LOGINSudah hampir seminggu Kesya tinggal di desa ini. Awalnya, dia mengira bahwa hari-harinya akan membosankan dan monoton. Bayangan tentang desa yang sepi, tertinggal, dan tanpa hiburan sempat membuatnya enggan untuk menapakkan kaki di sini. Namun, dugaannya ternyata salah besar. Desa ini justru memiliki ritme hidupnya sendiri.
Setiap pagi, selalu ada saja hal menarik yang berhasil mencuri perhatian Kesya. Dimulai dari keriuhan ibu-ibu yang berbelanja sayur keliling sambil menuntun anak, bapak-bapak yang berkumpul di warung kopi sambil mengobrol santai, hingga gerombolan anak sekolah yang bersepeda bersama sambil berceloteh riang. Tidak ketinggalan, suara raungan mesin motor dari bengkel Damar yang hampir setiap hari terdengar hingga ke ujung jalan. Lama-kelamaan, Kesya mulai mengenali beberapa tetangga di sekitar rumah tempatnya menginap. Salah satunya adalah Rani. Berbeda jauh dengan Damar yang selalu punya seribu satu cara untuk menggodanya hingga naik darah, Rani adalah sosok yang jauh lebih menyenangkan dan meneduhkan untuk diajak bicara. Suatu sore, Kesya memilih untuk duduk bersila di teras rumah Rani yang asri. Di hadapan mereka, sebuah tampah bambu besar berisi kacang tanah yang baru dibeli dari pasar terhampar. Tangan Kesya ikut bergerak lincah, membantu Rani memilah kacang yang bagus dari yang busuk. "Kamu betah tinggal di sini, Kes?" tanya Rani membuka percakapan. Suaranya lembut, beradu dengan bunyi gemerisik kacang kering yang dipilah. Kesya menghentikan gerakannya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Lumayan, Mbak. Udah mulai terbiasa sama udaranya yang dingin kalau malam." "Padahal dulu waktu pertama kali datang, katanya cuma sebentar saja di sini," goda Rani. Kesya terkekeh pelan. Ingatan saat dia menggerutu di hari pertama kedatangannya di desa ini kembali terlintas. "Memang rencananya begitu, Mbak. Tapi mau gimana lagi? Urusanku di kota ternyata belum selesai, dan di sini rasanya lebih tenang untuk berpikir." Rani mengangguk-angguk paham, jemarinya kembali sibuk memisahkan kacang. "Kadang hidup memang begitu, Kes. Jalannya sering memutar, tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita buat sendiri. Tapi pasti ada alasan kenapa kamu datang ke desa ini." Kesya terdiam, memperhatikan perempuan di sampingnya. Rani terlihat begitu tenang dan bersahaja. Usianya mungkin sudah menginjak sekitar tiga puluh lima tahun, tapi gurat wajahnya masih menyiratkan aura muda dan kecantikan yang alami tanpa polesan riasan berlebih. Ketenangan Rani membuat Kesya merasa nyaman, sekaligus memicu rasa penasarannya akan satu hal. "Mbak, Damar kalau di rumah... memang begitu, ya?" tanya Kesya tiba-tiba, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. Rani menghentikan gerakannya, menoleh ke arah Kesya dengan alis bertaut. "Begitu bagaimana maksudmu?" "Menyebalkan. Jahil. Sukanya bikin orang naik darah," gerutu Kesya beruntun, mengingat bagaimana wajah songong Damar setiap kali mereka berpapasan. Mendengar itu, Rani langsung meledak dalam tawa yang cukup keras hingga bahunya terguncang. "Oh, soal itu? Sejak kecil dia memang begitu, Kes. Nggak pernah berubah." "Pantesan!" sahut Kesya. "Berarti memang sudah bawaan lahir, ya? Bukan karena dia punya dendam pribadi sama aku." Rani menggeleng-gelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum maklum. "Damar itu sebenarnya anak yang baik, Kes. Sangat baik, malah." "Ah, masa sih? Semua adik laki-laki kan pasti kelihatan baik di mata kakaknya sendiri," timpal Kesya, sedikit mencibir. "Dia memang benar-benar baik, Kes. Bertanggung jawab juga," bela Rani, tatapannya melembut seolah menerawang masa lalu. "Cuma, ya itu... mulutnya kadang memang tidak bisa diajak kompromi. Suka asal ceplos kalau bicara, padahal maksud hatinya bukan begitu." Kesya tertawa kecil, sedikit banyak mulai memahami karakter pria berbaju montir yang sering membuatnya kesal. Percakapan hangat mereka mendadak terhenti ketika rombongan ibu-ibu berjalan melewati depan rumah. Salah satu dari mereka, seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga, tiba-tiba menghentikan langkah tepat di depan pagar. "Rani!" panggil wanita itu dengan suara agak nyaring. Rani menoleh, senyum ramahnya langsung terkembang secara otomatis. "Eh, iya, Bu." "Kamu sekarang sering kelihatan di rumah, ya? Biasanya jam segini masih sibuk," ujar wanita itu. Nadanya terdengar ramah, namun matanya menyelidik tajam. "Iya, Bu. Kebetulan pekerjaan lagi bisa ditinggal sebentar," jawab Rani sopan. Pandangan wanita paruh baya itu kini beralih sepenuhnya pada Kesya yang duduk di samping Rani. Sorot matanya menelusuri penampilan Kesya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ini... siapa, Ran? Kok aku baru lihat?" "Ini Kesya, Bu. Dia saudaranya Pak Hadi, sedang tinggal di rumah Pak Hadi untuk sementara waktu," jelas Rani dengan nada tetap tenang. "Oh... orang kota, ya?" Wanita itu menggumam, bibirnya tersenyum tipis yang terlihat dipaksakan. Setelah mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu berbalik dan melanjutkan perjalanannya bersama rombongan yang lain. Kesya mengembuskan napas yang sempat tertahan. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan cara tatapan wanita tadi. Rasanya seperti sedang diinterogasi tanpa kata. Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah perubahan ekspresi pada wajah Rani. Setelah rombongan itu menjauh, senyum ramah Rani perlahan memudar, digantikan oleh gurat kecemasan yang samar. "Kenapa, Mbak? Ada yang salah?" tanya Kesya hati-hati. Rani tersentak kecil, lalu buru-buru menata kembali ekspresi wajahnya. "Ah, tidak apa-apa, Kes. Bukan hal yang penting." "Serius? Wajah Mbak Rani langsung berubah loh," desak Kesya, merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Rani hanya mengangguk meyakinkan, memberikan senyum tipis yang tampak dipaksakan. Melihat keengganan Rani untuk bercerita, Kesya akhirnya memilih untuk tidak memaksa. Tapi di dalam hatinya, sebuah kesadaran baru mulai muncul. Di desa ini, orang-orang sepertinya saling mengetahui seluk-beluk kehidupan satu sama lain secara mendetail. Siapa yang baru menikah, siapa yang baru melahirkan, siapa yang sedang membangun rumah baru, bahkan mungkin... siapa yang sedang terjerat masalah besar atau memiliki rahasia kelam. Informasi menyebar secepat angin. Kesya mendadak teringat dengan kehidupannya sendiri di kota metropolitan. Di sana, privasi adalah nomor satu. Tetangga bahkan kadang tidak pernah tahu siapa nama orang yang tinggal tepat di sebelah dinding rumah mereka selama bertahun-tahun. Kehidupan kota begitu individual, sangat kontras dengan atmosfer di desa ini yang terasa begitu mengikat. "Mbak... capek nggak sih?" tanya Kesya lirih, memecah keheningan. Rani menoleh, menatap Kesya dengan pandangan bertanya. "Capek kenapa?" "Capek karena semua orang di sekitar kita selalu tahu urusan kita. Rasanya kayak nggak punya ruang untuk bernapas sendiri," ungkap Kesya jujur. Rani tertegun sejenak mendengar penuturan Kesya. "Lama-lama juga terbiasa, Kes. Di desa, kepedulian dan rasa ingin tahu itu bedanya tipis sekali. Kamu hanya perlu tahu mana yang harus didengar dan mana yang harus dilewati." Belum sempat Kesya merespon kalimat Rani, suara deru mesin motor yang sangat familier terdengar memekakkan telinga dari arah jalan depan. Sebuah motor bebek tua berhenti tepat di halaman rumah. Damar turun dari motornya, melepaskan helm hitamnya yang sudah lecet di sana-sini, lalu menatap tajam ke arah kedua perempuan yang masih duduk di teras. "Ngapain kalian berdua di situ? Kurang kerjaan banget," cetus Damar langsung, tanpa basa-basi. Kesya memutar bola matanya malas, mode defensifnya langsung aktif. "Bukan urusanmu, ya! Sana masuk!" Damar mengedikkan bahu. "Jangan lupa bersihkan sisa-sisa kacangnya," ujarnya datar sebelum melangkah lebar-lebar masuk ke dalam rumah. Kesya menatap kepergian pria itu dengan sisa kekesalan, lalu menoleh pada Rani. "Dia memang selalu merusak suasana ya, Mbak?" Rani terkekeh geli melihat interaksi mereka. "Sudah kubilang kan, mulutnya memang begitu." Kesya akhirnya ikut tersenyum, kegusarannya perlahan menguap. Tanpa kedua perempuan itu sadari, dari balik tirai jendela rumah yang sedikit terbuka, Damar sempat menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh ke arah teras, memperhatikan dalam diam. Matanya tertuju pada sosok Kesya yang kini tertawa lepas bersama kakaknya. Entah karena alasan apa, melihat guratan kebahagiaan dan kenyamanan yang mulai terpancar dari wajah gadis kota itu membuat sebongkah beban yang tak kasatmata di dada Damar terasa sedikit lega. Sadar akan perasaannya yang aneh, Damar segera menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dia sendiri tidak mengerti, sejak kapan hal-hal kecil tentang Kesya mulai menyita perhatiannya sedalam ini. Desa ini, lambat laun, memang mulai mengubah banyak hal.Hari berikutnya, suasana di sekitar bengkel Damar kembali ke ritme normal pedesaan. Gemercik air di parit kecil depan bengkel beradu dengan dentang kunci pas yang jatuh di lantai semen. Kesya, yang hari itu mengenakan kaus kasual dengan rambut dikuncir kuda, sedang duduk di kursi plastik teras rumah Pak Hadi sambil mencatat beberapa stok barang jualan online-nya di ponsel. Perasaannya sudah jauh lebih ringan setelah kedatangan AKP Hermawan kemarin.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah motor matik putih dengan knalpot yang agak berisik sengaja digas kencang sebelum berhenti tepat di depan pelataran bengkel.Dari atas motor, turun seorang gadis desa dengan dandanan yang cukup mencolok untuk ukuran pagi hari. Tyas. Gadis berusia 24 tahun itu terkenal di dusun sebelah sebagai kembang desa yang angkuh. Gadis itu merasa dirinya adalah definisi kecantikan lokal yang sempurna: kulitnya putih karena rajin memakai lulur bengkoang, tubuhnya sintal, dan selalu menganggap dirinya j
Matahari baru saja naik sepenggalah, ketika deru mesin motor gede empat silinder yang khas memecah ketenangan jalan di depan bengkel Damar. Suara knalpotnya yang berat dan berwibawa langsung membuat beberapa montir muda bawahan Damar menoleh serentak.Sebuah motor gede dinas kepolisian berkapasitas mesin besar berhenti tepat di pelataran bengkel. Seorang pria tegap berusia awal empat puluhan dengan seragam cokelat lengkap, turun dari motor. Di pundaknya, tersemat tanda pangkat tiga balok emas yang berkilau diterpa cahaya pagi. AKP Hermawan, Kanit Gakkum Satlantas Polres Kota.Damar yang sedang membersihkan karburator motor bebek milik warga langsung meletakkan kunci pasnya. Sebuah senyuman tipis, santai namun sarat akan rasa hormat, terukir di wajah tampan sang perjaka desa. Dia menyambar kain lap dekil untuk membersihkan sisa oli di tangannya."Selamat pagi, Komandan. Tumben subuh-subuh sudah patroli sampai pelosok dusun sini? Ada sparepart moge dinasnya yang rewel lagi?" sapa Damar
Malam pun datang di Desa Sukomaju. Ketegangan yang membakar ruang tengah sore tadi perlahan surut, menyisakan keheningan yang menenangkan di dalam rumah Pak Wiryo. Setelah makan malam yang sunyi, Rani memilih untuk tidur lebih awal di temani Bu Lastri. Sementara Kesya yang sekarang lebih sering menghabiskan waktu di rumah Pak Wiryo setelah mengurus orderan online, berjalan keluar menuju ke halaman belakang. Udara malam yang dingin menusuk kulit, membuatnya merapatkan jaket flanel kotak-kotak milik Damar yang masih setia membungkus tubuh mungilnya.Kesya mendongak, menatap taburan bintang di langit malam yang jernih. Pemandangan yang mustahil dia temukan di langit Jakarta yang penuh polusi. "Belum tidur? Dari tadi kamu sibuk dengan jualan online-mu setelah Mas Bayu dan ibunya pulang."Sebuah suara berat dan khas memecah keheningan. Kesya menoleh dan menemukan Damar sudah berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kaus oblong hitamnya lagi, berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di
Keheningan di ruang tengah terasa begitu pekat, menyisakan suara napas Bayu yang mulai memburu panik dan Bu Ndari yang sibuk menelan ludah. Wajah angkuh wanita sepuh itu mendadak pias, kehilangan semua kata-kata tajam yang biasanya siap menyembur dari bibirnya.Di sudut ruangan, Rani perlahan menegakkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun pernikahan yang penuh siksaan batin, wanita itu tidak lagi menunduk ketakutan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sepasang mata yang memancarkan ketegasan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di rumah itu.Rani melangkah mendekati meja makan, menatap lurus pada Bayu yang masih membeku bagaikan patung."Ran... Mas bisa menjelaskan..." Suara Bayu yang biasanya lempeng kini bergetar, mencoba untuk meraih pergelangan tangan istrinya."Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas," potong Rani. Suaranya terdengar sangat tenang. Namun ketenangan itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah Damar.Rani menoleh pada
Sore harinya, tebakan Damar terbukti. Langkah Bayu yang tergesa-gesa di parkiran swalayan tadi pagi rupanya memicu kepanikan di kubu Bu Ndari. Menyadari bahwa aksi "jalan-jalan subuh" menantu barunya tercium oleh Damar, wanita sepuh yang angkuh itu memutuskan untuk melakukan serangan sebelum rahasia mereka terkuak.Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sewaan berhenti di depan halaman rumah Pak Wiryo. Dari dalam rumah, Kesya yang sedang membantu Bu Lastri melipat pakaian di ruang tengah bisa merasakan ketegangan yang mendadak naik ke permukaan. Damar, yang sudah berganti pakaian rapi dengan kemeja flanel hitam-merah, berjalan masuk dengan langkah berat yang tenang, namun sorot matanya sedingin es.Pintu depan diketuk berkali-kali dengan tidak sabar. Ketika Bu Lastri membukanya, Bu Ndari melangkah masuk dengan dagu terangkat, diikuti oleh Bayu yang berjalan mengekor di belakangnya dengan wajah lempeng seperti biasa. Di belakang mereka, Rani berjalan menunduk. Matanya terlihat sembap, se
Sepanjang perjalanan pulang dari Desa Sukomaju, Kesya hanya diam membisu di jok belakang. Angin pagi yang menerpa wajahnya tidak mampu mendinginkan kepalanya yang kalut. Ketakutannya terhadap Bayu yang mungkin akan curiga, berpadu dengan memori masa lalu yang mendadak berputar kembali seperti kaset rusak akibat ancaman Raka di pesan singkat kemarin.Damar yang peka, menyadari kegelisahan itu dari bagaimana jemari Kesya meremas ujung jaket flanelnya dengan amat kencang. Setibanya di bengkel, Damar langsung memarkirkan motornya di dalam. Dia tidak membuka gerbang depan bengkel, sengaja membiarkan suasana tetap privat.Damar melepaskan helmnya, lalu berbalik menatap Kesya yang masih duduk termangu di atas motor."Masih kepikiran soal Mas Bayu?" tanya Damar. Nadanya melembut, mengikis habis kesan ketus yang tadi dia pamerkan di parkiran swalayan. "Jangan takut. Aku tadi sengaja membuat dia kikuk, supaya dia nggak berpikir macam-macam. Buktinya aman di HP-mu, kan?"Kesya turun dari motor,







