Mag-log inSelina mendorong Aldi yang kesakitan hingga pria itu terjerembab ke samping. Ia lalu beringsut bangun dengan mata yang menggelepar ketakutan.
"Mas.." ucapnya pada pria yang baru saja menyelamatkannya. "Bawa Aulia keluar. Minta tolong tetangga dan hubungi polisi." Rama memberikan perintah. Selina mengangguk dan membawa Aulia yang menangis keluar dari kamar. Wanita ini menuju pintu depan dan berteriak meminta pertolongan. "Inilah alasaSecepat kilat Rangga ke rumah sakit Mandala pagi ini setelah mendapat kabar jika adiknya kritis. Sesampainya disana, langkah Rangga membeku seketika. Disana tak hanya ada ibunya yang sedang menemani Rama melainkan juga ada Selina.Tiba-tiba saja Rangga malu untuk bertemu dengan adiknya. Seperti ada rasa bersalah yang menyeruak muncul.Bagaimana tidak?Beberapa tahun ke belakang kehidupan Rama dihantam ombak sana sini. Dan itu ada sangkut pautnya dengan kesalahan Rangga. Andai saja pria ini berkata jujur.. Andai saja dia berani mungkin Rama tidak akan sampai sesakit ini.Apalagi tak hanya Rama yang menjadi korban melainkan juga keluarganya."Mas mau duduk?" Tanya Selina saat melihat Rama bergerak."Iya. Tolong bantu aku."Selina mengulurkan tangan yang disambut oleh Rama. Setelah itu, ia menaikan posisi bednya."Jangan terlalu banyak bergerak, mas. Perut kamu masih sakit." Ujar Selina ngeri melihat Rama yang meri
Selina tertunduk di depan ruang operasi sambil menangis. Berkali-kali ia menangkupkan tangan meminta maaf pada Mala dan Taufan, berulang kali ia terus menyalahkan dirinya.. Maryono yang duduk di sisi Selina segera mengambil bahu putrinya dan memeluknya erat. Sementara, Aulia sudah tertidur di pangkuannya. "Jangan menyalahkan dirimu, nak. Kejadian ini benar-benar diluar dugaan kita." Ujar Maryono. Pria ini lebih merasa bersalah karena tidak pulang tepat waktu. Andai saja, Maryono tidak bertemu temannya hingga lupa waktu.. dia pasti bisa menghalau Aldi melecehkan putrinya. Selina menggeleng. Air mata itu masih terurai di wajahnya yang sendu. "Ini semua salahku, yah. Andai saja aku nggak menarik tuntutanku pada mas Aldi. Pasti dia tidak akan melakukan ini padaku sehingga mas Rama yang menjadi korbannya." "Nak.. mau kamu menarik tuntutan atau tidak, tujuan Aldi adalah membalaskan dendam padamu." Uc
Selina mendorong Aldi yang kesakitan hingga pria itu terjerembab ke samping. Ia lalu beringsut bangun dengan mata yang menggelepar ketakutan. "Mas.." ucapnya pada pria yang baru saja menyelamatkannya. "Bawa Aulia keluar. Minta tolong tetangga dan hubungi polisi." Rama memberikan perintah. Selina mengangguk dan membawa Aulia yang menangis keluar dari kamar. Wanita ini menuju pintu depan dan berteriak meminta pertolongan. "Inilah alasan kenapa aku tidak mengizinkan Selina menarik gugatannya. Itu karena perbuatanmu, Aldi! Kau tidah berubah!" Seloroh Rama geram. Dia harus berterima kasih pada Nisa karena sudah membuatnya kembali ke rumah Selina. Gara-gara kesal melihat wanita itu, hatinya mengajak Rama untuk mengunjungi mantan calon istrinya ini. "Kau!" Kesadaran Aldi sudah kembali. Ia lalu melotot kesal. "Brengsek!" Rama terkesiap. Mata Aldi memarah bak iblis yang tengah mencari ma
Rama baru saja tiba di rumahnya pada malam hari, namun saat turun dari mobil.. mata Rama berpapasan dengan seorang wanita yang juga baru keluar dari rumah miliknya. Rama hanya melirik sekilas dan tak berniat menyapa. Tapi, wanita itu malah tersenyum manis padanya.. "Hai, Rama. Apa kabar?" Tanyanya ramah. "Baik." Sahut Rama tanpa menoleh. "Aku akan bercerai dengan mas Rangga." Rama menghentikan langkahnya lalu menatap Nisa. "Lalu?" Tanya Rama dingin. "Aku tidak bisa hidup dengan pria seperti itu. Kamu tahu sendiri apa yang terjadi pada mas Rangga, kan?" Rama lalu tersenyum sinis. "Tidak heran jika melihat tingkahmu di masa lalu. Kamu pasti tidak mau menjalin hubungan dengan pria yang tidak menguntungkan dirimu." "Kamu ini!" Nisa berdecak lembut. Ia menatap pria ini lekat. "Ku dengar kamu sudah berpisah dengan Selina. Aku sungguh prihatin, Rama."
Seperti keluarga cemara.. Rama, Selina dan Aulia nampak bahagia menghabiskan waktu satu hari ini. Bermain di taman, wahana hingga danau.. lalu pada siang harinya, Rama mengajak Aulia pergi ke kebun binatang. Dan setelah itu, ia memanjakan anak ini dengan membeli beberapa cendera mata. Boneka gajah, panda hingga kelinci sudah masuk ke dalam tas belanja. Begitu juga dengan bando telinga kucing yang sangat disukai Aulia. Setelah itu, mereka makan sore bersama di restoran yang ada di kebun binatang. Sebuah restoran yang menyatu dengan alam. "Kamu seneng nggak hari ini, sayang?" Tanya Rama. "Seneng!" Jawab Aulia kegirangan. "Mau kemana lagi kita setelah ini?" Aulia nampak berpikir. Namun sebelum Aulia mengucapkan sesuatu, ibunya terlebih dahulu menyela. "Kayaknya cukup. Kamu udah capek, nak.." jawab Selina. Rama tersenyum. "Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
"Aku tidak bisa memberitahu papa, Nisa. Pahamilah posisiku.." ucap Rangga memelas pada istrinya. Setelah dari rumah Taufan, keduanya kembali ke apartement. Nisa yang tak terima jika Rangga jatuh miskin langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "Kamu itu bodoh banget, mas! Harusnya kamu jujur sama papa soal kesulitanmu. Mungkin papa bisa membantu kita!" Astaga.. Rangga sampai terperangah setelah dihina oleh istrinya sendiri. Nisa bahkan berani memanggilnya dengan sebutan itu. "Apa kamu tadi bilang?" Rangga ingin Nisa mengulangi ucapannya. "Aku bodoh?" "Terus aku harus memanggilmu apa?" Nisa mendelik kesal. "Kamu bodoh karena sudah ditipu oleh Raymond. Kamu sadar nggak sih kalau selama ini kamu dijadikan boneka sama dia??? Harusnya kamu melawan jika ditindas!" "Sudah ku katakan tidak bisa!" Bentak Rangga. "Kamu tidak tahu siapa pria itu! Jika kita berani melawannya, maka nyawaku adalah taruh
Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja t
"Semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada masalah."Aldi terheran-heran akan keadaan anaknya. Padahal dia sudah terkejut setengah mati karena Alina mengalami demam. Tapi dokter Fiona bilang bahwa tak terjadi masalah pada anaknya."Tapi anak saya masih demam, dok.." ujar Aldi tak
"Apa? Pengasuh untuk Alina?" Dahi Aldi sampai mengkerut-kerut. "Iya. Abisnya lama banget kamu nyari pengasuh untuk anakmu itu! Bisa-bisa mama kena stroke duluan!" "Siapa dia?" Tanya Aldi. Husna berdeham. "Yaya." Aldi terlonjak kaget. "Ap
Aldi tersenyum miring setelah mendapat kabar dari pengacaranya, Sandi. Setelah itu, pria ini membuka ponselnya. Saat melihat media sosial, skandal pelanggaran rumah sakit Berlian menjadi trending nomor satu.Dua perawat sudah dipecat karena kejadian ini. Dan dokter lainnya berinisial R s







