Beranda / Romansa / Perginya istri Rahasia Ceo / Bab 7. Kayla Membuktikannya.

Share

Bab 7. Kayla Membuktikannya.

Penulis: V3yach
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-24 16:54:33

Kayla memandang layar presentasi di depannya.Tangannya sedikit bergetar tetapi matanya dipenuhi tekad.para pengusaha senior, investor,dan beberapa rekan bisnis menunggu ide yang akan dia sampaikan.

“Proyek ini bukan hanya tentang keuntungan," kata Kayla dengan suara yang mantap. “Ini tentang menciptakan peluang berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan banyak orang.Saya Ingin menunjukkan bahwa bisnis ini bisa berkembang tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan."

Ruangan itu hening,lalu terdengar tepuk tangan kecil dari beberapa peserta.seorang pria paruh baya, salah satu investor mencondongkan tubuhnya.

“Luar biasa,Nona Kayla . Ide anda berani dan segar.Namun apakah Anda benar-benar yakin bisa melaksanakan proyek sebesar ini?"

Kayla menatapnya langsung.“Saya yakin.karena saya tidak hanya menjual mimpi,pak. Saya sudah menyiapkan tim, strategi,dan model bisnis yang sangat jelas.ini bukan sekedar ide,ini adalah rencana nyata."

Ibunya,Bu Yuliana duduk di barisan belakang.Air mata hampir menetes saat melihat putrinya berbicara dengan percaya diri.dia tahu betul luka yang dibawa Kayla dari pernikahannya, tetapi dia juga menyadari bahwa kini anaknya sedang bangkit.

Setelah presentasi, Kayla keluar ruangan dan langsung disambut pelukan hangat dari ibunya.

“Ibu sangat bangga padamu," ujar Bu Yuliana dengan senyum haru.

“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa ,Bu. aku tidak ingin orang orang melihatku hanya sebagai perempuan cantik yang lemah."kata Kayla sambil menunduk dan memeluk ibunya.

“Dan kamu berhasil," balas Bu Yuliana. “Orang orang tadi menatapmu bukan karena penampilanmu, tetapi karena kecerdasan ide-ide yang kamu sampaikan."

Kayak tersenyum tipis, matanya bersinar. “Aku akan terus maju,Bu.Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi."

Namun di sudut hatinya, bayangan Arvino masih sering muncul.

***

Sementara itu,di gedung lain yang di dekorasi mewah,Arvino duduk di meja rapat bersama tim event organizer pertunangannya.dia memijat pelipisnya, berusaha untuk fokus.

“Jadi,tema Acaranya tetap klasik Elegan, sesuai permintaan Cassandra," jelas salah satu panitia.

Arvino hanya mengangguk tanpa semangat.

Cassandra, yang duduk di sampingnya, melirik dengan kesal. “Aku perhatikan tadi,kamu tidak memperhatikan detail Acaraku,Vin.Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?"

“Acaramu?" Arvino menoleh dengan nada dingin. “Bukankah ini pertunangan kita?"

“Kau menyebutnya kita, tetapi sejak awak kau tidak menunjukkan antusiasme," balas Cassandra dengan suara meninggi. “ Aku yang sibuk mengatur semuanya, sementara kau seperti mayat hidup."

Arvino menghela napas. “Aku capek, Cassandra.banyak untuk urusan kantor yang harus aku selesaikan."

”Urusan kantor atau urusan lain?" Cassandra menyipitkan matanya. “Jangan kira aku tidak tahu,Arvino. Sejak Kayla menghilang, perilakumu semakin aneh.kau tampak gelisah, mudah marah,dan bahkan tidak perduli dengan acara sebesar ini."

Namun Arvino hanya diam saja.

“Jawab Aku! Apakah perempuan itu masih ada di pikiranmu?" teriak Cassandra sambil mengetuk meja dengan keras.

“Kau tidak mengerti, Cassandra! Dia ... dia istriku." balas Arvino suara meninggi.

Ruangan mendadak hening. Cassandra terkejut, matanya membelalak. “Apa yang baru saja kau katakan?"

Arvino tersadar, tetapi sudah terlambat.kata katanya terucap begitu saja.

“Aku ... aku tidak bisa berbohong. Kayla bukan hanya perempuan biasa. Dia ... Istriku."

Cassandra tertawa sinis. “Jadi selama ini aku hanya dianggap sebagai cadangan? Kau gila ,Arvino! Kau telah merusak hidupku!"

Arvino berdiri, wajahnya terlihat kusut. “Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu Cass.Aku hanya ... terjebak dalam situasi yang rumit."

“Rumit?" Cassandra mendekat, menatapnya dengan penuh kemarahan. “Kau lebih memilih perempuan itu daripada aku?"

Arvino menunduk, suaranya berat. “Aku tidak pernah ingin menyakitimu.Tapi hatiku ... tidak bisa lepas darinya."

Cassandra menggerakkan gigi,air matanya mulai mengalir. “Kalau begitu, jangan pernah kembali padaku.Anggap saja pertunangan ini batal,Arvino.kau akan menyesal."

Dia pun berlari keluar ruangan, meninggalkan Arvino yang terdiam, terpaku di kursinya, memandang cincin pertunangannya dengan tatapan kosong.

“Kayla ..." bisiknya. “Di Mana pun kau berada, jangan lupakan aku.Aku tidak bisa tanpamu."

***

Di sisi lain,Kayla sedang memandangi dokumen baru ketika ponselnya bergetar.reyhan menelepon.

“Kamu tampil luar biasa tadi " suara Reyhan terdengar hangat."Semua orang kagum."

“Terima kasih.tapi aku tahu jalan ini masih panjang," balas Kayla dengan senyuman tipis.

“Kamu sudah membuktikan satu hal penting, kayla.kamu bukan hanya Istri tersembunyi seseorang.kamu bisa berdiri dengan namamu sendiri."

Kayla terdiam.kata kata itu membuat dadanya hangat, tetapi juga menyakitkan.

“Rey ..." serunya dengan suara lirih. “Kalau dia benar benar mencintaiku, kenapa dia membiarkanku merasa sendirian selama ini ?"

Reyhan tidak langsung menjawab. " Mungkin karena dia bodoh.atau mungkin dia baru menyadari setelah kehilanganmu."

Kayla menutup mata , hatinya berperang.dia ingin melanjutkan hidup, tetapi bayangan Arvino tetap menghantuinya.

***

Sementara itu ,Arvino baru menyadari betapa terkejutnya dia saat melihat Cassandra berjalan cepat menuju pintu keluar.Napasnya terasa sesak.dia tahu betul bahwa jika Cassandra benar benar meninggalkannya,maka semua rencana yang telah dia buat,baik dalam bisnis maupun reputasi,bisa hancur.

Dengan tergesa-gesa,Arvino bangkit dari kursinya.

“ Cassandra!Tunggu!" teriaknya dengan suara keras.

Cassandra tidak menoleh.suara tumit sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar keras, seolah mencerminkan kemarahan yang tak tertahan.

Arvino hampir berlari mengejarnya.begitu sampai di lorong depan gedung,dia berhasil meraih pergelangan tangan Cassandra.

“Cass,dengar aku dulu,"ujarnya dengan nada mendesak.

Cassandra menoleh dengan mata yang basah, penuh amarah. “Lepaskan aku,Arvino!Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu!"

Arvino menahan napas dan berusaha menenangkan suaranya. “Aku memang bodoh tadi.kata kata itu keluar begitu saja tapi tolong,jangan langsung membuat keputusan saat emosimu masih meluap."

Cassandra menepis tangannya dengan kasar. “Bodoh? Kau menyebut perempuan itu istrimu di depanku! itu bukan bodoh, Arvino, itu pengkhianatan!"

Arvino menatapnya tajam,lalu berusaha merendahkan nada suaranya. “Aku tidak bermaksud menyakitimu.kau tahu, aku lelah ,semua tekanan ini membuatku salah bicara.kau yang selalu ada untukku,Cass.kau tahu aku tidak mungkin melepaskanmu."

Cassandra terdiam,air matanya jatuh, tetapi wajahnya tetap keras. “Kau pikir aku bisa begitu saja percaya setelah kau menyebut nama perempuan itu?"

Arvino mendekat selangkah, menatap dalam ke matanya. “Cass, dengar aku.jika aku tidak menganggapmu penting, aku tidak akan ada di sini sekarang.aku tidak akan berlari mengejarmu dan memohon padamu.kau adalah masa depanku."

Cassandra terisak. “Lalu perempuan itu? Apa dia bukan siapa-siapa bagimu?"

Arvino menelan ludah.dalam hatinya dia ingin berteriak bahwa Kayla tetap ada di hatinya,bahwa dia tidak pernah bisa menghapusnya.Namun lidahnya memilih untuk tidak mengatakannya.

“Dia masa lalu Cass.hanya masa lalu.aku bahkan tidak mengerti mengapa namanya masih menghantuiku,tapi sekarang ... Aku sadar.yang nyata di depanku hanyalah kamu."

Cassandra menggeleng, setengah tidak percaya. “kamu hanya berkata begitu karena takut aku pergi."

Arvino mendekat lagi,kali ini memegang kedua bahunya. “Jika kau pergi,aku akan hancur,Cass. Kau mengerti?Aku sudah membayangkan semua ini bersamamu.pertunangan kita,masa depan kita, rencana besar yang akan kita bangun.semua itu hanya berarti jika kau ada di sisiku."

Cassandra menunduk,terisak semakin keras. ” Kamu tahu aku benci jika dibandingkan dengan perempuan lain,Vin.Aku bukan pilihan kedua."

Arvino mengusap pipinya yang basah dengan hari, berpura-pura lembut. “Kamu bukan pilihan kedua,kamu adalah satu satunya yang bisa membuatku bertahan di tengah kekacauan ini.kamu adalah alasan aku tetap berdiri."

Cassandra menatapnya dengan mata berair. “Benarkah? Atau itu hanya gombalan murahanmu supaya aku luluh?"

Arvino tersenyum tipis, berusaha menahan rasa muak yang menggelora di dalam dadanya. ”Jika ini hanya gombalan murahan, kenapa jantungku terasa seperti mau meledak sekarang? Kenapa aku merasa takut kehilanganmu lebih dari segalanya?"

“Kau memang pandai merayu,Arvino.tapi hatiku masih terluka," keluh Cassandra suaranya mulai lembut meski dia masih menahan tangisnya.

Arvino menariknya ke dalam pelukan. ”Biarkan aku memperbaiki semuanya.aku tidak akan mengurangi cintaku padamu,aku tidak akan meninggalkanmu.aku ... Butuh kamu, Cassandra."

Casandra terdiam dalam pelukannya, bahunya bergetar. ”Aku benci saat kamu membuatku menangis seperti ini "

Arvino mengusap rambutnya, berpura-pura penuh kasih sayang. ”Jangan menangis lagi.kau cantik saat tersenyum, bukan saat air matamu jatuh."

“Sebenarnya,aku ingin pergi tadi, Aku ingin meninggalkan semuanya.tapi ..." bisik Cassandra suaranya melemah. “Aku terlalu mencintaimu,Vin.Aku tidak bisa."Cassandra perlahan melepaskan diri dan menatap wajah Arvino.

Arvino menatapnya dengan senyum pahit. “Dan Aku terlalu takut kehilanganmu."

Cassandra akhirnya menyandarkan kepala di bahu Arvino, mengeluarkan rengekan manja. “Jangan pernah buat aku marah seperti tadi lagi ya.Aku tidak suka saat kamu menyebut perempuan itu."

Arvino mengepalkan tangan di balik punggung Cassandra, menahan rasa muak.“Tidak akan lagi,Cass. aku janji."

“Kamu memang pandai membuatku luluh.tapi lain kali ,aku ingin bukti, bukan hanya janji."kata Cassandra sambil mengusap dadanya dengan manja.

Arvino menunduk dan mencium keningnya sekejap,meski hatinya terasa kosong. “Akan kuberi bukti,Cass.Asal kamu tetap di sisiku."

Cassandra tersenyum samar, lalu menepuk dada Arvino. “Kau licik,tahu? Membuatku menangis, lalu membuatku luluh lagi."

Arvino hanya tersenyum,meski dalam hatinya dia ingin berteriak.“Licik? Tidak ,Cass.Aku hanya terjebak dalam permainan yang bahkan aku sendiri sudah muak menjalaninya."

Cassandra menatap Arvino dengan mata yang masih berkaca-kaca.senyum tipis mulai muncul di bibirnya,meski bicaranya terdengar seperti perintah.“Jika kau benar-benar mencintaiku seperti yang kau katakan,aku ingin bukti,bukan hanya kata-kata manis."

Arvino terdiam sejenak,dia tahu Casandra menginginkan lebih sekedar janji. “Bukti Apa yang kamu maksud? hadiahkah,Cass? Atau liburan khusus hanya untuk kita berdua?"tanyanya untuk memastikan.

“Liburan terdengar menyenangkan.aku ingin kita pergi keluar negeri setelah pertunangan.Mungkin Paris,kota cinta,kau bisa menemani ku belanja, jalan jalan dan aku tidak mau ada siapapun yang menganggu."ucap Cassandra tersenyum miring.

“Baiklah.setelah pertunangan,kita akan pergi ke Paris, hanya kita berdua, aku berjanji."balas Arvino menahan rasa pahit di dalam hati.

Cassandra mengedipkan mata dengan manja, lalu melingkarkan tangannya di lengan Arvino. “Dan aku juga ingin cincin yang berbeda dari cincin pertunangan.sesuatu yang benar benar istimewa, yang membedakan aku dari semua wanita dalam hidupmu."

Arvino lagi lagi menelan ludahnya.Cincin? Dia bahkan tidak tahu bahwa aku masih menyimpan cincin pernikahanku dengan Kayla ... Namun senyumnya tetap terpancar.

“Aku akan mencarikan cincin terindah untukmu.cincin yang hanya cocok untukmu,Cass."

Cassandra menghela napas lega,lalu berprilaku manja seperti anak kecil. “Jika kau berani mengingkari janji ini ,Vin.aku benar benar akan pergi.aku tidak perduli dengan semua proyek atau kerja sama keluarga kita,kamu harus tahu aku tidak bisa terus menerus di permainkan."

“Aku tidak akan bermain main denganmu,aku tahu betapa berharganya dirimu,Cass.kau akan mendapatkan semua yang kamu inginkan, asalkan kau tetap bersamaku,"kata Arvino sambil menatapnya dalam dalam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
coba..apa yg bs diharapkan dr lelaki plin plan kaya kamu arvino...demi bisnis aja bs buang harga diri...bahkan buang istri....ya bnr aja Kayla pergi..
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
keputusan kamu udah tepat banget kay meninggalkan suami model kayak arvino,
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
gasssss lanjutkan vinnn gpp lanjutkan.... toh Kayla udah bisa berdiri sendiri tanpa kamu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 140. Penghalang.

    Zahra menghela napas perlahan. “Aku mencintaimu, Kayden.” Kata-kata itu membuat jantung Kayden berdegup lebih cepat. “Tapi aku juga mencintai ayahku,” Zahra melanjutkan. “Dia satu-satunya orang tua yang aku miliki. Aku tidak bisa mengambil keputusan besar ini tanpa berdiskusi dengannya. Ini bukan hanya soal izin … tetapi juga tentang restu dan berkah.” Arvino tersenyum bangga. “Kami menghargai itu.” Kayla menggenggam tangan Zahra dengan lembut. “Kami ingin datang dengan cara yang terhormat. Bukan secara sembunyi-sembunyi.” Kiara mengangguk. “Iya, jika nanti Ayah Zahra ingin mempertimbangkan, kita akan menghormatinya. Tapi setidaknya niat kita sudah jelas.” Kayden menunduk sejenak, lalu kembali menatap Zahra. “Aku akan mengikuti keputusanmu. Jika kamu ingin berbicara terlebih dahulu dengan ayahmu, aku akan menunggu.” Zahra menggeleng pelan. “Tidak.” Semua menoleh. “Jika niatnya baik … datanglah dengan keluarga. Itu lebih sopan.” Wajah Kayden perlahan menjadi cerah. “Jadi kamu t

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 139. Rencana melamar.

    Suasana di ruang keluarga yang awalnya tegang berubah menjadi hening setelah pernyataan Kiara. “Kenapa kalian tidak langsung menikah saja, supaya lebih aman?” Kiara melanjutkan dengan santai, dan semua mata tertuju padanya. “Kiara, kamu ini ngomong apa sih?” Kayden mengerutkan kening, tetapi tatapannya tetap tertuju pada adiknya. Kiara mengangkat bahu dengan santai. “Aku cuma bilang yang logis. Daripada terus-menerus difitnah oleh orang yang tidak jelas, kenapa tidak sekalian diresmikan? Biar tidak ada lagi yang berani macam-macam.” Zahra terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat. Kayla menatap Kiara, lalu beralih ke Arvino. Keduanya saling bertukar pandang seolah sedang membaca pikiran masing-masing. “Mama justru setuju,” kata Kayla dengan tenang namun tegas. “Tante …” Zahra spontan menoleh, terkejut. Arvino mengangguk pelan. “Ide Kiara memang terdengar mendadak. Tapi jika dipikir-pikir, itu adalah solusi yang paling jelas.” “Pa …” Kayden melangkah mendekat, wajahnya serius.

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 138. Dukungan orang tua.

    Zahra yang terkejut akhirnya mengangguk dengan pasrah. “I–iya baik ... Ma,” kata Zahra dengan canggung. Setelah itu, mereka duduk. Suasana terasa hening selama beberapa saat. Arvino bersandar. “Sekarang jelaskan. Ada apa?” “Apa benar Ayah dan Mama sedang membicarakan pertunangan saya dengan Adeline?” tanya Kayden dengan tegas. Kayla dan Arvino saling memandang. “Apa?” Kayla mengernyitkan dahi. Arvino menghela napas pendek. “Dari mana kamu mendengar itu?” “Adeline sendiri yang bilang,” jawab Kayden dengan dingin. “Dia bilang orang tua kami sudah sepakat.” Kayla memandang Zahra dengan lembut. “Dan kamu percaya?” Zahra buru-buru menggeleng. “Saya … saya hanya bingung. Di kantor semua orang menuduh saya sebagai pelakor.” Arvino langsung duduk tegak. “Pelakor?” Kayden mengepalkan tangan. “Adeline mengaku tunangan saya di depan semua orang.” Kayla terlihat terkejut. “Dia berani mengatakan itu?” “Dan karyawan hampir mempercayainya,” Zahra menunduk, suaranya bergetar

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 137. Kepastian.

    Adeline tidak langsung menjawab. Ia berjalan mondar-mandir, pikirannya yang berubah cepat. “Kalau reputasinya hancur …,” gumamnya pelan. “Adeline!” Reyhan membentak. “Jangan berpikir sejauh itu.” Ia berhenti dan menatap kedua orang tuanya. “Kenapa kalian begitu takut? Bukankah kalian juga ingin aku bahagia?” “Kami ingin kamu bahagia tanpa menyakiti orang lain,” jawab Rani lirih. “Aku sudah tersakiti lebih dulu!” balas Adeline. “Di depan semua orang! Harga diriku diinjak!” “Karena kamu yang memulai,” ujar Reyhan tegas. Adeline terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Baiklah. Kalau bicara tidak cukup … aku akan buat keadaan memaksanya.” Rani terkejut. “Apa maksudmu?” Adeline meraih ponselnya. “Orang tua mereka mungkin menolak sekarang. Tapi bagaimana jika situasinya berubah?” “Situasi apa?” tanya Reyhan dengan waspada. Adeline menatap layar ponselnya, lalu tersenyum tipis. “Kalau nama baik keluarga mereka dipertaruhkan.” “Adeline, jangan!” Rani mulai panik. “Itu

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 136. Tidak Mau Kalah.

    Mobil Adeline berhenti dengan mendadak di halaman rumahnya. Ia keluar tanpa menunggu pintu dibuka. Wajahnya tegang, langkahnya cepat, dipenuhi amarah yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. Pintu rumah dibuka dengan keras. “Ma! Pa!” suaranya menggema. Rani yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. Reyhan menoleh dari kursinya, wajahnya sudah bisa menebak badai yang akan datang. “Adeline … kamu sudah pulang?” suara Rani terdengar hati-hati. “Sudah pulang?” ulang Adeline dengan nada sinis. “Itu yang Mama tanyakan? Bukan kenapa Om Arvino menolak?” Reyhan menghela napas. “Kami sudah menjelaskan ...” “Menjelaskan apa?!” potong Adeline dengan keras. “Kenapa bisa ditolak? Apa yang Papa dan Mama katakan sampai mereka menolak aku?” Rani mendekat perlahan. “Kami tidak bisa memaksa, Nak.” “Tidak bisa atau tidak mampu?” serang Adeline dengan tajam. Reyhan berdiri. “Jaga ucapanmu.” Adeline tertawa kecil, pahit. “Aku sudah menjaga semuanya selama ini. Harga diri, perasaan

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 135. Yakin.

    Zahra berhenti di ujung koridor, napasnya terengah-engah. Tangannya bergetar saat ia menghapus air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dadanya terasa sesak, seolah semua tatapan dan kata-kata di kantin tadi masih membayangi dirinya. “Zahra!” Suara itu membuatnya terhenti. Ia menoleh perlahan. Kayden berdiri beberapa meter di belakangnya, wajahnya tegang, napasnya juga berat. Tanpa ragu, Kayden mendekat. “Tunggu ... Jangan pergi,” ucapnya cepat. “Dengarkan aku.” Zahra menggeleng perlahan. “Kayden ...” Zahra menunduk, tangannya mengepal di samping tubuhnya. Suaranya bergetar saat ia akhirnya berbicara. “Apa lagi yang harus saya dengar, Pak?” ucapnya pelan namun tajam. “Di depan semua orang ... dia bilang dia tunangan kamu. Dan kamu hanya diam sejenak sebelum membantahnya.” Kayden menggeleng keras. “Aku diam karena terkejut. Bukan karena itu benar.” “Terkejut?” Zahra tertawa kecil, getir. “Kalau itu tidak benar, kenapa dia berani mengatakannya? Kenapa dia yakin orang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status