/ Romansa / Perginya istri Rahasia Ceo / Bab 94. Perhatian Kayden.

공유

Bab 94. Perhatian Kayden.

작가: V3yach
last update 게시일: 2025-12-26 14:41:26

Kantin perlahan-lahan kembali ramai setelah Kayden membawa Zahra pergi. Namun, tidak semua orang melanjutkan aktivitas mereka dengan perasaan yang sama.

Maya berdiri kaku di tempatnya, jemarinya mengepal kuat. Tatapannya mengikuti punggung Zahra yang menjauh bersama Kayden hingga menghilang di balik pintu.

“Sial …” gumamnya pelan, hampir seperti desisan.

Dia menoleh ke sekeliling. Beberapa karyawan masih meliriknya dengan tatapan campur aduk, penasaran, heran, dan sebagian ada yang menyindir
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
kasihan Zahra
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 154. Adeline Dan Rencana liciknya.

    Sekali lagi Reyhan menatap Arvino dengan rasa tidak percaya. “Apakah ini benar?” tanya Reyhan. “Benar,” jawab Arvino. Kayla menambahkan, “Kami sudah lama mempelajari Islam, bahkan sebelum hubungan Kayden dan Zahra berkembang sejauh ini.” Rani memandang mereka dengan mata yang sedikit berkaca. “Kenapa kalian tidak pernah memberitahu kami?” Arvino tersenyum kecil. “Karena saat itu kami sendiri belum yakin.” “Dan semalam kalian tiba-tiba melakukannya.” “Iya.” Reyhan mengusap wajahnya dengan tangan. “Sejujurnya, aku merasa tersinggung dan sedikit kecewa.” “Maafkan kami,” ucap Arvino tanpa membantah. Reyhan menatapnya. “Aku hanya tidak suka merasa tidak dipercaya oleh sahabatku sendiri.” “Bukan tidak percaya. Kami hanya takut situasinya menjadi lebih rumit,” ujar Kayla dengan lembut. “Situasi yang kalian maksud … Adeline,” Rani akhirnya berbicara dengan suara pelan. Kayla mengangguk, sementara Rani menutup mata sejenak, merasakan ketidakpercayaan yang mendalam. “Sejujurnya

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 153. Ketegangan di pagi hari.

    Keesokan paginya di rumah Arvino terasa tenang setelah malam yang penuh emosi. Arvino duduk di ruang keluarga sambil membaca di tablet, sementara Kayla di dekatnya sedang menyiapkan teh. Kiara bersandar di sofa sambil bermain ponsel, dan Kayden baru saja turun dari tangga. Belum sempat mereka memulai aktivitas pagi, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Kayla menoleh ke jendela. “Siapa ya yang datang pagi-pagi begini?” Kiara mendekat dan mengintip keluar. “Sepertinya … Om Reyhan.” Arvino langsung mengangkat kepalanya. “Reyhan?” Beberapa detik kemudian, bel rumah berbunyi. Kayla saling memandang dengan Arvino. “Mereka datang sangat pagi.” Arvino berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat pintu dibuka, benar saja Reyhan dan Rani berdiri di sana dengan ekspresi serius. “Reyhan … Rani,” sapa Arvino pelan. “Boleh kami masuk?” tanya Reyhan tanpa basa-basi. “Tentu,” jawab Arvino sambil mempersilakan mereka masuk. Mereka melangkah ke ruang keluarga, dan suasana terasa agak c

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 152. Keteguhan hati.

    Arvino menoleh kepada Kayden yang masih berdiri dekat Zahra. “Kayden,” panggilnya. “Iya, Pa?” “Kami pulang dulu. Kamu mau ikut sekarang atau nanti?” Kayden melirik sebentar ke arah Zahra sebelum kembali menatap ayahnya. “Aku menyusul nanti saja, Pa.” Kiara langsung berseru dari dalam mobil, “Tuh kan! Aku sudah tahu!” “Kiara,” tegur Kayla, tetapi gadis itu malah tertawa. Arvino hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. “Jangan terlalu lama.” “Iya, Pa.” Kayla memandang Zahra dengan penuh kasih sayang. “Jaga diri baik-baik ya, Nak.” Zahra menunduk hormat. “Iya, Tante.” Kiara melambaikan tangan lagi. “Selamat malam, Kak Zahra!” “Selamat malam.” Mobil keluarga Arvino akhirnya perlahan meninggalkan halaman rumah Pak Hendra. Kini hanya tersisa Zahra, Kayden, dan Pak Hendra. Beberapa detik suasana terasa canggung. “Sudah malam,” tegur Pak Hendra sambil berdehem pelan. Kayden langsung menatapnya dengan sopan. “Iya, Pak.” Pak Hendra memandang mereka berdua sebelum berkata, “Za

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 151. Ancaman

    Adeline yang penuh rasa ingin tahu terus mengamati ekspresi wajah kedua orang tuanya dengan curiga, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan, karena dia adalah orang yang keras kepala dan tidak akan menyerah. “Kalian berbicara seolah semuanya sudah selesai,” ujarnya dengan penasaran. “Memang sudah,” jawab Reyhan dengan tatapan tajam. “Belum,” kata Adeline sambil melangkah lebih dekat. “Adeline …” “Aku tahu Kayden masih bisa berubah.” Rani menggelengkan kepala. “Kamu terlalu memaksakan diri.” Adeline menatap ponsel di tangan ibunya. “Sekali lagi aku tanya, apa yang ada di sana?” “Tidak ada.” “Berikan padaku.” “Tidak.” Adeline tiba-tiba meraih ponsel itu. “Adeline!” seru Rani. Namun gadis itu lebih cepat, dia melihat layar yang masih menampilkan story Kayla, dan dalam beberapa detik wajahnya membeku. “Apa ini?” Namun baik Rani maupun Reyhan tidak memberikan jawaban. Lalu Adeline memperbesar gambar itu. “Ini kan di rumah perempuan itu, dan kenapa mereka memaka

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 130. Kecurigaan Adeline.

    Rani masih memegang ponselnya dengan ekspresi wajah yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan. Reyhan duduk di sampingnya, menatap layar yang sama dengan tatapan yang lebih dalam, seolah berusaha memahami sesuatu yang selama ini dianggapnya hanya lelucon. “Papa ... jadi ini benar-benar mereka?” tanya Rani dengan suara pelan. Reyhan mengangguk kecil. “Iya. Itu Kayla. Dan di sampingnya Kiara.” Rani menelan ludah. “Pantas mereka pakai kerudung ...” “Itu bukan sekadar kerudung,” jawab Reyhan pelan. “Lihat di belakangnya. Itu Kiai Ahmad.” Rani langsung memperhatikan layar ponselnya dengan lebih seksama. “Ya Tuhan benar. Ada beberapa tokoh agama juga.” Rani menarik napas dalam-dalam. “Papa jangan bilang ini ...” Reyhan bersandar di sofa. “Sepertinya mereka benar-benar melakukannya.” “Melakukan apa?” “Menjadi mualaf.” Rani menatap suaminya dengan tidak percaya. “Serius?” Reyhan mengangguk pelan. “Dulu Arvino pernah bilang hal ini.” Rani mengerutkan kening. “Kapan?” “Beberapa

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 149. Terkejut.

    Sekali lagi, ruangan itu seketika menjadi sunyi, tetapi tidak berlangsung lama. Arvino menjawab, “Jangan khawatir, dia juga belajar. Namun, kami ingin proses ini menjadi pilihan pribadinya. Kami tidak memaksanya.” “Jadi kalian semua benar-benar ingin menjadi mualaf?” suara Pak Hendra mulai melunak. “Iya,” jawab Kayla tegas. “Bukan hanya untuk Zahra, tetapi juga untuk diri kami sendiri.” Pak Hendra terdiam cukup lama. “Saya khawatir kalian akan menyesal,” katanya pelan. Arvino menggeleng. “Kami sudah mempertimbangkan ini dengan matang.” Kiai Ahmad menambahkan, “Masuk Islam harus dengan kesadaran penuh. Dan saya menyaksikan sendiri proses mereka.” Pak Hendra menundukkan kepala, merenung. “Kalau begitu … saya tidak berhak menghalangi niat baik.” Dia mengangkat wajahnya lagi. “Tapi saya ingin satu hal jelas. Jangan pernah menyalahkan Zahra jika suatu saat ada cobaan.” “Tidak akan,” jawab Kayla cepat. “Ini keputusan kami.” Arvino mengangguk. “Kami bertanggung jawab se

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 123. Perasaan yang sama.

    Kayden masih menggenggam tangan Zahra. Hangat dan tegas, seolah ingin memastikan Zahra tidak menarik diri lagi. Ia sedikit mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan, bukan untuk memaksa, tetapi dengan sungguh-sungguh. “Zahra… tolong pikirkan itu,” ucapnya perlahan. “Jangan lihat Adeline. Jangan lih

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 122. Perasaan Kayden.

    Zahra menunduk lagi, jemarinya saling menekan hingga tampak pucat. “Meskipun begitu ... Bapak tidak seharusnya melindungi saya seperti itu. Saya tidak ingin menjadi penyebab masalah dalam hidup Bapak.” Kayden menghela napas panjang, kali ini lebih dalam. Mobil melaju lebih pelan, seolah ia membut

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 121. Ketakutan Zahra.

    Seketika suasana di ruangan itu menjadi gaduh, banyak di antara mereka yang menyayangkan sikap Adeline yang terlalu sombong, tetapi tidak sedikit juga yang mencemooh Zahra karena berani melawan Adeline. "Fitnah?" Adeline tertawa terbahak-bahak. "Kenapa Kayden melindungimu jika bukan karena kamu me

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 120. Tuduhan.

    Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah yang memiliki pencahayaan redup dan elegan. Begitu keluar, Zahra secara refleks merapikan pakaiannya dan mencoba menenangkan napasnya. Kayden berjalan di sampingnya dengan langkah yang percaya diri, seolah-olah tempat ini sudah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status