LOGIN"Apa maksud Anda, Dok?"
Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara. Degh. Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah benar-benar melihat kondisi adiknya sendiri? Rasa bersalah menjalar, membelit jantungnya dengan kejam. Di sisi lain, Ayuna menangis sesenggukan di atas kursi roda. Tubuhnya bergetar, air matanya jatuh tanpa henti. Kabar kematian saudara kembarnya terasa seperti kebohongan yang terlalu kejam untuk diterima. Bersamaan dengan itu, entah sejak kapan Brilian telah berdiri di depan tiga orang yang tengah dilanda duka dan kebingungan. "Puas kalian semua, hah? Dasar keluarga bajingan! Dia itu anak kalian! Adik kamu, Donggala!" teriak Brilian dengan mata yang memerah penuh amarah. Suasana koridor rumah sakit membeku. "Teganya kalian melakukan hal itu padanya. Salah apa Ayana pada kalian, hah?" lanjut Brilian, suaranya bergetar antara marah dan tangis yang tertahan. Nilam, Donggala, dan Ayuna hanya terdiam. Tidak ada satu pun dari mereka yang membalas. Mereka membiarkan setiap kata itu menghantam tanpa perlawanan, seolah memang pantas menerima semuanya. Saat itulah Rafael datang. Melihat istri dan anak-anaknya diteriaki oleh orang lain, amarah dalam dadanya langsung menyala. "Apa-apaan kau, hah? Berani sekali kamu membentak anak dan istriku!" bentak Rafael dengan wajah memerah. Brilian tersentak. Ketakutan sempat melintas di wajahnya, tetapi hanya sekejap. Detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat penghinaan. "Hallo, Tuan Rafael. Lama tidak bertemu," ucap Biantara. Pria itu melangkah maju mendekati Brilian, lalu berdiri di samping putrinya. Tangannya melingkar protektif, memberikan perlindungan tanpa perlu banyak kata. Rafael membeku. "T... Tuan Biantara," ucapnya terbata-bata. Biantara adalah atasannya di perusahaan. Rafael hanyalah seorang manajer. Jabatan itu tidak sebanding dengan posisi CEO yang dipegang Biantara. "Maaf, Tuan. Saya tidak melihat Anda di sini," ucap Rafael cepat, nada suaranya berubah drastis. "Tidak apa-apa," jawab Biantara tenang. "Ini Brilian, putri semata wayang saya. Dia baru saja menghadapi cobaan besar. Kehilangan sahabatnya." Rafael mengangguk kaku. Seolah kabar itu hanyalah formalitas belaka. "Turut berduka cita," ucap Rafael pelan. Bugh. Sebuah pukulan keras mendarat di pelipis Rafael sebelum ia sempat bereaksi. Tubuhnya terhuyung dan jatuh tersungkur ke lantai. Biantara berdiri tegak dengan sorot mata tajam, menembus Rafael tanpa ampun. Rafael memegangi pelipisnya yang berdenyut. Namun rasa sakit itu mendadak menghilang saat matanya terbelalak melihat sosok yang sedang didorong keluar dari ruangan otopsi. "A... Ayana..." lirihnya. Ia belum benar-benar menyadari bahwa gadis itu telah pergi untuk selamanya. Nilam menoleh dengan wajah penuh air mata. "Mas... anak kita, Mas... anak kita..." ucapnya tersedu-sedu. "Anak kita kenapa?" tanya Rafael, mengabaikan rasa sakit di kepalanya. "Benar-benar keluarga yang tidak tahu diri," potong Biantara sebelum Nilam sempat menjawab. "Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Rafael, mendongakkan kepala dengan tatapan bingung. "Mulai saat ini, Ayana akan menjadi putri angkat saya. Biarkan kami yang mengurus jasadnya," ucap Biantara tegas, tak memberi ruang untuk bantahan. Rafael terdiam. Kepalanya terasa kosong. Ayuna ada di kursi roda. Namun barusan Biantara menyebut Ayana. Nama itu terasa asing sekaligus menghantam kesadarannya. "Mas... Ayana telah pergi," ucap Nilam pelan. "Pergi ke mana? Bukankah dia tadi ada di depan kita?" tanya Rafael, suaranya mulai gemetar. Nilam menggeleng lemah. "Ayana meninggal di gudang saat kita menguncinya tadi," ucapnya serak. Degh. Jantung Rafael berdetak tak beraturan. Nafasnya terasa sesak. "A... Ayana... kenapa kamu meninggalkan kami, Nak," ucapnya lirih, suaranya pecah. Ia memukul dadanya sendiri dengan keras, berharap rasa sesak itu berkurang. Nilam segera menahan tangannya. "Mas, jangan begitu," ucap Nilam memohon. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari belakang mereka. Brrruukkkhhh. "Ayuna!" teriak Donggala histeris. Ia segera bangkit dan berlari ke arah kursi roda yang kini kosong. Tubuh Ayuna tergeletak tak sadarkan diri di lantai. "Jangan, Dek... cukup Ayana yang pergi. Kamu jangan..." ucap Donggala sambil menangis, mengangkat tubuh adiknya dengan tangan gemetar. "Perawat, bawa pasien ini ke ruang gawat darurat sekarang." Para dokter kembali bergerak cepat. Ayuna segera dibawa ke ruang penanganan intensif. Ayuna dirawat oleh tim medis. Dan jasad Ayana dibawa ke rumah keluarga Brilian. Jasad Ayana diurus oleh mereka, sebagai bentuk permintaan maaf Brilian atas semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi."Apa maksud Anda, Dok?" Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara. Degh. Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah b
Tangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda. "Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan. "Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran. Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya. "Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak. Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak. "Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlut
Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya. Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni. Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana. "Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi. Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya. Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut. Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tang
Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri. Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya. "Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat. "Hoeeeekkk." Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar
Tap. Tap. Tap. Sepasang kaki kurus kering menapaki setiap anak tangga itu dengan susah payah. Langkahnya pelan, berat, seolah tiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan lelah yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Begitu tiba di lantai dasar, gadis itu berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas lega, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Baru saja ia menarik nafas, tiba-tiba dari arah depan, sepasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Tatapan itu penuh kebencian yang sudah terlalu sering ia lihat. Plaaak! Suara tamparan itu menggema di ruangan luas berlantai marmer dingin. Wajah gadis itu tertoleh ke samping. Tubuhnya hampir limbung, namun ia bertahan. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, menetes tipis ke dagu. "Bunda... Apa lagi salah ku kali ini?" tanya Ayana dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya agar tidak ja







