LOGINAldi tersenyum miring setelah mendapat kabar dari pengacaranya, Sandi. Setelah itu, pria ini membuka ponselnya. Saat melihat media sosial, skandal pelanggaran rumah sakit Berlian menjadi trending nomor satu.
Dua perawat sudah dipecat karena kejadian ini. Dan dokter lainnya berinisial R sedang diselidiki. Sementara dokter lain dibebaskan dari segala tuduhan.Rumah sakit Berlian terbukti lalai dan tidak profesional dalam mengurus masalah pasien. Masyarakat yang memantau kasus"Sudah tiga hari dirawat istrimu tak terlihat." Taufan memberikan sindiran telak. Rangga terdiam. Pria itu sudah tak berani mengajak ayahnya berdebat. Untuk menegakkan wajahnya saja dia sudah malu. "Bukankah mereka akan berpisah? Memang apa yang kamu harapkan, pa?" Mala ikut memberikan sindiran. "Setidaknya jika dia punya hati, dia akan datang untuk menengok suaminya. Tapi dia kabur begitu saja." Taufan terkekeh tak habis pikir. Rangga lagi-lagi tak menjawab. Wajahnya dipalingkan ke arah lain. Rama berdeham. "Aku pulang sendirian saja, pa, ma. Biar kalian menjaga mas Rangga disini." Hari ini, Rama sudah diperbolehkan pulang. Ia sudah rapi dengan mengenakan setelan kemejanya. "Ya. Kamu pulang bersama Robby saja." Sahut Taufan. "Oh sekalian kamu ajak Selina untuk fitting gaun pernikahan. Seila bilang baju kalian sudah s
Selina tertegun sesaat memandangi dua wanita dan satu pria yang ada di hadapannya. Ia ingin menolak kehadiran tiga orang ini. Terlebih mereka lah yang menghancurkan nama baik Rama dengan mengajukan gugatan tak berdasar. Namun tatapan memelas dari ibu paruh baya ini tak bisa di tolaknya. Ia pun mengangguk pelan. "Tunggu sebentar, ya." Ujar Selina ramah. Ia kembali masuk ke dalam sementara keluarga Anggia menunggu diluar. Mereka mengerti jika kedatangan mereka pasti mengejutkan. "Ada siapa, Selina?" Tanya Rama. "Mas Rama.. Pak Taufan, bu Mala.. ada keluarga Anggia di depan." Rahang Taufan langsung mengeras. Saat ia ingin berdiri, Mala menahan lengan suaminya. "Biarkan saja, pa." Ujar Mala lembut. "Mau apa lagi mereka, ma? Apa kamu nggak ingat bagaimana mereka memfitnah Rama! Lagipula mereka sudah mendapatkan uang kompensasi, kan??" Taufan jadi emosi. "
"Papa!!!" Aulia masuk ke dalam ruang rawat sambil berlari. Tubuhnya mulai menggembul. Semakin imut dengan gamis berwarna merah dengan hijab instan yang sama. Saat melihat Rama, anak ini berlari dan merentangkan tangan. Rama sampai turun dari tempat tidur untuk meraih putrinya. "Halo, sayang!" Aulia ditangkap oleh Rama dalam pelukannya. Anak ini memanjat perut hingga membuat Rama sedikit nyeri. Namun ia tertawa karena Rama mencium pipinya. "Astaga, Aulia!" Mata Selina sampai melotot. Ia berlari untuk mengambil Aulia dalam pelukan Rama. "Aduh, hati-hati, nak. Papa belum sembuh!" Selina menurunkan Aulia dan membantu Rama naik ke tempat tidur. "Perutmu sakit, mas?" Tanya Selina khawatir. "Nggak, kok!" Jawab Rama tersenyum. Aulia masih berjinjit minta di gendong, namun Selina meraih putrinya itu dan beralih pada Mala dan Taufan. Setidaknya anak ini harus
Sore ini, Raymond menjadi pemberitaan nasional. Kasusnya melejit. Baik dari pelecehan, penyerangan hingga rencana pembunuhan. Dan satu lagi.. penipuan. Para investor yang menjadi korban dari investasi bodong Raymond akhirnya ikut bersuara. Dimana mereka mengalami kerugian sampai miliaran rupiah. Tak sampai disitu, mereka pun sempat diancam jika berani melawan maka nyawa adalah jaminan mereka. Dan sekarang, tamatlah sudah riwayat Raymond. Bahkan ayahnya yang pernah menjadi menteri pun tak dapat berkutik karena kumpulan kejahatan yang dilakukan oleh putranya. Rangga juga sudah menunjuk pengacara untuk menangani kasusnya. Sekarang tinggal menunggu masa pemulihannya saja. "Satu per satu masalah kita selesai.." Mala bernafas lega. Ia lalu mematikan tayangan di televisi. Rangga diam seribu bahasa. Ia malu bersuara. Ibarat jatuh, Rangga juga tertimpa tangga. Semua masalah ini terjadi karena keserakahannya.
Rangga dioperasi cito. Hanya ada Mala yang menunggu pria itu sampai keluar ke ruang observasi. Setelah sadar penuh, Rangga dipindahkan ke ruang super VIP. Dimana sudah ada Rama terlebih dahulu yang menjadi penghuninya. Rangga mulai tersadar dimana ia berada. Ketika ia membuka mata.. Rangga tersentak setelah mendapat tatapan tajam dari Taufan. "Papa..." Rangga lalu menoleh ke sebelah kiri. "Mama..." Tak hanya itu, ia juga menoleh ke sebelah kanan rupanya ada Rama yang masih terbaring di tempat tidur dengan Selina di sisinya. "Rama.." "Untung saja kamu masih hidup. Setidaknya kamu bisa memberikan keterangan pada pihak kepolisian mengenai kecelakaanmu." Ucap Taufan datar. Rangga mengerjap. Ia berusaha menggerakan kakinya yang nyeri. Namun, ia tersadar jika kakinya telah dibungkus sesuatu. "Jangan banyak bergerak, nak. Kaki kananmu patah." Ucap Mala lembut. Bagaimanapun Rangga ini ad
Rama membuka matanya setelah mendengar keributan. Saat dia menoleh, pria ini kaget menemukan Selina tengah menindih seorang perawat wanita. "Selina! Ada apa???" "Mas! Panggil suster!" Seru Selina menahan wanita ini dengan cara menindih dadanya agar tak bergerak. Kedua tangan itu ditahan Selina agar tak bergerak. "Apa??" Rama tak paham. Yang dibawah Selina adalah perawat.. lantas kenapa Selina menyuruhnya memanggil perawat lagi? Manut akan ucapan Selina, Rama memencet bel berulang kali hingga dua orang perawat berpakaian dinas masuk. "Suster, tolong!" Ujar Selina. Dua perawat ini terbelalak. Mereka lekas membantu Selina dan mengamankan wanita yang sedang meringkuk ketakutan. "Siapa kamu?" Bentak perawat Mandala. Wanita bertubuh gempal ini sigap menahan tangan perawat gadungan. Perawat satunya memanggil security sementara Rama beringsut bangun dari t
Aldi tergugup-gugup membalas pandangan pria paruh baya yang ada di hadapannya. Maryono menatapnya dengan rahang mengeras, matanya memerah seakan penuh penekanan.Rambutnya memang memutih tapi tubuh itu tampak tegap walau ada tongkat yang dijadikan penyangga untuk berjalan. Namun, sama sekali tak me
*Trigger warning! Banyak adegan berbahaya untuk penyintas.*Brak!!Mobil truk berwarna merah itu menghempaskan tubuh Selina begitu saja.Selina yang tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya terhuyung mundur setelah terdorong oleh Aldi dari depan. Bersamaan dengan truk merah yang sedang melajukan kend
Selina masih disini. Duduk di sudut kamar dengan kaki yang memanjang. Matanya memandang hampa lurus ke depan dengan air mata yang menitik deras. Tanpa suara. Tanpa isakan.Ditangannya menggenggam duka, di bahunya tersirat beban yang tak terlihat. Dan di dalam perut ini ada calon anaknya yang siap m
Mayang menangis tersedu-sedu sembari menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Polisi. Yang tadinya hanya dua orang yang memberikan pertanyaan kini bertambah menjadi empat.Namun, tak ada satupun dari mereka yang bisa menenangkan wanita ini."Izinkan kami bertanya, Mayang. Tolong kooperatiflah.." ucap







