ANMELDENDi gerbang sekolah, Ayna masih terlihat sedang menunggu. Gadis itu terus menatap ke arah jalan raya dengan harapan mobil Daddy-nya segera terlihat.Namun, waktu terus berjalan. Mobil yang ditunggu tak kunjung datang."Neng, kenapa nggak ditelepon saja?" satpam yang menjaga gerbang itu merasa kasihan melihat gadis tersebut.Ayna bahkan baru teringat bahwa ia memiliki handphone. Tanpa membuang banyak waktu, ia langsung menelepon Daddy-nya.Namun, walaupun beberapa kali ia berusaha menelepon, panggilan itu sama sekali tidak tersambung. Bahkan, suara operator mengatakan bahwa nomor tersebut tidak bisa menerima panggilan."Daddy kenapa ya?" tanya Ayna lirih. Ia menatap handphone-nya dengan tatapan datar. Berbagai spekulasi mulai muncul di kepalanya.Hingga, handphone-nya berdering. Nama kakak pertamanya langsung terpampang jelas di layar."Hallo, Abang... Abang di mana?" tanya Ayna cepat.["Kamu masih di sana, Princes?"]Suara Logan terdengar dari seberang telepon."Benar, Bang. Aku di ger
Jam menunjukkan pukul dua siang. Seluruh murid Aurora Summit telah bergegas pulang ke rumah masing-masing. Saat ini, Ayna sedang berdiri di depan gerbang, ditemani oleh satpam yang berjaga di pos. "Neng, kenapa nggak pulang sekarang?" tanya satpam itu dengan rasa ingin tahu, sekadar membuka percakapan dengan gadis tersebut. Ayna menoleh pelan. Raut wajahnya tampak murung. "Paman satpam. Daddy belum datang. Katanya mau menjemput, tapi sampai sekarang belum datang," ucap Ayna lirih. Suaranya terdengar menyedihkan, sekelebat bayangan masa lalu menyerang ingatannya dengan ganas. Sebenarnya ia bisa saja pulang sendiri, namun ia tidak melakukannya karena berpikir Daddy-nya benar-benar akan datang. "Mungkin sebentar lagi, Nona," ucap satpam itu. Ayna mengangguk. Ia berharap di mana pun Daddynya berada, mereka selalu berada dalam lindungan Tuhan. Pemuda itu mendekat, memangkas jarak hingga lebih dekat dengan Imanuel. "Tuan Zuank," ucap pemuda itu. Ia menatap Imanuel dengan
Gedung Aurora Summit Iringan mobil dengan tanda khas keluarga Artha masuk ke dalam gerbang sekolah itu. Semua murid yang telah hadir menatap keramaian itu dengan rasa ingin tahu. "Bukankah itu tanda dari keluarga Artha?" "Sepertinya begitu. Menurutmu, apakah itu murid baru?" "Mungkin, tumben banget nggak ada pemberitahuan dari forum keluarga Artha." "Iya, biasanya masalah sekecil apa pun transparan." "Kalian nggak ingat kalau keluarga Artha memiliki anak gadis yang disembunyikan? Tidak diketahui oleh umum?" "Gotcha! Aku baru ingat! Apa dia adalah anak gadisnya?" "Mana?" "Eh, bukankah itu anak kelas dua ya? Si... si apa sih kemarin yang masuk BK? Ah, si Ayna." "Masa iya, Ayna anak mereka? Kok lebih mirip ke Ayuna ya?" "Baru mau aku bicarakan, ternyata pemikiran kita sama." Di mobil yang paling pertama, dengan tanda keluarga Artha yang paling mencolok, Ayna turun dengan kedua pipi mengembung. "Ayna tidak mau tahu ya, Dad... nanti Ayna mau pulang sendiri," ucapny
Di tempat parkir rumah sakit jiwa, sebuah mobil hitam baru saja masuk. Pintu terbuka, Rafael terlihat gagah. Di tangannya, ia membawa dokumen. Rafael menatap Nilam yang tertidur sejenak, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit jiwa itu. Tidak lama setelah itu, Rafael pun keluar. Ia sudah mengurus dokumentasi dan juga membayar untuk beberapa tahun ke depannya. Di belakang Rafael, para suster dengan pakaian khusus datang untuk menjemput pasien. Pintu mobil terbuka, Nilam sudah bangun. Nilam menatap suaminya dengan tatapan kosong. Tidak ada senyuman, tidak ada tangisan. Ekspresinya seperti biasa, seolah tak punya semangat hidup. "Bawalah dia. Jika suatu saat dia sudah sembuh, tolong hubungi saya," ucap Rafael. Para suster itu menganggukkan kepala serentak. Dengan pelan, mereka meraih tangan Nilam, kemudian mengeluarkannya dari mobil dengan perlahan. Nilam dikeluarkan, pintu mobil kembali tertutup. Tanpa basa-basi, Rafael masuk ke dalam mobil dan segera melaju pergi dari
Ayna berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi empuk itu, disertai hela napas panjang. "Ada apa, Princess? Are you okay?" tanya Tarina. Ia ikut duduk di samping putrinya. Ayna mengangguk pelan. Namun, helaan napasnya tidak juga berhenti. "Ada apa, Princess?" Imanuel ikut bertanya, rasa penasarannya tak bisa disembunyikan. "Huuuh..." Ayna menghela napas panjang. "Daddy, Mommy, Ayna punya masalah dengan teman sekolah. Padahal aku nggak pernah melakukan apa-apa pada mereka," ucap Ayna. "Memangnya ada masalah apa?" tanya Tarina. Ayna tidak menjawab. Ia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati, ia tahu betul bahwa mencari tahu apa yang terjadi di sekolah adalah hal yang sangat mudah bagi orang tuanya. Tanpa diberi tahu pun, mereka pasti tahu apa yang harus mereka lakukan setelah ini. "Mommy, Daddy, aku ke kamar dulu ya. Ayna capek," ucap Ayna. Tarina dan Imanuel menganggukkan kepala pelan. Setelah kepergian Ayna, Tarina dan Ima
Keesokan harinya, suasana di gedung sekolah Aurora Summit terlihat lebih ramai daripada sebelumnya. Beberapa mobil sudah terparkir di ruang parkir khusus tamu. Para orang tua keluar dari mobil, kemudian melangkahkan kaki mereka dengan elegan menuju ruang kepala sekolah. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka pun tiba di ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa murid yang bermasalah kemarin. Kepala mereka tertunduk dalam, seolah malu dengan apa yang mereka hadapi. Setiap orang tua masing-masing duduk di kursi yang telah disediakan. "Apakah orang tua kamu belum datang, Ayna?" tanya kepala sekolah pada seorang gadis bernama Ayna. "Aku bisa menghadapinya sendiri. Keluargaku tidak perlu turun tangan dalam hal yang sepele seperti ini. Silakan dimulai, Pak Kepala Sekolah," ucap Ayna. Kepala sekolah menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia duduk dengan tegas dan menatap ke depan dengan tatapan yang tak kalah tegas. "Seper







