Se connecterDi luar ruangan perawatan, keluarga Artha menunggu dengan penuh kecemasan. Wajah mereka pucat seperti kertas putih yang belum tersentuh tinta. Tidak ada satu pun yang benar-benar tenang. Setiap detik terasa begitu panjang bagi mereka.
Ceklek. Pintu ruangan terbuka perlahan. Imanuel dan istrinya berjalan lebih dulu. Mereka segera berdiri di hadapan Dokter Max yang baru saja menutup pintu ruang rawat. "Bagaimana keadaan Princess, Dok?" tanya Imanuel dengan nada khawatir yang sulit disembunyikan. "Bagaimana keadaan putriku, Dok?" tanya Tarina, istri Imanuel, dengan suara yang ikut bergetar. Dokter Max menarik napas panjang. Wajahnya terlihat serius. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Sayangnya, gelengan itu langsung disalahartikan oleh semua orang yang menunggu di sana. Tarina langsung menangis histeris. Tubuhnya gemetar hebat. Sementara Imanuel hanya diam dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Tiga putra mereka pun tidak mampu menahan diri lagi. Mereka menangis sesenggukan sambil berusaha menghapus air mata yang terus mengalir. Dokter Max terdiam sejenak. Untuk sesaat ia merasa bersalah melihat reaksi keluarga tuannya itu. "Ini adalah rekapan medis Nona Ayna, Tuan," ucap Max sambil menyerahkan berkas di tangannya. Ia kemudian melanjutkan penjelasannya dengan suara tenang. "Untuk saat ini, keadaan Nona muda perlahan membaik. Nona sedang beristirahat dan kemungkinan akan terbangun setelah dua jam." Imanuel tertegun. Air matanya masih mengalir tipis. Ia mendongakkan kepala dan menatap langsung ke arah Dokter Max. "Maksud kamu apa, Dok?" tanya Imanuel dengan suara yang masih bergetar. Nata yang berdiri di sampingnya juga menunggu jawaban itu dengan napas tertahan. Dokter Max kembali menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan. "Nona Ayna baik-baik saja. Kecelakaan memang membuat tubuhnya sempat mengalami kematian sesaat. Namun setelah itu, ia sadar kembali. Saat ini Nona hanya sedang beristirahat." Penjelasan panjang itu membuat Nata menghela napas lega. Namun beberapa detik kemudian tubuhnya justru melemas dan ambruk tak sadarkan diri. "Tarina!" seru Imanuel panik. Kedua tangannya dengan cepat menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh ke lantai. Dokter Max segera mendekat dan memeriksa kondisi wanita itu. "Nyonya hanya kelelahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebentar lagi juga akan sadar," ucap Dokter Max menenangkan. Imanuel mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan," ucap Dokter Max dengan sopan sebelum meninggalkan mereka. Malam semakin larut. Mansion itu kini terlihat jauh lebih hening dibandingkan sebelumnya. Kepanikan yang sempat terjadi perlahan mereda. Seluruh penghuni mansion tertidur di depan ruang rawat. Mereka memilih tetap berada di sana, menunggu kabar dari Ayna. Di dalam ruangan, Ayna perlahan membuka matanya. Tatapannya kosong ketika menatap langit-langit ruangan yang dipenuhi aroma antiseptik. "Huh... Aku... Aku ini siapa? Kenapa aku berada di sini?" tanya Ayana di dalam hatinya. Tiba-tiba sebuah kabut putih muncul di depan matanya. Kabut itu perlahan mendekat. Semakin dekat. Hingga Ayana merasa kesulitan bernapas. Dalam sekejap, perubahan terjadi. Kesadarannya seperti ditarik menuju ruang lain di dalam pikirannya. Ia seolah kembali ke alam bawah sadarnya. "Halo, Kak. Maafkan aku yang mengganggumu," ucap sebuah suara lembut. Di hadapannya kini berdiri sosok seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal. "Siapa kamu?" tanya Ayana dengan suara bergetar. "Kak... Maafkan aku. Aku hanya memiliki sedikit waktu untuk menyampaikan pesanku," ucap sosok gadis itu lagi. Ayana terdiam. Ia menatap waspada ke arah sosok di depannya. Tubuh gadis itu terlihat samar, lebih mirip kabut daripada manusia. "Kak... Aku tinggalkan tubuhku untuk Kakak. Jaga baik-baik dan selalu waspada di sekitarmu. Maaf, aku juga meninggalkan banyak masalah untuk kamu selesaikan setelah mengambil alih tubuhku." Setelah mengatakan itu, sosok kabut itu mulai menjadi semakin transparan. Ayana tersentak kecil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan harapan menemukan kembali sosok itu. Namun tidak ada apa pun. Sosok itu sudah menghilang. Bersamaan dengan itu, jiwanya seperti terlempar kembali ke dalam tubuhnya. Refleks, ia berteriak keras. "Aaaakkkkhhhh!" "Sayang... Kenapa?" tanya seorang wanita dengan panik. Wanita itu tidak lain adalah Nata Tarina Brunette, ibu kandung pemilik tubuh yang kini ditempati oleh Ayana. "Princess, mau minum?" tanya seorang pemuda sambil mengambil segelas air putih dan menyodorkannya ke hadapan Ayana. Ayana terdiam. Ia menatap semua orang yang berada di ruangan itu dengan pandangan lekat dan penuh kebingungan. "Maaf... kalian siapa?" tanya Ayana. Degh. Pertanyaan itu terasa seperti palu godam yang menghantam dada mereka semua. Rasa sakit dan sesak langsung memenuhi hati mereka. "Dokter!" teriak Tarina panik. Dokter Max yang sejak tadi memperhatikan perkembangan pasiennya segera maju beberapa langkah. "Saya di sini, Nyonya," ucapnya dengan tenang. "Kenapa? Ada apa dengan putriku?" tanya Tarina dengan suara panik. Dokter Max menatap Ayana beberapa saat sebelum menjelaskan. "Di dalam rekapan medisnya tidak tertulis bahwa pasien mengalami amnesia. Kemungkinan besar ini hanya syok sementara." Tarina, suaminya, serta ketiga putra mereka mengangguk pelan mendengar penjelasan itu. Pemuda yang tadi menyodorkan minuman kemudian berbicara lagi. "Princess, ini Abang. Logan Caesar Artha," ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Pemuda di sebelahnya ikut maju sedikit. "Gabriel Caesar Artha. Abang kedua." Pemuda lainnya tersenyum lembut. "Michael Caesar Artha. Abang kesayangan kamu, Princess." Ayana masih terlihat bingung. Di dalam hatinya ia terus bertanya. Mengapa mereka memperkenalkan diri kepadanya? Lalu sebenarnya siapa dirinya sekarang? "Lalu aku... siapa?" Pertanyaan itu kembali menjadi pukulan telak bagi mereka semua. perasaan Gelisah menghantam dada mereka berkali-kali. Awalnya Ayna tidak mengenal mereka sebagai keluarganya, sekarang bahkan tak mengenal namanya sendiri?Di sisi lain, Arthur berhasil menyusul mobil yang sebelumnya menabrak mereka.Mobil tanpa plat itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang mulai sepi. Namun, baru beberapa saat melarikan diri, sosok Arthur tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan mobil tersebut.Tatapan matanya dingin.Perlahan, Arthur mengangkat salah satu tangannya ke atas.Detik berikutnya—Braaaakkkh!!!Kap mobil bagian depan langsung penyok seketika. Suara benturan keras menggema di sekitar jalan. Mesin mobil itu mendadak mati total, lalu asap tebal mulai keluar dari bagian depan kendaraan."Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung terbatuk-batuk akibat asap yang semakin memenuhi ruangan sempit itu."Pintunya! Cepat buka pintunya!""Kenapa nggak bisa dibuka?!"Mereka mulai panik.Tangan mereka terus menarik gagang pintu dengan kasar, tetapi tetap saja pintu mobil itu tidak bisa terbuka.Mereka benar-benar terperangkap di dalam.Asap semakin tebal.Oksigen perlahan menipis.Wajah-
Brilian duduk santai di kursinya yang berada tepat di belakang kursi milik Ayuna. Begitu melihat Ayuna masuk ke dalam kelas, senyum jahil langsung terukir di bibirnya. Tatapannya mengikuti setiap langkah gadis itu. Perlahan, tangan Brilian bergerak menyentuh kursi di depannya.Ayuna yang sama sekali tidak menyadari dirinya akan dijahili, langsung duduk begitu saja.Braaaakkhh!!!Brrruukkh!!!Tubuh Ayuna langsung terjatuh ke lantai."Akh..." ringis Ayuna pelan sambil menahan sakit. Rasa nyeri langsung menjalar di tubuhnya akibat jatuh yang cukup keras itu. Sementara itu, Brilian hanya menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya tampak puas, seolah kejadian tadi hanyalah permulaan.Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan berubah. Bisik-bisik para murid mulai menghilang, berganti dengan keheningan yang menegangkan. Semua orang menahan napas. Sudah lama kelas itu tidak dipenuhi keributan seperti ini."Lo gila, hah!" bentak Ayuna. Ia langsung berdiri dan menatap Brilian dengan sorot mata ta
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayuna, Brilian juga langsung dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya.Gadis itu masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika dibaringkan di atas ranjang pasien. Beberapa dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.Suasana di dalam ruangan terasa tegang.Rahayu berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh kecemasan, sedangkan Biantara terus memperhatikan proses pemeriksaan tanpa berkedip.Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Brilian akhirnya menutup hasil pemeriksaan dan menatap kedua orang tua gadis itu."Pasien hanya mengalami syok dan terlalu terkejut," ucap dokter tersebut dengan suara tenang. "Karena itulah pasien sampai pingsan.""Syukurlah..." Rahayu langsung menghela napas lega.Tangannya terulur perlahan, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.Biantara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara."Apa yang perlu kami perhatikan, Dok?" tanyanya serius.Dokter itu terdiam ses
"Aku cuma nganterin sampai di sini," ucap Ayna sambil menunjuk pintu ruang kepala sekolah. Arthur menganggukkan kepala pelan, tanda mengerti dengan ucapan gadis itu. "Baik," jawabnya singkat. Beberapa detik kemudian, Arthur kembali menatap Ayna. "Kamu boleh pergi. Terima kasih," ucapnya tenang. Ayna mengangguk pelan. "Iya." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung membalikkan badan. Langkahnya perlahan menjauh dari pintu ruang kepala sekolah, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di sana. Ayna melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan tenang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, namun sosok Ayuna masih belum terlihat. Bangku gadis itu kosong. Seperti biasanya. Ayna menarik kursinya perlahan, lalu duduk tanpa banyak bicara. "Belum masuk lagi?" gumam salah satu murid pelan. "Sepertinya iya," jawab yang lain sambil mengangkat bahu. Ayna tidak menanggapi percakapan itu. Ia hanya diam, menopang dagunya sambil menatap ke arah jendela kelas. --- Di rumah sak
Tidak membutuhkan waktu lama, Ayna sudah rapi dengan seragam lengkapnya. Rambutnya tertata, penampilannya bersih dan anggun. Ia melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni setiap anak tangga dengan langkah teratur.Suara tapak kakinya terdengar hingga ke ruang makan.Tarina menoleh, lalu tersenyum saat melihat putrinya turun dari tangga."Kenapa tidak menggunakan lift saja, sayang?" tanya Tarina dengan nada lembut.Ayna membalas dengan senyuman. Ia tetap melangkah menuruni tangga hingga mencapai lantai bawah."Aku ingin sehat, Mom. Naik liftnya jangan dulu," jawab Ayna ringan.Tarina mengangguk pelan, masih tersenyum. "Baiklah. Bagus juga kalau begitu."Di meja makan, Logan, Gabriel, dan Michael sudah duduk dengan santai. Begitu melihat Ayna, ketiganya langsung menyapa."Pagi, Princess," ucap Logan."Pagi," sambung Gabriel dengan senyum hangat."Pagi juga," tambah Michael, menatap adiknya penuh keakraban.Ayna tersenyum lebar."Pagi, abang-abang," jawabnya ceria.Ia kemudian mengalihka
"Tolong... tolong aku... pergi! Jangan mendekat!" suara Ayuna dari dalam kamar kembali terdengar. Suaranya panik dan bergetar, membuat suasana di depan pintu yang tertutup itu semakin tegang. "Dobrak pintu!" perintah Rafael tegas. "Tapi, Ayah... di bawah sana..." Donggala mencoba berbicara, namun ucapannya terhenti saat melihat tatapan ayahnya yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Baik, Ayah," ucap Donggala akhirnya. Ia mundur selangkah, lalu mengumpulkan tenaga. Bugh! Bugh! Braaaakkkhhh! Pintu kamar itu akhirnya jebol. Daun pintu terhentak keras ke dalam. Di dalam kamar, Ayuna terlihat meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat, dan napasnya tidak teratur. "Ayuna..." panggil Rafael pelan. Ia berlari mendekat, lalu berlutut di samping putrinya. "Kamu kenapa, Ayuna?" "Ayana, Ayah... Ayana... hizk... hizk... dia datang... dia datang, Ayah!" ucap Ayuna terbata. Kepalanya masih tersembunyi di antara kedua lututnya. Rafael terdiam sejenak. Ia menat





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

