تسجيل الدخولOleh karena kegaduhan yang terjadi semalam, Rama harus meminta maaf kepada perawat dan para petinggi di bangsal anak.
Jangan salahkan Rama yang mengambil keputusan demikian, salahkan Aldi yang manipulatif dan tak bertanggung jawab.Selina bahkan bersyukur putrinya sekarang kembali ke dekapannya. Aulia juga sudah dipindahkan ke ruang VVIP demi kenyamanannya.Untungnya anak ini telah kembali ceria. Ia mau makan disuapi oleh ibunya. Tak ada lagi drama tak mau makan dan"Assalamu'alaikum.""Wa'alaikum salam." Rama cepat-cepat memutus panggilan video yang disambungkannya.Selina masuk dengan senyum manisnya. Tangan wanita berhijab ini tampak penuh membawa satu paper bag dan satu tas tangan. "Mas Rama udah makan?" Tanyanya perhatian."Udah tadi. Itu habis." Rama menunjuk mangkuk buburnya."Alhamdulillah. Kebetulan aku buat puding mangga. Mas mau cicip?" Tawar Selina sembari membuka jaket tebalnya hingga tersisa gamis saja."Boleh. Kamu naik apa kemari?""Diantar ojek online." Selina menghidangkan puding tersebut ke Rama. "Mas bisa makan sendiri atau mau ku bantu?"Gara-gara pertanyaan itu, Rama jadi gugup."Aku bisa makan sendiri. Tanganku sudah lebih baik."Rama mengambil sendok puding tersebut dan memakan makanan lembut itu perlahan. Seperti biasa, masakan Selina tak pernah gagal."Maaf ya rasanya kurang manis. Sengaja aku kurangin karena Aulia juga
Rangga menggelepar sembari memegang pipinya yang sudah tercetak lima jari dari Taufan. Ia pun jatuh berlutut dan memegang kaki papanya."Maaf, papa.. maafkan aku.." lirihnya ketakutan."Papa nggak menyangka kamu tega melakukan ini pada adikmu sendiri. Demi ambisimu, kamu menjadikan Rama sebagai kambing hitam! Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?? Dimana hati nuranimu??!"Rangga tertunduk. Ia terus memegang kedua lutut papanya. Wajah itu telah memerah."Dan lihat hasilnya.. kamu ditipu, kan? Tak hanya itu, istrimu juga sudah meninggalkanmu! Dan lihat sekarang apa yang terjadi pada adikmu! Lihat!" Bentak Taufan. "Bangun!""Maaf, papa.." ucapnya mulai menangis."Bangun!" Teriak Taufan membuat rumah yang hening ini bak disambar petir.Mala yang tengah beristirahat sampai keluar dari kamarnya dengan raut rajah yang cemas."Rangga.." Mala menatap putra sulungnya yang bangun dari berlutut."Duduk disana!" Taufan
Selepas Taufan dan Mala kini ada Maryono yang datang berkunjung. Saat pria paruh baya ini datang, yang ditanyakan oleh Rama adalah Aulia. "Aulia dititipkan ke day care sebentar. Selina bilang tidak boleh membawa anak kecil ke rumah sakit." Jawab Maryono. "Itu benar." Rama heran kenapa dia sendiri bisa lupa akan peraturan rumah sakit. "Bagaimana kabarnya? Apa dia masih menangis?" Rama ingat sekali kemarin malam Aulia menangis sambil memeluknya. Anak itu terus memanggilnya dengan sebutan papa. "Nah ayah lihat sendiri apa yang dikhawatirkan mas Rama. Dari tadi pagi yang dia pikirkan cuma Aulia, padahal perutnya masih sakit begitu!" Selina ikut memprotes hingga membuat Maryono terkekeh. "Aku cuma mencemaskannya, Selina.." ujar Rama membela diri. "Lebih baik kamu mengkhawatirkan dirimu aja, mas." "Aulia baik-baik saja." Sela Maryono cepat. Jangan sampai pria dan wanita ini saling ber
Rangga berjalan gontai menuju pintu rumah dan mengangkat tangannya. Namun tangan itu seketika membeku. Sejenak ia ragu..Perlukah ia jujur atas semua masalah yang menimpanya selama ini?Tapi dia takut..Bagaimana tanggapan dari orang tuanya?Rangga yang cerdas, hebat dan selalu bisa diandalkan ini malah menjadi sumber masalah bagi keluarganya..Dia sudah terkhianati.. oh, tidak.. dia juga sudah ditumbalkan..Oleh karena ketidak berdayaannya itu lah yang membuat Rangga menjadi pengecut. Ia kehilangan segalanya..Jabatannya, karirnya, uang serta istrinya..Apalagi Rama mengatakan jika Nisa ingin kembali pada Rama setelah berpisah darinya. Ya, Tuhan.. Beginikah rasanya dikhianati? Ternyata sakit sekali..Lalu bagaimana perasaan Rama setelah tahu ia bertubi-tubi dikhianati oleh keluarganya sendiri?Hati Rama tak hanya sakit, tapi juga hancur sekali..Ting. Tong..Akhirnya tangan i
"Apa kabar, Rama?"Rangga menatap Rama dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun sikapnya kaku, bak dua orang asing yang baru bertemu."Beginilah." Rama menunjukkan kondisinya. "Aku baik-baik saja.""Papa bilang kalau kamu kritis.""Benar. Tapi aku bisa melewatinya."Rangga menatap adiknya lagi kini dengan rasa iba. Di kedua telapak tangan pria itu terdapat perban yang membalut. Begitu juga dengan perut yang tertutup pakaian pasien itu."Apa yang terjadi?" Tanya Rangga serak."Panjang sekali ceritanya. Mungkin papa dan pak Abram bisa menjelaskannya padamu.""Rama.. sebenarnya.." bibir Rangga sampai keluh untuk mengucapkan sesuatu."Terima kasih atas perhatiannya. Aku yakin mas Rangga juga sangat berat datang kemari, kan? Aku dengar kamu juga tengah terkena masalah."Wajah Rangga lalu tertunduk."Begitulah..""Mas Rangga dan Nisa juga berencana untuk berpisah, begitu?"
Secepat kilat Rangga ke rumah sakit Mandala pagi ini setelah mendapat kabar jika adiknya kritis. Sesampainya disana, langkah Rangga membeku seketika. Disana tak hanya ada ibunya yang sedang menemani Rama melainkan juga ada Selina.Tiba-tiba saja Rangga malu untuk bertemu dengan adiknya. Seperti ada rasa bersalah yang menyeruak muncul.Bagaimana tidak?Beberapa tahun ke belakang kehidupan Rama dihantam ombak sana sini. Dan itu ada sangkut pautnya dengan kesalahan Rangga. Andai saja pria ini berkata jujur.. Andai saja dia berani mungkin Rama tidak akan sampai sesakit ini.Apalagi tak hanya Rama yang menjadi korban melainkan juga keluarganya."Mas mau duduk?" Tanya Selina saat melihat Rama bergerak."Iya. Tolong bantu aku."Selina mengulurkan tangan yang disambut oleh Rama. Setelah itu, ia menaikan posisi bednya."Jangan terlalu banyak bergerak, mas. Perut kamu masih sakit." Ujar Selina ngeri melihat Rama yang meri
Mayang menangis tersedu-sedu sembari menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Polisi. Yang tadinya hanya dua orang yang memberikan pertanyaan kini bertambah menjadi empat.Namun, tak ada satupun dari mereka yang bisa menenangkan wanita ini."Izinkan kami bertanya, Mayang. Tolong kooperatiflah.." ucap
Selina mengalami kontraksi dan perdarahan lagi. Tanpa perlu kompromi, wanita hamil ini harus dirawat inap.Husna yang mengantar menantunya jadi pusing kepala. Satu sisi anak kandungnya tengah terjerumus di sel penjara, nah sekarang menantunya harus ikut terikat di ranjang pasien.Kalau begini lebih
"Dimana Selina, ma?"Sudah lima hari Aldi mendekam di jeruji besi, tapi tak sekalipun Selina datang menemuinya. Hanya ada Husna yang hampir datang setiap hari untuk mengantarkan makanan."Lagi sibuk mencari pengacara yang hebat buat kamu." Sahut Husna menautkan lauk dan nasi dalam piring. "Ini maka
Aldi bangun dengan nafas yang memburu. Detak jantungnya berlari dengan cepat. Peluh ini bercucuran membasahi dadanya.Pria ini mengerjap memandang sudut kamar. Tak ada lagi Selina yang berdiri disana. Memandangnya dengan penuh kesedihan. Wajah yang pucat, hijab yang berlumuran darah. Ya, Tuhan.. ap







