Share

Bab 05

Penulis: @doumbojoe
last update Tanggal publikasi: 2026-03-04 11:17:39

"Apa maksud Anda, Dok?"

Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada.

Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali.

"Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara.

Degh.

Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah benar-benar melihat kondisi adiknya sendiri? Rasa bersalah menjalar, membelit jantungnya dengan kejam.

Di sisi lain, Ayuna menangis sesenggukan di atas kursi roda. Tubuhnya bergetar, air matanya jatuh tanpa henti. Kabar kematian saudara kembarnya terasa seperti kebohongan yang terlalu kejam untuk diterima.

Bersamaan dengan itu, entah sejak kapan Brilian telah berdiri di depan tiga orang yang tengah dilanda duka dan kebingungan.

"Puas kalian semua, hah? Dasar keluarga bajingan! Dia itu anak kalian! Adik kamu, Donggala!" teriak Brilian dengan mata yang memerah penuh amarah.

Suasana koridor rumah sakit membeku.

"Teganya kalian melakukan hal itu padanya. Salah apa Ayana pada kalian, hah?" lanjut Brilian, suaranya bergetar antara marah dan tangis yang tertahan.

Nilam, Donggala, dan Ayuna hanya terdiam. Tidak ada satu pun dari mereka yang membalas. Mereka membiarkan setiap kata itu menghantam tanpa perlawanan, seolah memang pantas menerima semuanya.

Saat itulah Rafael datang.

Melihat istri dan anak-anaknya diteriaki oleh orang lain, amarah dalam dadanya langsung menyala.

"Apa-apaan kau, hah? Berani sekali kamu membentak anak dan istriku!" bentak Rafael dengan wajah memerah.

Brilian tersentak. Ketakutan sempat melintas di wajahnya, tetapi hanya sekejap. Detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat penghinaan.

"Hallo, Tuan Rafael. Lama tidak bertemu," ucap Biantara.

Pria itu melangkah maju mendekati Brilian, lalu berdiri di samping putrinya. Tangannya melingkar protektif, memberikan perlindungan tanpa perlu banyak kata.

Rafael membeku.

"T... Tuan Biantara," ucapnya terbata-bata.

Biantara adalah atasannya di perusahaan. Rafael hanyalah seorang manajer. Jabatan itu tidak sebanding dengan posisi CEO yang dipegang Biantara.

"Maaf, Tuan. Saya tidak melihat Anda di sini," ucap Rafael cepat, nada suaranya berubah drastis.

"Tidak apa-apa," jawab Biantara tenang. "Ini Brilian, putri semata wayang saya. Dia baru saja menghadapi cobaan besar. Kehilangan sahabatnya."

Rafael mengangguk kaku. Seolah kabar itu hanyalah formalitas belaka.

"Turut berduka cita," ucap Rafael pelan.

Bugh.

Sebuah pukulan keras mendarat di pelipis Rafael sebelum ia sempat bereaksi. Tubuhnya terhuyung dan jatuh tersungkur ke lantai. Biantara berdiri tegak dengan sorot mata tajam, menembus Rafael tanpa ampun.

Rafael memegangi pelipisnya yang berdenyut. Namun rasa sakit itu mendadak menghilang saat matanya terbelalak melihat sosok yang sedang didorong keluar dari ruangan otopsi.

"A... Ayana..." lirihnya.

Ia belum benar-benar menyadari bahwa gadis itu telah pergi untuk selamanya.

Nilam menoleh dengan wajah penuh air mata. "Mas... anak kita, Mas... anak kita..." ucapnya tersedu-sedu.

"Anak kita kenapa?" tanya Rafael, mengabaikan rasa sakit di kepalanya.

"Benar-benar keluarga yang tidak tahu diri," potong Biantara sebelum Nilam sempat menjawab.

"Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Rafael, mendongakkan kepala dengan tatapan bingung.

"Mulai saat ini, Ayana akan menjadi putri angkat saya. Biarkan kami yang mengurus jasadnya," ucap Biantara tegas, tak memberi ruang untuk bantahan.

Rafael terdiam. Kepalanya terasa kosong. Ayuna ada di kursi roda. Namun barusan Biantara menyebut Ayana. Nama itu terasa asing sekaligus menghantam kesadarannya.

"Mas... Ayana telah pergi," ucap Nilam pelan.

"Pergi ke mana? Bukankah dia tadi ada di depan kita?" tanya Rafael, suaranya mulai gemetar.

Nilam menggeleng lemah. "Ayana meninggal di gudang saat kita menguncinya tadi," ucapnya serak.

Degh.

Jantung Rafael berdetak tak beraturan. Nafasnya terasa sesak.

"A... Ayana... kenapa kamu meninggalkan kami, Nak," ucapnya lirih, suaranya pecah.

Ia memukul dadanya sendiri dengan keras, berharap rasa sesak itu berkurang. Nilam segera menahan tangannya.

"Mas, jangan begitu," ucap Nilam memohon.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari belakang mereka.

Brrruukkkhhh.

"Ayuna!" teriak Donggala histeris.

Ia segera bangkit dan berlari ke arah kursi roda yang kini kosong. Tubuh Ayuna tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

"Jangan, Dek... cukup Ayana yang pergi. Kamu jangan..." ucap Donggala sambil menangis, mengangkat tubuh adiknya dengan tangan gemetar.

"Perawat, bawa pasien ini ke ruang gawat darurat sekarang."

Para dokter kembali bergerak cepat. Ayuna segera dibawa ke ruang penanganan intensif. Ayuna dirawat oleh tim medis. Dan jasad Ayana dibawa ke rumah keluarga Brilian.

Jasad Ayana diurus oleh mereka, sebagai bentuk permintaan maaf Brilian atas semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 31

    Di gerbang sekolah, Ayna masih terlihat sedang menunggu. Gadis itu terus menatap ke arah jalan raya dengan harapan mobil Daddy-nya segera terlihat.Namun, waktu terus berjalan. Mobil yang ditunggu tak kunjung datang."Neng, kenapa nggak ditelepon saja?" satpam yang menjaga gerbang itu merasa kasihan melihat gadis tersebut.Ayna bahkan baru teringat bahwa ia memiliki handphone. Tanpa membuang banyak waktu, ia langsung menelepon Daddy-nya.Namun, walaupun beberapa kali ia berusaha menelepon, panggilan itu sama sekali tidak tersambung. Bahkan, suara operator mengatakan bahwa nomor tersebut tidak bisa menerima panggilan."Daddy kenapa ya?" tanya Ayna lirih. Ia menatap handphone-nya dengan tatapan datar. Berbagai spekulasi mulai muncul di kepalanya.Hingga, handphone-nya berdering. Nama kakak pertamanya langsung terpampang jelas di layar."Hallo, Abang... Abang di mana?" tanya Ayna cepat.["Kamu masih di sana, Princes?"]Suara Logan terdengar dari seberang telepon."Benar, Bang. Aku di ger

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 30

    Jam menunjukkan pukul dua siang. Seluruh murid Aurora Summit telah bergegas pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, Ayna sedang berdiri di depan gerbang, ditemani oleh satpam yang berjaga di pos. "Neng, kenapa nggak pulang sekarang?" tanya satpam itu dengan rasa ingin tahu, sekadar membuka percakapan dengan gadis tersebut. Ayna menoleh pelan. Raut wajahnya tampak murung. "Paman satpam. Daddy belum datang. Katanya mau menjemput, tapi sampai sekarang belum datang," ucap Ayna lirih. Suaranya terdengar menyedihkan, sekelebat bayangan masa lalu menyerang ingatannya dengan ganas. Sebenarnya ia bisa saja pulang sendiri, namun ia tidak melakukannya karena berpikir Daddy-nya benar-benar akan datang. "Mungkin sebentar lagi, Nona," ucap satpam itu. Ayna mengangguk. Ia berharap di mana pun Daddynya berada, mereka selalu berada dalam lindungan Tuhan. Pemuda itu mendekat, memangkas jarak hingga lebih dekat dengan Imanuel. "Tuan Zuank," ucap pemuda itu. Ia menatap Imanuel dengan

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 29

    Gedung Aurora Summit Iringan mobil dengan tanda khas keluarga Artha masuk ke dalam gerbang sekolah itu. Semua murid yang telah hadir menatap keramaian itu dengan rasa ingin tahu. "Bukankah itu tanda dari keluarga Artha?" "Sepertinya begitu. Menurutmu, apakah itu murid baru?" "Mungkin, tumben banget nggak ada pemberitahuan dari forum keluarga Artha." "Iya, biasanya masalah sekecil apa pun transparan." "Kalian nggak ingat kalau keluarga Artha memiliki anak gadis yang disembunyikan? Tidak diketahui oleh umum?" "Gotcha! Aku baru ingat! Apa dia adalah anak gadisnya?" "Mana?" "Eh, bukankah itu anak kelas dua ya? Si... si apa sih kemarin yang masuk BK? Ah, si Ayna." "Masa iya, Ayna anak mereka? Kok lebih mirip ke Ayuna ya?" "Baru mau aku bicarakan, ternyata pemikiran kita sama." Di mobil yang paling pertama, dengan tanda keluarga Artha yang paling mencolok, Ayna turun dengan kedua pipi mengembung. "Ayna tidak mau tahu ya, Dad... nanti Ayna mau pulang sendiri," ucapny

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 28

    Di tempat parkir rumah sakit jiwa, sebuah mobil hitam baru saja masuk. Pintu terbuka, Rafael terlihat gagah. Di tangannya, ia membawa dokumen. Rafael menatap Nilam yang tertidur sejenak, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit jiwa itu. Tidak lama setelah itu, Rafael pun keluar. Ia sudah mengurus dokumentasi dan juga membayar untuk beberapa tahun ke depannya. Di belakang Rafael, para suster dengan pakaian khusus datang untuk menjemput pasien. Pintu mobil terbuka, Nilam sudah bangun. Nilam menatap suaminya dengan tatapan kosong. Tidak ada senyuman, tidak ada tangisan. Ekspresinya seperti biasa, seolah tak punya semangat hidup. "Bawalah dia. Jika suatu saat dia sudah sembuh, tolong hubungi saya," ucap Rafael. Para suster itu menganggukkan kepala serentak. Dengan pelan, mereka meraih tangan Nilam, kemudian mengeluarkannya dari mobil dengan perlahan. Nilam dikeluarkan, pintu mobil kembali tertutup. Tanpa basa-basi, Rafael masuk ke dalam mobil dan segera melaju pergi dari

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 27

    Ayna berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi empuk itu, disertai hela napas panjang. "Ada apa, Princess? Are you okay?" tanya Tarina. Ia ikut duduk di samping putrinya. Ayna mengangguk pelan. Namun, helaan napasnya tidak juga berhenti. "Ada apa, Princess?" Imanuel ikut bertanya, rasa penasarannya tak bisa disembunyikan. "Huuuh..." Ayna menghela napas panjang. "Daddy, Mommy, Ayna punya masalah dengan teman sekolah. Padahal aku nggak pernah melakukan apa-apa pada mereka," ucap Ayna. "Memangnya ada masalah apa?" tanya Tarina. Ayna tidak menjawab. Ia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati, ia tahu betul bahwa mencari tahu apa yang terjadi di sekolah adalah hal yang sangat mudah bagi orang tuanya. Tanpa diberi tahu pun, mereka pasti tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini. "Mommy, Daddy, aku ke kamar dulu ya. Ayna capek," ucap Ayna. Tarina dan Imanuel menganggukkan kepala pelan. Setelah kepergian Ayna, Tarina dan Ima

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 26

    Keesokan harinya, suasana di gedung sekolah Aurora Summit terlihat lebih ramai daripada sebelumnya. Beberapa mobil sudah terparkir di ruang parkir khusus tamu. Para orang tua keluar dari mobil, kemudian melangkahkan kaki mereka dengan elegan menuju ruang kepala sekolah. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka pun tiba di ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa murid yang bermasalah kemarin. Kepala mereka tertunduk dalam, seolah malu dengan apa yang mereka hadapi. Setiap orang tua masing-masing duduk di kursi yang telah disediakan. "Apakah orang tua kamu belum datang, Ayna?" tanya kepala sekolah pada seorang gadis bernama Ayna. "Aku bisa menghadapinya sendiri. Keluargaku tidak perlu turun tangan dalam hal yang sepele seperti ini. Silakan dimulai, Pak Kepala Sekolah," ucap Ayna. Kepala sekolah menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia duduk dengan tegas dan menatap ke depan dengan tatapan yang tak kalah tegas. "Seper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status