แชร์

Chapter 4

ผู้เขียน: Iamyourhappy
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-05-09 10:17:10

Yerin duduk di depan minimarket, menenteng kantong kresek berisi titipan bahan makanan dari ibunya. Di tangannya ada minuman kaleng yang ia habiskan sampai tandas. Begitu selesai, ia bangkit untuk membuang kaleng itu ke tempat sampah—yang ternyata lumayan jauh dari tempat duduknya.

“BRAAK!”

Naas. Bukannya masuk ke tempat sampah, kaleng itu malah jatuh mengenai kepala seseorang. 

Yerin membelalak panik lalu buru-buru menghampiri. “Maaf! Maaf, saya tidak sengaja,” ujarnya terbata, menunduk dalam.

“Kau lagi.” Suara berat itu penuh kejengkelan. “Apa kau begitu suka padaku sampai ingin terus bertemu denganku?”

Yerin mendongak… dan wajahnya langsung kaku. 

Itu Arsen! Kakak Bastian! 

Kesialan apa lagi ini? Tidak cukup di sekolah, sekarang pun harus bertemu pria arogan itu!

“Bukan begitu, Pak. Sungguh, saya tidak sengaja.” Dalam hati, Yerin ingin mengumpat, tapi citranya sebagai guru BK menahannya.

Arsen mengambil kaleng di dekat kakinya, memutarnya dengan jari. “Apa yang harus kulakukan ya? Aku benar-benar marah.”

Yerin mundur gugup. “Saya tidak—maksud saya, saya sungguh tidak sengaja.”

Sama saja dengan menyulut singa. Yerin bisa merasakan auranya yang panas.

“Sebagai permintaan maaf,” ucapnya cepat-cepat, “saya akan membelikan Anda apa pun yang Anda inginkan.”

“Apa pun?” Alis Arsen terangkat.

Tanpa pikir panjang, Yerin mengangguk dengan bodohnya.

Dan kini, ia menyesal … karena Arsen langsung melenggang masuk minimarket, mengambil snack dan minuman seenaknya hingga keranjangnya penuh!

Yerin hanya bisa meremas kedua tangannya, wajahnya cemas. Uang di dompetnya tipis; masih seminggu lagi ia baru gajian!

“Sebenarnya—” ia mencoba beralasan, tapi langsung terhenti ketika tatapan Arsen menajam.

“Tidak jadi,” ia meringis canggung, lalu memaksa tertawa kecil.

Arsen menaruh keranjang di tangannya. “Bawa.”

Yerin mendesah, terpaksa mengangkat barang belanjaannya sampai ke kasir.

Saat kasir selesai menghitung, Yerin sibuk mengobrak-abrik saku celana dan hoodienya, mencari uang receh.

Melihatnya, Arsen hanya berdecak pelan, lalu mengeluarkan kartu dan menyerahkannya pada kasir.

“Terima kasih.”

Mendengar ucapan kasir, Yerin mendongak, tapi Arsen sudah keluar lebih dulu dengan barang belanjaan di tangan.

“Eh, tunggu!” Yerin menyusul keluar. “Anda yang bayar sendiri. Lain kali saya akan mentraktir Anda, sebagai permintaan maaf.”

Arsen mengedikkan bahu. “Tidak usah. Lagi pula aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

SKAK!

Yerin ternganga. Bagaimana mungkin seorang pria bisa berkata sepedas itu?

“Memangnya Anda pikir saya mau bertemu Anda lagi?!” serunya, berkacak pinggang. “Tentu saja tidak!”

“Astaga, aku bisa gila,” gerutu Yerin pada dirinya sebelum lanjut menatap Arsen. “Bertemu Anda dua kali dalam sehari itu kesialan terbesar. Dan Anda pikir Anda sebegitu menariknya sampai-sampai saya mengejar Anda?”

Yerin menyibakkan rambutnya kasar. “Huh! Lihat muka Anda— seperti banteng kebelet pipis.”

Arsen mengerjap, kaget oleh ucapan itu. “Kau berani—”

“Cukup!” Yerin mengangkat telapak tangannya di depan wajah Arsen. “Saya sudah tidak bisa menahan kesal saya. Mulai sekarang, semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi. BYE!”

Ia berbalik, melangkah cepat menjauh. Namun dua detik kemudian, Yerin kembali lagi.

“Sebentar.” Ia mendekat, mengambil tangan Arsen, lalu menyelipkan selembar uang receh ke dalam genggamannya. “Sudah selesai.”

Arsen menatap uang recehan itu, wajahnya menegang. “Siapa yang bilang kau boleh membayarku dengan uang recehan ini?!”

“Terserah! Meski recehan, tetap uang. Urusan kita selesai. Aku tidak mau berurusan lagi dengan banteng sepertimu!”

Yerin langsung lari sekencang-kencangnya, hampir menabrak tong sampah, untung tak sampai jatuh.

“Hah!” Arsen menghela napas kasar dengan sangat kesal selagi meremas uang recehan di tangannya. “Wanita kurang ajar. Lihat bagaimana, aku akan memberimu pelajaran!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Santhos Sport Offc
menarik...semakin penasaran
goodnovel comment avatar
Nastitie Karina Midwife
keren banget
goodnovel comment avatar
Novita Utami
keren , smoga ceritanya tidak terlalu halu dan mencerahkan
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 571

    Eve terdiam sebentar. "Aku baik-baik saja." Yerin mendekat. "Aku sudah lama mengenalmu Eve. Ibu-maksudku kakak.." Eve tertawa. "Ternyata canggung sekali. Bukan hanya aku tapi kakak juga." Yerin mengusap keningnya pelan. "Kita harus berusaha supaya tidak canggung dengan panggilan baru ini." Eve tertawa dan mengangguk. "Kamu terlihat gelisah..." Yerin menatap Eve. "Ibu tahu apa yang sedang mengusik kamu." Eve menghela napas. Seperti dulu. Ia memang tidak bisa berbohong pada Yerin. "Entahlah..." menggeleng pelan. "Aku hanya merasa tidak enak saja pada Aurel. Meski aku membencinya. Meski aku tidak dia berdekatan dengan Bastian. Tapi saat melihatnya aku merasa bersalah." Yerin menggeleng. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang kamu lakukan sudah benar." "Kalau aku menjadi kamu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih parah. Aku juga tidak suka Arsen berdekatan dengan wanita lain." Yerin berkacak pinggang. "Aku bahkan memastikan pegawai yang sela

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 570

    Eve tersenyum. "Terima kasih." Yerin mengusap bahu Aurel sebentar. "Kalian masuklah." Bastian tidak berbicara apapun. Ia langsung membawa masuk ke dalam Mansion. Sedangkan Yerin menunggu Aurel sampai pergi. "Hai." Eve melambaikan tangan pada Elise yang duduk. Sibuk menggambar. Elise menoleh. Menatap Eve sebentar sebelum akhirnya melompat turun dari kursi. Dengan polosnya berjalan mendekat. Mengamati Eve sungguh-sungguh. "Kenapa?" tanya Eve. Bastian tertawa pelan. "Aunty cantik? tidak jelek seperti kemarin?" Elise mengangguk dengan polosnya. Eve berjongkok. Kemudian mengulurkan tangannya. "Jadi sekarang kita bisa berteman?" Elise menyambut uluran tangan Eve. "Hei boy!" sapa Bastian pada Noel yang baru turun dari tangga. "Jangan bilang kamu baru selesai belajar?" tanya BAstian. "Come on, Noel. Anak kecil seharusnya banyak bermain. Dulu paman sering bermain daripada belajar." "Jangan meracuni anakku dengan kebiasaan burukmu." Arsen yang baru saja mendekat.

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 569

    Honeymoon telah usai. Hari ini adalah hari terakhir Eve cuti. Dan hari ini juga Eve dan Bastian akan datang ke rumah kakak mereka. "Bastian." Bastian memutar bola matanya malas. "Coba panggil aku yang lebih manis. Lebih menggoda dan lebih seksi." Eve menyipitkan mata. "Memangnya mau dipanggil apa? Hubby? Darling? atau my Husband." "Ehm.." Bastian berpikir. "My Darling sweety and my husband forever.." "Ih geli!" Eve mendorong dada Bastian. "Sayang." Bastian tersenyum sumringah. "Itu lebih baik. Pas, romantis, sedikit seksi dan menggoda juga." "Kau benar-benar." Eve tidak bisa berkata-kata lagi. Bersama dengan Bastian selama 24 jam ternyata tidak membuatnya bosan. Meski pria itu kerap kali melontarkan kalimat aneh atau rayuan aneh. tapi ternyata ia baik-baik saja. "Apa kau baik-baik saja jika aku masih bekerja?" tanya Eve. "Hm?" tanya Bastian. Terlihat bingung. "Maksudku. Siapa tahu kau diam-diam ingin aku di rumah tidak usah bekerja." Basti

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 568

    Tok tok Eve yang bangun lebih dulu mengernyit. Ia melepaskan rangkulan tangan Bastian dari pinggangnya. Kemudian berjalan dan mengambil piyamanya. tok tok! "Iya sebentar." Lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dua keponakannya yang cantik dan tampan. "Hai." Eve berjongkok. "kenapa pagi-pagi kesini?" "Kami bukan ingin menganggu. Kami ingin memberi kali ini." Lucian Noel Jarvis. berusia 10 tahun. Biasa dipanggil Noel. "Ini apa?" tanya Eve mengambil kado dari Noel. Eve mengusap rambutnya. Kemudian tersenyum pada mereka. Ini pertemuan keduanya dengan mereka. Pertemuan kedua yang memalukan karena dirinya dalam keadaan tidak siap. "Terima kasih." Eve tersenyum. "Mau bermain dengan aunty?" Elise menggeleng. "Aunty jelek." Eve mengerjap. "Tidak usah mendengarkannya." Noel dengan sigap menutup bibir adiknya. Eve bukannya marah ia justru tertawa."Tidak masalah. Aunty pasti terlihat sangat jelek di mata kalian." "Aunty memang sedang jelek. Jadi Aunty t

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 567

    "SELAMAT!" Gwen yang berteriak sangat nyaring. Eve tertawa, menerima pelukan dari sahabatnya itu. Perut sahabatnya sudah besar. "Terima kasih sudah datang." Menatap Gwen dan Vando bergantian. "Bagaimana mungkin aku tidak datang. Walaupun dia-" menatap Bastian. "Baru mengabari kami dua hari sebelum pernikahan kalian." Eve terkekeh. "Acaranya memang mendadak." "Tunggu." Gwen menatap Bastian tajam. "Eve hamil?" "Tidak." Bastian menggeleng keras. "Pernikahan kita memang pure karena kita ingin segera menikah. Bukan karena hal lain." Bastian memeluk pinggang Eve dari samping. "Percayalah padaku. Aku ini sangat mencintai sahabatmu. Sangat-sangat..." menepuk dadanya sendiri. Eve tertawa menggeleng geli dengan tingkah Bastian. Ternyata orang-orang yang datang adalah orang terdekatnya. Senyum mereka, kebahagiaan mereka yang terpancar dari wajah mereka. Ternyata mereka juga bahagia dengan momen membahagiakannya. Eve menarik napas pelan. Tersenyum tipis.. Di sana ada

  • Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku   Chapter 566

    "Ah! pelan-pelan.." "Aku sudah pelan-pelan. Tapi sulit..." keluh Bastian. "Coba di sana. Di sini terlalu gelap." Bastian mengikuti Eve yang berjalan ke tengah ranjang. tepatnya di bawah lampu. Bastian sudah berusaha semaksimal mungkin membantu Eve melepaskan Gaun. Tapi ternyata sulit, apalagi bahu Eve masih memar dan sakit apabila tergores sedikit saja." Bastian menggeleng. Ayo lebih fokus. Jangan menyakiti Eve. Namun di saat dirinya yang sedang fokus-fokusnya, malah salah fokus ketika melihat punggung mulus wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Bastian menahan napasnya. Sekarang bukan waktunya. Bantu Eve dulu, baru.. "Bas," panggil Eve. "Ya." Bastian mengerjap pelan. Lalu mulai memfokuskan dirinya lagi. menurunkan resleting gaun itu dengan perlahan. jangan sampai menggores kulit Eve yang berharga. Sampai akhirnya ia bisa membantu Eve membuka gaun itu. sampai gaun itu terlepas dari tubuh Eve. Eve hanya menggunakan celana pendek dengan tanktop yang begitu melek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status