MasukAda satu hukum tidak tertulis yang baru Kesya sadari setelah tinggal seminggu di desa ini. Ibu-ibu di sini memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa, sekaligus tingkat keberanian yang tinggi untuk menanyakan hal-hal paling pribadi tanpa filter. Bagi Kesya yang terbiasa dengan batasan privasi yang ketat di kota besar, culture shock seperti itu membuatnya terkejut.
Pagi itu, Kesya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membantu Bu Lastri membuat kue basah di dapur. Aroma pandan, santan, dan ketan kukus menguar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang hangat. Namun, keheningan itu segera pecah ketika beberapa wanita paruh baya yang merupakan tetangga dekat berdatangan dengan dalih ingin membantu, atau sekadar menumpang mengobrol. Awalnya, obrolan mengalir santai seputar harga bahan makanan yang merangkak naik menjelang musim panen, gosip tentang hasil panen yang kurang memuaskan, hingga resep jajanan pasar tradisional. Kesya hanya menyimak sesekali sambil mengaduk adonan di baskom besar. Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka, seorang ibu bertubuh gempal dengan daster bunga-bunga, tiba-tiba menoleh dan mengarahkan pandangannya ke arah Kesya. "Kesya, umurmu berapa?" tanya ibu itu dengan suara keras. Kesya menghentikan kegiatannya sejenak. Dia mengulas senyum sopan. "Dua puluh enam tahun, Bu." Perempuan itu mengangguk-angguk, wajahnya menunjukkan ekspresi menimbang. "Wah, masih muda ya." Kesya mengangguk samar, mengira bahwa pembicaraan akan selesai sampai di situ. Tapi dugaannya keliru. Kalimat pembuka itu hanyalah sebuah umpan sebelum pertanyaan inti dilemparkan. "Sudah menikah?" lanjut ibu itu. Kesya hampir saja menyemburkan tawa kecilnya jika tidak ingat sopan santun. Pertanyaan klasik yang sudah sangat bisa ditebak. "Belum, Bu," jawabnya, berharap topik ini segera berlalu. "Lho? Kok belum?" Ibu-ibu yang lain kini ikut menoleh, menatap Kesya dengan tatapan heran yang berlebihan, seolah-olah status lajang di usia 26 tahun adalah sebuah keanehan besar. Kesya hanya bisa tersenyum kaku, berusaha untuk menutupi rasa canggung yang mulai merayap. "Belum ada jalannya saja, Bu." "Masa tidak punya pacar?" desak ibu yang lain, tidak mau kalah. "Tidak ada, Bu." "Kenapa bisa begitu?" Pertanyaan beruntun itu membuat Kesya terdiam selama beberapa detik. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat karena merasa terdesak. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Masa dia harus membeberkan seluruh riwayat percintaannya yang rumit, termasuk alasan kepindahannya yang mendadak ke desa ini, pada orang-orang yang baru beberapa hari dikenalnya? "Belum ketemu yang cocok saja, Bu. Masih mau fokus dengan hal lain dulu," kilah Kesya. "Oh..." Ibu berdaster bunga-bunga itu mengangguk-angguk dengan bibir mengerucut. "Tapi ya jangan terlalu pilih-pilih, Kes. Anak Ibu dulu umur 24 sudah menikah. Sekarang anaknya sudah tiga, hidupnya ya tenang-tenang saja." Kesya menarik napas dalam-dalam. Senyumnya kini terasa semakin kaku di wajahnya. "Iya, Bu. Mohon doanya saja." "Teman-teman seangkatanmu di kota juga pasti sudah banyak yang menikah dan menimang anak, kan?" timpal yang lain, seperti sengaja menaburkan garam di atas luka yang tidak kasatmata. "Sebagian besar memang sudah, Bu." "Nah, kalau begitu, kamu sendiri kapan?" Pertanyaan pamungkas itu akhirnya meluncur bebas. Kesya mengembuskan napas berat secara perlahan. Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, bahkan mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian bagi masyarakat desa. Namun, semakin sering ditanyakan oleh orang yang berbeda, gaungnya terdengar semakin melelahkan dan menguras energi emosionalnya. "Kalau memang sudah waktunya, nanti juga akan menikah sendiri, Bu. Jodoh kan tidak akan tertukar," jawab Kesya, mencoba menutup ruang perdebatan dengan nada yang masih dijaga agar tetap sopan. Salah satu ibu paruh baya itu tertawa renyah, mengibaskan tangannya di udara. "Ah, anak muda zaman sekarang sukanya pasrah. Laki-laki itu tidak akan datang mengetuk pintu rumah kalau cuma kamu tunggu sambil melamun, Kes!" Kesya membuka mulutnya, bersiap untuk memberikan argumen balasan agar interogasi ini segera berakhir. Tapi sebelum satu kata pun sempat terucap dari bibirnya, sebuah suara bariton yang sangat familier tiba-tiba terdengar memotong dari arah ambang pintu dapur. "Kalau begitu, cari saja di pasar, Bu. Siapa tahu di sana ada yang jual jodoh kiloan." Seketika itu juga, semua orang di dalam dapur menoleh ke sumber suara. Damar berdiri kokoh di sana. Pria itu mengenakan kaus oblong hitamnya yang santai, memegang sebuah gelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Kesya langsung melotot tajam, menatap Damar dengan pandangan membunuh. "Nggak ada yang minta pendapatmu ya!" Damar berjalan dengan santai tanpa merasa bersalah sedikit pun, lalu menarik sebuah kursi kayu kosong di dekat meja dapur dan mendudukinya. "Aku kan cuma membantu memberikan solusi, jangan galak-galak gitu dong." "Bantuanmu sama sekali nggak diperlukan," sahut Kesya dengan nada ketus. Melihat interaksi tersebut, salah seorang ibu justru tertawa geli, mengalihkan target serangan mereka dengan cepat. "Damar, Damar... kamu sendiri bagaimana? Kapan mau menyusul? Jangan cuma bisa menggoda anak orang saja!" Damar yang baru saja hendak menyesap kopi hitamnya, langsung menghentikan gerakannya di udara. Matanya berkedip sekali, tampak terkejut dengan serangan balik yang mendadak dari para tetangganya sendiri. Melihat perubahan ekspresi pria itu, giliran Kesya yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Nah, rasakan itu! Sekarang giliran Damar yang berada di kursi panas. "Betul itu, Mar," timpal Bu Lastri dari dekat kompor, ikut memanaskan suasana. "Umurmu kan sudah jalan 29 tahun. Sudah matang sekali untuk ukuran laki-laki di desa ini." Damar menghela napas panjang, meletakkan gelas kopinya kembali ke atas meja. "Kenapa arah pembicaraannya malah berbelok ke saya begini?" "Ya tentu saja, karena kamu juga belum menikah sampai sekarang!" sahut ibu berdaster bunga-bunga dengan penuh semangat. "Saya belum menikah, karena memang belum ketemu perempuan yang cocok dan tahan dengan kelakuan saya," jawab Damar santai, mencoba membela diri dengan alasan klasik. Mendengar itu, Kesya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyindir balik. Dengan nada suara yang meniru ucapan ibu-ibu tadi, dia menyahut spontan, "Makanya, Mas... jangan terlalu pilih-pilih!" Damar langsung menoleh, menatap Kesya dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Tatapan matanya yang tajam beradu dengan tatapan menantang dari Kesya. Sementara itu, ruangan dapur seketika dipenuhi oleh gelak tawa para ibu yang merasa terhibur dengan aksi saling balas tersebut. "Wah, lihat itu! Kesya langsung membalas telak!" seru salah seorang ibu sambil menepuk pundak temannya geli. Damar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap Kesya dengan senyuman tipis yang sulit diartikan. "Kalau aku asal pilih dan langsung menikah sekarang, jangan salahkan aku kalau nanti perempuan itu malah kabur di hari pertama karena nggak tahan." Kesya mencibir pelan, memutar bola matanya. "Memangnya ada cewek yang mau menikah sama cowok menyebalkan kayak kamu?" "Nggak tahu ya," jawab Damar, tatapan matanya mengunci mata Kesya dengan intensitas yang tiba-tiba berubah menjadi lebih dalam. "Tapi sepertinya... ada satu yang mulai betah di sini." Kalimat ambigu yang meluncur dari bibir Damar seketika membuat lidah Kesya mendadak kelu. Dia terpaku di tempatnya, menatap Damar dengan tatapan tidak percaya. Sementara itu, suasana dapur langsung heboh. Para ibu kembali riuh, saling menyenggol lengan satu sama lain dengan wajah penuh arti. "Waduh, cocok itu!" "Damar sama Kesya! Yang satu kota, yang satu desa!" "Jangan-jangan kalian berdua ini memang sudah digariskan berjodoh!" Mendengar godaan yang semakin liar, Kesya merasakan sensasi panas menjalar dengan cepat dari leher hingga ke kedua pipinya. Wajahnya dipastikan sudah memerah sempurna sekarang. "Ibu-ibu, tolong jangan asal menjodohkan begitu!" sergahnya panik, berusaha untuk meredam situasi yang semakin tidak terkendali. Berbeda dengan Kesya yang tampak kelabakan, Damar justru terlihat sangat tenang. Pria itu kembali mengangkat gelas kopinya dengan gerakan santai yang menjengkelkan. "Kenapa kamu jadi panik begitu, Kes?" "Aku nggak panik!" bantah Kesya dengan nada suara yang meninggi. "Tapi wajahmu merah sekali." "Ini karena hawa di dapur sangat panas! Ibu tidak lihat dari tadi saya berdiri dekat kompor?" kilah Kesya, mencari alasan yang paling masuk akal meski terdengar dipaksakan. Damar dengan sengaja melirik ke arah jendela dapur yang terbuka lebar, memperlihatkan dedaunan pohon mangga yang bergoyang di luar. "Hawa panas? Padahal di luar anginnya kenceng banget, lho." Kesya menggeram rendah, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Pria ini benar-benar tahu bagaimana cara menekan tombol emosinya hingga ke titik tertinggi. Sementara para ibu masih melanjutkan tawa dan godaan mereka, Damar diam-diam memanfaatkan momen itu untuk memperhatikan raut wajah Kesya yang sedang kesal. Damar memang sangat suka menggoda gadis kota itu hingga marah. Karena baginya, reaksi Kesya selalu jujur dan menghibur. Namun, untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, Damar menyadari sesuatu yang berbeda. Kesya bukanlah tipe perempuan kota yang rapuh dan mudah ciut atau terbawa oleh perkataan orang lain. Gadis itu memiliki benteng pertahanan dan ketegasan yang menarik. Dan entah karena alasan apa... di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Damar mendapati dirinya mulai menyukai sifat keras kepala dan mandiri yang dimiliki oleh Kesya. Desa yang biasanya terasa monoton ini, perlahan-lahan mulai terasa jauh lebih hidup sejak kedatangan gadis itu.Kesya menatap layar ponselnya yang meredup dengan tatapan sedingin es. Tidak ada air mata. Rasa sakit hati yang biasanya dialami oleh korban pengkhianatan, sama sekali tidak singgah di dadanya. Justru, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya.Sejak kecil, Kesya sudah kenyang menghadapi tabiat Diana. Kakak perempuannya itu selalu bertingkah seperti anak emas di depan Bu Sekar. Diana adalah definisi kesempurnaan di mata sang ibu—lulusan luar negeri, anggun, dan mahir bersosialisasi dengan kalangan jetset. Kesya sudah sangat terbiasa menerima ucapan pedas, tatapan merendahkan, hingga sindiran halus dari Diana yang menyebutnya tidak kompeten dan tidak pantas meneruskan bisnis keluarga mereka.Sekarang, teka-teki itu terjawab. Di balik topeng elegan dan kesucian yang selalu diagung-agungkan oleh Bu Sekar, Diana ternyata hanyalah seorang wanita murahan yang menjadi selingkuhan calon adik iparnya sendiri. Rasa jijik Kesya kepada Raka kini mencapai puncaknya. Pria itu benar-benar mons
Gemercik air sungai yang jernih berbenturan dengan bebatuan, menciptakan melodi alam yang menenangkan. Kesya melangkah perlahan di atas rerumputan basah, lalu mendudukkan diri di samping Rani yang masih menatap kosong ke arah aliran air. Kehadiran Kesya membuat Rani menoleh sekilas, menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan ujung pakaian yang ia kenakan."Mbak Rani," sapa Kesya dengan lembut.Rani tersenyum tipis. Sebuah senyuman sarat akan kelelahan, namun memancarkan kelegaan luar biasa setelah lepas dari jerat keluarga Bu Ndari. "Eh, Kesya. Nyari angin segar juga?"Kesya mengangguk, lalu memeluk lututnya sendiri. "Iya, Mbak. Di dalam rumah rasanya sumpek banget. Ibu besok... ah bukan, hari ini maksudnya, mau datang menjemputku paksa pulang ke Jakarta. Aku bingung, Mbak. Di satu sisi aku nggak mau balik ke cengkeraman Raka, tapi di sisi lain, aku merasa bersalah sama orang tua."Rani mengembuskan napas panjang. Dia menatap Kesya dengan pandangan teduh yang sarat akan pengalaman
Matahari baru saja naik sepenggalah, membasuh Desa Karangmojo dengan hawa sejuk yang perlahan mengusir embun pagi. Namun, bagi Kesya, atmosfer di dalam rumah kayu milik Pak Hadi terasa menghimpit. Sejak subuh, jantungnya terus berdegup kencang. Dia sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, menunggu ketukan pintu yang akan menandai akhir dari pelariannya. Bu Sekar, ibunya, berjanji akan tiba pagi-pagi sekali dengan sopir pribadi untuk menyeretnya kembali ke gemerlap Jakarta.Namun, hingga jarum jam dinding berkarat di ruang tamu menunjuk angka sembilan, tanda-tanda kedatangan mobil mewah ibunya belum juga kelihatan. Kesya mengembuskan napas berat, menatap ponselnya yang bisu. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor ibunya tiga puluh menit yang lalu, berisi makian singkat karena sang sopir tersesat di persimpangan jalur lintas luar kota. Bu Sekar rupanya lupa total jalan menuju ke rumah Pak Hadi, karena belasan tahun wanita sosialita itu enggan menginjakkan kaki di rumah saudara jauh yan
Keheningan rumah kayu milik Pak Hadi sore itu, terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk yang baru saja terjadi di pelataran warung. Kesya duduk sendirian di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Tatapannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.Di sini, di rumah Pak Hadi, Kesya akhirnya bisa menarik napas tanpa perlu berpura-pura kuat. Dia sengaja menolak halus saat Bu Lastri mengajaknya singgah ke rumah keluarga Wiryo tadi. Kesya butuh jarak. Dia tidak ingin terus-menerus bertumpu pada pundak Damar, seolah-olah dia adalah gadis kota ringkih yang tidak punya arah.Pikiran Kesya mulai mengurai benang kusut yang membawanya terdampar di desa ini. Alasan utamanya melarikan diri bukanlah sekadar lelah dengan kebisingan Jakarta, melainkan untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri. Dia melarikan diri dari cengkeraman Raka yang hampir menghancurkan harga dirinya sebagai manusia.Lalu, ada Damar.Pria desa yang di awal pertemuannya begit
Deru mesin motor gede 250cc milik Damar membelah keheningan sore Desa Karangmojo. Suaranya yang menggelegar membuat ibu-ibu yang tadinya menahan napas, langsung menoleh serentak. Motor hitam legam itu berhenti dengan decitan ban yang tajam, tepat beberapa meter di belakang mobil Bu Lurah.Damar turun. Jaket jins pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Wajahnya mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke satu titik: Tyas yang sedang bergelayut manja di lengan Dani."Mas Dani! Lihat tuh, ibunya Mas Damar sama perempuan kota itu tiba-tiba nyerang aku! Aku difitnah, Mas!" pekik Tyas dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, sok ringkih. Dia mempererat pelukannya pada lengan Dani, dadanya dibusungkan dengan percaya diri.Dalam otak dangkal Tyas, kedatangan Damar dan posisi Dani di sampingnya adalah sebuah trofi. [Lihat, kan? Dua cowok paling hits di wilayah ini sekarang lagi berdiri demi aku] pikirnya jemawa. Tyas melirik Kesya, mele
Kesya berdiri dengan dagu terangkat, menatap tajam ke arah kerumunan ibu-ibu yang kini mendadak ciut. Aura mandiri dan tegas memancar kuat dari tubuh mungilnya, mengunci perhatian semua orang di pelataran warung sayur tersebut."Kalau kalian mau memfitnah saya, silakan. Saya bisa terima dan saya punya seribu satu cara buat membersihkan nama saya sendiri," ujar Kesya. Suaranya lantang tanpa ragu, memecah keheningan yang mencekam. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Bu Lastri sebelum kembali menatap beringas ke arah Bu RT dan Bu Ndari. "Tapi kalau kalian semua sudah berani bawa-bawa Bu Lastri, menghina beliau di depan umum, saya nggak akan pernah tinggal diam!"Kesya maju satu langkah, menatap lurus ke arah Bu RT dengan pandangan yang sangat menantang, menampilkan ciri khas generasi muda yang tidak lagi bisa dibungkam oleh senioritas palsu kaum kolot yang tidak sopan."Selama saya tinggal di desa ini, Bu Lastri yang memperlakukan saya dengan tulus seperti anak kandungnya sendir







