LOGINGladis hanya ingin hidup bersama anaknya ketika ia terbebas dari penjara. Namun kenyataan pahit bahwa anaknya tak mengenalinya membuatnya sedih. Dan yang membuat terpukul lagi, bahwa ada orang lain yang dipanggil Papa oleh anaknya. Laki-laki itu memaksa mengadopsi Asma. Lalu laki-laki itu menawarkan perjanjian pernikahan sebagai pilihan lain selain adopsi. Bagaimana keputusan Gladis? Apakah Gladis akan memberikan ijin adopsi atau memilih menikah dengan laki-laki itu?
View More“Berani nggak?”
Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria tinggi keluar dari kursi belakang dengan jas abu gelap yang terlihat mahal bahkan untuk ukuran anak SMA seperti mereka. Wajahnya tampan, terlalu tampan malah, dengan kulit putih bersih, rahang tegas, dan aura dingin yang membuat orang otomatis segan. “Ya ampun, ganteng banget…” bisik Rani sambil menepuk-nepuk lengan Alena. “Itu pasti orang kaya,” sambung yang lain. Alena ikut melongok penasaran, dan matanya langsung membulat kagum. “Ih…” “Nah!” Rani langsung menyeringai jail. “Kalau kamu berani ngajak nikah om itu, kita traktir bakso!” “Bakso urat jumbo,” timpal temannya cepat. Alena langsung duduk tegak. “Dua mangkuk?” “Boleh!” “Pakai es teh?” “Iya!” Tanpa berpikir panjang lagi, Alena langsung berdiri, sementara teman-temannya mendadak panik. “Eh? Lena? Jangan serius!” Namun gadis itu sudah lebih dulu menyeberang jalan kecil di depan minimarket sambil menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Jantungnya memang berdebar, tapi bayangan bakso urat jumbo jauh lebih kuat daripada rasa malu yang seharusnya ia rasakan. Sementara itu, Leon baru saja menutup pintu mobilnya ketika seseorang menarik ujung jasnya pelan. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berseragam SMP berdiri di depannya. Rambutnya diikat buntut kuda, wajahnya bulat dengan mata besar berbinar, dan saat tersenyum gugup, lesung pipi kecil di kedua pipinya langsung terlihat manis. Leon mengernyit heran. “Ya?” Alena menelan ludah sebentar, lalu mengangkat dagunya seolah mengumpulkan keberanian terakhir. “Om… nikah yuk.” Suasana langsung sunyi. Sopir Leon yang berdiri tak jauh sampai salah menutup pintu mobil, sementara Leon sendiri hanya menatap gadis kecil di depannya tanpa berkedip selama beberapa detik. “…Apa?” Alena tetap berdiri tegak meski pipinya mulai merah. “Aku mau nikah sama om.” Dari seberang jalan, teman-temannya sudah hampir guling-guling menahan tawa. “Gila, dia beneran bilang!” “Alena nekat banget!” Leon menghela napas pelan sambil memijat pelipis. “Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?” “Enggak ada.” Alena menggeleng cepat. “Aku sendiri.” “Kamu masih sekolah?” “Iya.” “SMP?” Wajah Alena langsung cemberut hingga lesung pipinya makin terlihat. “SMA!” “Oh, beda tipis.” “Beda banyak!” Leon hampir tertawa melihat ekspresi kesalnya. Ada sesuatu dari gadis kecil ini yang terlalu polos untuk dianggap mengganggu, justru terlalu jujur untuk diabaikan begitu saja. “Namanya siapa?” “Alena.” “Umur?” “Tujuh belas.” Leon langsung menggeleng kecil. “Masih kecil.” “Aku udah gede tahu!” bantah Alena cepat. “Aku udah haid!” Sopir Leon langsung batuk keras menahan tawa, sementara dari kejauhan teman-teman Alena menjerit malu. “ALENA! IH!” Namun Alena tetap berdiri percaya diri, seolah kalimat itu adalah bukti kedewasaan paling sah di dunia. Leon sampai harus menahan senyum karena terlalu absurd untuk dianggap serius. Lucu. Anak ini benar-benar lucu. “Jadi om mau nikah sama aku nggak?” tanya Alena lagi penuh harap. Lesung pipinya muncul lagi saat ia tersenyum manis. Leon menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu tanpa sadar mengacak rambutnya pelan. “Enggak.” Senyum Alena langsung turun. “Kenapa?” “Karena om nggak tertarik sama anak sekolah.” “Memang kenapa kalau masih sekolah?!” “Kamu bahkan masih pakai tas gambar kelinci.” Alena refleks memeluk tasnya. “Ini lucu…” “Justru itu.” Leon tersenyum tipis. “Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.” Alena langsung manyun panjang. “Belum tentu juga nikah sama yang dewasa bikin bahagia!” Leon mengangkat alis. “Oh ya?” “Iya!” Alena menunjuk dirinya sendiri bangga. “Kalau sama Lena kan lucu dan imut. Bisa jadi om bahagia.” Deg. Untuk sesaat Leon terdiam. Bukan karena kalimatnya masuk akal, tapi karena gadis kecil ini mengatakannya dengan keyakinan yang terlalu jujur, terlalu polos, seolah benar-benar percaya dirinya bisa membuat seseorang bahagia. Namun sedetik kemudian ia kembali tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja.” “Aku serius.” “Sayangnya om nggak serius.” “Huh! Nanti juga om nyesel!” Leon tersenyum tipis sambil melangkah melewati Alena. “Kalau nanti kamu sudah lulus dan masih selucu ini, om baru pikirkan lagi.” Mata Alena langsung berbinar lagi, lesung pipinya muncul seperti sebelumnya. “Janji?” Leon hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Namun sebelum masuk ke minimarket, pria itu sempat menoleh sekali lagi. Alena masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar dengan lesung pipi manis yang entah kenapa, untuk sesaat, terasa seperti sesuatu yang akan sulit dilupakan. Lucu. Leon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam tanpa tahu bahwa pertemuan kecil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan biasa. Bersambung......Petugas dari dinas sosial itu saling pandang. Keduanya mengangguk samar. Tidak ada lagi waktu untuk kembali besok. Banyak hal yang harus diselesaikan hari itu. Maka, mereka sepakat untuk menunggu. Di rumah si Ibu B seperti yang ditawarkan.Rumah Ibu B berhadapan langsung dengan rumah Gladis. Berjarak jalan komplek yang lebarnya enam meter. Dengan tipe halaman terbuka. Mereka mudah sekali berkomunikasi antar tetangga.Ibu B menjamu dua petugas dinas sosial itu dengan es jeruk buatannya sendiri. Serta satu toples cemilan.Sedangkan ibu lainnya pulang ke rumah masing-masing."Silakan dinikmati, Ibu-ibu.""Terima kasih, Bu.""Sejujurnya kami, warga di komplek ini juga terkejut, Bu. Karena sejak pertama datang ke komplek ini, Mbak Gladis ini sendirian. Kami juga baru tahu kalau Mbak Gladis juga sebentar lagi menikah. Calonnya beberapa kali datang kemari. Lalu tiba-tiba tadi berteriak sambil menggendong anak. Atau Mbak Gladis ini janda?" Ibu B mengendikkan bahu. Sengaja tidak menatap lawan b
Setelah sambungan telepon itu terputus, Gladis termangu di dapur. Duduk di kursi menoleh ke arah Asma yang masih sesenggukan karena tangisan.Ia berulang kali menghela napas. Kesadaran mendidik anak yang tidak akan pernah mudah muncul. Tapi Gladis tidak akan menyerah. Ingatan lalu yang sempat membuat ia sempat berputus asa karena keadaannya telah dibuang jauh-jauh.Selanjutnya ia akan tetap bersama Asma. Tapi saat ini, menghadapi situasi ini saja Gladis sudah kewalahan.Gladis meletakkan ponselnya. Menarik napas sekali lagi. Mendekati Asma. Membelai rambut panjang Asma. Lembut. Sayang. Getir sempat singgah di hati."Asma mau lihat kamar? Mama mau tunjukin sesuatu."Asma tidak menjawab. Tetapi tubuhnya tidak menolak saat digandeng oleh ibunya.Sama sekali tidak berani membayangkan kehidupannya dengan Asma. Saat di penjara itu, ia sama sekali tak berani memikirkan kehidupan masa depan. Hatinya kacau saat mengingat anak kandungnya.Bayangan kehidupan apa nantinya yang akan dijalani bersa
"Asma, papa tidak bisa lama ya. Papa harus kerja. Papa janji nanti malam kita telepon lagi."Asma mengangguk nurut.Gladis sempat mengerutkan keningnya. Mudah sekali, pikirnya. Asma begitu baik pada Ghibran. Juga sebaliknya. Ia merasa kalah telak dan terasing pada anaknya sendiri/"Sekarang hapenya berikan ke mama. Mama, kan?" Pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Asma telah setuju panggilan itu. Ia mengerti meski Asma belum sepenuhnya paham perbedaannya.Selanjutnya, Anggukan Asma membuat Ghibran lega. Hape itu diserahkan pada Gladis yang berada di dapur. Pura-pura menyibukkan diri."Nanti malam saya telpon lagi."Gladis mengangguk. Persis seperti Asma. Dan hal itu membuat Ghibran tersenyum."Tapi, harus kita bertiga. Telepon. Kamu harus terbiasa. Dan saya juga harus tetap menjaga jarak. Benar 'kan?"Gladis kembali mengangguk. Ia hanya mendengar. Tidak berani menatap layar ponsel. Telepon video itu membuat Gladis canggung luar biasa."Selamat, ya..""Selamat apa?" Tanyanya tak menger
Di sisi kota lain, di sebuah rumah setengah mewah Ambar menyesap kopi pagi. Menyeruput penuh nikmat dengan efek suara yang menjijikkan. Ia masih terlihat glamour seperti biasanya. Pagi ini, ia dengar suaminya akan tiba dari luar kota.Katanya, sedang membangun ulang bisnis. Entah bisnis apa. Ambar memacak diri secantik-cantiknya. Menyamarkan usia yang sesungguhnya.Tak lama kemudian suaminya benar-benar tiba. Setelah tiga bulan tidak bertemu. Ambar bersemangat menyambut."Selamat datang di rumah.." Sambutnya ramah.Wajah kuyu Marco justru menyambut sebaliknya. Mendengus samar memaksakan senyum. Meletakkan tas jinjing di atas meja makan dekat kopi Ambar. Meraih kopi itu juga lantas menyesapnya.Ia duduk merebahkan punggung. Lelah setelah perjalanan panjang lewat darat.Mata lelahnya menyapu sekeliling. Rumah yang ia tinggal berbulan-bulan itu masih sama saja. Membuatnya bosan dan muak."Masih belum bisa diketahui di mana Gladis berada?" Marco tanpa ba-bi-bu bertanya pada istrinya.Amba
Gladis diam termangu. Apa kata laki-laki ini barusan?Gladis diam mencerna. Telinganya terasa berdenging entah kenapa. Menelan ludah sekali. Gladis tidak ingin besar kepala. Bisa jadi, laki-laki ini memang hanya ingin mengenalkannya pada anggota keluarga.Tidak ada maksud lain."Are you okay?" Ghib
"Beneran pergi." Gumam Ghibran begitu keluar dari kamar mandi dan tidak ada orang sama sekali."Mejanya penuh." Ghibran melihat meja makan. Sarapan untuknya semeja penuh. Lalu tangannya mendekati sebuah catatan kecil.'Ini teh jahe, pakai gula batu. Bagus untuk memulihkan badan. Tolong dihabiskan.'
"Terima kasih atas tawarannya. Saya tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan laki-laki apalagi menikah. Malam ini terakhir saya di sini. Seterusnya saya akan cari tempat tinggal sendiri. Terima kasih anda sudah banyak membantu saya. Saya pamit." Gladis membanting pintu mobil. Berdiri di depan
Sudah satu minggu sejak ia keluar dari bui. Waktu berjalan cepat sekali di luar sini, batin Gladis.Dulu, menjalani satu minggu di bui rasanya seperti satu tahun. Lama. Membosankan. Menjenuhkan. Menguras mental. Waktu itu akan terasa semakin lama kalau terjadi perundungan. Kabar eksekusi teman sel,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.