Share

Chapter 3

Penulis: Iamyourhappy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-09 10:16:33

Setelah bicara dengan wali kedua murid, keputusan pun diambil. Sebagai hukuman, Vando dan Bastian akan membersihkan toilet selama seminggu. 

Orang tua Vando menerima keputusan itu dengan lapang dada, lalu berpamitan pada Pak Bhanu dan para guru.

Saat Arsen, yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar, berdiri dari kursi, Yerin menghentikannya.

“Tuan Arsen, tunggu sebentar.”

Arsen menoleh setengah badan, alisnya terangkat seolah tak suka ditahan.

“Ada yang ingin saya bicarakan,” lanjut Yerin, nadanya tetap tenang. “Tentang Bastian.”

Arsen menatapnya sejenak, kemudian kembali ke kursi dengan gerakan malas. Ia duduk bersandar, menyilangkan kaki, jelas-jelas menunjukkan sikap arogan.

“Bicaralah cepat,” katanya datar.

Yerin menarik napas dalam, lalu membuka buku catatan pelanggaran. “Bisa dilihat di sini.” 

Satu halaman penuh berisi nama Bastian, deretan panjang pelanggaran yang tercatat sejak awal semester.

“Bastian sudah terlalu sering melanggar aturan sekolah,” ucapnya tegas.

Arsen membuka kacamata hitamnya. “Lalu? Anda ingin saya bilang padanya agar berhenti membuat onar? Apa Anda pikir saya tidak pernah mencoba?”

“Bukan itu,” Yerin menggeleng pelan. “Yang dia butuhkan bukan teguran, melainkan dukungan.” Dia menutup bukunya. “Daripada hanya berkata ‘jangan berkelahi’ atau ‘jangan melanggar aturan lagi’, tanyakanlah bagaimana sekolahnya, apa yang ingin dia lakukan dengan masa depannya.”

Arsen menyandarkan punggung, nada suaranya dingin. “Kenapa aku harus melakukannya? Aku bahkan tidak menganggapnya adikku.”

Yerin agak terkejut. Pria di depannya ini secara terbuka mengakui hal tersebut, bukankah ini keterlaluan!?

Akan tetapi, Yerin berusaha tenang.

“Benar, mungkin Anda tidak menganggapnya adik. Tapi Bastian menganggap Anda kakaknya,” ucap Yerin, membuat Arsen sedikit terkejut. “Mungkin Anda tidak menyadarinya, tapi … kedatangan Anda ke sekolah sudah cukup membuatnya senang.”

Yerin mengingat bagaimana pancaran mata Bastian sempat bersinar ketika menyadari sang kakak datang ke sekolahnya. Walau hanya sekilas, karena setelahnya pemuda itu langsung menghindar dari area ruang BK.

Menarik napas, Yerin berkata, “Kedatangan Anda baginya … adalah bukti bahwa ada keluarga yang peduli.” Dia menatap Arsen mantap. “Untuk itu, saya mohon, bimbing Bastian. Bukan dengan kemarahan, tapi perhatian.”

Arsen sempat terdiam untuk sesaat. Tapi, kemudian dia mengembuskan napas kasar, mengenakan kembali kacamatanya, lalu berdiri. “Saya harus pergi.”

“Tunggu!” Yerin bersuara sebelum pria itu sempat melangkah keluar, membuat Arsen berhenti. “Apa pun yang terjadi, saya mohon … jangan gunakan kekerasan pada Bastian.”

Arsen hanya menoleh sepersekian detik. Tatapannya datar. Lalu, tanpa sepatah kata pun dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Yerin yang menggeleng pelan sambil menepuk dadanya.

“Bagaimana bisa ada orang sedingin itu …” gerutu Yerin.

~~

Saat hari mulai menjelang sore, seorang pemuda baru saja pulang. Tampangnya acak-acakan. Seragam sekolahnya dikeluarkan dari celana, lengannya dilipat seenaknya, dan ada rantai tipis menggantung di leher. Dengan gaya santai layaknya preman kecil, pemuda itu melangkah masuk ke rumah besar nan mewah itu.

“Berhenti.”

Suara berat menghentikan langkahnya, pemuda itu menoleh, mendapati sosok kakaknya berdiri tidak jauh dari pintu.

Arsen menatap pemuda yang tidak lain adalah Bastian dengan datar. “Dari mana kamu?”

Pertanyaan Arsen membuat Bastian bingung sepersekian detik, tidak pernah sebelumnya ditanya seperti ini. Namun, mengingat bahwa tadi pagi Arsen baru saja dipanggil oleh sang guru BK baru, Arsen mendecakkan lidah.

“Jawab pertanyaanku,” suara Arsen menajam, mengandung tekanan.

“Main.” Bastian mengacak rambutnya, kesal. “Kenapa? Mau marah?”

Arsen terdiam sesaat, tapi alisnya tertaut, seakan kesulitan. Kemudian, dengan sedikit canggung, dia bertanya, “Bagaimana sekolah hari ini?”

Kali ini, Bastian tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Arsen, kakaknya yang terkenal paling dingin sejagat raya, mendadak menanyakan kabarnya?!

“Kenapa tanya begitu?” balas Bastian.

“Hanya bertanya,” jawab Arsen singkat, membuat keterkejutan Bastian seketika mereda.

“Biasa saja,” balas pemuda itu sekenanya.

“Selain sekolah, apa ada hal yang kamu sukai?” tanya Arsen lagi, suaranya kali ini lebih dalam.

Bastian makin bingung. Seumur hidup, kakaknya tidak pernah peduli soal dirinya, apalagi soal sekolah. 

Apa ini efek dipanggil oleh sang guru BK tadi pagi?

Namun, menepis kemungkinan itu, Bastian hanya menjawab cepat, “Tidak ada.”

Arsen menghela napas panjang. “Sungguh tidak ada?”

Bastian mendengus kesal. “Pun ada, apa hubungannya denganmu? Bukannya biasanya kamu tidak pernah peduli? Atau jangan-jangan, guru BK itu berhasil merasuki pikiranmu dan membuatmu mengira aku akan berubah hanya karena kamu perhatian padaku?!” balasnya dengan emosi menggulung di hati.

Melihat Arsen terpaku di tempat, Bastian pun tertawa rendah meremehkan. “Konyol,” desisnya, sebelum kemudian berbalik untuk berjalan pergi.

“Kamu—” Arsen merasakan emosinya naik, dan tangannya terjulur untuk menahan Bastian. Akan tetapi, ketika dia hampir menyentuh pundak adiknya tersebut, kalimat Yerin terngiang di benaknya.

“Apa pun yang terjadi, jangan gunakan kekerasan pada Bastian.”

Tangan Arsen pun berhenti di udara, lalu perlahan turun, seiring dia menghela napas dan berkata, “Terserah.” Lalu, dia berbalik pergi.

Melihat Arsen hanya pergi meninggalkan dirinya setelah sudah dimaki sedemikian rupa, Bastian sangat terkejut. Dia terdiam sesaat, merasa sedikit aneh. 

Memang sejak kecil hubungan mereka tidak pernah baik. Arsen tidak pernah memperhatikannya, ditambah didikan nenek yang selalu menyebut dirinya pembawa sial, membuat kebencian itu semakin mengakar.

Lalu, kenapa mendadak Arsen berubah dan seperti mulai perhatian, bahkan menoleransi sikap kurang ajarnya?

Di saat itu, ponsel Bastian bergetar. Sebuah pesan baru muncul.

[Bastian, Ibu sudah bicara dengan kakakmu. Cobalah untuk bicara baik-baik dengannya kalau dia berusaha. Ibu harap hubungan kalian membaik.]

Pesan itu membuat Bastian meremas ponselnya dan memasang wajah kesal. Suatu hal yang kontras dengan isi hatinya yang menghangat, dan telinganya yang memerah.

“Dasar tukang ikut campur!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Koirul
kenapa hubungan kakak adik kq berantem
goodnovel comment avatar
Melda Firdaus
suka sekali
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 662

    Teriakan Noel ada penyebabnya.Yerin gemas mencubit lengan putranya.“Akh!” keluh Noel.“Kenapa kamu membuat menantu Mom seperti ini?” tanya Yerin.Noel menggosok lengannya. “Aku juga sudah berusaha—” Noel mendengus pelan.Leya tertawa pelan.“Ayo bela aku sayang,” lirih Noel.“Tidak usah membela suamimu, Leya.” Yerin menggeleng pelan. “Kakimu sakit?” tanya Yerin.“Sudah mendingan, mom. Kata Dokter baik-baik saja. Memar sedikit,” balas Leya tersenyum.“Mama tidak bisa berjalan?” tanya Jayden.“Bisa.” Noel mengusap pelan puncak kepala Jayden. “Mama bisa berjalan, tapi saat disentuh kakinya sakit.”Jayden mengangguk saja.Ia mendongak. Di usianya, tingginya hampir setinggi mama dan omanya. Tapi kalau Daddy dan Opa. Dia masih terlihat pendek.“Bagaimana yang membuat kamu seperti ini?” tanya Yerin. “Dia sudah ditangkap?” beralih menatap putranya.“Sudah. Dia adalah dalang dibalik semuanya,” jawab Noel. “Aku sudah memastikan semuanya. Perusahaan akan baik-baik saja. Lalu, Elise…”“Dia bisa

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 661

    Leya bukan berangkat menemui Cella sendiri.Ia sudah mempersiapkannya dengan matang.Bahwa seseorang yang menyakiti keluarganya harus segera dihukum.Untuk itu—ia sudah merencanakan semuanya bersama Noel.Saat Leya ditampar, Noel sangat murka. Ia ingin segera pergi dari persembunyiannya dan menolong istrinya.Tapi Leya sudah berpesan jangan menemuinya sebelum semuanya selesai.Bukan tanpa alasan, Leya sudah menduga kalau Cella bisa bertindak lebih jauh. Untuk itu ia ingin memberikan Cella kesempatan untuk sedikit menyakitinya.“Akh!” Cella mengeluh saat Noel menjambak rambutnya dari belakang.Noel juga merebut serpihan guci yang dipegang oleh Cella.Melemparnya begitu saja.“Tangani jalang ini!” Menghempaskan rambut Cella begitu saja.Cella menata sekitar. “Aku tidak bisa membiarkan ini.”Tubuhnya sudah dicekal oleh anak buah Noel.Semua anak buahnya menghilang.Mereka ditangkap oleh anak buah Noel. Diikat menjadi satu di sebuah ruangannya. Nantinya juga akan diserahkan pada polisi.“

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 660

    Leya memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Cella.Bukannya marah ia hanya tersenyum—meski setelahnya terasa panas.Leya menatap Cella. “Menamparku tidak akan membuatmu lebih baik dariku,” ucapnya dengan santai.Cella menggebrak meja. “kau tidak tahu perusahaan Noel hancur karenamu. Kau masih tidak tahu diri berada di sampingnya?”“Bagaimana lagi? Statusku istrinya.” Leya mengedikkan bahunya dengan santai. “Mau tidak mau, meski aku yang membuat perusahaannya hancur aku tetap akan di sampingnya.”Cella tertawa—ia bersandar. Kemudian bersindekap santai.“Kau menjebakku dulu. Kau juga berusaha menyakiti anakku dengan mengirim Andrew. Kau yang menyebarkan berita tentangku. Kau yang berusaha menghancurkan kami.”“Kau pikir aku akan menyerah?” tanya Leya.Cella mengepalkan kedua tangannya. “Dengan kau tidak menyerah membuatku semakin ingin menghancurkanmu.”“Silahkan.” Leya bersindekap. “Tapi aku hanya ingin tahu alasanmu melakukan semua kejahatan itu padaku. Kenapa kau dulu menjeba

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 659

    “Sayang!”Noel berlari kecil dan memeluk istrinya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Noel mengusap pipi istrinya.Leya mengangguk. “Aku baik-baik saja.”“Lihat mereka.” Leya menyipitkan mata menatap Sarah dan Brian.Noel menggeleng. “Biar saja. Ayo kita pulang.”Sarah melambaikan tangannya.Mereka hanya berbasa-basi sebentar sebelum pergi.Leya bertopang dagu. Menatap suaminya yang makan dengan lahap setiap masakannya.“Ngomong-ngomong…” lirih Leya.“Kenapa kamu semakin tampan saja?”Noel mengernyit. Ia langsung menurunkan sendoknya. Tangannya yang baru saja digunakan menyentuh ayam itu menyentuh dahi istrinya.“Akh!” Leya mundur—merasakan tangan basah Noel menyentuh dahinya.“Heheh…” Noel tertawa pelan. “Kamu kenapa? tubuh kamu hangat. Kamu sakit?”Leya menggeleng. “Aku tidak sakit hanya karena memuji kamu.”Noel terkekeh pelan. “Aku merasa curiga kalau kamu tiba-tiba seperti ini.”Noel bukan hanya tidak percaya tapi juga salah tingkah.Dipuji dikit melayang.“Tidak ada.” Leya tersenyum.

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 658

    “Aku dengar Elise maju menjadi calon pewaris Skyline.”Brian yang suka sekali datang ke kantor orang dan bertanya.“Iya.” Noel mengangguk.Seharusnya ia sudah pulang beberapa jam yang lalu. Kemudian bersantai dengan anak dan istrinya.Karena pekerjaannya yang begitu banyak, juga ada beberapa hal yang harus ia urus.“Jangan cepat-cepat.” Brian mengejar Noel. “Kau berubah semenjak menikah.”Noel langsung berhenti.“Kau tidak pernah mendengarkanku dengan benar! Kau lupa? Sebelum kau menikah. Kita ini dijuluki bestie! Best friend forever.”Noel menyipitkan mata. “Terserah saja. Terseran kau.”Brian berdecak. “Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi sampai adikmu yang suka main-main itu masuk ke perusahaan? Juga, menarik Fairmont lagi!”“Aku terpaksa menjadikan Elise kambing hitam. Posisi Elise hanya sementara. Setelah aku menyelesaikan semuanya, semua akan kembali ke posisinya.”Brian mengangguk. “Tapi bagaimana dengan Fairmont. Ada harga yang harus dibayar bukan?”Noel mengangguk. “Sebena

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 657

    Elise tidak pernah menyangka kalau Oliver datang menjemputnya untuk makan siang bersama.“Ada yang menyuruhmu?” tanya Elise berada di dalam mobil bersama Oliver.Kedatangan Oliver tidak luput dari karyawan yang ada di Skyline. Mereka berdua langsung menjadi perbincangan.“Tidak.”“Jangan berbohong. Aku tahu kau tidak akan repot-repot datang ke sini untuk makan siang bersamaku.” Elise menoleh menatap Oliver.Elise memutar bola matanya malas. “Sandiwaranya aku yang atur. Aku akan memberitahumu kalau perlu.”Oliver menghela napas pelan. “Aku disuruh ayahku.”Elise akhirnya paham.Oliver memang alat bagi keluarga.Oliver seperti patung yang dimainkan oleh keluarganya sendiri.“Apa kau tidak punya pilihan sendiri?” tanya Elise. “Kau hanya mengikuti arahan orang tuamu?”Oliver menoleh ke samping. “Itulah kenapa aku tidak ingin kau menyukaiku.”“Aku memang seperti ini.”Elise menunduk.Dugh!Citt!Oliver langsung menepikan mobilnya ketika Elise menunduk—membenturkan kepalanya ke dashbord mob

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status