ANMELDENMalam ini, Selina tak bisa tidur. Tak ada putri kecil yang biasanya dipeluk, tak ada gurauannya, suaranya bahkan rengekan merdunya membuat Selina rindu setengah mati.Bantal kesayangan Aulia dipeluknya dengan erat. Wanita ini kembali menangis dalam diam."Maafkan mama, nak.." lirih Selina. Dia sangat merindukan putrinya.["Aku berjanji akan membawa Aulia kembali padamu."]Semilir suara Rama terngiang di telinganya.["Aldi berbohong dengan mengatakan kalau dia sudah menggugat hak asuhmu. Dia malah menyewa orang untuk berpura-pura menjadi pihak komnas untuk mengambil putrimu.. dan aku berjanji akan membawa Aulia ke tanganmu serapi mungkin."]Rama sudah memiliki cara. Aldi tak bisa dikerasi dengan cara mengambil Aulia secara paksa. Melawan pria itu harus menggunakan taktik untuk membuat Aldi tak berkutik. Dan Rama meminta Selina untuk bersabar menunggu. Setelah itu, ia akan kembali lagi bersama putrinya.Rama sendiri sudah
"Rama, kemarilah!" Ajak Mala pada putranya yang baru saja tiba.Dengan gugup, Rama jalan mendekat ke arah dua wanita yang sedang duduk mesra di sofa ruang keluarga. Pria ini lalu mengambil tempat duduk di hadapan mereka."Lihat ini. Tadi mama pergi ke percetakan. Ternyata undangan kalian hendak di cetak. Jadi mama bawa satu sebagai contoh. Gimana? Kamu suka nggak?" Tanya Mala.Rama mengambil undangan tersebut dan menatapnya. Dr. Rama dan Selina. Nama itu terukir diatas kertas ini dengan menggunakan tinta emas. Seketika hati Rama menciut. Ia takut jika undangan pernikahan ini tak akan pernah sampai ke tangan tamu undangannya."Rama.." panggil Mala lagi.Rama berdeham. "Cantik, ma. Warna biru membuat undangan ini terlihat sederhana tapi juga megah.""Mama juga setuju." Sahut Mala mengulum senyum.Rama lalu mengangkat wajahnya dan menatap Selina."Kenapa Selina menangis, ma?"Mendengar itu, Mala
"Indah sekali, ya?"Senyum mengembang dari wajah Mala sembari menatap Selina. Di hadapan kedua wanita ini terhampar sebuah undangan berwarna biru coral. Begitu cantik dengan warnanya.. dan begitu indah dengan dua nama yang tersemat di atas sana.. Rama dan Selina."Tadi ibu sama papanya Rama pergi ke percetakan untuk melihat undangan pernikahan. Sekalian mau meninjau ulang gedung pernikahan kalian. Syukurlah undangannya sudah selesai, besok undangan ini akan siap dicetak. Jadi lima hari lagi kita bisa menyebarkan undangannya." Sambung Mala.Selina menatap getir undangan hard cover yang ada di sebrang sana. Ia sama sekali tak berniat menyentuh undangan tersebut."Kenapa, Selina? Kamu nggak suka undangannya, ya?" Tanya Mala pada Selina yang hanya diam.Selina terkesiap. "Suka, bu. Undangannya cantik sekali."Mala lalu mengulum senyum. "Seila juga sudah mengirimkan foto gaun pengantinmu kemarin.. sungguh indah sekali, nak. Kamu pasti
"Terima kasih atas bantuannya."Aldi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada pria dihadapannya.Dengan tersenyum, pria berkacamata ini mengambil amplop tersebut dan mengintip sedikit isinya. Ternyata hasilnya memuaskan."Sama-sama, pak. Saya juga sangat senang karena Alina sudah kembali pada bapak." Sahut Novran tersenyum penuh arti."Tapi cukup diingat, pak. Rahasia ini cukup kita berdua yang mengetahuinya." Ujar Aldi mengingatkan."Kalau soal itu anda tenang saja. Saya pandai menyimpan rahasia." Balasnya terkekeh. "Jangan segan untuk meminta bantuan kepada saya. Dengan senang hati, saya akan membantu."Aldi hanya tersenyum tipis. Ia lalu membiarkan Novran berlalu dari rumahnya."Pak Aldi." Panggil Eva dari dalam. "Alina nggak mau makan."Aldi mendengkus. "Buka TVnya, suruh dia menonton kartun. Pasti dia mau makan.""Sudah, pak. Tapi Alina malah menangis.""Kasih yutub aja dari ponsel
"Ma! Lihat siapa yang datang!" Seru Aldi sumringah.Pria ini datang sambil menggendong Aulia yang masih sesegukan menangis. Ia menunjukkan putrinya pada Husna yangs sedang duduk di kursi roda."Aa.. li.. na.." panggil Husna dengan suaranya yang pelo.Aldi menurunkan putrinya dan membantu Aulia mendekat. Tapi anak ini menangis dan meringkuk ketakutan."Ini nenek, sayang.. jangan takut." Ucap Aldi memeluk putrinya.Ia tetap memaksa Aulia agar mendekat pada Husna. Namun yang terjadi Aulia menjerit hebat."Ya sudah kalau tidak mau." Aldi menggendong Aulia dalam pelukannya. "Ini semua salah mamamu yang nggak mau memperkenalkan kamu ke dunia luar makanya kamu jadi penakut." Gerutu Aldi.Pria ini lalu melihat perawat pribadi Husna yang baru muncul dari dapur."Eva!""Iya, pak.." wanita muda ini mendekat."Ini anak saya, namanya Alina. Mulai hari ini selain mengurus mama kamu juga harus mengurus Alina.
"Kamu lihat berita hari ini, mas? Adikmu menjadi terkenal karena skandalnya. Dia dituding menghamili Anggia dan meninggalkannya begitu saja demi menikahi Selina. Astaga!"Nisa tak tahu harus tertawa atau sedih. Ia putuskan untuk menggelengkan kepalanya saja."Sekarang kita tahu kenapa Rama terus menghindari perjodohan. Rupanya karena dia sudah berhubungan dengan Selina."Nisa lantas menoleh ke suaminya yang masih tak bergeming."Mas!" Nisa menyentuh lengan suaminya. "Kok diem aja sih?"Rangga menarik nafas kasar. "Aku nggak konsen, Nisa. Aku lagi sibuk mikirim masa depan perusahaan kita.""Memang ada masalah dengan bisnis kita, sayang?""Nggak ada. Aku keluar sebentar." Rangga bangun dari duduknya."Kamu mau kemana???" Tanya Nisa saat melihat Rangga hendak berlalu."Keluar sebentar.""Hmm.. padahal kamu baru pulang kerja." Nisa yang memprotes tak didengar oleh suaminya.Percuma Rangga
"Apa? Pengasuh untuk Alina?" Dahi Aldi sampai mengkerut-kerut. "Iya. Abisnya lama banget kamu nyari pengasuh untuk anakmu itu! Bisa-bisa mama kena stroke duluan!" "Siapa dia?" Tanya Aldi. Husna berdeham. "Yaya." Aldi terlonjak kaget. "Ap
Aldi tersenyum miring setelah mendapat kabar dari pengacaranya, Sandi. Setelah itu, pria ini membuka ponselnya. Saat melihat media sosial, skandal pelanggaran rumah sakit Berlian menjadi trending nomor satu.Dua perawat sudah dipecat karena kejadian ini. Dan dokter lainnya berinisial R s
"Kembalikan putriku!"Rahang Aldi mengeras menatap ayah mertuanya, terlebih ada malaikat kecil yang tengah digendong oleh Maryono membuat Aldi kian meradang."Aldi.""Kemarikan ayah!"Aldi hendak menyentuh bayi kecil itu dari pelukan Maryono tapi tangan dan bah
Husna sekarang bisa lebih bersantai karena ada yang membantu pekerjaannya di rumah. Ah, bukan ada yang membantu. Lebih tepatnya ada wanita yang bisa diperbudak.Astaga, Husna menahan tawanya. Lihatlah wanita ini! Kemarin dia begitu garang ingin memenjarakan Aldi karena fitnahnya tapi sek







