تسجيل الدخول"Untuk apa sebenarnya kamu jam tangan itu?" Nisa jadi penasaran.
Kemarin adik iparnya datang kemari untuk mencari suaminya dan hari ini dia datang dengan berbeda tujuan."Ambil saja dan jangan banyak tanya. Aku sudah meminta izin pada suaminu." Sahut Rama malas.Nisa mencebik. Ia menutupi rasa dongkolnya dengan senyuman manis dan berlalu ke kamar pribadinya. Setelah itu, dia membawakan jam tangan berwarna navy tersebut."Ini." Ujar Nisa memberikan jam tangaSelina mengusap air matanya dengan pelan. Sudah tiga hari ini Aulia tak ada di sisinya. Tak bisa dipeluk.. tak bisa diciuminya dengan kasih sayang..Kehidupannya bergelung dengan sepi. Maryono sudah pulang ke kampung halamannya. Meninggalkan Selina seorang diri menyelami kesepiannya.Hari mulai beranjak malam, sejak tadi siang Selina tak berminat untuk makan. Menyentuh dapur saja ia enggan.Biasanya ada Aulia yang akan bernyanyi riang meminta makanan. Tapi kali ini.. Selina sudah kehilangan semangatnya.Sepanjang hari yang ia pikirkan adalah Aulia..Anaknya yang pemilih itu apakah bisa makan dengan papanya?Bisakah Aulia tidur tanpa pelukan darinya?Oh.. Selina sungguh bersusah hati.Samar-samar terdapat suara pintu terketuk nyaris tak terdengar di telinga Selina yang tengah berkabung sepi. Hingga ketukan itu berubah menjadi kuat, barulah Selina keluar dari kamarnya dan melihat tamu yang datang. Bisa j
"Untuk apa sebenarnya kamu jam tangan itu?" Nisa jadi penasaran.Kemarin adik iparnya datang kemari untuk mencari suaminya dan hari ini dia datang dengan berbeda tujuan."Ambil saja dan jangan banyak tanya. Aku sudah meminta izin pada suaminu." Sahut Rama malas.Nisa mencebik. Ia menutupi rasa dongkolnya dengan senyuman manis dan berlalu ke kamar pribadinya. Setelah itu, dia membawakan jam tangan berwarna navy tersebut."Ini." Ujar Nisa memberikan jam tangan tersebut.Rama mengambil jam tangan tersebut dan ditaruhnya di dalam saku celananya. Ia lalu berbalik untuk keluar dari apartement milik kakaknya."Bagaimana rencana pernikahanmu? Ternyata dua minggu lagi kamu akan menikah dengan wanita pujaanmu.""Lancar. Semuanya baik-baik saja." Balas Rama acuh."Tunggu sebentar, Rama!" Ucap Nisa menahan kepergian adik iparnya."Ada apa lagi? Aku sibuk, Nisa!""Aku tahu!" Seru Nisa tersenyum penuh arti.
Malam ini, Selina tak bisa tidur. Tak ada putri kecil yang biasanya dipeluk, tak ada gurauannya, suaranya bahkan rengekan merdunya membuat Selina rindu setengah mati.Bantal kesayangan Aulia dipeluknya dengan erat. Wanita ini kembali menangis dalam diam."Maafkan mama, nak.." lirih Selina. Dia sangat merindukan putrinya.["Aku berjanji akan membawa Aulia kembali padamu."]Semilir suara Rama terngiang di telinganya.["Aldi berbohong dengan mengatakan kalau dia sudah menggugat hak asuhmu. Dia malah menyewa orang untuk berpura-pura menjadi pihak komnas untuk mengambil putrimu.. dan aku berjanji akan membawa Aulia ke tanganmu serapi mungkin."]Rama sudah memiliki cara. Aldi tak bisa dikerasi dengan cara mengambil Aulia secara paksa. Melawan pria itu harus menggunakan taktik untuk membuat Aldi tak berkutik. Dan Rama meminta Selina untuk bersabar menunggu. Setelah itu, ia akan kembali lagi bersama putrinya.Rama sendiri sudah
"Rama, kemarilah!" Ajak Mala pada putranya yang baru saja tiba.Dengan gugup, Rama jalan mendekat ke arah dua wanita yang sedang duduk mesra di sofa ruang keluarga. Pria ini lalu mengambil tempat duduk di hadapan mereka."Lihat ini. Tadi mama pergi ke percetakan. Ternyata undangan kalian hendak di cetak. Jadi mama bawa satu sebagai contoh. Gimana? Kamu suka nggak?" Tanya Mala.Rama mengambil undangan tersebut dan menatapnya. Dr. Rama dan Selina. Nama itu terukir diatas kertas ini dengan menggunakan tinta emas. Seketika hati Rama menciut. Ia takut jika undangan pernikahan ini tak akan pernah sampai ke tangan tamu undangannya."Rama.." panggil Mala lagi.Rama berdeham. "Cantik, ma. Warna biru membuat undangan ini terlihat sederhana tapi juga megah.""Mama juga setuju." Sahut Mala mengulum senyum.Rama lalu mengangkat wajahnya dan menatap Selina."Kenapa Selina menangis, ma?"Mendengar itu, Mala
"Indah sekali, ya?"Senyum mengembang dari wajah Mala sembari menatap Selina. Di hadapan kedua wanita ini terhampar sebuah undangan berwarna biru coral. Begitu cantik dengan warnanya.. dan begitu indah dengan dua nama yang tersemat di atas sana.. Rama dan Selina."Tadi ibu sama papanya Rama pergi ke percetakan untuk melihat undangan pernikahan. Sekalian mau meninjau ulang gedung pernikahan kalian. Syukurlah undangannya sudah selesai, besok undangan ini akan siap dicetak. Jadi lima hari lagi kita bisa menyebarkan undangannya." Sambung Mala.Selina menatap getir undangan hard cover yang ada di sebrang sana. Ia sama sekali tak berniat menyentuh undangan tersebut."Kenapa, Selina? Kamu nggak suka undangannya, ya?" Tanya Mala pada Selina yang hanya diam.Selina terkesiap. "Suka, bu. Undangannya cantik sekali."Mala lalu mengulum senyum. "Seila juga sudah mengirimkan foto gaun pengantinmu kemarin.. sungguh indah sekali, nak. Kamu pasti
"Terima kasih atas bantuannya."Aldi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada pria dihadapannya.Dengan tersenyum, pria berkacamata ini mengambil amplop tersebut dan mengintip sedikit isinya. Ternyata hasilnya memuaskan."Sama-sama, pak. Saya juga sangat senang karena Alina sudah kembali pada bapak." Sahut Novran tersenyum penuh arti."Tapi cukup diingat, pak. Rahasia ini cukup kita berdua yang mengetahuinya." Ujar Aldi mengingatkan."Kalau soal itu anda tenang saja. Saya pandai menyimpan rahasia." Balasnya terkekeh. "Jangan segan untuk meminta bantuan kepada saya. Dengan senang hati, saya akan membantu."Aldi hanya tersenyum tipis. Ia lalu membiarkan Novran berlalu dari rumahnya."Pak Aldi." Panggil Eva dari dalam. "Alina nggak mau makan."Aldi mendengkus. "Buka TVnya, suruh dia menonton kartun. Pasti dia mau makan.""Sudah, pak. Tapi Alina malah menangis.""Kasih yutub aja dari ponsel
"Kamu menangis, sayang?" Aldi mengusap lembut bekas air mata yang berjatuhan ke pelipis istrinya.Ia pandangi wajah itu dengan kasih sayang. Selina masih belum mau juga membuka matanya.Aldi mendesah pelan. Sekitar 90 menit yang lalu Maryono mendadak memberi tahu jika dia harus pulang ke kampung ka
"Aldi! Sedang apa disini??" Maryono memandang tajam."Aku.." Aldi memutar kepalanya sejenak untuk menatap mertua dan petugas yang meladeninya secara bergantian. "Mencari ayah.""Mencariku? Tapi aku diluar.""Aku tadi melihat ayah masuk kemari."Maryono menghela nafas. "Mari keluar. Kasihan suster i
"Cepat sekali kamu datang.. nggak ngajar?" Tegur Maryono."Ngajar, yah. Tapi hanya satu kelas aja. Ayah ngapain dari sana?" Aldi menunjuk ruangan yang bertuliskan NICU."Oh.. ayah hanya melihat karena penasaran. Rupanya itu ruangan khusus untuk ICU bayi."Dahi Aldi langsung mengernyit."Ayah kenal
"Aldi." Tegur Maryono dengan suara beratnya. Aldi menatap ke arah mertuanya yang sedang terduduk dikursi sembari memegang tongkat, lalu membalas pandangan yang ditujukan oleh pria tinggi kepadanya."Kamal.." gumam Aldi.Kamal berjalan mendekat ke arah Aldi. Wajah dengan rahang tajam itu menatap de







