LOGINMakhluk tinggi itu datang ke arah Wira, benturan tubuh mereka terjadi dan membuat para mahasiswa lainnya ada yang menutup matanya.
Slap!
Brush!
Wira terdorong ke belakang dan tubuh monster kurus tinggi itu menimpa Wira, suaranyanya terdengar menyayat.
KUUUUKKKKK! (Sakit, sakit ....)
Bruk! Kepala monster itu tergeletak di samping kepala Wira dan membentur lantai dan tak lagi bergerak. Sementara, ujung pedang ternyata menembus tubuh monster itu hingga tembus ke atas. Wira kesulitan bergerak, saat serangan mereka bertemu. Wira melihat celah dengan kemampuan matanya yang tajam dan menusuk monster itu dengan cepat.
[Petualang, anda berhasil membunuh Monster Rak-Rak. Target misi untuk mendapatkan senjata, 2/3]
”Bantu singkirkan makhluk jelek ini, Bisma,” kata Wira kesulitan karena dia tertimpa makhluk tersebut dan terjepit dengan pedang yang masih dipegangnya.
Bisma segera mendekati Wira dan menggunakan kakinya untuk menendang tubuh monster itu. Sementara, Wira menarik pedangnya.
Bruk!
Monster itu terguling dan membentur dinding. Wira dipenuhi darah kuning dan dia bangkit.
”Bajuku dipenuhi darah monster itu, menyusahkan saja.”
”Wira, kamu hebat!” kata Reka memuji Wira dan mencoba menempel pada Wira, di dunia yang dipenuhi monster mendekati orang kuat akan membawa keselamatan untuknya.
Wira sudah paham, Reka yang selalu mengganggunya kini menempel padanya. Wira tidak peduli, dia memberikan pedang itu kembali pada Diki.
”Terima kasih, Diki. Ini pedangmu, ambillah kamu harus berjaga untuk dirimu sendiri.”
”Baik, Wira.”
Semua berdiskusi sekarang, mereka tidak bisa menunggu di dalam kelas. Bisa jadi, para mosnter akan datang lagi ke kelas dan jumlah mereka bisa semakin banyak.
”Aku tidak peduli, aku akan keluar dan mencari perlindungan. Aku tidak mau menunggu kematian di sini!” kata seseorang yang memakai kemeja biru.
”Aku tidak mau keluar, di luar sangat berbahaya. Kita tunggu bantuan datang!”
”Aku tidak mau mati, apa yang harus kita lakukan?” timpal wanita yang memegangi tasnya dengan cengkeraman kuat.
Tidak ada kesepakatan, semua hanya mencari keselamatan tapi bingung hendak keluar atau di dalam kelas.
”Diki, putuskan apa yang harus dilakukan. Kamu ketua angkatan bukan?” Wira melihat Diki dan memberikan kepercayaan sebagai ketua angkatan di kelas mereka. Setidaknya, selama ini Diki adalah pemimpin di kelas itu.
Diki memegangi pedangnya sendiri, ”Aku takut, Wira. Melihat monster yang mengerikan itu, aku kesulitan untuk bergerak. Bahkan, pedangku pun tak bisa kugerakkan.”
”Kamu harus bisa melawan ketakutanmu, Diki. Kamu adalah ksatria pedang, bukankah itu yang kamu impikan? Kamu telah mengambil jalan sebagai seorang ahli pedang, lalu kenapa sekarang kamu takut pada monster?”
”Kamu ... kamu benar, Wira.” Diki mengangguk dan menguatkan tekadnya, ”Aku akan berjuang dan melindungi teman-temanku.”
”Bagus!”
”Baiklah, saya punya usul.” Diki kini mencoba untuk berani dan melihat semua teman-temannya, ”Kita akan bertahan di kelas ini untuk beberapa saat, setidaknya sepuluh menit. Jika kondisi semakin bahaya, maka kita akan keluar bersama dan mencari perlindungan!”
Semua tak punya pilihan selain setuju, sepuluh menit untuk menunggu. Mereka berharap bahwa bantuan segera datang dan mengevakuasi mereka dari kondisi ini. Sementara, di luar masih terlihat ada beberapa monster bersayap dan aneh terbang di angkasa. Kondisi yang berubah dengan cepat ini telah membuat dunia benar-benar mencekam.
Mereka hanya aman untuk satu menit, dan saat itu juga suara mendesis kembali terdengar mendekati pintu yang sudah terbuka di kelas mereka.
Para mahasiswa itu mundur ke belakang dan berkumpul, Diki dan Wira berada di depan semua orang. Dan, dua monster tinggi kembali muncul di pintu. Kali ini, dua monster dan tangan mereka terdapat percikan darah segera. Bahkan, salah satu dari mereka melemparkan mayat manusia dan melemparkannya ke kelas itu setelah menyedot energi mayat tersebut.
Bruk!
KIIIEEEEEEEKK! (Banyak makanan di sini, Raja pasti senang!)
[Hukuman Petualang masih ditetapkan, bunuh tiga monster untuk mendapatkan senjata anda]
[Target terpenuh, 2/3]
”Ayo bertarung lagi, Bisma!”
”Aku akan memberikan buff padamu, Wira.”
”Apa aku bisa ikut membantu?” tanya Diki.
”Kamu pasti bisa, Diki.”
Tiga orang maju dan sisanya semakin ke belakang, mereka sudah ketakutan dan gemetar melihat dua monster itu.
”Bagaimana kalau kupinjamkan pedangku lagi padamu, Wira. Aku gemetar sekarang.”
Wira mendesah, tapi masih lebih baik menggunakan senjata itu. Wira menerima pedang Diki dan memegangnya kembali. Pelatihan yang sudah dilakukannya untuk belajar menguatkan kekuatannya bersama paman Gani kini ternyata sangat dibutuhkan. Wira tidak mengerti, tapi rasanya memang paman Gani mempersiapkan dirinya untuk menghadapi situasi seperti ini.
Apakah paman Gani tahu kalau dunia akan berubah seperti ini?
KIEEEEEEEKKK!
Satu monster tinggi, monster Rak Rak melompat dan tangannya memangjang seperti sebelumnya.
[Anda mendapatkan buff, kekuatan anda meningkat]
Wira tahu energinya merupakan energi support dari kemampuan Bisma.
Wosh!
Mata Wira mengkilat dan dia memutar tubuhnya sambil menebas lengan kanan monster Rak Rak dengan cepat. Wira tak menyangka, dia bisa begitu cepat sekarang dan mampu melewati monster itu. Wira semakin yakin dengan kemampuannya.
Monster itu kesakitan dan tangan kirinya segera menyerang Wira, Wira mundur dengan cepat sehingga lengan tajam monster itu tak bisa menggapai lehernya.
Srak!
Brush! BUG!
Wira masih bisa mengangkat kaki kanannya dan menendang keras dagu monster Rak Rak sehingga monster itu terdorong ke belakang dan membentur barisan kursi dan meja yang masih tersisa.
Brak! Bam!
Satu monster Rak Rak yang tersisa terlihat marah dan menerjang ke arah Wira yang masih belum siap.
”Awas Wira!” teriak Diki khawatir.
Wira kehilangan keseimbangan karena baru saja menendang monster satunya. Dan, tangan monster satunya hampir mencapai Wira. Wira sulit untuk menghindarinya dan hanya bisa memasang lengannya untuk menahan serangan monster itu.
Slap!
KIEEEEEKKKK! (Apa ini, mataku sakit!) teriak monster itu.
Sebuah energi menyambar mata monster itu sehingga dia menutupi matanya dan serangannya pada Wira batal. Di belakang Wira, Bisma menggunakan energi untuk melemparkan sebuah tali energi dan menyambar mata monster itu. Wira juga melihat hal itu, Bisma menolongnya dan bagaimana Diki mampu melakukan hal itu?
Kesempatan!
Wira mengangkat pedang dan segera maju setelah satu kakinya memberikan pijakan dan mendorong tubuhnya untuk maju.
Slash!
KIIEEEEEEEKKKK!
Tangan dan kepala monster Rak Rak itu terpisah dari tubuhnya. Gerakan Wira sangat cepat dan mampu merobohkan satu monster Rak Rak.
Bruk!
[Hukuman untuk anda yang melanggar peraturan dihapus, anda telah memenuhi misi atas hukuman anda]
[Anda bisa mengeluarkan senjata pembunuh anda]
[Target terpenuhi, membunuh monster di awal kehancuran dunia. 3/3]
[Selamat, anda mencapai tahap baru. Anda resmi menjadi seorang Pembunuh]
Apa ini?
Aku adalah seorang pembunuh? Wira tak percaya melihat status petualang miliknya.
Delapan bentuk pedang raksasa bercahaya mengelilingi Aehtelgard, berputar dengan pelan hingga semakin cepat. Pedang – pedang itu seperti beresonansi dengan energi fisik sempurna mode tempur milik Aethelgard. Zirah tempur dan mode wujud sempurna Aethelgard membuat domain wind void milik Wira bergetar, dia mampu merasakan energi destruktif yang siap menghancurkan Wira. Sosok penguasa sejati yang selama ini menyerap energi dari dunia di semesta ini memang memiliki kekuatan yang menakutkan. Udara di dalam Bunker Inti tertekan hingga batas maksimal, memicu retakan-retakan dimensi berukuran mikro di sekitar pilar Source Core.“Kamu sangat beruntung, Manusia hina! Kamu melihat wujud tempurku yang sempurna, dan matilah dengan kebanggaan!” Aethelgard meraung dan mulai menyerang.BOOOOOOOOOOMMMM!Dua dari delapan pedang cahaya raksasa meluncur menukik dari angkasa, membelah atmosfer bunker dengan kecepatan yang melampaui logika waktu!SWISH!Wira tak mau diam saja, serangan itu sangat berbahaya
Wira di lantai kaca inti bunker menyadari rekan-rekannya dalam bahaya, jeritan Bisma terdengar meneriakkan Martha yang pastinya mereka mengalami luka. Namun, Wira di sini sedang berhadapan dengan pemimpin para dewa. Dia tidak mungkin sembarangan pergi, karena musuh yang sebenarnya, boss para dewa ada di sini. Dewa sialan! Mereka selalu saja mengatasnamakan kebaikan manusia demi kepentingan mereka sendiri.Wira merasakan energi Martha berdenyut lemah dari energi sense energi miliknya. Namun, Wira yakin mereka pasti bisa bertahan. Kini, suara dan sense Wira tidak lagi bergantung pada sistem, dia mampu merasakan energi elemental angin dengan baik. Hembusan angin dari luar inti bunker mampu dirasakan Wira dan mengabarkan apa yang terjadi para rekan-rekannya dengan baik.DRRRRTTT!Wira Bersiap dan dagger miliknya bergetar, dia tahu bahwa ketenangan ini adalah persiapan persiapan perang mati-matian melawan raja para dewa. Energi kegelapan yang menyelimuti dagger matic berdenyut, memancarkan
Ledakan energi terjadi di sekitar ruang utama inti Aethel, pertarungan dahsyat masih terjadi antara rekan-rekan Wira dan para celestial. Di sisi yang berbeda, alun-alun Kota Kristal Aethel bergetar dan berguncang hebat, hal itu karena sang raja semesta pemilik dari Aethel yang dikatakan sebagai raja dari para dewa melayang turun dan melihat Wira dan Rania sambil tersenyum sinis.Aethelgard yang selama ini menguasai dan menyerap energi dari planet-planet termasuk bumi, melayang penuh rasa sombong di hadapan Wira. Dialah yang membuat manusia di bumi memiliki kekuatan sistem yang membatasi mereka semua mendapatkan satu kekuatan saja, dan membuat mereka saling membunuh. Dialah dalangnya! Juga, dialah dalang yang mengurung ibu yang melahirkan Wira dan membuat mereka berpisah.Aethelgard mengalihkan wajahnya dari Rania dan Wira, seolah dia benar-benar meremehkan mereka. Dia kini melirik kearah bunker, dekat dengan pertarungan para manusia melawan pasukan dewa.“Serangga-serangga menyedihkan
Gemuruh suara beriringan dengan pasukan Celestial yang menyerbu kearah Wira dan rekan-rekannya. Lautan para dewa itu bagaikan air bah tsunami dan memiliki sayap-sayap keemasan yang mengepak bagaikan Cahaya dari hujan meteor yang menyerbu Wira. Mereka siap menghancurkan mahkluk rendahan yang berani menginjakkan kaki kotor mereka di tanah para dewa.WHOSH!Gideon sang penjaga gerbang Bintang 7 melihat pasukannya yang menyerbu dan mengangkat pedangnya sebagai seruan untuk membunuh para manusia yang menerobos masuk.“Bisakah kalian menahan mereka sebentar!” Martha berteriak pada Wira dan melihatnya. Wira melihat tatapan mata itu, sama seperti saat pertama kali bertarung bersama Martha dahulu. Sejak awal dia memiliki kekuatan besar dan mampu membunuh monster dengan mudah, sekarang dia pasti sudah memiliki kemampuan yang jauh lebih besar karena lama tidak bertemu.“Baik, silakan lakukan apapun yang kamu inginkan.”Martha yang merupakan salah satu petinggi dari Guardian telah mengalami banya
Seperti biasa, Wira melesat memasuki portal yang menuju para dewa. Kali ini berbeda, dia tak lagi memiliki sistem yang dulu selalu diandalkan dan mengetahui statnya. Namun, jika dia ingin melawan dewa maka dia harus melepaskan kemampuan bawaan yang diberikan mereka. Itulah yang diajarkan Pemandu Avatar. Sensasi melesat di portal kali ini lebih Panjang, seperti berputar di pusaran air dengan kecepatan tinggi. Energi di dalam portal juga membuat jiwa Wira tersedot kuat, hawa dingin ekstrem yang membekukan setiap otot di persendian. Jimat Penembus Realm yang diberikan Paman Gani cukup bermanfaat karena memberikan kehangatan pada tubuh Wira sehingga dia mampu menahan hawa ekstrem dengan mudah.WHOSH! Splash!Akhirnya selesai. Wira keluar dari portal dan menahan tubuhnya dengan sedikit turun dan menekuk satu lututnya agar seimbang saat mendarat di dunia yang berbeda. Wira melihat rekan-rekannya ada di depannya. Sudah sempurna, Bisma tersenyum seperti biasanya tak takut lagi pada apapun. Sem
Suara itu!Wira merasakan ancaman yang siap mencabik-baiknya dengan suara itu. Namun, dia juga mengingat suara itu pernah dia dengarkan saat di Asguard. Portal raksasa bergetar hebat karena kekuatan suara yang dikirimkan sang Celestial. Kekuatan sang Dewa Celestial dan perencana perombakan dunia, pasti sedang menunggu dan siap membunuh para pemberontak yang ingin bebas dari cengkeramannya.Bisma! Wira melihat Bisma memegangi kedua lututnya, dia merasakan kekuatan yang menekan hingga menembus portal. Senyuman yang dingin terlihat dari bayangan gumpalan di balik portal kea rah Aethel, siapa saja yang melihatnya mendapatkan tekanan seperti ditusuk energi jarum yang menembus seluruh tubuh.“Kekuatan yang mengerikan, apakah itu dewa yang akan kita hadapi? Kekuatannya bahkan jauh di atas kekuatan Jenderal Kastor sebelumnya.”Pangeran Harry bergumam begitu saja, dia merasakan seluruh tubuhnya gemetar dengan tekanan itu bahkan sulit digerakkan untuk beberapa detik."Makhluk Aethelgard," jawab
Klap![Status petualang; Wira][Bertahan hidup adalah tujuan anda di awal kehancuran dunia. Tingkatkan kekuatan anda dan naikkan kemampuan anda untuk mempersiapkan tahap kehancuran dunia selanjutnya]Wira membaca status jendela dengan kemampuannya sebagai Petualang. Saat itu, empat orang yang sela
”Cepat keluarkan senjatamu, Wira! hadapi monster-monster belalang itu!” Bisma memegangi lengan Wira cukup kuat.Capit-capit tiga belalang besar itu terus bergerak, terbuka dan tertutup. Suara bertemunya antar ujung capit terdengar menyeramkan dan ruangan kelas itu menjadi mencekam karena suara capi
Wira telah melakukan pelanggaran karena memilih dua kotak, tapi Wira tidak peduli dengan hal itu.[Anda memilih kemampuan, Elemental Angin dan Pembunuh]Splash!Tulisan di atas adalah tulisan terakhir yang dilihat Wira, dan matanya menjadi nanar karena gelap kembali menyelubung di depannya. Ruangan
Tangan wanita itu memegang kepala anak kecil yang baru berumur lima tahun, dia mengecup kening bocah lelaki itu.”Wira, Ibu pergi tidak akan lama. Ibu harus menjemput Ayahmu, kamu ikut bibimu selama Ibu pergi ya.”Senyuman wanita itu menguatkan putra satu-satunya, dia harus pergi. Wanita itu, Rania







