Share

Bab 98

Penulis: Wardana
last update Tanggal publikasi: 2026-03-01 10:00:07

"Ada apa di depan sana?"

Melly memandang ke arah depan di mana antrean mobil mengular panjang. Dia mencoba mengangkat kepalanya, berusaha melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Lucas, coba kamu turun dan lihat ada apa di depan sana," ujar Rainy santai sambil memerintah Lucas.

"Eh... Kenapa nggak kamu aja? Kalau aku turun, kamu juga mesti turun duluan buat aku keluar," Lucas menjawab dengan senyum kecil di wajahnya.

Rainy baru sadar kalau kursi belakang mobil tidak punya pintu s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 135

    Apakah karena dia dimarahi sekali, dia langsung berubah? Berhenti mencoba mendekati aku lagi?Tapi, rasanya tidak mungkin, deh. Yang jadi pertanyaan utama adalah, kenapa Lucas bisa ada di bus? Bukannya dia biasanya dijemput pakai mobil?"Kamu... kamu sengaja naik bus yang sama sama aku, ya?"Tania akhirnya mengutarakan kecurigaannya."Sengaja?"Lucas tersenyum sambil mengusaphidungnya, "Aku naik duluan, bagaimana aku bisa tahu kamu bakal naik dari daerah perkampungan? Apa aku bisa meramal masa depan?"Eh, tapi ngomong-ngomong, Lucas malah refleks menyentuh liontin di dadanya. Sebenarnya aku bisa saja meramal, sih...Cuma ya ramalannya tidak jelas, aku jugatidak ngerti artinya apa. Sinyalnya tidak bisa aku baca, tidak tahu deh apa maksud si liontin ini.Mendengar jawaban Lucas, Tania agakbengong.Iya juga, kan aku naik setelah dia. bagaimana caranya dia bisa tahu aku bakal naik?Kalaupun dia tahu aku biasa naik bus nomor 87,

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 136

    "Masih belum pergi? Berdiri di sini mau nunggu aku traktir teh, ya?"Pak Wadi langsung menepuk David. Dia adalah Wakil kepala di sekolah swasta, jadi tidak banyak yang dia takutin.Lagipula, SMA Pertama punya koneksi kuatdi tingkat provinsi, langsung di bawahpengawasan provinsi, jadi dinas pendidikan daerah aja tidak bisa ngapa-ngapain..."I-iya, iya!"David buru-buru kabur. Pak Wadi ini jelas bukan orang yang bisa dia cari masalah.Setelah David pergi, Tania masih berdiri ditempat, bingung apakah harus ikut pergi atau tetap di sana. Tapi karena Pak Wadi belum nyuruhdia pergi, dia juga tidak berani jalan, jadi cumaberdiri canggung di situ."Hehe, kamu Tania, ya?"Wajah Pak Wadi yang tadi serius dan suramtiba-tiba berubah jadi penuh senyum. "Tidak adayang bikin kamu tidak nyaman, kan?""Tidak, terima kasih, Pak Wadi."Tania menggeleng pelan."Bagus kalau tidak ada. Kalau si David itugangguin kamu lagi, la

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 137

    Lucas melihat Tania yang sudah berada jauh, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Roy."Oi, Pak Tua Roy, lagi di mana kamu?"Telepon langsung diangkat, dan Lucas langsung bertanya."Aku lagi di gang Kaisar, belakang SMA Pertama... Tapi tunggu, Lucas, kamu barusan manggil aku apa? 'Pak Tua Roy'? Kok aku dengarnya aneh ya?"Roy protes, "Mending kamu panggil aku 'Roy' atau 'Hunter Dog, jangan 'Pak Tua Roy'. Emangnya aku setua itu?""Oke, kalau gitu aku panggil kamu 'Kak Roy'. Di luar, aku lebih muda dari kamu, nggak enak manggil 'Roy'."Lucas menjelaskan, "Aku sudah sampai nih, lagi di halte depan gerbang utama SMA Pertama.""Oke, aku ke sana sekarang."Roy langsung setuju.Tidak lama, sebuah mobil polisi berhenti didepan Lucas. Roy menjulurkan kepalanya darijendela mobil. "Lucas, naik!"Lucas mengangguk dan duduk di kursipenumpang depan. Roy mulai menjalankan mobil pelan-pelan. "Eh, obat yang kamu kasih ke aku ituternyata

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 133

    Selasa pagi, Lucas karena ada janji dengan Roy, merasa kurang pas kalau naik mobil Paman Pelix.Untuk sementara, Lucas tidak mau Roy tahu soal urusannya sekarang. Gimana tidak malu, mereka yang selalu menganggap "Eagle" itu seperti dewa, ternyata sekarang malah ikut main rumah-rumahan sama anak orang kaya di sini. Rasanya cukup bikin gengsi jatuh.Lucas makin yakin kalau dia kena tipu sama si kakek di rumah. Tugas ini beneran bisa bikin hidup nyaman seumur hidup?Sampai sekarang, Lucas juga belum tahu sebenarnya dia harus ngapain. Lagi pula, kemarin pagi waktu naik mobil saja sudah ketahuan sama Kevin, dan dia jadi curiga. Kalau begini terus, masalah pasti muncul.Dia sih tidak terlalu peduli, tapi masalahnya dua cewek itu bakalan punya pendapat apa, tidak bisa ditebak.Jadi, habis nyiapin sarapan buat Melly dan Rainy, Lucas cuma ninggalin secarik kertas bilang dia ada urusan dan bakal pergi duluan, tidak bakal naik mobil Paman Pelix hari ini.Keluar dari kom

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 134

    "Dasar sialan, siapa yang berani lempar aku keluar seperti ini? Mau cari mati, ya? aku hajar kamu habis-habisan!"Preman itu bangkit dari lantai halte, sambil mengusap pantatnya yang terasa sakit akibat jatuh. Dia langsung melontarkan sumpah serapah ke arah bus yang sudah pergi menjauh.Langsung saja, omelannya bikin orang-orang di halte, dari yang muda sampai yang tua, ketawa ngakak."Ketawa apaan, ha? Pada mau cari masalah, ya?"Preman itu jadi malu sendiri, sambil melotot ke arah orang-orang di halte, lalu pergi dengan langkah serba salah.Di dalam bus, Tania cuma diam dan tidak peduliin Lucas. Dia menunduk tanpa berkata apa-apa, tidak jelas lagi mikirin apa.Lucas berdiri di sebelahnya, sambil menghirup aroma wangi khas cewek yang datang dari Tania. Otaknya mulai melayang-layang ke hal-hal yang tidak benar.Harus diakui, Tania emang luar biasa. Tingginya hampir 170 cm, lebih tinggi dari Melly dan Rainy. Badannya juga lebih ramping dan Sindy. Kalau dib

  • Perisai Dewa Tak Tertembus   Bab 132

    Setelah jam pulang sekolah, Tania tidak berani berlama-lama di sekolah dan langsung berlari keluar."Mama!"Tania menepuk-nepuk dadanya yang kecil sambil melihat ke belakang dengan cemas. Untungnya, orang jahat itu tidak mengejarnya. Kalau sampai dia mengikuti, Tania benar-benar tidak tahu harus berbuat apa."Tania, sudah pulang sekolah?"Ibunya Tania sedang menyalakan arang di panggangan. Setiap jam segini, biasanya anak-anak kelas tiga SMA sudah pulang, dan saat seperti ini selalu ada cukup banyak pembeli."Cepat taruh tasmu, bantuin mama."Karena jam pulang kelas tiga SMA lebih sore, mereka sering melewati jam makan malam. Jadi, banyak murid yang akan membeli makanan di sekitar sekolah buat ganjal perut sebelum makan di rumah."Iya, Ma. Tapi kok Mama kelihatan senang banget hari ini? Lagi ramai ya jualannya?"Tania merasa heran melihat ibunya tampak sangat ceria."Hehe, Lucas bilang dia punya resep bumbu sate bakar ala Orleans. Besok dia mau ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status