LOGINKlap!
[Status petualang; Wira]
[Bertahan hidup adalah tujuan anda di awal kehancuran dunia. Tingkatkan kekuatan anda dan naikkan kemampuan anda untuk mempersiapkan tahap kehancuran dunia selanjutnya]
Wira membaca status jendela dengan kemampuannya sebagai Petualang. Saat itu, empat orang yang selalu mengganggu Wira maju dengan bergaya menuju pintu, mereka siap menyambut musuh monster yang datang.
Roni berbisik pada ketiga teman gengnya, jika si lemah Wira saja bisa bertarung melawan monster-monster belalang itu. Maka, mereka pasti lebih hebat dan lebih mudah mengalahkan monster. Mereka juga akan menjadi lebih kuat dengan bantuan sistem petualang dengan kemampuan yang mereka pilih masing-masing sebelumnya. Mereka begitu percaya diri keluar kelas dan siap menghadapi para monster.
Crop!
Malin yang berada di sebelah Roni kaget, Roni melotot melihat ke arah Malin yang gemetaran tubuhnya. Sebuah benda dengan cepat menembus tubuh Malin hingga ke belakang tubuhnya. Dan, wajah mengerikan keluar dari pintu yang sudah hancur tersebut.
”A ... Aku tak bisa bergerak ....” suara Malin terhenti dan tubuhnya terangkat ke atas, makhluk aneh itu sepenuhnya terlihat dan Roni kini menggigil ketakutan di tempatnya.
Monster itu memiliki wajah lonjong dan giginya terlihat menyeramkan, tubuhnya kecil dan tinggi, tangannya panjang dan jari-jarinya memanjang.
KUUUUKKKKK! Suara monster itu menarik tangannya, dan tubuh Roni terjatuh begitu saja ke lantai dan tak lagi bergerak.
KUUUUKKKKKKKK! (makanan ada banyak di sini!)
KUUUKKK! (Raja pasti senang dengan banyak makanan)
”Monster jelek!” teriak Darto sambil mengarahkan pukulannya ke kepala makhluk tersebut, Darto refleks melakukannya.
Bug!
Pukulan itu membuat wajah monster itu terdorong ke samping, dia terhuyung ke belakang. Wajah monster itu marah dan mengangkat kedua tangannya yang panjang. Darto dan Roni bersiap lari memasuki kelas kembali, tapi kedua punggung mereka sudah ditembus oleh tangan monster itu yang memanjang
AAAHHH!
Keduanya terhempas ke lantai dengan menghadap ke bawah, darah mengalir dan keduanya terlihat kesulitan bergerak. Tak lama kemudian, keduanya sudah tidak bergerak dan monster kurus itu melompat dan menarik kedua tangannya yang panjang. Monster itu melompat dan masing-masing kakinya menginjak punggung Roni dan Darto yang sudah tidak bernyawa, kepala monster itu terlihat menyeramkan dan melihat manusia di kelas itu ke kanan dan ke kiri.
Suasana menjadi mencekam, dan para mahasiswa di kelas itu baru menyadari bahwa apa yang terjadi dalam waktu sekilas itu telah membuat tubuh mereka semua gemetaran.
Bruk!
Reka terjatuh karena gemetaran, kedua kakinya sulit menyangga tubuhnya.
KUUUUKKKKKK!
Suara mengerikan monster itu terdengar lagi dan melangkah maju mendekati Reka yang pucat dan tak mampu berbuat apapun. Tangan monster itu diangkat ke atas dan jari-jarinya memanjang dan menyatu untuk menusuk Reka. Monster itu menyerap energi dengan jari-jari tangannya pada tiga orang sebelumnya yang sudah dia bunuh.
KUUUKKKKKKKK! (Banyak makanan di sini, Raja akan senang dengan energi yang aku kumpulkan)
Monster itu menyeringai dan tangannya segera mengarah pada Reka yang sudah pasrah pada kematian.
Wosh!
Klap!
[Sinkronisasi kemampuan aktif, tubuh anda memiliki reaksi yang tepat sebagai petualang berbasis kekuatan pembunuh. Seluruh indera anda diperkuat karena kemampuan pembunuh yang anda miliki. Anda memiliki kemampuan yang mampu menampung kekuatan pembunuh]
Mata monster tinggi itu melotot, seorang manusia dengan cepat menahan serangan tangan tajamnya dan menghentikan pergerakan tangannya itu untuk membunuh Reka. Wira dengan kemampuan aneh yang mampu melihat pergerakan monster itu segera berlari dan menahan serangan monster itu sehingga Reka dapat diselamatkan.
Monster itu mencoba menekan tangannya, tapi kekuatan manusia itu mampu menahan pergerakan tangannya.
”Bisma, bantu Reka untuk mundur!” teriak Wira.
Wira masih menahan tangan monster itu dan Bisma tanpa ragu segera menarik tangan Reka dan menjauh dari monster itu.
”Hati-hati, Wira!” teriak Bisma.
Wira masih menahan tangan monster kurus itu, matanya menyala. Pelatihan yang dilakukannya bersama dengan paman Gani kini menjadi bukti, bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasilnya.
KUUUKKKK! (sialan, makhluk lemah)
Monster itu berusaha menarik tangannya untuk memberi pelajaran pada Wira.
[Petualang Wira, asal ras manusia di bumi. Notifikasi; bertahanlah untuk terus hidup dan dapatkan kekuatan untuk menghadapi ancaman kemusnahan manusia]
”Ayo lawan dia, Wira!” teriak Bisma memberi semangat.
”Hajar dia Wira, kamu pahlawan kami!” teriak Diki juga memberikan semangat, tidak lain dan tidak bukan dia juga berharap Wira mampu mengalahkan monster itu. Dengan begitu, nyawanya juga bisa selamat.
Monster itu kesulitan menarik tangannya, maka dia menggunakan tangan kirinya untuk menyerang dan menusuk Wira.
Wosh!
Wira melihat hal itu, tubuhnya yang terlatih dan matanya yang menjadi tajam melihat serangan itu. Dia menghindari serangan itu, tapi ada sedikit goresan yang mengenai lengannya saat menghindarinya.
Srak!
Wira memutar tubuhnya dan membuat gerakan berputar, kaki kanannya berputar dan tepat menendang sangat keras pada rahang monster tinggi kurus itu.
Brush!
Brak!
Monster kurus itu terhempas dengan kuat dan menghancurkan meja paling dekat dengan pintu masuk. Wira berdiri kembali dan melihat monster itu terhuyung dan mencoba untuk berdiri kembali.
”Bunuh dia, Wira!” teriak Reka yang kini sudah bersama dengan lainnya di pojok ruangan.
”Kalahkan dia cepat, Wira!” teriak mahasiswa lainnya.
”Kalian sungguh berisik! Apa kalian tidak bisa diam, atau kalian hadapi saja monsternya sendiri!” balas Wira, mereka sungguh berisik.
Para mahasiswa itu pun diam, mereka semula menganggap Wira adalah mahasiswa miskin dan tidak ada yang memperdulikannya. Kini, saat nyawa mereka semua terancam, mereka menyemangati Wira agar mengalahkan monster itu. Hal itu tidak lain untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka sendiri.
Wira melihat ke arah Bisma dan Diki yang berdiri paling depan.
”Pinjamkan pedangmu lagi, Diki!” teriak Wira.
Wira tahu sesuatu, dia harus mengalahkan tiga monster untuk bisa mengeluarkan senjatanya sendiri.
[Petualang Pembunuh, Wira. Kalahkan tiga monster di awal kehancuran ini, senjata anda akan muncul]
[Target monster dibunuh, 1/3]
Tidak ada jalan lain, Wira harus bertarung.
”Kau terlalu lama!” Bisma mengambil alih dan mengambil pedang Diki, dia berjalan mendekati Wira dan menyerahkan pedang itu pada Wira. Bisma mengangguk dan berada di belakang Wira.
”Kita akan melawannya berdua, Wira?” tanya Bisma pada Wira.
”Apa kemampuan yang kamu ambil Bisma?”
”Aku mengambil kemampuan sebagai support.”
”Support?” Wira keheranan.
Monster itu mulai bangkit, dan menyalak marah pada Wira.
KUUUKKKKKK! [Aku akan menyerap energimu untuk mempersembahkannya pada Raja!]
Monster itu mempersiapkan kedua tangannya, jari-jarinya tajam seperti baja lancip. Dia menerjang ke arah Wira. Wira pun bersiap dengan pedangnya.
Tangan Bisma mengarah pada Wira.
[Support aktif, anda memberikan buff energi tambahan pada Petualang lain menjadi dua kali lipat]
Wira merasakan tubuhnya dipenuhi energi. Wira tahu sekarang, kekuatan itu bantuan dari support milik Bisma.
”Saatnya menyala, Bisma!”
Wosh! Brush!
Di hari kehancuran, membunuh seorang manusia sudah menjadi hal biasa demi keuntungannya. Namun, selama ini Wira tak pernah ingin melakukannya hanya untuk menjadi kuat. Namun, dia punya alasan untuk membunuh seorang manusia jika mereka sudah tak memiliki perbedaan dengan monster.Seperti manusia di depannya yang kini telah menjelma menjadi monster dan membunuh orang lain demi kekuatan!”Aku Setan Merah dan aku merasakan energimu sangat kuat. Aku akan menjadi lebih kuat lagi dengan menyerap energimu!”Wosh!Serangan senjata terjadi, sayap-sayap Setan Hitam memiliki senjata di setiap sela ruas. Serangan senjata tajam itu mengarah pada Wira. Namun, Wira mampu menghindari serangan itu dengan baik dan mengambil sisi lain. Kecepatannya sudah meningkat pesat, pertarungan demi pertarungan membuatnya semakin terlatih. Wira mundur karena dorongan energi, serangan datang lagi dan Wira menangkis dengan daggernya.Bang! Brush! Klang!Mereka terus bertukar serangan, bahkan dampak energi keduanya mem
Pembunuhan yang dilakukan kapten Kanadi dilakukan di depan sekitar seribu pengungsi, semua menjadi panik. Kapten Kanadi menarik tangannya dari tubuh warga. Tangan sang Kapten mengeluarkan cakar-cakar tajam yang berlumuran darah. Itu adalah senjata rahasia yang menyatu dengan tubuh Kapten Kanadi.Kanadi menyerap energi warga yang sudah terjatuh, dia tersenyum kesumat bagai serigala yang memakan mangsanya.[Petualang, kemampuan anda meningkat. Kekuatan sebagai Serigala beast, anda akan semakin kuat dengan menyerap darah dan energi makhluk lain][Kecepatan Beast meningkat, kekuatan meningkat. Beast bisa berevolusi][Anda naik level!]”Ha.. ha.. saatnya berpesta! Kalian semua adalah tumbalku untuk menjadi dewa dan menyerap energi kalian! Jadi, serahkan saja nyawa kalian dengan tenang!”[Perubahan Beast, ON]Crack! Crack! BRAK!Tubuh sang Kapten membesar; otot lengan membesar, diikuti oleh seluruh tubuhnya yang kini membentuk monster serigala yang besar. Bulu perak memenuhi tubuh sang kapte
Notifikasi chat Petualang terus muncul, radius 10 kilometer dari tempat Wira berada. Chat itu terus bermunculan saat Wira dan teman-temannya menyisir jalanan untuk meningkatkan kemampuan mereka dengan memburu monster.”Hati-hati penyergapan!””Aku sekarang takut keluar berburu monster! Manusia lebih kejam daripada monster.””Aku melihat manusia membunuh yang lainnya! mereka telah dirasuki Iblis!””Aku tidak akan keluar! Aku akan bersembunyi hingga semua kejadian aneh ini selesai!””Aku takut bertemu manusia!””Aku mendengar Setan Hitam! Dia telah membunuh manusia untuk kepentingan dirinya!””Setan Hitam sudah membunuh ratusan orang!””Jangan sampai kalian bertemu Setan Hitam! Larilah! Dia sudah memiliki kekuatan penuh karena menyerap energi Petualang!”Setan merah! Wira berpikir bahwa bumi sudah menjadi medan perang bagi para manusia itu sendiri untuk menjadi lebih kuat. Menjadikan orang lain sebagai tumbal agar mereka bisa lebih kuat dan hebat.”Apa kamu sudah membacanya, Wira?” Tanya
Brush!Semburan hijau dihindari Wira dengan kecepatan tinggi, Wira melewati satu Pororo dan menggunakan Matic untuk menebasnya menjadi beberapa bagian. Ada lidah panjang yang terpotong saat mencoba menyerang Wira.[Pengalaman didapatkan, kemampuan meningkat dengan penyerapan otomatis]SLURP!Saat Wira tengah lengah, lidah panjang hampir saja menyentuh punggungnya.Slash!”Jangan melamun, Wira!”Bisma dengan cepat menggunakan tali energi yang digunakan memotong lidah salah satu Pororo. Wira tersenyum dan memutar tubuhna, melewati Pororo itu dan membelah kepalanya dengan daggernya.Slash!Harry dan Lylia juga bertarung dengan baik, mereka mengalahkan beberapa Pororo dengan kemampuan mereka. Kemampuan yang sudah mereka miliki ditambah peningkatan pengalaman dan level yang meningkat dengan membunuh Pororo. Kemampuan mereka terus naik dan menjadi lebih kuat.Brush! Brush!Elemental api dan angin milik Lylia juga terlihat sangat kuat, pengembangan dari sistem dan kemampuan sihirnya sudah ku
Splash!Wira melihat pangeran Harry dan Lylia menghilang dalam tutorial memilih kemampuan, jadi ternyata mereka kini dapat memilih kemampuan mereka sebagai Petualang. Meskipun, mereka bukan berasal dari dimensi ini.Ini menandakan, informasi dari Dekker terbukti. Penyatuan dimensi dan perang akhir, armageddon. Apakah hal itu akan segera terjadi?”Mereka mendapatkan kesempatan untuk menjadi Petualang,” kata Bisma di sebelah Wira.Wira hanya mengangguk.”Wira ... jika manusia memiliki kesempatan kedua dan mereka semua mendapatkan kemampuan Petualang. Apakah mungkin para monster dan makhluk kuat akan datang ke bumi?” Bisma menatap Wira penasaran.”Aku juga menduga hal yang sama denganmu, Bisma. Musuh yang lebih kuat, akan berdatangan ke bumi.””Jadi ... kita akan melawan musuh yang lebih kuat? Ya ... kita hanya perlu bertarung, dan aku akan selalu bersamamu, Wira.”Wira tersenyum, ”Namun ... ada sesuatu yang harus kita perhatikan, Bisma.”Bisma menatap Wira penasaran, Wira masih melihat
Kapten Nagita memutuskan ikut pulang bersama Kapten Tio, bergabung dengan pasukan lainnya yang berada di camp pengungsian. Bersama lebih aman tentunya, sambil merencanakan strategi dan pertahanan bersama militer di seluruh kota dengan saling komunikasi.Mereka pulang menyusuri gang, dengan mudah mereka melewati beberapa monster. Hal itu karena, kemampuan Kapten Nagita saat memilih kemampuan kemarin adalah kemampuan kamuflase atau menghilang. Nagita tidak berpikir jauh, sebagai seorang pelindung dan tentara. Dia berharap bisa menyembunyikan diri dan menyelamatkan orang lain ketika dalam bahaya. Dia berjalan sambil menyembunyikan keberadaan lima orang yang menolongnya dan mereka terus berjalan melewati para monster.Srak! Srak!Sayangnya, Nagita harus menggelengkan kepalanya. Hal itu karena, setiap melewati monster, tak ada monster yang bisa melewati mereka. Hal itu digunakan Wira sebagai kesempatan meningkatkan stat dan kemampuan semua tim. Wira dengan kemampuan cepatnya, membunuh semu
Makhluk tinggi itu datang ke arah Wira, benturan tubuh mereka terjadi dan membuat para mahasiswa lainnya ada yang menutup matanya.Slap!Brush!Wira terdorong ke belakang dan tubuh monster kurus tinggi itu menimpa Wira, suaranyanya terdengar menyayat.KUUUUKKKKK! (Sakit, sakit ....)Bruk! Kepala mo
”Cepat keluarkan senjatamu, Wira! hadapi monster-monster belalang itu!” Bisma memegangi lengan Wira cukup kuat.Capit-capit tiga belalang besar itu terus bergerak, terbuka dan tertutup. Suara bertemunya antar ujung capit terdengar menyeramkan dan ruangan kelas itu menjadi mencekam karena suara capi
Wira telah melakukan pelanggaran karena memilih dua kotak, tapi Wira tidak peduli dengan hal itu.[Anda memilih kemampuan, Elemental Angin dan Pembunuh]Splash!Tulisan di atas adalah tulisan terakhir yang dilihat Wira, dan matanya menjadi nanar karena gelap kembali menyelubung di depannya. Ruangan
Tangan wanita itu memegang kepala anak kecil yang baru berumur lima tahun, dia mengecup kening bocah lelaki itu.”Wira, Ibu pergi tidak akan lama. Ibu harus menjemput Ayahmu, kamu ikut bibimu selama Ibu pergi ya.”Senyuman wanita itu menguatkan putra satu-satunya, dia harus pergi. Wanita itu, Rania







