Share

2. Kembali ke Masa Lalu?

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2025-07-24 10:20:28

Tabrakan itu sangatlah cepat hingga banyak yang masih terbengong-bengong ketika melihatnya.

Namun, begitu sadar apa yang sedang terjadi, orang-orang yang berada di sekitar area itu langsung menghampiri titik tempat terjadinya kecelakaan itu dan segera memberikan pertolongan pertama pada korban.

Beberapa korban yang terlibat dalam kecelakaan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, salah satu dari korban itu adalah Ayleen Hazel.

Sayangnya, pihak rumah sakit menyatakan Ayleen tidak bisa diselamatkan dan tewas akibat luka yang parah.

Headline news pun dipenuhi oleh berita kecelakaan tragis yang merenggut nyawa penulis muda itu. Begitu banyak yang merasa kehilangan, termasuk seorang pria yang duduk dengan tangan memegang bunga putih sambil menatap jenazah Ayleen.

“Maafkan aku, seharusnya … aku lebih cepat,” ucap pria itu.

***

Sementara itu Ayleen Hazel yang di tahun 2025 dinyatakan meninggal dunia, tiba-tiba saja membuka matanya dan langsung merasa sinar matahari menyakiti matanya. Posisinya seolah tertidur di atas meja dengan salah satu tangan menyangga kepala.

Dia pun menghalau cahaya terang itu dengan tangan kirinya dan mulai mencoba beradaptasi dengan area sekitarnya.

Di mana aku? Apa di rumah sakit? pikir Ayleen.

Namun, perlahan dia mulai mendengar suara-suara dari banyak orang yang membuatnya menegakkan dirinya dan duduk.

Begitu mulai melihat-lihat sekelilingnya, alisnya mengerut bingung.

“Ini … bukankah ini perpustakaan Stone Hill?”

Ayleen yang teringat akan kecelakaan yang menyakitkan itu segera memeriksa tubuhnya.

“Hah? Mengapa tidak ada luka apapun di tubuhku? Kecelakaan itu jelas-jelas ….”

Tapi, rupanya tidak hanya itu yang membuatnya bingung. Saat dia menyentuh rambutnya, dia terkejut.

“Rambutku. Kenapa rambutku jadi panjang?” ucap Ayleen mulai panik.

Jelas-jelas rambutnya sudah dipotong menjadi potongan rambut sebahu.

Dia menggelengkan kepala, “Pasti ini mimpi. Aku … pasti lagi bermimpi.”

Tapi, ketika dia mencubit lengannya, rasa sakitnya terasa nyata. Wanita muda itu pun terhenyak.

“Ini bukan mimpi, lalu … bagaimana bisa aku di sini? Dan kenapa rambutku jadi begini?” Ayleen menggigit bibir.

Ayleen mencoba memperhatikan orang-orang yang berada di dalam perpustakaan itu. Dahinya langsung mengernyit heran.

Tetapi, tiba-tiba saja dia membelalakkan mata ketika dia melihat salah satu dari mahasiswa memakai jas almamater berwarna hijau tua dengan model sangat mirip dengan jas.

“Jas itu … bukannya ….”

Jas almamater dengan warna itu adalah model terakhir di saat aku masuk universitas, Ayleen membatin.

Angkatan selanjutnya, warna almamaternya sudah berganti lebih tua serta modelnya berubah dengan detail kancing yang lebih banyak, bukan hanya dua seperti miliknya.

Ayleen menggigit bibir dan baru sadar jika ada sejumlah buku yang ada di atas meja tempat dia mengistirahatkan kepalanya.

Dia mengambil salah satu buku berjudul “A View from the Bridge”, sebuah drama milik Arthur Miller, seorang penulis Amerika yang sangat populer. Buku itu jelas sekali menjadi buku yang berkali-kali dia pinjam karena buku itu salah satu sumber skripsinya saat menjadi mahasiswa sastra Inggris.

Matanya sontak melotot ketika dia membalik halaman terakhir buku itu. Di bagian belakang terdapat kertas yang berisi nama peminjam dan namanya belum ada di sana.

Kepalanya langsung pening.

Karena Ayleen masih sangat bingung, dia segera mengambil buku-buku lain di atas meja itu dan mulai meneliti.

“Ini tidak mungkin. Buku-buku ini semua harusnya aku pinjam dulu.”

Selain buku-buku itu, dia melihat sebuah kartu berwarna merah. Cepat-cepat dia mengambilnya dan dia pun membatu membaca kartu ini.

“Kartu perpustakaan. Ini … harusnya hilang setelah aku lulus kuliah, tapi kenapa-”

“Astaga, kamu di sini ternyata!”

Seseorang berjalan mendekat ke arah dirinya dengan wajah agak basah karena keringat. Gadis itu tersenyum dan dengan santai menyambar botol air minum yang baru saja disadari Ayleen adalah botol minumnya saat dia masih berkuliah di University of Stone Hill.

“Oh, hausnya! Lega rasanya, di kantin penuh. Malas rasanya harus berdesakan,” kata gadis itu yang dengan santai duduk di sebelah Ayleen.

Ayleen hanya terbengong-bengong menatap gadis muda berkacamata itu.

Sadar sedang ditatap, gadis itu menoleh, “Heh, kenapa melihatku seperti itu?”

Ayleen menggelengkan kepala dan tiba-tiba langsung memeluknya dengan air mata yang telah menetes, “Elizabeth. Eliza. Ini kamu.”

Ayleen melepaskan pelukannya dan melihat kembali gadis itu, seakan ingin memastikan dia benar-benar sahabat baiknya, “Astaga! Ini benar-benar kamu.”

“Ya Tuhan, aku rindu. Eliza, aku-”

Elizabeth memberontak dan membebaskan diri dari Ayleen, “Kamu kenapa sih, Leen? Kenapa menangis? Apa maksudnya kamu bilang rindu?”

Ayleen mengangguk, “Iya, aku rindu kamu. Kita sudah lama tidak bertemu.”

Elizabeth menaikkan alis kanan, “Hah?”

Tetapi, gadis itu cepat-cepat mengambil tissue dan membantu Ayleen membersihkan air matanya.

“Leen, kamu sedang demam? Atau kenapa?” Elizabeth bertanya dengan nada cemas.

Ayleen menatap Elizabeth dengan tatapan bingung.

Elizabeth Freus adalah salah satu sahabat baiknya di universitas. Mereka tetap lanjut bersahabat meskipun telah lulus. Akan tetapi, satu tahun sebelum dia menikah dengan Liam, hubungan mereka memburuk.

Ayleen sendiri sangat bingung saat Elizabeth tiba-tiba mulai menjauhi dirinya dan bahkan mereka juga hilang kontak.

Meskipun masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ayleen tetap bertanya, “Kenapa memangnya?”

“Kamu aneh. Kamu bilang kita sudah tidak lama bertemu, padahal kita tadi pagi baru ikut kelas Prof. Maxwell bersama,” jelas Elizabeth dengan nada bingung.

Mendengar hal itu, Ayleen terdiam tapi itu hanya sesaat. Dia langsung bertanya dengan hati-hati, “Maksudmu mata kuliah ‘Poetry’?”

Elizabeth menjentikkan jarinya, “Tentu saja. Ah, aku pikir kamu benar-benar sedang demam.”

Ayleen kembali membisu, mulai memikirkan lebih jauh. Dia tidak mau bertanya pada Elizabeth karena dia tidak ingin sahabat baiknya itu menganggap dirinya aneh.

Ayleen pun memutuskan untuk mencari jawaban sendiri dan berkata, “Eliza, aku ke depan sebentar.”

“Ke mana?”

“Loker,” jawab Ayleen yang sudah berdiri.

Ketika dia melangkah ke luar, dia melihat dua orang staf perpustakaan yang sangat akrab dengannya.

Tidak lupa dia tersenyum pada dua orang itu sebelum lanjut berjalan. Namun, baru saja dia berjalan beberapa langkah dia berhenti lagi dan menoleh ke arah salah satu staf itu.

Hugo. Dia masih ada di sini. Itu artinya …. Ayleen menelan ludah dan lanjut berjalan menuju loker depan.

Sesaat dia terdiam di depan loker itu. Loker itu tidak dikunci, tapi yang dia ingat dia tidak pernah memakai loker lain. Maka, tanpa ragu dia membuka loker nomor 26.

Ada sebuah tas ransel di dalamnya. Dia tidak sempat berpikir lagi dan segera membuka isinya. Dia melihat buku-buku miliknya dan menemukan sebuah kartu putih yang merupakan sebuah kartu bimbingan skripsi.

Dia membacanya dengan cermat dan bergumam, “Jadi … ini benar tahun 2015. Di tahun ini aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir dan sedang mengajukan skripsi.”

Dia menelan ludah dengan gugup dan bergumam dengan penuh kebingungan, "Ini ... sungguhan? Aku kembali ke masa lalu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   76. Akhir

    Dua hari kemudian, Ayleen Hazel benar-benar pergi menemui Sea Finley yang telah menunggunya di Grande Cafe.Gadis itu tidak akan berani menunda waktu lagi untuk berbicara dengan kekasihnya yang telah bersedia memberinya waktu untuk berpikir dan mempersiapkan diri.Dia sengaja memilih cafe itu karena pada dasarnya semua jawaban yang dia telah coba cari dia temukan di dalam cafe itu, melalui seseorang yang dia temui di cafe itu.Ayleen datang terlebih dulu dan memilih meja paling pinggir yang menghadap ke arah jalanan. Dia sudah memesan kopinya dan hanya tinggal menunggu kedatangan Sea.Sea datang tidak lama kemudian, hanya sekitar sepuluh menit setelah Ayleen duduk di kursi pilihannya itu. Ayleen tersenyum pada pria muda itu yang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan yang dalam.Ah, dia juga merindukan Sea.“Kenapa mengajak bertemu di sini?” Sea bertanya pada gadis yang masih menjadi kekasihnya itu. Ayleen menjawab, “Karena semuanya bermula dari sini. Maksudku … karena pemilik ca

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   75. Tentang Semuanya

    “Sea, mengapa kamu menjadi orang yang tidak rasional seperti ini?” balas Ayleen dengan tatapan tajam ke arah kekasihnya itu.Dia sedang lelah. Melihat kekasihnya yang datang tanpa memberitahunya lalu mempertanyakan apa yang dia lakukan seperti itu membuat Ayleen merasa tidak dipercaya.Sea pun terlihat tertampar oleh fakta. Tatapan matanya yang semula dipenuhi oleh rasa ketidak percayaannya itu kini menghilang seketika.Benar. Dia pun menyadari bahwa dirinya terlalu khawatir pada Ayleen. Kekhawatirannya tersebut membuat dia kehilangan sifatnya yang asli. Pria itu pun menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung ke mata sang kekasih.“Maaf, aku … aku hanya cemas,” kata Sea dengan nada pelan.Ayleen sontak terdiam. Gadis itu seketika merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan menanggapi Sea. Hatinya bergetar di saat melihat tatapan sedih di mata Sea. Hal itu membuatnya teringat akan Sea dewasa yang tidak pernah dia hibur. Dialah penyebab Sea bersedih di kehidupannya yang sebelumny

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   74. Terima Kasih!

    Ayleen pun menjawab dengan alis mengerut, “Iya? Apa yang ingin kamu minta dariku?”Oh, tolong. Dia sudah sangat kaya. Dia tidak akan meminta bayaran atau apapun untuk naskahnya, kan? Kalau itu soal uang, aku jelas tidak bisa membayarnya. Aku masih miskin sekarang, aku hanya mahasiswa biasa, bukan seorang penulis best seller, Ayleen berkata di dalam hati.Seolah bisa memahami apa yang sedang dipikirkan oleh gadis muda itu, Nick berkata, “Bukan sesuatu yang besar atau berat kok.”Ayleen menatapnya dengan tatapan tidak percaya.Nick pun tersenyum hangat pada gadis itu, “Kamu … harus membaca novel ini ketika kamu sendirian. Maksudku, jangan membacanya di depanku atau bahkan ketika ada orang lain di sekitarmu.”“Bisakah kamu melakukan hal itu, Ayleen?” Nick menambahkan sambil terlihat menatap Ayleen dengan tatapan penuh harap.Hanya itu? tidak berkaitan dengan uang? Apakah benar seperti itu? Tapi … dia memang sudah kaya, dia tidak memerlukan uang orang lain lagi, bukan? Apalagi dariku yang

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   73. Perbedaan Nick

    Nick tersenyum lembut pada gadis itu dan kemudian mengerutkan kening sebelum menjawab pertanyaannya, “Ayleen, aku benar-benar terkejut saat kamu malah bertanya tentang hal ini.”“Memang kamu berharapnya aku bertanya apa, Nick?” balas Ayleen yang masih terlihat tenang walaupun di dalam hatinya dia begitu sangat gelisah. Nick mengangkat bahu, “Tidak apa-apa. Hm, soal pengunduran diri itu. Sebenarnya … sudah sejak 1 bulan yang lalu keluargaku meminta aku untuk melepaskan cafe itu. Tapi, aku masih ingin berada di sana dan menjalani hari-hariku yang lebih nyaman.”Pria itu terlihat menerawang jauh sebelum kemudian melanjutkan, “Ayleen, sebenarnya itu cafe milikku. Aku berada di sana karena memang aku lebih menyukai mengelola bisnis kecil dibandingkan harus berada di perusahaan milik orang tuaku.”Ayleen sungguh tidak menduga bahwa ceritanya seperti itu.Apa yang dikatakan oleh Nick itu seperti sebuah dongeng atau cerita yang ngomongnya tersaji di beberapa novel unggulan. Seorang pemuda k

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   72. Rumah Nick

    Pelayan cafe yang baru itu langsung memberikan tatapan aneh ke arah Ayleen.Ayleen sendiri juga merasa tidak nyaman bertanya tentang alamat rumah Nick. Namun, dia harus segera menemui orang itu sehingga dia mencoba untuk tetap mempertahankan ekspresi normalnya.Tapi, ditatap seperti membuat dirinya menjadi bertanya-tanya apakah aneh jika dia bertanya tentang alamat pelayan cafe itu kepada orang yang baru saja dijumpainya pertama kali? “Kamu … apakah Ayleen?” pria muda itu bertanya kepada Ayleen dengan alis berkerut karena bingung.Ayleen melebarkan mata ketika namanya disebut. Bagaimana bisa dia tahu namaku? Ayleen membatin di dalam hati.“I-iya, saya Ayleen,” jawab Ayleen dengan terbata-bata.Pelayan muda itu pun langsung menganggukkan kepala, “Ah, aku sudah menduganya.”Ayleen menaikkan alis kanannya dan menatap pria itu dengan tatapan bingung sekaligus heran.Dia tahu namaku. Tapi dari mana? pikir Ayleen.“Oh, Nick sudah bercerita kepada aku kalau kamu pasti akan datang ke sini,”

  • Perjalanan Waktu: Kebangkitan Nona Penulis   71. Berhenti Sejenak

    Ayleen hanya bisa tersenyum lemah begitu dia mendengarkan perkataan teman-temannya itu. Ah, andai saja dia tak pernah terbangun di dalam mimpi di mana dia bisa melihat kehidupannya yang sebelumnya, dia pun juga tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Natasha Mylan.Pasalnya begitu dia mendalami semua yang telah dilakukan oleh mantan temannya itu, dia merasa bahwa Natasha adalah sosok yang mengejutkan. Wanita itu tidak hanya menyimpan begitu banyak hal tapi juga melakukan hal-hal yang tak pernah diduganya.Yang dia mengerti adalah Natasha melakukan semua itu karena telah jatuh cinta pada seorang Sea Finley.Sesungguhnya cintanya tidak pernah salah. Hanya saja, sebuah penolakan telah mengubahnya menjadi orang yang sangat jauh berbeda. Natasha yang dia kenal adalah seorang wanita yang bisa memanipulasi siapapun dan menggunakan kemampuannya itu untuk kepentingannya sendiri. Dia tidak pernah memperdulikan dampak dari apa yang dia lakukan. Selain itu, dia pun terlihat begitu kuat dan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status