Beranda / Rumah Tangga / Perempuan Dari Bui / Bab 1 Perempuan Dari Bui

Share

Perempuan Dari Bui
Perempuan Dari Bui
Penulis: HIZA MJ

Bab 1 Perempuan Dari Bui

Penulis: HIZA MJ
last update Terakhir Diperbarui: 2023-08-09 12:40:42

“Mama sangat merindukanmu, Nak.”

Pintu yang terbuat dari baja tebal itu berderit terbuka. Seorang perempuan melangkah keluar dari dalam bangunan berbenteng tinggi dan tebal. Dengan mengenakan baju lima tahun yang lalu saat ia masuk ke dalamnya. Ia sempat mengangguk hormat kepada dua petugas perempuan yang mengantarnya sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan tenpat itu. Lalu pintu kembali berdebam tertutup.

Perempuan itu kembali menoleh ke belakang. Tersenyum tipis. Lalu menoleh kembali, mendongak ke atas. Melihat langit biru dengan beberapa gumpalan awan putih.

Perempuan itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Udara kebebasan yang sudah lima tahun dirindukannya. Lantas menunduk menatap sebuah foto yang sedari tadi dalam genggaman.

Perempuan itu mendekap sejenak foto itu.

Itu foto anak kecil. Anak yang menginjak usia lima tahun. Anak satu-satunya yang sejak lahir tak pernah bisa di dekapnya. Anak perempuan yang sejak lahir terpaksa ia titipkan di panti asuhan.

“Asma anak Mama. Maafkan karena kamu harus memiliki Mama seperti Mama..” Air matanya tumpah. Menetes di atas foto anak perempuan yang mengenakan baju bekas.

Perempuan itu melangkah menuju satu alamat yang sudah ditulis dibalik foto anaknya. Alamat panti asuhan dimana anaknya dititipkan. Wajahnya kuyu.

Angin panas berembus menyapa dan menerpa kulit keringnya. Meski memiliki produk skincare dan alat kecantikan lengkap, wajahnya tetap dibiarkannya kuyu. Tak menolak sedikitpun takdir tanda-tanda penuaan.

Semua skincare dan alat kecantikan yang pernah dikirimkan sang mama tak pernah dijamahnya. Ia hanya menggunakan sabun wajah untuk menyeka debu dan kotoran yang menempel. Seringkali rekannyalah yang menghabiskan semua produk itu.

“Ke alamat ini, ya, Pak.” Pinta perempuan itu pada supir taksi.

Sepanjang perjalanan ia mendekap foto anaknya dengan sayang. Harapannya tak muluk-muluk. Ia hanya berharap anaknya bisa mengenalinya. Seperti foto-foto yang selalu ia berikan pada petugas panti. Ia meminta agar menunjukkan foto itu pada anaknya. Agar anaknya mengenalinya.

Satu jam perjalanan itu akhirnya ia sampai di depan gerbang panti.

Ia turun dari taksi bersamaan dengan sebuah sedan mewah memasuki panti itu. Langkahnya menjadi gamang.

Pantaskah ia menemui anaknya? Pantaskah ia menjadi seorang ibu? Ia hanya perempuan dari bui.

Ya. Perempuan yang baru saja terbebas dari bui lantaran perbuatannya yang keji. Ia melakukan rencana pembunuhan pada laki-laki yang menolak perjodohan dengannya. Perjodohan konyol dari orang tua yang mengharuskan ia merayu si laki-laki.

Beruntung kejadian naas itu tak sampai benar-benar mengambil nyawa si lelaki. Sehingga, ia beruntung mendapatkan hukuman yang lebih ringan. Lima tahun penjara.

Laki-laki itu sudah berhasil hidup bahagia dengan istri pilihannya sendiri saat ini. Sementara ia harus merana karena dikhianati oleh laki-laki pilihannya yang katanya mencintainya.

Nyatanya, laki-laki itu hanya menitipkan benih padanya, mengambil seluruh harta kemudian pergi entah kemana.

“Bu Gladis?” Sapa seorang wanita yang melintas.

Perempuan dari bui itu bernama Gladis. Gladis mengangguk.

“Oh, hari ini rupanya. Maaf saya lupa. Harusnya saya menunggu dan menjemput Ibu.” Ujar wanita itu bersemangat.

Gladis tersenyum simpul. “Tidak apa-apa, Bu.”

“Ayo-ayo, masuk dulu. Asma pasti seneng ketemu ibunya. Sekarang Asma bisa tidur nyenyak bersama ibunya.” Lanjut wanita yang diketahui sebagai pengurus panti. Juga yang bertanggung jawab mengurusi anak dari Gladis secara khusus.

Percakapan itu tercuri dengar oleh seseorang yang baru saja keluar dari SUV hitam.

Gladis melangkah di belakang mengikuti langkah pengurus panti yang terburu itu. Entah sedang diburu apa, Gladis hampir kewalahan mengimbangi langkahnya.

Tidak jauh di belakangnya, seorang pria yang mengenakan pakaian rapi berjalan mengikuti. Gladis menyadari. Mengernyit tetapi tak berani menoleh ke belakang. Ia merasa seperti diawasi. Mungkin pengunjung panti atau donatur. Atau malah seorang SPG yang ingin menawarkan suatu barang.

Gladis mengibas pikirannya.

“Asma… Asma.. Asma dimana, ya? Coba lihat siapa yang datang..” Teriak wanita itu memanggil-manggil Asma.

Tak lama kepala gadis kecil itu menyembul keluar dari balik pintu. Sedetik bersitatap dengan Gladis. Matanya melebar kemudian, tersenyum ceria.

Gladis tersenyum bersiap menyambut gadis kecil yang amat dirindukannya.

Gadis kecil bermata bulat itu berlari ke arah sang pengasuh. Namun…

“Papa…”

Papa? Papa siapa?

Gladis gemetar. Tungkainya terasa lunglai seketika. Apa jangan-jangan...

Tapi ia merasa tak memberikan persetujuan adopsi pada siapapun. Ia tak mau menyerahkan Asma pada siapapun.

Atau jangan-jangan.. Ayah kandungnya? Asma kecil berlarian melewatinya. Lehernya berat hendak menoleh. 

Gladis tergugu dalam diam. Matanya kering, namun hatinya berurai air mata. Bagai diiris sembilu detik itu juga.

Terbata-bata Gladis menoleh kemana arah langkah Asma. Asma dengan kaki kecilnya berlari tersaruk-saruk melewati pengasuh itu. Terus berlari melewatinya.

Lalu tubuh kecil Asma terayun naik karena tangan kekar seorang pria. Mata Gladis membulat dan gemetar. Dadanya riuh berdentaman karena perasaan tak dikenali oleh anaknya seperti yang ia takutkan beberapa saat lalu.

Harusnya ia memang sudah mengantisipasi hal itu. Perkenalan lewat foto dengan seorang anak kecil harusnya tidak semudah itu. Gladis kesal namun ia tak bisa menyalahkan siapapun.

Lalu, Papa? Kenapa Asma memanggil pria itu Papa? Itu jelas bukan ayah kandungnyna. Mereka akrab sekali...

“Asma apa kabar?” Tanya pria itu.

“Baik.” Jawab Asma ceria.

“Asma..” Gladis mencoba memanggil Asma. Ia berdehem kecil untuk menyembunyikan bibirnya yang bergetar.

Ibu Panti segera menyadari situasi. Ia benar-benar tak enak hati pada Gladis sekarang.

Beliau mendekati laki-laki yang dipanggil "Papa" oleh Asma barusan.

"Pak, Mamanya Asma sudah bebas per hari ini." Bisik si Ibu panti. Laki-laki itu hanya menanggapi dengan anggukan samar seraya melihat kembali sosok Gladis.

“Asma.. Sini dulu, yuk. Ini Mama Asma. Mama yang ada di foto. Ingat?” Ibu pengurus panti menengahi dengan kembali ke sisi Gladis.

Tangan Ibu pengurus panti terulur hendak mengambil Asma dari gendongan pria itu. Tapi Asma justru meronta dan menangis tersedu.

“Nggak mau.. Nggak mau…” Teriak Asma. Pelukan itu semakin erat memenjara leher si pria.

“Biar saya yang bujuk.” Kata laki-laki itu. Lalu melangkah menjauh meninggalkan ibu pengasuh panti dan Gladis yang matanya sudah hampir berlinang.

Awan kelabu menggantung di atas sana. Menutup cahaya surya di siang menuju sore itu. Angin bertiup lembut mendera rambut Gladis.

“Maafkan saya, Bu. Sepertinya Asma belum mengenal kalau bertemu langsung. Asma pasti terkejut karena mengira ibu orang asing. Karena dia tak pernah melihat ibu. Meski setiap hari saya menunjukkan foto ibu padanya, tapi ia tetap anak kecil. Belum sepenuhnya mengerti.” Ucap Ibu pengurus panti menenangkan Gladis.

Gladis mengangguk. Air matanya tak henti menetes. Harusnya dia sudah bisa menerka. Gladis lupa mempersiapkan perasaan ini. Gladis lupa akan skenario penolakan itu. Kerinduannya pada si buah hati membahana menutupi akal logika.

Anak empat tahun dipaksa mengenali seseorang hanya dari foto? Rasanya mustahil.

“Sebaiknya perlahan. Ibu bisa setiap hari kemari dan mencoba bermain dengannya.” Lanjut sang pengurus itu lagi.

Gladis meninggalkan panti itu dengan perasaan sesak. Hal yang lebih sakit mana lagi selain tidak dikenali anak sendiri? Gladis menangis tersedu di luar pagar panti. Kedua tangannya menutup wajahnya. Terisak memilukan.

Nyiur angin semakin menderu kencang. Awan semakin kelabu dan Gladis belum beranjak dari pagar.

Kendaraan berlalu lalang. Menjelang sore, jalanan semakin padat oleh kendaraan. Waktu pulang kerja. Gladis mendongak langit. Ia lupa mensyukuri sesuatu.

Gladis menyusuri jalanan. Mencari sebuah toko emas. Ia berharap ia memiliki banyak waktu untuk membujuk sang anak agar mau mengenalinya dan hidup bersama.

Dan untuk itu, Gladis harus memiliki modal bertahan hidup. Satu-satunya harta yang tersisa darinya adalah satu set perhiasan yang tersimpan rapi oleh pihak lapas. Lalu diserahkan padanya kembali ketika ia bebas.

Perhiasan itu menjadi satu-satunya aset yang tersisa dari semua harta dan aset yang ia miliki setelah dibawa kabur oleh lelaki yang ia cintai. Mendesah. Ia menghancurkan hidupnya sendiri.

Setidaknya, ada satu hal yang membuat ia berpaling dari penyesalan mencintai itu. Kesalahan itu membuat ia memiliki Asma sekarang. Meski kesalahan tetap kesalahan. Gladis hanya berharap perbuatannya termaafkan oleh-Nya.

Gladis sampai di toko perhiasan di sebuah mall. Entah bisa atau tidak menjual perhiasan tanpa surat-suratnya. Gladis akan menerima berapapun yang akan diberikan toko itu.

Ia membeli satu set perhiasan itu 10 tahun lalu dikisaran harga 100 juta. Dan sekarang, jika mengikuti inflasi, harga penjualan perhiasan itu bisa tembus di angka 500 juta atau mungkin bisa 800 juta. Sayangnya, surat-surat perhiasan itu ikut terbawa oleh manusia laknat yang membawa kabur seluruh harta yang ia miliki.

"Surat-suratnya ada, Bu?"

Gladis menggeleng.

"Maaf, Bu. Kami tidak bisa membelinya tanpa surat-surat yang jelas.."

"Tapi saya beli di sini kok, Mbak.. Saya beli perhiasan ini di sini 10 tahun yang lalu. Coba dilihat dulu.." Gladis menyodorkan perhiasannya lebih dekat.

"Maaf, Bu. Tidak bisa."

Gladis melangkah gontai keluar dari Mall. Harus kemana lagi dirinya?

Ia harus segera mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Setidaknya untuk menyewa sebuah kos kecil.

Saat itu ia melihat sebuat toko emas di sebuah ruko. Toko emas pinggiran. Tidak yakin. Namun kakinya tetap melangkah. Hanya itu harta yang dipunya. Hanya itu yang bisa digunakan untuk bertahan hidup.

Selama di penjara, Gladis sedikit mampu mengumpulkan uang. Dari pekerja sosial maupun lomba kecil-kecilan bersama sesama narapidana. Uang itu hanya cukup untuk membayar taksi tadi siang.

Sebuah toko emas kecil-kecilan rupanya sanggup menerima perhiasan Gladis. Jumlahnya jauh dibanding harga asli. Tak mengapa. Perhiasan itu laku pun ia sudah sangat bersyukur. Gladis mengantongi uang sekarang. 75 juta. Lumayan, bukan?

Senyum Gladis merekah. Ia berjalan percaya diri keluar dari toko itu setelah sebelumnya membeli handphone dan beberapa potong baju untuk dirinya dan anaknya.

Gladis hampir takjub. Dulu, berbelanja sebanyak itu adalah hal biasa dan lumrah. Tapi sekarang, ia benar-benar memperhatikan setiap sen uangnya yang kelaur.

Sisa uang yang dipegangnya masih sekitar 60an juta. Gladis membawa cash uang itu kemana-mana karena ia belum memiliki rekening tabungan lagi.

Ah, seharusnya yang pertama ia lakukan adalah membuat rekening itu. Lalu membuat kartu debit. Jadi ia tak perlu repot menenteng uang cash sebanyak itu kemana-mana. Tapi, mana ada bank yang masih buka di sore hari begini. Meski begitu, ia tetap melangkah. Bank konvensional ratusan meter jaraknya menurut penuturan sang penjaga toko perhiasan tadi.

Langkahnya terburu. Mendekap erat kantong berisi uang puluhan juta itu. Tak memperhatikan orang yang mengikutinya sejak tadi.

Saat hampir tiba di bank, “Arrrgh..” Gladis berteriak kencang.

“Heii!!!”

“Rampok!!” Teriak Gladis sekencang-kencangnya.

Tas berisi uang cash itu raib. Kaki Gladis melemah seiring kerumunan orang berhamburan. Beberapa orang mengejar. Beberapa orang mengerumuninya.

Gladis kembali terisak.

Keluarganya hancur. Hamil diluar nikah dan laki-lakinya enggan bertanggung jawab serta melarikan diri dengan semua aset yang ia miliki. Masuk bui karena kebodohannya sendiri. Berpisah dari anak kandungnya. Dan sekarang, anaknya tak mengenalinya dan harta satu-satunya untuk bertahan hidup dirampok.

Gladis teruduk lemas sore menjelang malam itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Perempuan Dari Bui   Bab 31 Informasi Tambahan

    Petugas dari dinas sosial itu saling pandang. Keduanya mengangguk samar. Tidak ada lagi waktu untuk kembali besok. Banyak hal yang harus diselesaikan hari itu. Maka, mereka sepakat untuk menunggu. Di rumah si Ibu B seperti yang ditawarkan.Rumah Ibu B berhadapan langsung dengan rumah Gladis. Berjarak jalan komplek yang lebarnya enam meter. Dengan tipe halaman terbuka. Mereka mudah sekali berkomunikasi antar tetangga.Ibu B menjamu dua petugas dinas sosial itu dengan es jeruk buatannya sendiri. Serta satu toples cemilan.Sedangkan ibu lainnya pulang ke rumah masing-masing."Silakan dinikmati, Ibu-ibu.""Terima kasih, Bu.""Sejujurnya kami, warga di komplek ini juga terkejut, Bu. Karena sejak pertama datang ke komplek ini, Mbak Gladis ini sendirian. Kami juga baru tahu kalau Mbak Gladis juga sebentar lagi menikah. Calonnya beberapa kali datang kemari. Lalu tiba-tiba tadi berteriak sambil menggendong anak. Atau Mbak Gladis ini janda?" Ibu B mengendikkan bahu. Sengaja tidak menatap lawan

  • Perempuan Dari Bui   Bab 30 Bisik-bisik Tetangga

    Setelah sambungan telepon itu terputus, Gladis termangu di dapur. Duduk di kursi menoleh ke arah Asma yang masih sesenggukan karena tangisan.Ia berulang kali menghela napas. Kesadaran mendidik anak yang tidak akan pernah mudah muncul. Tapi Gladis tidak akan menyerah. Ingatan lalu yang sempat membuat ia sempat berputus asa karena keadaannya telah dibuang jauh-jauh.Selanjutnya ia akan tetap bersama Asma. Tapi saat ini, menghadapi situasi ini saja Gladis sudah kewalahan.Gladis meletakkan ponselnya. Menarik napas sekali lagi. Mendekati Asma. Membelai rambut panjang Asma. Lembut. Sayang. Getir sempat singgah di hati."Asma mau lihat kamar? Mama mau tunjukin sesuatu."Asma tidak menjawab. Tetapi tubuhnya tidak menolak saat digandeng oleh ibunya.Sama sekali tidak berani membayangkan kehidupannya dengan Asma. Saat di penjara itu, ia sama sekali tak berani memikirkan kehidupan masa depan. Hatinya kacau saat mengingat anak kandungnya.Bayangan kehidupan apa nantinya yang akan dijalani bersa

  • Perempuan Dari Bui   Bab 29

    "Asma, papa tidak bisa lama ya. Papa harus kerja. Papa janji nanti malam kita telepon lagi."Asma mengangguk nurut.Gladis sempat mengerutkan keningnya. Mudah sekali, pikirnya. Asma begitu baik pada Ghibran. Juga sebaliknya. Ia merasa kalah telak dan terasing pada anaknya sendiri/"Sekarang hapenya berikan ke mama. Mama, kan?" Pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Asma telah setuju panggilan itu. Ia mengerti meski Asma belum sepenuhnya paham perbedaannya.Selanjutnya, Anggukan Asma membuat Ghibran lega. Hape itu diserahkan pada Gladis yang berada di dapur. Pura-pura menyibukkan diri."Nanti malam saya telpon lagi."Gladis mengangguk. Persis seperti Asma. Dan hal itu membuat Ghibran tersenyum."Tapi, harus kita bertiga. Telepon. Kamu harus terbiasa. Dan saya juga harus tetap menjaga jarak. Benar 'kan?"Gladis kembali mengangguk. Ia hanya mendengar. Tidak berani menatap layar ponsel. Telepon video itu membuat Gladis canggung luar biasa."Selamat, ya..""Selamat apa?" Tanyanya tak menger

  • Perempuan Dari Bui   Bab 28 Keluarga?

    Di sisi kota lain, di sebuah rumah setengah mewah Ambar menyesap kopi pagi. Menyeruput penuh nikmat dengan efek suara yang menjijikkan. Ia masih terlihat glamour seperti biasanya. Pagi ini, ia dengar suaminya akan tiba dari luar kota.Katanya, sedang membangun ulang bisnis. Entah bisnis apa. Ambar memacak diri secantik-cantiknya. Menyamarkan usia yang sesungguhnya.Tak lama kemudian suaminya benar-benar tiba. Setelah tiga bulan tidak bertemu. Ambar bersemangat menyambut."Selamat datang di rumah.." Sambutnya ramah.Wajah kuyu Marco justru menyambut sebaliknya. Mendengus samar memaksakan senyum. Meletakkan tas jinjing di atas meja makan dekat kopi Ambar. Meraih kopi itu juga lantas menyesapnya.Ia duduk merebahkan punggung. Lelah setelah perjalanan panjang lewat darat.Mata lelahnya menyapu sekeliling. Rumah yang ia tinggal berbulan-bulan itu masih sama saja. Membuatnya bosan dan muak."Masih belum bisa diketahui di mana Gladis berada?" Marco tanpa ba-bi-bu bertanya pada istrinya.Amba

  • Perempuan Dari Bui   Bab 27 Seperti Bapak Anak

    Malam itu Asma baru jatuh tertidur setelah tiga buku dibacakan. Beberapa kali masih menangis karena teringat kerinduannya dengan si donatur yang telah mengikat hatinya.Mbak Mira siaga di kamar itu menemani Gladis karena tangisan Asma sudah pasti memicu tangisan anak-anak lainnya.Gladis betul-betul terjaga. Momen ini tidak akan pernah terulang lagi mungkin. Momen dimana pertama kali tangan mungil Asma mendekap lengannya sebagai guling. Momen di mana Asma merangkul hangat dalam nyenyak tidurnya.Gladis tidak akan pernah lupa.Kalau saja menyerahkan Asma pada Ghibran sejak dulu, mana mungkin ia akan mendapatkan kesempatan terbaik ini.Kesempatan yang sesungguhnya sangat diinginkan sejak kelahiran Asma."Mama janji tidak akan meninggalkanmu lagi, Nak. Mama janji kita akan bersama. Mama sayang Asma." Lantas mencium tangan mungil Asma.Fajar merayap. Kokok ayam membangunkan semesta. Kehidupan perlahan kembali berjalan di panti itu. Ibu Yasmin yang terbangun lebih dulu. Gladis keluar kamar

  • Perempuan Dari Bui   Bab 26 Membujuk Asma

    Sisa hari itu Gladis sama sekali tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Raung tangisan anak-anak membuatnya terus-terusan melamun, hingga sering ditegur oleh Pak Yusuf, rekan kerjanya."Mbak Gladis lagi ada masalah?" Tegur Pak Yusuf."Ya? Oh, sedikit, Pak. Maaf.""Dari tadi melamun terus. Kalau memang masalahnya serius Mbak Gladis bisa ijin ke bapak. Pasti diijinin. Bapak baik orangnya." Kata Pak Yusuf."Saya baik-baik saja, Pak. Saya bisa menyelesaikan ini. Tinggal dikit lagi juga jam pulang." Kata Gladis. Juga, alasan sebenarnya adalah ia sedang mencari cara bagaimana menghadapi Asma nantinya.Bagaimana membujuk anak itu untuk mau ikut dengannya.Apakah dengan selai kacang? Bagaimana jika tidak mempan?Gladis melirik jam di tangannya. Tidak mungkin ia mengganggu Ghibran untuk urusan Asma. Dia adalah ibu kandungnya, Gladis harus bisa tanpa campur tangan Ghibran.Gladis merasa bisa.Maka, sepulang kerja ia langsung bergegas menuju panti. Sebelumnya memasuki toko bakery untuk mencari kue

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status