Share

Bab 29

Author: HIZA MJ
last update Last Updated: 2026-02-15 12:51:18

"Asma, papa tidak bisa lama ya. Papa harus kerja. Papa janji nanti malam kita telepon lagi."

Asma mengangguk nurut.

Gladis sempat mengerutkan keningnya. Mudah sekali, pikirnya. Asma begitu baik pada Ghibran. Juga sebaliknya. Ia merasa kalah telak dan terasing pada anaknya sendiri/

"Sekarang hapenya berikan ke mama. Mama, kan?" Pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Asma telah setuju panggilan itu. Ia mengerti meski Asma belum sepenuhnya paham perbedaannya.

Selanjutnya, Anggukan Asma membuat Ghib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perempuan Dari Bui   Bab 31 Informasi Tambahan

    Petugas dari dinas sosial itu saling pandang. Keduanya mengangguk samar. Tidak ada lagi waktu untuk kembali besok. Banyak hal yang harus diselesaikan hari itu. Maka, mereka sepakat untuk menunggu. Di rumah si Ibu B seperti yang ditawarkan.Rumah Ibu B berhadapan langsung dengan rumah Gladis. Berjarak jalan komplek yang lebarnya enam meter. Dengan tipe halaman terbuka. Mereka mudah sekali berkomunikasi antar tetangga.Ibu B menjamu dua petugas dinas sosial itu dengan es jeruk buatannya sendiri. Serta satu toples cemilan.Sedangkan ibu lainnya pulang ke rumah masing-masing."Silakan dinikmati, Ibu-ibu.""Terima kasih, Bu.""Sejujurnya kami, warga di komplek ini juga terkejut, Bu. Karena sejak pertama datang ke komplek ini, Mbak Gladis ini sendirian. Kami juga baru tahu kalau Mbak Gladis juga sebentar lagi menikah. Calonnya beberapa kali datang kemari. Lalu tiba-tiba tadi berteriak sambil menggendong anak. Atau Mbak Gladis ini janda?" Ibu B mengendikkan bahu. Sengaja tidak menatap lawan

  • Perempuan Dari Bui   Bab 30 Bisik-bisik Tetangga

    Setelah sambungan telepon itu terputus, Gladis termangu di dapur. Duduk di kursi menoleh ke arah Asma yang masih sesenggukan karena tangisan.Ia berulang kali menghela napas. Kesadaran mendidik anak yang tidak akan pernah mudah muncul. Tapi Gladis tidak akan menyerah. Ingatan lalu yang sempat membuat ia sempat berputus asa karena keadaannya telah dibuang jauh-jauh.Selanjutnya ia akan tetap bersama Asma. Tapi saat ini, menghadapi situasi ini saja Gladis sudah kewalahan.Gladis meletakkan ponselnya. Menarik napas sekali lagi. Mendekati Asma. Membelai rambut panjang Asma. Lembut. Sayang. Getir sempat singgah di hati."Asma mau lihat kamar? Mama mau tunjukin sesuatu."Asma tidak menjawab. Tetapi tubuhnya tidak menolak saat digandeng oleh ibunya.Sama sekali tidak berani membayangkan kehidupannya dengan Asma. Saat di penjara itu, ia sama sekali tak berani memikirkan kehidupan masa depan. Hatinya kacau saat mengingat anak kandungnya.Bayangan kehidupan apa nantinya yang akan dijalani bersa

  • Perempuan Dari Bui   Bab 29

    "Asma, papa tidak bisa lama ya. Papa harus kerja. Papa janji nanti malam kita telepon lagi."Asma mengangguk nurut.Gladis sempat mengerutkan keningnya. Mudah sekali, pikirnya. Asma begitu baik pada Ghibran. Juga sebaliknya. Ia merasa kalah telak dan terasing pada anaknya sendiri/"Sekarang hapenya berikan ke mama. Mama, kan?" Pertanyaan itu untuk memastikan bahwa Asma telah setuju panggilan itu. Ia mengerti meski Asma belum sepenuhnya paham perbedaannya.Selanjutnya, Anggukan Asma membuat Ghibran lega. Hape itu diserahkan pada Gladis yang berada di dapur. Pura-pura menyibukkan diri."Nanti malam saya telpon lagi."Gladis mengangguk. Persis seperti Asma. Dan hal itu membuat Ghibran tersenyum."Tapi, harus kita bertiga. Telepon. Kamu harus terbiasa. Dan saya juga harus tetap menjaga jarak. Benar 'kan?"Gladis kembali mengangguk. Ia hanya mendengar. Tidak berani menatap layar ponsel. Telepon video itu membuat Gladis canggung luar biasa."Selamat, ya..""Selamat apa?" Tanyanya tak menger

  • Perempuan Dari Bui   Bab 28 Keluarga?

    Di sisi kota lain, di sebuah rumah setengah mewah Ambar menyesap kopi pagi. Menyeruput penuh nikmat dengan efek suara yang menjijikkan. Ia masih terlihat glamour seperti biasanya. Pagi ini, ia dengar suaminya akan tiba dari luar kota.Katanya, sedang membangun ulang bisnis. Entah bisnis apa. Ambar memacak diri secantik-cantiknya. Menyamarkan usia yang sesungguhnya.Tak lama kemudian suaminya benar-benar tiba. Setelah tiga bulan tidak bertemu. Ambar bersemangat menyambut."Selamat datang di rumah.." Sambutnya ramah.Wajah kuyu Marco justru menyambut sebaliknya. Mendengus samar memaksakan senyum. Meletakkan tas jinjing di atas meja makan dekat kopi Ambar. Meraih kopi itu juga lantas menyesapnya.Ia duduk merebahkan punggung. Lelah setelah perjalanan panjang lewat darat.Mata lelahnya menyapu sekeliling. Rumah yang ia tinggal berbulan-bulan itu masih sama saja. Membuatnya bosan dan muak."Masih belum bisa diketahui di mana Gladis berada?" Marco tanpa ba-bi-bu bertanya pada istrinya.Amba

  • Perempuan Dari Bui   Bab 27 Seperti Bapak Anak

    Malam itu Asma baru jatuh tertidur setelah tiga buku dibacakan. Beberapa kali masih menangis karena teringat kerinduannya dengan si donatur yang telah mengikat hatinya.Mbak Mira siaga di kamar itu menemani Gladis karena tangisan Asma sudah pasti memicu tangisan anak-anak lainnya.Gladis betul-betul terjaga. Momen ini tidak akan pernah terulang lagi mungkin. Momen dimana pertama kali tangan mungil Asma mendekap lengannya sebagai guling. Momen di mana Asma merangkul hangat dalam nyenyak tidurnya.Gladis tidak akan pernah lupa.Kalau saja menyerahkan Asma pada Ghibran sejak dulu, mana mungkin ia akan mendapatkan kesempatan terbaik ini.Kesempatan yang sesungguhnya sangat diinginkan sejak kelahiran Asma."Mama janji tidak akan meninggalkanmu lagi, Nak. Mama janji kita akan bersama. Mama sayang Asma." Lantas mencium tangan mungil Asma.Fajar merayap. Kokok ayam membangunkan semesta. Kehidupan perlahan kembali berjalan di panti itu. Ibu Yasmin yang terbangun lebih dulu. Gladis keluar kamar

  • Perempuan Dari Bui   Bab 26 Membujuk Asma

    Sisa hari itu Gladis sama sekali tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Raung tangisan anak-anak membuatnya terus-terusan melamun, hingga sering ditegur oleh Pak Yusuf, rekan kerjanya."Mbak Gladis lagi ada masalah?" Tegur Pak Yusuf."Ya? Oh, sedikit, Pak. Maaf.""Dari tadi melamun terus. Kalau memang masalahnya serius Mbak Gladis bisa ijin ke bapak. Pasti diijinin. Bapak baik orangnya." Kata Pak Yusuf."Saya baik-baik saja, Pak. Saya bisa menyelesaikan ini. Tinggal dikit lagi juga jam pulang." Kata Gladis. Juga, alasan sebenarnya adalah ia sedang mencari cara bagaimana menghadapi Asma nantinya.Bagaimana membujuk anak itu untuk mau ikut dengannya.Apakah dengan selai kacang? Bagaimana jika tidak mempan?Gladis melirik jam di tangannya. Tidak mungkin ia mengganggu Ghibran untuk urusan Asma. Dia adalah ibu kandungnya, Gladis harus bisa tanpa campur tangan Ghibran.Gladis merasa bisa.Maka, sepulang kerja ia langsung bergegas menuju panti. Sebelumnya memasuki toko bakery untuk mencari kue

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status