedua tangannya dengan cepat menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh ke lantai.

Dokter Max segera mendekat dan memeriksa kondisi wanita itu.

"Nyonya hanya kelelahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebentar lagi juga akan sadar," ucap Dokter Max menenangkan.

Imanuel mengangguk pelan.

"Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan," ucap Dokter Max dengan sopan sebelum meninggalkan mereka.

Malam semakin larut.

Mansion itu kini terlihat jauh lebih hening dibandingkan sebelumnya. Kepanikan yang sempat terjadi perlahan mereda.

Seluruh penghuni mansion tertidur di depan ruang rawat. Mereka memilih tetap berada di sana, menunggu kabar dari Ayna.

Di dalam ruangan, Ayna perlahan membuka matanya.

Tatapannya kosong ketika menatap langit-langit ruangan yang dipenuhi aroma antiseptik.

"Huh... Aku... Aku ini siapa? Kenapa aku berada di sini?" tanya Ayana di dalam hatinya.

Tiba-tiba sebuah kabut putih muncul di depan matanya.

Kabut itu perlahan mendekat.

Semakin dekat.

Hingga Ayana merasa kesulitan bernapas.

Dalam sekejap, perubahan terjadi. Kesadarannya seperti ditarik menuju ruang lain di dalam pikirannya.

Ia seolah kembali ke alam bawah sadarnya.

"Halo, Kak. Maafkan aku yang mengganggumu," ucap sebuah suara lembut.

Di hadapannya kini berdiri sosok seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal.

"Siapa kamu?" tanya Ayana dengan suara bergetar.

"Kak... Maafkan aku. Aku hanya memiliki sedikit waktu untuk menyampaikan pesanku," ucap sosok gadis itu lagi.

Ayana terdiam. Ia menatap waspada ke arah sosok di depannya. Tubuh gadis itu terlihat samar, lebih mirip kabut daripada manusia.

"Kak... Aku tinggalkan tubuhku untuk Kakak. Jaga baik-baik dan selalu waspada di sekitarmu. Maaf, aku juga meninggalkan banyak masalah untuk kamu selesaikan setelah mengambil alih tubuhku."

Setelah mengatakan itu, sosok kabut itu mulai menjadi semakin transparan.

Ayana tersentak kecil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan harapan menemukan kembali sosok itu.

Namun tidak ada apa pun.

Sosok itu sudah menghilang.

Bersamaan dengan itu, jiwanya seperti terlempar kembali ke dalam tubuhnya.

Refleks, ia berteriak keras.

"Aaaakkkkhhhh!"

"Sayang... Kenapa?" tanya seorang wanita dengan panik.

Wanita itu tidak lain adalah Nata Tarina Brunette, ibu kandung pemilik tubuh yang kini ditempati oleh Ayana.

"Princess, mau minum?" tanya seorang pemuda sambil mengambil segelas air putih dan menyodorkannya ke hadapan Ayana.

Ayana terdiam.

Ia menatap semua orang yang berada di ruangan itu dengan pandangan lekat dan penuh kebingungan.

"Maaf... kalian siapa?" tanya Ayana.

Degh.

Pertanyaan itu terasa seperti palu godam yang menghantam dada mereka semua.

Rasa sakit dan sesak langsung memenuhi hati mereka.

"Dokter!" teriak Tarina panik.

Dokter Max yang sejak tadi memperhatikan perkembangan pasiennya segera maju beberapa langkah.

"Saya di sini, Nyonya," ucapnya dengan tenang.

"Kenapa? Ada apa dengan putriku?" tanya Tarina dengan suara panik.

Dokter Max menatap Ayana beberapa saat sebelum menjelaskan.

"Di dalam rekapan medisnya tidak tertulis bahwa pasien mengalami amnesia. Kemungkinan besar ini hanya syok sementara."

Tarina, suaminya, serta ketiga putra mereka mengangguk pelan mendengar penjelasan itu.

Pemuda yang tadi menyodorkan minuman kemudian berbicara lagi.

"Princess, ini Abang. Logan Caesar Artha," ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Pemuda di sebelahnya ikut maju sedikit.

"Gabriel Caesar Artha. Abang kedua."

Pemuda lainnya tersenyum lembut.

"Michael Caesar Artha. Abang kesayangan kamu, Princess."

Ayana masih terlihat bingung. Di dalam hatinya ia terus bertanya.

Mengapa mereka memperkenalkan diri kepadanya?

Lalu sebenarnya siapa dirinya sekarang?

"Lalu aku... siapa?"

Pertanyaan itu kembali menjadi pukulan telak bagi mereka semua. perasaan Gelisah menghantam dada mereka berkali-kali. Awalnya Ayna tidak mengenal mereka sebagai keluarganya, sekarang bahkan tak mengenal namanya sendiri?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 17

    Semua orang di dalam kelas itu menertawakan kepergian Ayuna. Gelak tawa memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang riuh. Ada kepuasan tersendiri yang tersirat di wajah mereka, seolah kepergian Ayuna menjadi hiburan singkat di pagi itu.Griyane melangkah mendekati meja Ayna. Dengan sikap percaya diri, ia berdiri di samping meja tersebut dan menatap Ayna dari atas ke bawah."Lo pasti terkejut dengan tingkah dia, kan? Tenang saja. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun pada lo," ucap Griyane, nadanya terdengar seperti sedang menenangkan.Ayna mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Griyane dengan ekspresi datar. Gadis di hadapannya itu terlihat sombong dan angkuh. Namun, di balik sikapnya, ia adalah satu dari sedikit orang yang dulu tidak pernah ikut membully atau merundungnya."Ya, gue tahu," jawab Ayna singkat dan cuek. Baginya, tidak ada alasan untuk menjalin kedekatan dengan gadis di depannya.Griyane tidak langsung pergi. Ia justru menatap Ayna lebih lama. Matanya menyipit, seolah s

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 16

    Flashback on. Semalam, Ayuna tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat balkon rumahnya, sehingga pemandangan malam itu dapat ia lihat dengan jelas. Bunda Nilam berteriak histeris, memanggil nama Ayana yang berdiri di depannya. Sosok itu melambaikan tangan ke arah Nilam. Ayuna menyaksikan kejadian itu dalam diam. Tubuhnya membeku dalam sekejap. "Tidak... tidak mungkin, dia sudah mati," gumam Ayuna lirih. Kedua tangannya menutup mulutnya. Matanya menatap dengan penuh ketidakpercayaan. Kakinya perlahan mundur hingga tubuhnya menabrak jendela kaca di belakangnya. Bersamaan dengan itu, sosok jelmaan Ayana menatapnya dengan tajam. Dalam satu kedipan, sosok itu menghilang begitu saja. Tidak lama kemudian, teriakan Nilam kembali terdengar, membuat seluruh penghuni rumah keluar dari kamar mereka. Flashback off. "Hei, apa yang kamu pikirkan, Ayuna?" tanya Donggala pada adiknya dengan heran. Sejak tadi, makanan di atas piringnya hanya diaduk tanpa dimakan. Ayuna tersentak. Seketika

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 14

    Ayna terpaku. Ia terkejut dengan suara abangnya yang menggelegar itu. Saking terkejutnya, sendok yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.Triinggg...Tak!"Princess, are you oke?" tanya Michael dengan nada panik dan khawatir.Ayna membeku. Ia membiarkan tubuhnya dibalik dan diputar beberapa kali oleh Michael."Ada apa ini, Michael? Kenapa kamu melakukan hal itu pada adikmu?" tanya Tarina yang datang diikuti oleh suaminya, Imanuel.Awalnya mereka menunggu di meja makan seperti biasa. Namun, mendengar teriakan putra mereka, akhirnya mereka datang karena merasa penasaran."Mom, Dad... lihatlah princess. Dia masuk ke dapur, berdiri di depan kompor. Aku khawatir," ucap Michael.Ayna menunduk. Ia ditatap oleh lima pasang mata seperti seseorang yang tengah melakukan kesalahan."Tenang... jangan takut." Tarina mendekat, meraih kedua tangan Ayna. "Kenapa kamu berada di sini, hmm? Kamu tahu kan ini bahaya?" ucap Tarina dengan suara lembut penuh keibuan.Ayna semakin menundukkan ke

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 13

    Setelah kepergian Ayana, keadaan Nilam semakin memburuk. Ia berteriak histeris hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Tidak hanya itu, bahkan para tetangga pun merasa tidur mereka terusik."Ada apa, Nilam?" tanya Rafael dengan suara kesal yang tertahan."Aaaakkkhhh... Hizk... Hizk... Ayana... Ayana... Bunda menyesal, sayang... Hizk... Bunda menyesal," ucap Nilam dengan suara parau. Wajah dan rambutnya terlihat berantakan, air matanya mengalir deras seperti air sungai.Rafael yang kelelahan karena bekerja di luar, segera mendekat. Ia mengangkat tangannya tinggi, lalu kemudian...Plaaakkk!!!"Sampai kapan kamu seperti ini, Nilam? Sampai kapan, hah? Tidak capek kamu, hah?" ucap Rafael dengan nada marah.Wajah Nilam tertoleh. Darah mengalir pelan dari sudut bibirnya. Bukannya marah ataupun tersinggung, Nilam malah terkekeh pelan."Hahahaha... Ayana... Ayana sayang... kembalilah pada Bunda, Nak," ucapnya seraya menangis tanpa menghiraukan keberadaan Rafael dan lainnya.Rafael mem

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 12

    Dengan tangan yang gemetar, Rosima meletakkan nampan berisi teko dan gelas air minum di hadapan Rafael. "Silakan minum, Tuan. Saya ke belakang dulu," ucap Rosima. Rafael mengangguk, membiarkan Rosima pergi. Ia menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu menenggaknya hingga habis. Setelah itu, ia kembali ke dalam kamarnya. Dari luar pintu, ia sudah mendengar isakan tangisan istrinya yang tak berhenti. Rafael menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya ia juga menyesal, tetapi tanggung jawabnya terlalu besar untuk menyesal terlalu larut. [Ceklek] Rafael membuka pintu. Sosok Nilam yang memunggungi ranjang terlihat jelas. Tubuhnya membungkuk, dengan foto Ayana yang berada dalam dekapannya. "Sayang... apakah di kehidupanmu hanya penyesalan saja?" tanya Rafael sambil mendekat, berusaha menenangkan tangisan istrinya dengan pelukan dari belakang. Nilam tak mendengar. Tubuhnya masih bergetar. "Aku juga menyesal memperlakukan Ayana seperti itu, tapi apakah itu membuat kamu lalai, Nilam?" tanya

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 11

    Stella menatap kedua mata Ayna dengan tatapan menyelidik. Ia seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata itu. Ayna yang merasa dirinya ditatap begitu intens, segera menghentikan gerakannya pada gelas yang ia pegang. "Ada apa, Stella? Apakah pertanyaan gue salah?" tanya Ayna sambil tersenyum tipis. Stella terdiam. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Bagaimanapun, ia termasuk salah satu orang yang telah membully Ayana sebelum gadis itu meninggal. Stella menarik napas pelan, lalu kembali mengatur ekspresi wajahnya. Senyum tipis ia tampilkan, menutupi kegelisahan yang sempat muncul. "Sebaiknya lo lupakan saja pertanyaan itu," ucap Stella santai, seolah apa yang pernah ia lakukan dahulu adalah hal yang biasa. Ayna menganggukkan kepalanya pelan. Namun, tatapannya berubah tajam ketika kembali menatap Stella. "Lo nggak berani jawab, karena lo bagian dari pembully itu, bukan?" tanya Ayna. Pertanyaan itu membuat Stella tertohok. Raut wajah Stella berubah. I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status